Senin, 18 April 2011

Nilai Seikat Kembang

Nilai Seikat
Kembang
Seorang pria turun dari
sebuah mobil mewah
yang diparkir di depan
kuburan umum.
Pria itu berjalan menuju
pos penjaga kuburan.
Setelah memberi salam,
pria yang ternyata
adalah sopir itu berkata,
"Pak, maukah Anda
menemui wanita yang
ada di mobil itu?
Tolonglah Pak, karena
para dokter mengatakan
sebentar lagi beliau akan
meninggal!"
Penjaga kuburan itu
menganggukan
kepalanya tanda setuju
dan ia segera berjalan di
belakang sopir itu.
Seorang wanita lemah
dan berwajah sedih
membuka pintu mobilnya
dan berusaha tersenyum
kepada penjaga kuburan
itu sambil berkata,
"Saya Ny. Steven. Saya
yang selama ini mengirim
uang setiap dua minggu
sekali kepada Anda. Saya
mengirim uang itu agar
Anda dapat membeli
seikat kembang dan
menaruhnya di atas
makam anak saya. Saya
datang untuk berterima
kasih atas kesediaan dan
kebaikan hati Anda. Saya
ingin memanfaatkan sisa
hidup saya untuk
berterima kasih kepada
orang-orang yang telah
menolong saya."
"O, jadi Nyonya yang
selalu mengirim uang
itu? Nyonya, sebelumnya
saya minta maaf kepada
Anda. Memang uang
yang Nyonya kirimkan itu
selalu saya belikan
kembang, tetapi saya
tidak pernah menaruh
kembang itu di pusara
anak Anda." jawab pria
itu.
"Apa, maaf?" tanya
wanita itu denga gusar.
"Ya, Nyonya. Saya tidak
menaruh kembang itu di
sana karena menurut
saya, orang mati tidak
akan pernah melihat
keindahan seikat
kembang.
Karena itu setiap
kembang yang saya beli,
saya berikan kepada
mereka yang ada di
rumah sakit, orang
miskin yang saya jumpai,
atau mereka yang
sedang bersedih. Orang-
orang yang demikian
masih hidup, sehingga
mereka dapat menikmati
keindahan dan
keharuman kembang-
kembang itu, Nyonya,"
jawab pria itu.
Wanita itu terdiam,
kemudian ia
mengisyaratkan agar
sopirnya segera pergi.
Tiga bulan kemudian,
seorang wanita cantik
turun dari mobilnya dan
berjalan dengan anggun
ke arah pos penjaga
kuburan.
"Selamat pagi. Apakah
Anda masih ingat saya?
Saya Ny. Steven. Saya
datang untuk berterima
kasih atas nasihat yang
Anda berikan beberapa
bulan yang lalu. Anda
benar bahwa
memperhatikan dan
membahagiakan mereka
yang masih hidup jauh
lebih berguna daripada
meratapi mereka yang
sudah meninggal.
Ketika saya secara
langsung mengantarkan
kembang-kembang itu ke
rumah sakit atau panti
jompo, kembang-
kembang itu tidak hanya
membuat mereka
bahagia, tetapi saya juga
turut bahagia.
Sampai saati ini para
dokter tidak tahu
mengapa saya bisa
sembuh, tetapi saya
benar-benar yakin bahwa
sukacita dan
pengharapan adalah
obat yang memulihkan
saya!""
Jangan pernah
mengasihani diri sendiri,
karena mengasihani diri
sendiri akan membuat
kita terperangkap di
kubangan kesedihan. Ada
prinsip yang mungkin
kita tahu, tetapi sering
kita lupakan, yaitu
dengan menolong orang
lain sesungguhnya kita
menolong diri sendiri. :)

Seribu Burung Kertas

Sewaktu boy dan girl
baru pacaran, boy
melipat 1000 burung
kertas buat girl,
menggantungkannya di
dlm kamar girl. Boy
mengatakan, 1000
burung kertas itu
menandakan 1000
ketulusan hatinya.
Waktu itu, girl dan boy
setiap detik selalu
merasakan betapa
indahnya cinta mereka
b'dua....
Tetapi pada suatu saat,
girl mulai menjauhi boy.
Girl memutuskan untuk
menikah dan pergi ke
Perancis, ke Paris tempat
yang dia impikan di
dalam mimpinya berkali2
itu!!
Sewaktu girl mau
mutusin boy, girl bilang
sama boy, kita harus
melihat dunia ini dengan
pandangan yang
dewasa..... Menikah bagi
cewek adalah kehidupan
kedua kalinya!! Aku
harus bisa memegang
kesempatan ini dengan
baik. Kamu terlalu
miskin, sungguh aku
tidak berani
membayangkan
bagaimana kehidupan
kita setelah menikah...!!
Setelah Girl pergi ke
Perancis, Boy bekerja
keras, dia pernah
menjual koran, menjadi
karyawan sementara,
bisnis kecil, setiap
pekerjaan dia kerjakan
dengan sangat baik dan
tekun.
Sudah lewat beberapa
tahun... Karena
pertolongan teman dan
kerja kerasnya,
akhirnya dia mempunyai
sebuah perusahaan. Dia
sudah kaya, tetapi
hatinya masih tertuju
pada Girl, dia masih
tidak dapat
melupakannya.
Pada suatu hari, waktu
itu hujan, Boy dari
mobilnya melihat
sepasang orang tua
berjalan sangat pelan di
depan. Dia mengenali
mereka, mereka adalah
orang tua Girl..
Dia ingin mereka lihat
kalau sekarang dia tidak
hanya mempunyai mobil
pribadi, tetapi juga
mempunyai Vila dan
perusahaan sendiri, ingin
mereka tahu kalau dia
bukan seorang yang
miskin lagi, dia sekarang
adalah seorang Bos. Boy
mengendarai mobilnya
sangat pelan sambil
mengikuti sepasang
orang tua tsb.
Hujan terus turun, tanpa
henti, biarpun kedua org
tua itu memakai payung,
tetapi badan mereka
tetap basah karena
hujan.
Sewaktu mereka sampai
tempat tujuan, Boy
tercegang oleh apa yang
ada di depan matanya,
itu adalah tempat
pemakaman. Dia melihat
di atas papan nisan Girl
tersenyum sangat manis
terhadapnya.
Di samping makamnya
yang kecil, tergantung
burung2 kertas yang
dibuatkan Boy, dalam
hujan burung2 kertas itu
terlihat begitu hidup.
Org tua Girl
memberitahu Boy, Girl
tidak pergi ke paris, Girl
terserang kanker, Girl
pergi ke surga. Girl ingin
Boy menjadi orang,
mempunyai keluarga
yang harmonis, maka
dengan terpaksa berbuat
demikian terhadap Boy
dulu. Girl bilang dia
sangat mengerti Boy, dia
percaya kalau Boy pasti
akan berhasil.
Girl mengatakan, kalau
pada suatu hari Boy akan
datang ke makamnya
dan berharap dia
membawakan beberapa
burung kertas buatnya
lagi.
Boy langsung berlutut,
berlutut di depan makam
Girl, menangis dengan
begitu sedihnya. Hujan
pada hari Ching Ming itu
terasa tidak akan
berhenti, membasahi
sekujur tubuh Boy.
Boy teringat senyum
manis Girl yang begitu
manis dan polos,
mengingat
semua itu, hatinya mulai
bertabur kesedihan..."
terkadang kita merasa
tersakiti oleh org2 yg
kita cintai
hanya krn mereka tidak
mau jujur dan terbuka
kepada kita
namun sebenarnya....apa
yg mereka lakukan
adalah demi kebaikan
kita

Kisah Dibalik Jendela

Dua orang pria,
keduanya menderita
sakit keras, sedang
dirawat di sebuah kamar
rumah sakit. Seorang di
antaranya menderita
suatu penyakit yang
mengharuskannya duduk
di tempat tidur selama
satu jam di setiap sore
untuk mengosongkan
cairan dari paru-parunya
dan unutk menormalkan
jantungnya karena
denyutnya sangat lemah.
Kebetulan, tempat
tidurnya berada tepat di
sisi jendela satu-satunya
yang ada di kamar itu.
Sedangkan pria yang lain
harus berbaring lurus di
atas punggungnya. Pria
ini sering uring-uringan,
bahkan tak jarang
membentak anggota
keluarga yang menjaga
dan perawat yang
memeriksanya. Tak
jarang pula pria yang
satu ini bereriak di
malam hari (mungkin
karena kesakitan)
sehingga mengganggu
pasien yang lainnya.
Suatu hari di sore yang
cerah, seperti biasa pria
yang berada dekat
jendela ini duduk. Lalu
dia melihat keluar
jendela, sambil
tersenyum dan dengan
wajah yg gembira,
"Senang sekali ya
seandainya aku bisa
berjalan-jalan setiap sore
di taman itu, tentunya
aku tidak ingin kembali
di tempat ini lagi."
gumamnya sambil tetap
terlihat tersenyum.
Melihat hal itu pria
satunya yang berada di
sebelah tempat tidurnya
berkata dengan rasa
penasaran, "Apa yang
kau lihat di luar sana?"
"Di luar jendela, tampak
sebuah taman dengan
kolam yang indah. Itik
dan angsa berenang-
renang cantik,
sedangkan anak-anak
bermain dengan perahu-
perahu mainan.
Beberapa pasangan
berjalan bergandengan
di tengah taman yang
dipenuhi dengan
berbagai macam bunga
berwarnakan pelangi.
Sebuah pohon tua besar
menghiasi taman itu.
Jauh di atas sana terlihat
kaki langit kota yang
mempesona. Suatu senja
yang indah." jelas pria
yang duduk
Setiap sore, ketika pria
yang tempat tidurnya
berada dekat jendela di
perbolehkan untuk
duduk, ia menceritakan
tentang apa yang
terlihat di luar jendela
kepada rekan
sekamarnya. Selama satu
jam itulah, pria ke dua
merasa begitu senang
dan bergairah
membayangkan betapa
luas dan indahnya semua
kegiatan dan warna-
warna indah yang ada di
luar sana.
Pria pertama itu
menceritakan keadaan di
luar jendela dengan
detil, sedangkan pria
yang lain berbaring
memejamkan mata
membayangkan semua
keindahan pemandangan
itu. Perasaannya menjadi
lebih tenang, dalam
menjalani kesehariannya
di rumah sakit itu.
Semangat hidupnya
menjadi lebih kuat,
percaya dirinya
bertambah.
Pada suatu sore yang
lain, pria yang duduk di
dekat jendela
menceritakan tentang
parade karnaval yang
sedang melintas. Meski
pria yang ke dua tidak
dapat mendengar suara
parade itu, namun ia
dapat melihatnya melalui
pandangan mata pria
yang pertama yang
menggambarkan semua
itu dengan kata-kata
yang indah. Begitulah
seterusnya, dari hari ke
hari. Dan, satu minggu
pun berlalu.
Suatu pagi, perawat
datang membawa
sebaskom air hangat
untuk mandi. Ia
mendapati ternyata pria
yang berbaring di dekat
jendela itu telah
meninggal dunia dengan
tenang dalam tidurnya.
Perawat itu menjadi
sedih lalu memanggil
perawat lain untuk
memindahkannya ke
ruang jenazah.
Kemudian pria yang
kedua ini meminta pada
perawat agar ia bisa
dipindahkan ke tempat
tidur di dekat jendela
itu. Perawat itu menuruti
kemauannya dengan
senang hati dan
mempersiapkan segala
sesuatu ya. Ketika
semuanya selesai, ia
meninggalkan pria tadi
seorang diri dalam
kamar.
Dengan perlahan dan
kesakitan, pria ini
memaksakan dirinya
untuk bangun. Ia ingin
sekali melihat keindahan
dunia luar melalui
jendela itu. Betapa
senangnya, akhirnya ia
bisa melihat sendiri dan
menikmati semua
keindahan itu. Hatinya
tegang, perlahan ia
menjengukkan kepalanya
ke jendela di samping
tempat tidurnya. Apa
yang dilihatnya?
Ternyata, jendela itu
menghadap ke sebuah
TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil
perawat dan
menanyakan apa yang
membuat teman pria
yang sudah wafat tadi
bercerita seolah-olah
melihat semua
pemandangan yang luar
biasa indah di balik
jendela itu.
Perawat itu menjawab,
"Sesungguhnya pria tadi
adalah seorang yang
buta, yang terserang
penyakit sangat berat
dan akut, bahkan untuk
melihat tembok
sekalipun dia tidak bisa."
lalu dengan tersenyum
perawat itu berkata lagi,
"Barangkali ia ingin
memberi anda semangat
hidup, agar anda bisa
lebih sabar untuk
melawan penyakit" kata
perawat itu.
Mendengar hal itu pria
tadi berkaca-kaca. Dia
merasa sebagai orang
yang cengeng,
menyebalkan dan selalu
menyusahkan orang
bahkan kepada mereka
yang ingin berbuat baik
kepadanya.
Dan sejak saat itu pria
itu tidak lagi suka
marah-marah, tidak lagi
berteriak meski
kesakitan dan selalu
tersenyum setiap melihat
di luar jendela. Mungkin
dia tidak melihat apa-
apa, tapi dia
membayangkan cerita-
cerita indah pria
sebelahnya yang selalu
menggambarkan
keindahan di luar sana."
Ujaran-ujaran yang
bersemangat, tutur kata
yang membangun, selalu
menghadirkan sisi
terbaik dalam hidup kita.
Menyampaikan setiap
ujaran dengan santun,
akan selalu lebih baik
daripada
menyampaikannya
dengan ketus, gerutu,
atau dengan kesal.
Menyampaikan
keburukan, sebanding
dengan setengah
kemuraman, namun,
menyampaikan
kebahagiaan akan
melipatgandakan
kebahagiaan itu sendiri.
Ada hal-hal yang
mempesona saat kita
mampu memberikan
kebahagiaan kepada
orang lain.

Kisah Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang
indah tumbuh di halaman
rumah seorang petani.
Batang bambu ini
tumbuh tinggi menjulang
di antara batang-batang
bambu lainnya. Suatu
hari datanglah sang
petani yang empunya
pohon bambu itu. Dia
berkata kepada batang
bambu," Wahai bambu,
maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa
saluran air, yang sangat
berguna untuk mengairi
sawahku?"
Batang bambu
menjawabnya, "Oh tentu
aku mau bila dapat
berguna bagi engkau,
Tuan. Tapi ceritakan apa
yang akan kau lakukan
untuk membuatku
menjadi pipa saluran air
itu. Sang petani
menjawab, "Pertama,
aku akan menebangmu
untuk memisahkan
engkau dari rumpunmu
yang indah itu. Lalu aku
akan membuang cabang-
cabangmu yang dapat
melukai orang yang
memegangmu. Setelah
itu aku akan membelah-
belah engkau sesuai
dengan keperluanku.
Terakhir aku akan
membuang sekat-sekat
yang ada di dalam
batangmu, supaya air
dapat mengalir dengan
lancar.
Apabila aku sudah selesai
dengan pekerjaanku,
engkau akan menjadi
pipa yang akan
mengalirkan air untuk
mengairi sawahku
sehingga padi yang
kutanam dapat tumbuh
dengan subur."
Mendengar hal ini,
batang bambu lama
terdiam..... , kemudian
dia berkata kepada
petani, "Tuan, tentu aku
akan merasa sangat
sakit ketika engkau
menebangku. Juga pasti
akan sakit ketika engkau
membuang cabang-
cabangku, bahkan lebih
sakit lagi ketika engkau
membelah-belah
batangku yang indah ini,
dan pasti tak
tertahankan ketika
engkau mengorek-
ngorek bagian dalam
tubuhku untuk
membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah
aku akan kuat melalui
semua proses itu, Tuan?"
Petani menjawab batang
bambu itu, " Wahai
bambu, engkau pasti
kuat melalui semua itu,
karena aku memilihmu
justru karena engkau
yang paling kuat dari
semua batang pada
rumpun ini. Jadi
tenanglah."
Akhirnya batang bambu
itu menyerah, "Baiklah,
Tuan. Aku ingin sekali
berguna bagimu. Ini aku,
tebanglah aku,
perbuatlah sesuai
dengan yang kau
kehendaki."
Setelah petani selesai
dengan pekerjaannya,
batang bambu indah
yang dulu hanya menjadi
penghias halaman rumah
petani, kini telah
berubah menjadi pipa
saluran air yang mengairi
sawahnya sehingga padi
dapat
tumbuh dengan subur
dan berbuah banyak."
Pernahkah kita berpikir
bahwa dengan masalah
yang datang silih
berganti tak habis-
habisnya, mungkin
TUHAN sedang
memproses kita untuk
menjadi indah di
hadapan-Nya? Sama
seperti batang bambu
itu,
kita sedang ditempa,
TUHAN sedang membuat
kita sempurna untuk di
pakai menjadi penyalur
berkat, agar diri kita
menjadi lebih
bermanfaat dan lebih
baik lagi. Dia sedang
membuang kesombongan
dan segala sifat
kita yang tak berkenan
bagi-Nya. Tapi jangan
kuatir, kita pasti kuat
karena TUHAN tak akan
memberikan beban yang
tak mampu kita pikul.
Jadi maukah kita
berserah diri pada
kehendak TUHAN,
membiarkan Dia bebas
berkarya di dalam diri
kita untuk menjadikan
kita alat yang berguna
bagi-Nya? karena
sesungguhnya Dia maha
tau yang terbaik untuk
kita, dan TUHAN tidak
lah pernah sia-sia dalam
menciptakan
sesuatu.
Seperti batang bambu
itu, mari kita berkata, "
Ini aku TUHAN,
perbuatlah sesuai
dengan yang Kau
kehendaki, dan semoga
engkau meridhoi"

Jalan Raja

Zaman dahulu kala,
tersebutlah seorang
Raja, yang menempatkan
sebuah batu besar di
tengah-tengah jalan.
Raja tersebut kemudian
bersembunyi, untuk
melihat apakah ada yang
mau menyingkirkan batu
itu dari jalan. Beberapa
pedagang terkaya yang
menjadi rekanan raja
tiba ditempat, untuk
berjalan melingkari batu
besar tersebut. Banyak
juga yang datang,
kemudian memaki-maki
sang Raja, karena tidak
membersihkan jalan dari
rintangan. Tetapi tidak
ada satupun yang mau
melancarkan jalan
dengan menyingkirkan
batu itu.
Kemudian datanglah
seorang petani, yang
menggendong banyak
sekali
sayur mayur. Ketika
semakin dekat, petani ini
kemudian meletakkan
dahulu bebannya, dan
mencoba memindahkan
batu itu kepinggir jalan.
Setelah banyak
mendorong dan
mendorong, akhirnya ia
berhasil menyingkirkan
batu besar itu. Ketika si
petani ingin mengangkat
kembali sayurnya,
ternyata ditempat batu
tadi ada kantung yang
berisi banyak uang emas
dan surat Raja. Surat
yang mengatakan bahwa
emas ini hanya untuk
orang yang mau
menyingkirkan batu
tersebut dari jalan.
Petani ini kemudian
belajar, satu pelajaran
yang kita tidak pernah
bisa mengerti. Bahwa
pada dalam setiap
rintangan, tersembunyi
kesempatan yang bisa
dipakai untuk
memperbaiki hidup kita."

Kepiting Sungai

Suatu ketika di sore hari
yang terasa teduh,
nampak seorang pertapa
muda sedang
bermeditasi di bawah
pohon, tidak jauh dari
tepi sungai. Saat sedang
berkonsentrasi
memusatkan pikiran,
tiba-tiba perhatian
pertapa itu terpecah
kala mendengarkan
gemericik air yang
terdengar tidak
beraturan.
Perlahan-lahan, ia
kemudian membuka
matanya. Pertapa itu
segera melihat ke arah
tepi sungai di mana
sumber suara tadi
berasal. Ternyata, di
sana nampak seekor
kepiting yang sedang
berusaha keras
mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk
meraih tepian sungai
sehingga tidak hanyut
oleh arus sungai yang
deras.
Melihat hal itu, sang
pertapa merasa kasihan.
Karena itu, ia segera
mengulurkan tangannya
ke arah kepiting untuk
membantunya. Melihat
tangan terjulur, dengan
sigap kepiting menjepit
jari si pertapa muda.
Meskipun jarinya terluka
karena jepitan capit
kepiting, tetapi hati
pertapa itu puas karena
bisa menyelamatkan si
kepiting.
Kemudian, dia pun
melanjutkan kembali
pertapaannya. Belum
lama bersila dan mulai
memejamkan mata,
terdengar lagi bunyi
suara yang sama dari
arah tepi sungai.
Ternyata kepiting tadi
mengalami kejadian yang
sama. Maka, si pertapa
muda kembali
mengulurkan tangannya
dan membiarkan jarinya
dicapit oleh kepiting
demi membantunya.
Selesai membantu untuk
kali kedua, ternyata
kepiting terseret arus
lagi. Maka, pertapa itu
menolongnya kembali
sehingga jari tangannya
makin membengkak
karena jepitan capit
kepiting.
Melihat kejadian itu, ada
seorang tua yang
kemudian datang
menghampiri dan
menegur si pertapa
muda, "Anak muda,
perbuatanmu menolong
adalah cerminan hatimu
yang baik. Tetapi,
mengapa demi menolong
seekor kepiting engkau
membiarkan capit
kepiting melukaimu
hingga sobek seperti
itu?"
"Paman, seekor kepiting
memang menggunakan
capitnya untuk
memegang benda. Dan
saya sedang melatih
mengembangkan rasa
belas kasih. Maka, saya
tidak
mempermasalahkan jari
tangan ini terluka
asalkan bisa menolong
nyawa mahluk lain,
walaupun itu hanya
seekor kepiting," jawab
si pertapa muda dengan
kepuasan hati karena
telah melatih sikap belas
kasihnya dengan baik.
Mendengar jawaban si
pertapa muda, kemudian
orang tua itu memungut
sebuah ranting. Ia lantas
mengulurkan ranting ke
arah kepiting yang
terlihat kembali
melawan arus sungai.
Segera, si kepiting
menangkap ranting itu
dengan capitnya. " Lihat
Anak muda. Melatih
mengembangkan sikap
belas kasih memang
baik, tetapi harus pula
disertai dengan
kebijaksanaan. Bila
tujuan kita baik, yakni
untuk menolong mahluk
lain, bukankah tidak
harus dengan cara
mengorbankan diri
sendiri. Ranting pun bisa
kita manfaatkan, betul
kan?"
Seketika itu, si pemuda
tersadar. "Terima kasih
paman. Hari ini saya
belajar sesuatu.
Mengembangkan cinta
kasih harus disertai
dengan kebijaksanaan.
Di kemudian hari, saya
akan selalu ingat
kebijaksanaan yang
paman ajarkan.""
Mempunyai sifat belas
kasih, mau
memerhatikan dan
menolong orang lain
adalah perbuatan mulia,
entah perhatian itu kita
berikan kepada anak
kita, orang tua, sanak
saudara, teman, atau
kepada siapa pun.
Tetapi, kalau cara kita
salah, seringkali
perhatian atau bantuan
yang kita berikan
bukannya memecahkan
masalah, namun justru
menjadi bumerang.
Kita yang tadinya tidak
tahu apa-apa dan hanya
sekadar berniat
membantu, malah harus
menanggung beban dan
kerugian yang tidak
perlu. Dengan begitu,
bantuan itu nantinya
tidak hanya akan
berdampak positif bagi
yang dibantu, tetapi
sekaligus
membahagiakan dan
membawa kebaikan pula
bagi kita yang
membantu.

Ketika Cinta Itu Pergi

Seorang gadis muda
berusia 24 tahun
mengalami masa jatuh
cinta. Namanya, Carisa.
Sifatnya begitu kekanak
- kanakkan. Sejak
mengalami patah hati
beberapa tahun yang
lalu, membuat gadis itu
trauma untuk mencintai
seseorang dengan
sungguh - sungguh.
Pelampiasan sakit hati
Carisa dicurahkan untuk
pekerjaannya. Dulu, dia
sangat mencintai
seorang laki - laki di
kampusnya sendiri.
Namanya, Roki. Dia
sangatlah tampan dan
menarik hati gadis
siapapun juga, termasuk
Carisa sendiri.
Suatu hari, Carisa tidak
dapat membendung dan
memendam rasa
cintanya kepada Roki.
Dia memberanikan diri
ntuk mengatakan suka
padanya, melalui
telepon. Carisa...sungguh
Carisa adalah seorang
gadis yang lugu dan
polos. Dia tak berpikir
apa yang akan terjadi
nanti ketika seorang
pujaannya itu tidak
mencintai seperti dia.
Malam hari itu, tepat
hari Jum'at, saat acara
reality show "Indonesia
Idol 1" tayang pertama
kalinya. Gadis itu
berjalan menuju ke
sebuah wartel dan
menekan nomor telepon
kesayangannya. 355 35
XX. Diangkatnya telepon
itu oleh Roki sendiri. Dan
detik itu pula Carisa
mengatakan yang
sejujurnya, tentang
perasaan cintanya.
Namun ternyata, Roki
sebaliknya. Seperti yang
kalian tahu,"Cinta
bertepuk sebelah
tangan".
Carisa menangis tersedu
- sedu, dan dia berjanji
pada dirinya sendiri
untuk tidak menelpon
Roki kembali. Dan akan
menghindar jika bertemu
di dalam kampus. Selama
sebulan Carisa tak
menghubungi Roki, dan
jika bertemu muka pun
Carisa memalingkan
wajahnya. Siang hari,
Carisa dan Roki bertemu
di warnet kampus, saat
mengerjakan tugas dari
dosen. Hati Carisa
bercampur aduk, antara
senang, sedih, sakit dan
marah. Roki mencuri -
curi pandang pada
Carisa, dan Carisa tahu
akan hal itu.
Carisa tahu bahwa
sebulan itu, Roki
menunggu telepon dari
Carisa. Laki - laki itu
tidak tahu bahwa karena
penolakan itu, Carisa
mendadak sakit. Ketika
sedang menanti
datangnya sebuah
angkutan umum untuk
pergi ke kampus, karena
perasaan sedih yang
menekan hati. Carisa
pingsan di jalan. Carisa
mempunyai sebuah
penyakit psikis yang tak
bisa disembuhkan.
Dokter Carisa
mengatakan bahwa
psikis Carisa lemah, dan
jika dia merasa kepikiran
ataupun tertekan maka
dapat pingsan di mana
saja.
Sampai pada suatu
malam, karena Carisa
merasa terlalu rindu
padanya. Dia menelpon
Roki kembali. Dia pikir
Roki tak akan pernah
menerima teleponnya
kembali. Ternyata tidak!
Akhirnya, hubungan
Carisa dan Roki pun
mulai membaik. Mereka
berdua saling bercanda
dan mengejek sesuatu.
Saat bertemu dengan
Roki umur Carisa baru 19
tahun. Saat mengatakan
suka Carisa berumur 20
tahun. Usut punya usut,
dari penyelidikan teman
- temannya mengatakan
bahwa Roki tidak ingin
memiliki kekasih dahulu
demi pendidikannya yang
belum selesai.
Karena alasan yang kuat
itu pula, akhirnya Carisa
bersedia untuk
menantinya dalam
ketidak pastian sikap.
Sering mereka berdua
bertengkar, kemudian
berbaikan kembali. Tapi,
mereka hanya berbicara
lewat kabel telepon, jika
bertemu di kampus,
Carisa tidak ingin ada
orang yang mengetahui
bahwa dia sedang
menyukainya.
2 tahun berlalu...dan
Carisa masih menantinya
tanpa mencari cinta
orang lain. Carisa adalah
seorang gadis yang
sangat setia jika telah
mencintai seseorang.
Dan orang itu pasti akan
dihubunginya setiap saat.
Masa yang dinanti telah
tiba, Roki telah selesai
menjalani skripsinya, itu
adalah saat untuk
menanyakan kembali
hubungan mereka
berdua. Malam hari itu,
Carisa menelponnya
untuk meminta kejelasan
tentang dirinya.
Ternyata, petir itu seolah
langsung menyambar
batang otak Carisa.
Keputusan Roki tetap!!!
Tidak berubah. Carisa
menangis kembali. Carisa
kehilangan kendali
sampai akhirnya berbuat
nekad. Dia meminta
sahabatnya, Diaz untuk
berpura - pura menjadi
kakak Carisa dan
menelpon Roki. Untuk
diperbolehkan
menelponnya kembali
biar pun dia tidak pernah
peduli.
Carisa sinting...
Akhirnya Roki percaya
bahwa yang sedang
berbicara itu adalah
kakaknya Carisa sendiri.
Dan dia menyanggupi
permintaan untuk tidak
pernah menolak telepon
dari Carisa. Gadis itu pun
senang bukan kepalang,
dia tak berpikir bahwa di
luar sana masih banyak
laki - laki yang
menyukainya. She's don't
care anything! Sampai
pada suatu hari Tuhan
pun menyadarkannya
dari kegilaan. Seorang
temannya, Yuli
memberitahu Carisa
bahwa Roki tidak bisa
mencintai siapapun
karna demi karirnya
untuk menjalani
pendidikan angkatan
laut. Dan Carisa tahu
bahwa seorang pelaut itu
pasti sering
meninggalkan
kekasihnya. Itu yang dia
ketahui, rahasia di balik
kebungkaman Roki.
Perlahan - lahan, Carisa
dapat menerima alasan
itu. Frekuensi
menelponnya pun sudah
jarang dan hampir tak
pernah lagi.
7 bulan Roki pergi dari
kota Surabaya ke
Magelang untuk
menjalani pendidikan
angkatan laut. Selama 7
bulan itulah, Carisa
melampiaskan rasa
sedihnya dengan
mengikuti forum - forum
di internet. Tiba saatnya
Roki kembali pada bulan
Juli di Surabaya. Dan
Carisa ingin mengetahui
lagi perihal hubungan itu
dengannya. Sekali lagi,
Roki masih beralasan
yang sama. Akhirnya titik
puncak kekesalan Carisa
pun sampai pada titik ke
- 100. Dia lalu tak peduli,
dan tak pernah akan
mengharapkan
kehadirannya kembali.
Dia lalu sadar bahwa
dirinya adalah seorang
gadis tolol, dungu, stupid
dan buta sekaligus tuli
karena tak mau
mendengar ucapan orang
lain.
Lambat laun, Carisa bisa
menerima keputusan
apapun. Dan sekarang
dia lampiaskan pada
tulisannya. Carisa
menjadi seorang penulis
novel, penulis novel!
Yang tidak disangka -
sangkanya sejak dulu.
Dan kebanyakan kisah
cintanya di dalam cerita
bertepuk sebelah tangan
seperti dirinya sendiri. Di
semua buku novelnya,
nama Roki selalu ada.
beberapa bulan yang
lalu...,
Carisa diberitahu Roki
bahwa dia telah memiliki
kekasih, dan Carisa pun
juga mengatakan bahwa
dia juga sudah memiliki
tambatan hati dan akan
menikah setahun lagi.
Padahal itu hanya sebuah
kebohongan! Roki
percaya akan hal itu dan
malah memberikan kata
Selamat! Padhal Carisa
menangis!
beberapa hari yang
lalu...,
Carisa diberitahu oleh
keluarga Roki
bahwa,Roki sedang
melakukan tugas
layarnya di Jayapura!
SElama 2 - 3 tahun ke
depan! Hati Carisa serasa
disambar geledek!
Hancur...luluh lantak!
Dan CArisa baru
mengetahui bahwa Roki
sama sekali tida k
memiliki kekasih!
4 tahun CArisa menanti
cinta sejak berumur 19
tahun sampai 23 tahun.
Dan ternyata, jika saja
CArisa tidak mencoba
untuk menghapus rasa
cinta di hatinya, pasti dia
sanggup dan mau untuk
menanti 2 - 3 tahun ke
depan lagi untuk
ketidakpastian pula.
2 hari yang lalu, Carisa
mengirimi dia sebuah
sms berisi" Roki, aku
rindu padamu. Carisa
sangat merindumu,
walau kau ada di
Jayapura. Aku masih
menantimu. Salam,
Carisa."
Cinta untuk sang pelaut
tanpa ujung.
1 hari yang lalu, Carisa
menelponnya. Dan
ternyata, telepon itu tak
pernah diangkat oleh
Roki. Entah kenapa....
kemudian Carisa tertawa
dan menertawakan
dirinya sendiri, dan
mengatai dirinya adalah
seorang gadis gila,
sinting dan bodoh! Tapi
entah kenapa, dia selalu
merasa bahwa suatu saat
Roki pasti mencintainya.
namun, Cinta itu telah
hilang ke Jayapura.
Hilang sejauh - jauhnya,
dan CArisa tak mungkin
mengejarnya. Jika saja
Tuhan mempertemukan
dirinya dengan Roki, tapi
tidak di dunia. Carisa
sangat berharap agar
Tuhan
mempertemukannya di
surga nanti. Karena
Tuhan akan menyatukan
cinta seseorang yang di
dunia tak pernah
kesampaian.
Dan Carisa sangat
meyakini hal itu, bahwa
dia pasti akan
dipertemukan kelak
dengan Roki, tapi tidak
di dunia. Melainkan cinta
yang abadi dan tak akan
pernah mati.
Cinta sejati hanya ada di
surga, cinta abadi hanya
ada di surga!"

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah
seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak
muda yang sedang
dirundung banyak
masalah.
Langkahnya gontai dan
air muka yang ruwet.
Pemuda itu, memang
tampak seperti orang
yang tak bahagia.
Pemuda itu
menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua
yang bijak
mendengarkan dengan
seksama. Beliau lalu
mengambil segenggam
garam dan segelas air.
Dimasukkannya garam
itu ke dalam gelas, lalu
diaduk perlahan.
"Coba, minum ini, dan
katakan bagaimana
rasanya, "ujar Pak tua
itu.
"Asin. Asin sekali, "jawab
sang tamu, sambil
meludah kesamping.
Pak Tua tersenyum kecil
mendengar jawaban itu.
Beliau lalu mengajak
sang pemuda ke tepi
telaga di dekat tempat
tinggal Beliau. Sesampai
di tepi telaga, Pak Tua
menaburkan segenggam
garam ke dalam telaga
itu.
Dengan sepotong kayu,
diaduknya air telaga itu.
"Coba, ambil air dari
telaga ini dan
minumlah." Saat pemuda
itu selesai mereguk air
itu, Beliau bertanya,
"Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut sang
pemuda.
"Apakah kamu
merasakan garam di
dalam air itu?" tanya
Beliau lagi.
"Tidak," jawab si anak
muda.
Dengan lembut Pak Tua
menepuk-nepuk
punggung si anak muda.
"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan,
adalah layaknya
segenggam garam tadi,
tak lebih dan tak kurang.
Jumlah garam yang
kutaburkan sama, tetapi
rasa air yang kau
rasakan berbeda.
Demikian pula kepahitan
akan kegagalan yang
kita rasakan dalam hidup
ini, akan sangat
tergantung dari wadah
yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan
didasarkan dari perasaan
tempat kita meletakkan
segalanya. Itu semua
akan tergantung pada
hati kita. Jadi, saat kamu
merasakan kepahitan
dan kegagalan dalam
hidup, hanya ada satu hal
yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu
menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap
kepahitan itu."
Beliau melanjutkan
nasehatnya. "Hatimu
adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah
tempat itu. Kalbumu
adalah tempat kamu
menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan
hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga
yang mampu meredam
setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi
kesegaran dan
kebahagiaan.""

Layanilah Dengan Tulus

Di sebuah kota kecil,
seorang anak laki-laki
umur 10-an tahun masuk
ke Coffee Shop Hotel,
dan duduk di meja.
Seorang pelayan wanita
menghampiri, dan
memberikan air putih
dihadapannya.
Anak ini kemudian
bertanya "Berapa ya,...
harga satu ice cream
sundae?" katanya.
"50 sen..." balas si
pelayan.
Si anak kemudian
mengeluarkan isi
sakunya dan menghitung
dan mempelajari koin-
koin di kantongnya....
"Wah... Kalau ice cream
yang biasa saja berapa?"
katanya lagi.
Tetapi kali ini orang-
orang yang duduk di
meja-meja lain sudah
mulai banyak... dan
pelayan ini mulai tidak
sabar. "35 sen" kata si
pelayan sambil uring-
uringan.
Anak ini mulai
menghitungi dan
mempelajari lagi koin-
koin yang tadi
dikantongnya. "Bu... saya
pesan yang ice cream
biasa saja ya..." ujarnya.
Sang pelayan kemudian
membawa ice cream
tersebut, meletakkan
kertas kwitansi di atas
meja dan terus melengos
berjalan..
Si anak ini kemudian
makan ice-cream,
setelah habis dia menuju
kasir dan menyodorkan
koin sejumlah 35 sen, lalu
pergi.
Ketika si pelayan wanita
ini kembali untuk
membersihkan meja si
anak kecil tadi, dia tak
kuasa menitikkan air
mata karena haru. Rapi
tersusun disamping
piring kecilnya yang
kosong, ada 2 buah koin
10 sen dan 5 buah koin 1
sen. Ternyata... anak
kecil ini tidak bisa pesan
Ice-cream Sundae,
karena dia tidak
memiliki cukup untuk
memberi sang pelayan
uang tip yang
"layak" ......"
Dari cerita diatas, tentu
bisa kita buat sebagai
gambaran. Bahwa setiap
orang memiliki
kesamaan hak, sehingga
janganlah kita melayani
orang dengan melihat
penampilannya. Beri
mereka ketulusan,
karena andai katapun
kita tidak mendapatkan
imbalan, tentunya Tuhan
akan mencatat itu
sebagai kebaikan.

Penumpang Yang Kehujanan

Malam itu, pukul
setengah dua belas
malam. Seorang wanita
negro rapi yang sudah
berumur, sedang berdiri
di tepi jalan tol Alabama.
Ia nampak mencoba
bertahan dalam hujan
yang sangat deras, yang
hampir seperti badai.
Mobilnya kelihatannya
lagi rusak, dan
perempuan ini sangat
ingin menumpang mobil.
Dalam keadaan basah
kuyup, ia mencoba
menghentikan setiap
mobil yang lewat. Namun
tidak satupun dari
mereka yang mau
berhenti.
Mobil berikutnya
dikendarai oleh seorang
pemuda bule, dia
berhenti untuk menolong
ibu ini. Kelihatannya si
bule ini tidak paham
akan konflik etnis tahun
1960-an, yang terjadi
pada saat itu. Pemuda ini
akhirnya membawa si ibu
negro selamat hingga
suatu tempat, untuk
mendapatkan
pertolongan, lalu
mencarikan si ibu ini
taksi. Walaupun terlihat
sangat tergesa-gesa, si
ibu tadi bertanya
tentang alamat si
pemuda itu, menulisnya,
lalu mengucapkan terima
kasih pada si pemuda.
7 hari berlalu, dan tiba-
tiba pintu rumah pemuda
bule ini diketuk
seseorang. Kejutan
baginya, karena yang
datang ternyata kiriman
sebuah televisi set besar
berwarna (1960-an!)
khusus dikirim
kerumahnya.Terselip
surat kecil tertempel di
televisi, yang isinya
adalah:
"Terima kasih nak,
karena membantuku di
jalan tol malam itu.
Hujan tidak hanya
membasahi bajuku,
tetapi juga jiwaku.
Untung saja anda datang
dan menolong saya.
Karena pertolongan
anda, saya masih sempat
untuk hadir disisi
suamiku yang sedang
sekarat... hingga
wafatnya". Tuhan
memberkati anda,karena
membantu saya dan
tidak mementingkan
dirimu pada saat itu"
Tertanda Ny.Nat King
Cole."
*Catatan : Nat King Cole,
adalah penyanyi negro
tenar thn. 60-an di USA

Sebuah Piring Kayu

Sebuah Piring Kayu
Disebuah keluarga, ada
seorang kakek tua yang
hidup bersama anak,
menantu dan seorang
cucu laki-laki.
Penglihatan si kakek
sudah kabur. Ia sudah
tidak dapat mendengar
dengan baik. Lututnya
sudah mulai bergetar.
Jika ia duduk dekat meja
makan, ia tidak dapat
lagi memegang sendok.
Kadang-kadang ia lupa
pula sup di atas taplak
meja. Dari dalam
mulutnya selalu saja sup
itu mengalir lagi keluar.
Anak laki-laki dan
menantu perempuannya
merasa jijik dengan hal
itu. Oleh sebab itu kakek
tua itu akhirnya duduk
sendirian di sudut, di
belakang sebuah tungku
api. Mereka memberi
makan hanya dengan
mangkok yang kecil. Ia
sering tidak mendapat
makan dan minum yang
cukup dan tentu saja ia
tetap
lapar dan haus. Ia
melihat apa saja yang
ada di meja makan
dengan sedih,
selanjutnya keluarlah air
matanya.
Suatu ketika jemarinya
yang sudah tua tidak
dapat lagi memegang
mangkuk. Mangkuk itu
jatuh dan pecah.
Menantu perempuannya
mengumpat dan
mencaci-maki. Tapi,
kakek tua itu tidak
berkata sedikit pun. Ia
membiarkan
semuanya terjadi. Lalu
Menantunnya itu
membelikannya sebuah
piring yang terbuat dari
kayu dengan harga yang
tidak terlalu mahal. Kini
dengan piring kayu itu
kakek tua itu harus
makan. Piring kayu ini
dapat membuat si kakek
tua lebih tenang karena
tidak dapat pecah.
Suatu hari cucunya yang
masih berumur empat
tahun mengumpulkan
batang-batang kayu di
tanah.
"Apa yang sedang kamu
buat, Nak ?" tanya
ayahnya.
"Saya sedang membuat
sebuah piring kayu ,"
jawab anaknya polos,
"dengan piring ini ayah
dan ibu akan makan, jika
nanti saya sudah besar."
Sejurus kemudian ayah
dan ibunya saling
bertatapan dan mereka
mulai menangis. Sejak
kejadian itu mereka
selalu memapah sang
kakek tua ke meja
makan, untuk makan
bersama. Jika ia lapar
atau haus, mereka
segera membawakan
makanan dan minuman
untuknya. Mereka tidak
berkata apa-apa, ketika
sedikit saja makanan
atau minuman tumpah
ke lantai.***"
Semoga cerita ini bisa
menjadi pengingat bagi
kita, bahwa seberapa
menjengkelkan,
menyebalkan bahkan
lebih buruk dari itu
perasaan kita thd orang
tua kita.....ketahuilah
bahwa mereka-lah orang
yang telah melahirkan
kita