Kamis, 11 Desember 2014

Sekilas Tentang Tugu Monas

Bagi warga negara Indonesia dan warga Jakarta

khususnya, Monumen Nasional yang lazim disebut

Tugu Monas sudah tidak asing lagi. Berada tepat di

jantung ibukota negara dan pemerintahan Republik

Indonesia, Tugu Monas menjulang tinggi

mengalahkan kemegahan bangunan-bangunan di sekelilingnya. Menurut

sejarahnya, bangunan setinggi 128,70

meter ini dibangun pada era Presiden Sukarno,

tepatnya tahun 1961. Awalnya, sayembara digelar

oleh Sukarno untuk mencari lambing yang paling

bagus sebagai ikon ibukota negara. Sang Presiden

akhirnya jatuh hati pada konsep Obelisk yang dirancang oleh Friederich

Silaban. Namun saat

pembangunannya, Sukarno merasa kurang sreg

dan kemudian menggantinya dengan arsitek Jawa

bernama Raden Mas Soedarsono. Sukarno yang

seorang insinyur mendiktekan gagasannya kepada

Soedarsono hingga jadilah Tugu Monas seperti yang dapat kita saksikan

saat ini. Proyek mercusuar pembangunan Monumen

Nasional tersebut sesungguhnya dilakukan saat

kondisi keuangan negara dalam masa kritis yang

sangat hebat. Pada saat itu, Sukarno juga tengah

mengerjakan proyek lainnya yang mungkin

dianggap lebih 'mulia', yakni pembangunan Masjid Istiqlal, masjid

terbesar se-Asia Tenggara.

Dihadapkan pada pilihan sulit, akhirnya Sukarno

lebih memilih merampungkan proyek Tugu Monas

daripada rumah Allah tadi. Uniknya, kedua proyek

besar tersebut selesai saat Presiden Sukarno sudah

tidak berkuasa lagi pasca pemberontakan G 30 S PKI. 5 Hal Yang Harus

Diketahui Tentang Monas : 1. Ukuran dan Isi Monas

Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk

lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh

marmer. 2. Lidah Api

Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya

terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17

meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton.

Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api

Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan. 3. Pelataran Puncak

Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai

pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan

lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di

sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran

puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung- gedung pencakar langit

di kota Jakarta. Bahkan jika

udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung

Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan

Kepulauan Seribu. 4. Pelataran Bawah

Pelataran bawah luasnya 45x45 m. Tinggi dari dasar

Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian

ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang

merupakan hutan kota yang indah. 5. Museum Sejarah Perjuangan Nasional

Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan

yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8

meter. Museum ini menampilkan sejarah

perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini

adalah 80x80 m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela

peragaan) yang

menampilkan sejarah Indonesia dari jaman

kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia

hingga G30S PKI. Sukarno yang terkenal flamboyan saat itu lebih

memilih Monas karena merupakan simbol phallus

raksasa. Tidak aneh jika simbol ibukota negaranya

adalah simbol kejantanan seorang pria (phallus).

Sukarno adalah seorang visioner yang tidak

tanggung-tanggung dan berpandangan jauh ke depan. Dia tidak membiarkan

pembangunan

phallus/lingga sendirian. Saat bersamaan, dia juga

memerintahkan pembangunan 'pasangannya',

yakni Yoni sebagai simbol perempuan, tepat di atas

Monas. Jadilah Monas seperti yang terlihat sekarang,

sebuah bangunan lambing penyatuan Lingga dan Yoni, simbol laki-laki

dan perempuan. Menurut penuturan Dan Brown dalam novel

fenomenalnya, penyatuan Lingga dan Yoni

merupakan ritus purba seksual, Persetubuhan Suci

(The Sacred Sextum). Ini adalah ritual tertinggi bagi

kelompok-kelompok penganut Luciferian

(penyembah setan) seperti halnya Ksatria Templar dan Freemasonry.

Monas adalah The Sacred Sextum

Tugu Monas hanyalah salah satu dari obelisk-obelisk

lain yang tersebar di pusat-pusat kota seluruh dunia.

Obelisk tertua berasal dari kebudayaan Mesir Kuno,

simbol menjulang menuju dewa tertinggi bangsa

pagan purba (dan modern). Selain Kairo dan Jakarta, obelisk asli Mesir

dapat kita saksikan di ibukota

penguasa dunia saat ini, Washington DC Amerika

Serikat. Lokasinya tepat di depan Capitol Hill tempat

presiden-presiden Amerika terpilih mengucapkan

sumpahnya secara turun-temurun. Obelisk atau

phallus juga bisa kita jumpai tepat di tengah lapangan Basilika Santo

Petrus, Vatican City, negara

tempat pemimpin umat Katholik Roma sejagat raya.

Phallus modern juga dapat berupa obelisk baja yang

menjulang di tengah-tengah ibukota Perancis, Paris

berupa Menara Eiffel. Obelisk adalah simbol kejantanan, kekuatan, dan

kekuasaan

Jika kita cermati bersama, keberadaan Tugu Monas

di jantung ibukota negara Republik Indonesia adalah

sebuah ejekan tak kentara terhadap sila pertama

Pancasila. Monas adalah lambang Persetubuhan Suci yang dilakukan tanpa

malu-malu di sekeliling rumah

Tuhan. Dia mengejek Gereja Imanuel, dia mengejek

Gereja Katedral, dan dia juga mengejek Masjid

Istiqlal. Terhadap rumah Tuhan-rumah Tuhan yang

mengelilinginya, Monas seakan mencibir, "Lihatlah

aku, aku lebih tinggi dan lebih megah ketimbang kalian, dan yang pasti

pengikutku lebih banyak dari

penghuni kalian, hahahaha..." Dan memang ada benarnya, Monas adalah simbol

dari tabiat bangsa ini dari waktu ke waktu yang

semakin tidak memiliki rasa malu. Di bawah

naungannya, di antara rindangnya pepohonan dan

rimbunnya semak-semak di sekitarnya, tidak siang

tidak malam, banyak manusia yang melakukan ritus purba seperti yang

ditunjukkan penyatuan Lingga

dan Yoni, Monas. Kebanyakan pelakunya adalah

muda-mudi yang tidak tahu diri dan tidak memiliki

harga diri lagi. Dan, rahasia Tugu Monas yang barangkali tidak

dapat kita rasakan hingga saat ini adalah bentuk

piramida silang Monas jika dilihat dari udara. Sebelum adanya aplikasi

Google Earth, tak banyak

manusia yang dapat menyaksikan simbol pagan

masyarakat purba (dan modern) dengan seksama

seperti saat ini. Sebagai perbandingan, arahkan

kursor peta Google Earth tepat di atas Piramida Giza

di Kairo, Mesir. Kemudian alihkan kursor ke kota Jakarta tepat di atas

komplek Tugu Monas. Jika

silang Monas yang tampak dari atas tersebut kita

anggap sebagai sisi-sisi piramida dan Tugu Monas

yang berada tepat di tengahnya sebagai puncak

piramida, terlihat ada kesamaan bentuk dan konsep

antara Piramida Giza di Mesir dan 'Piramida Monas'di Indonesia.