Selasa, 31 Juli 2012

Nama Para Nabi Tertulis dalam Prasasti Ebla, 1500 Tahun Lebih Tua daripada Taurat

Nama Para Nabi Tertulis dalam Prasasti Ebla, 1500 Tahun Lebih Tua daripada Taurat
Berasal dari masa sekitar 2500 SM, prasasti Ebla memberikan keterangan teramat penting mengenai sejarah agama-agama. Sisi terpenting mengenai prasasti Ebla, yang ditemukan para ahli arkeologi pada tahun 1975 dan yang sejak itu telah menjadi pokok bahasan dari banyak penelitian dan perdebatan, adalah terdapatnya nama tiga orang nabi yang disebutkan dalam kitab-kitab suci.

Penemuan prasasti Ebla setelah ribuan tahun dan informasi yang dikandungnya sungguh sangat penting dari sudut pandang perannya dalam memperjelas letak geografis kaum-kaum yang disebutkan dalam Al Qur'an.

Sekitar 2500 SM, Ebla adalah sebuah kerajaan yang meliputi suatu wilayah yang di dalamnya termasuk ibukota Syria, Damaskus, dan Turki bagian tenggara. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bidang kebudayaan dan ekonominya, namun setelah itu, sebagaimana yang menimpa banyak peradaban besar, menghilang dari panggung sejarah. Tampak dari catatan yang terawetkan tersebut bahwa Kerajaan Ebla merupakan pusat utama kebudayaan dan perdagangan di masanya.(1) Penduduk Ebla memiliki sebuah peradaban yang membangun lembaga-lembaga arsip negara, mendirikan perpustakaan-perpustakaan dan mencatat aneka perjanjian perdagangan secara tertulis. Mereka bahkan memiliki bahasa mereka sendiri, yang disebut sebagai Eblaite.

Sejarah Agama-Agama Zaman Dahulu

Peran penting sesungguhnya Kerajaan Ebla, yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan besar bagi arkeologi klasik ketika pertama kali ditemukan di tahun 1975, mengemuka dengan ditemukannya sekitar 20.000 prasasti dan penggalan tulisan paku. Naskah ini empat kali lebih banyak daripada seluruh naskah bertulisan paku yang diketahui para arkeolog selama 3.000 tahun terakhir.

Ketika bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti tersebut diterjemahkan oleh seorang berkebangsaan Italia Giovanni Pettinato, penerjemah naskah-naskah kuno dari Universitas Roma, nilai penting prasasti tersebut semakin dipahami. Alhasil, penemuan Kerajaan Ebla dan kumpulan naskah negara yang luar biasa tersebut tidak hanya menarik perhatian di bidang arkeologi, tapi juga bagi kalangan agamawan. Hal ini dikarenakan selain nama-nama seperti Mikail (Mi-ka-il) dan Thalut (Sa-u-lum), yang berperang bersama Nabi Dawud, prasasti-prasasti ini juga menuliskan nama-nama nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci: Nabi Ibrahim (Ab-ra-mu), Nabi Dawud (Da-u-dum) dan Nabi Ismail (Ish-ma-il). (2)

Pentingnya Nama-Nama yang Disebut dalam Prasasti Ebla

Nama para nabi yang ditemukan dalam prasasti Ebla memiliki nilai teramat penting karena ini adalah kali pertama nama-nama tersebut dijumpai dalam naskah bersejarah setua itu. Informasi ini, yang berasal dari zaman 1500 tahun sebelum Taurat, sangatlah mengejutkan. Kemunculan nama Nabi Ibrahim di dalam prasasti tersebut menyatakan secara tertulis bahwa Nabi Ibrahim dan agama yang dibawanya telah ada sebelum Taurat.

Para sejarawan mengkaji prasasti Ebla dari sudut pandang ini, dan penemuan besar tentang Nabi Ibrahim dan misi yang diembannya menjadi bahan penelitian dalam kaitannya dengan sejarah agama-agama. David Noel Freedman, arkeolog dan peneliti Amerika mengenai sejarah agama-agama, melaporkan berdasarkan penelitiannya nama-nama nabi seperti Ibrahim dan Ismail di dalam prasasti tersebut. (3)

Nama-Nama Lain di dalam Prasasti

Sebagaimana disebutkan di atas, nama-nama yang ada di dalam prasasti adalah nabi-nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci, dan prasasti tersebut jauh lebih tua daripada Taurat. Selain nama-nama ini terdapat pula hal-hal lain dan nama-nama tempat di dalam prasasti tersebut, yang dengannya dapat diketahui bahwa penduduk Ebla adalah para pedagang yang sangat berhasil. Nama Sinai, Gaza dan Yerusalem, yang tidak terlalu jauh letaknya dari Ebla, juga terdapat di dalam tulisan tersebut, yang menunjukkan bahwa penduduk Ebla memiliki hubungan yang sangat baik dengan tempat-tempat tersebut di bidang perdagangan dan kebudayaan. (4)

Satu rincian penting yang diketahui dari prasasti tersebut adalah nama-nama wilayah seperti Sodom dan Gomorrah, tempat berdiamnya kaum Luth. Diketahui bahwa Sodom dan Gomorrah adalah sebuah wilayah di pesisir Laut Mati tempat bermukimnya kaum Luth dan tempat di mana Nabi Luth mendakwahkan risalahnya dan menyeru masyarakat untuk hidup mengikuti nilai-nilai ajaran agama. Selain dua nama ini, kota Iram, yang tercantum di dalam ayat-ayat Al Qur'an, juga di antara yang tersebut di dalam prasasti Ebla.

Sisi paling penting untuk dicermati dari nama-nama ini adalah bahwa selain dari naskah-naskah yang disampaikan oleh para nabi, nama-nama tersebut belum pernah muncul di dalam naskah mana pun sebelumnya. Ini adalah bukti tertulis penting yang menunjukkan bahwa para nabi yang medakwahkan risalah satu agama yang benar di masa itu telah mencapai wilayah-wilayah tersebut. Dalam sebuah tulisan di majalah Reader's Digest, tercatat di masa itu bahwa terdapat pergantian agama dari penduduk Ebla selama masa pemerintahan Raja Ebrum dan bahwa masyarakat mulai menambahkan imbuhan di depan nama-nama mereka dalam rangka meninggikan nama Tuhan Yang Mahakuasa.

Janji Allah Adalah Benar…

Sejarah Ebla dan prasasti Ebla yang ditemukan setelah 4.500 tahun sesungguhnya mengarahkan kepada satu kebenaran yang teramat penting: Allah telah mengirim utusan-utusan kepada penduduk Ebla, sebagaimana yang Dia lakukan ke setiap kaum, dan para utusan ini menyeru kaum mereka kepada agama yang benar.

Sebagian orang memeluk agama yang sampai kepada mereka sehingga mereka berada di jalan yang benar, sedangkan yang lain menentang risalah para nabi dan lebih memilih kehidupan yang nista. Tuhan, Penguasa langit dan bumi, dan segala sesuatu di antara keduanya, mewahyukan kenyataan ini dalam Al Qur'an:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl, 16: 36)

Macam-Macam I'Jaz Al-Qur'an 3

I'JAZ AL-QURAN

Macam-macam I'jaz AI-Quran
( 3 / 3 )

Dari ayat ini, anda akan mengetahui, sebagaimana anda lihat, bahwa anda berada di depan gerakan yang tidak terlalu cepat, juga tidak lambat, yang disadari oleh perasaan dan imajinasi.

Berikut ini saya ringkaskan pendapat Doktor Muhammad Sa'id Al-Buthi yang bisa dijadikan referensi untuk penulisan i’jaz lughawi, dan sebelumnya saya mohon maaf melakukan sedikit perubahan dan pengurangan:

Pada dasarnya, menjangkau kedalaman balaghah pembicaraan pada kesesuaian lafaz dengan makna dan pada sejauh kemampuan penundukan yang pertama untuk menjelaskan yang kedua dan untuk menerangkannya pada tempat yang dikehendaki serta untuk mewujudkan persoalan itu pada posisinya yang sempurna, merupa­kan persoalan yang sulit bahkan mustahil dapat dicapai oleh kekuatan manusia, dan hal demikian dikarenakan dua sebab:

Pertama, sesungguhnya makna dan gambaran itu selamanya lebih dahulu sampai kepada pikiran dibanding lafaz-lafaz dan batin-batin ungkapan. Kendatipun lafaz-lafaz tersebut dihiasi, akan tetapi pada umumnya lafaz-lafaz tersebut tidak mampu mewujudkan hakikat perasaan-perasaan jiwa yang bergejolak di dalamnya. Bahasa, kendatipun ada macamnya, tetap tidak akan bisa menyampaikan sesuatu selain sebagian kecil dari perasaan dan makna. Misal, perasaan sakit itu merupakan gabungan dari ber­bagai perasaan, akan tetapi tidak bisa diungkapkan kecuali dengan satu kata bahasa, sakit. Rasa gula-gula adalah gabungan dari berbagai rasa, akan tetapi ia hanya bisa diungkapkan dengan satu kata bahasa, yaitu gula-gula. Begitu juga masalah warna, bau-bauan dan sebagainya, tidak bisa diungkapkan oleh bahasa, kecuali sebagian dari padanya. Setiap kali anda mau mendalamkan suatu ungkapan makna temyata bahasa selalu berbeda dengan perasaan anda sehingga anda pun tetap beserta perasaan-perasaan jiwa anda yang membisu.

Kedua, kendatipun seorang pembicara atau seorang penulis adalah seorang ahli bahasa yang sangat piawai, di hadapan bahasa ini ia laksana menghadapi samudera luas kata, ungkapan hakikat dan metafora yang beragam, dan tidak mungkin seluruh ungkapan ini dapat disingkapkan dengan jelas di hadapan para pengkhayal­nya scbagaimana huruf-huruf pada mesin tik tidak mungkin bisa mengungkapkan seluruh kehendak operatornya. Ia - ketika ingin mengungkapkan sesuatu - hanya dapat menceburkan sekilas pikir­annya ke dalam samudera luas ini untuk menemukan sesuatu yang mudah ditemukan dan diucapkan, atau yang sudah biasa ditemu­kan oleh pena dan pikirannya di dalam samudera tersebut. Di dalam bahasa terdapat banyak kata-kata sinonim yang membantu­nya dalam mengungkapkan maksudnya, sebagian menempati tempat, sebagian lainnya di dalam ungkapan umum mengenai maksudnya. Masing-masing kata sinonim tersebut petunjuk dan isyaratnya khusus. Begitu juga pemberian kandungan maknanya berbeda dengan lainnya. Perbedaan ini akan nampak jelas apabila seorang penulis atau pembicara mau menyampaikan gambarannya yang mendalam mengenai perasaan, pikiran dan pandangan­pandangannya kepada seorang pendengar. Pada kata-kata sinonim tersebut ternyata anda mendapati perbedaan-perbedaan di antara masing-masing kata tersebut. Perhatikanlah bunyi, posisi dan petunjuknya. Penggantian sebuah kata dengan kata yang lain, atau pengubahan susunannya seperti dengan mendahulukan atau dengan mengakhirkan yang satu dari yang lain, akan merusak seluruh pembicaraan. Dalam hal ini Al-Baqilani berpendapat: "Dia - masalah memilih sebuah kata - adalah merupakan persoal­an yang lebih pelik dari masalah sihir, lebih dalam dari lautan dan lebih menakjubkan dari syair. Betapa tidak, karena apabila anda mengira meletakkan kata "subuh" pada tempat kata "fajar" itu memperindah perkataan, sebenarnya itu hanya terjadi pada syair atau sajak. Karena terkadang masing-masing kata tidak layak diletakkan pada tempat tertentu karena tidak cocok, dan pada tempat itu lebih tepat diletakkan kata yang lain. Bahkan kata tersebut sangat kokoh berada di situ, harmonis berdampingan dengan kata-kata yang bersebelahan dengannya sehingga anda memandangnya berada di tempat yang paling layak, dan dengan demikian anda memandang kata tersebut berada di tempat itu dan tidak bisa ditempatkan pada tempat-tempat yang lain. Dan ketika anda meletakkan kata lain di tempat kata tersebut, maka tampak kata tersebut berada di tempat yang akan membuatnya tidak betah, menjadi tuduhan ketidakteraturan bahasa dan tidak akan bisa tetap di tempat itu."

Dari sini, maka bagi mereka yang menghendaki kedalaman ungkapan dan benarnya dalam menggambarkan perasaan dan mak­na .jalannya menjadi sempit, tampak setiap kata sinonim masing­

masing memiliki karakteristik, kewajiban, dan tempat tersendiri sehingga anda tetap mendapatinya memiliki kekurangan yang tidak ada jalan keluarnya. Baik hal itu terjadi dengan pemanjangan dan pengulangan yang tidak berfaedah, maupun diringkaskan sehingga rusak dan terjadi kekosongan padanya, atau pembicaraan yang disampaikan dengan lafaz-Tafaz dan ungkapan-ungkapan yang merusak dan mengaburkan kejelasan penggambaran maksudnya bagi pendengamya. Apabila di hadapannya tampak suatu jalan yang luas dalam mengatasi sebagian makna dan pengungkapannya, maka di tempat lain ia menemukan jalan sempit untuk mengungkapkan makna-makna yang lain. Tegasnya, tidak ada seorang penulis atau ahli bahasa pun yang tidak memiliki kekurangan ini, kecuali kalam yang dijaga oleh Allah SWT yang semuanya menjadi tempat melihat fenomena kelemahan manusia yang diakibatkan oleh keterbatasan kemampuannya. Sumber i’jaz Al-Quran ini, bagaimanapun, dengan berbagai fenomenanya, tidak bersandar kepada kelemahan manusia ini.

Apabila anda perhatikan sebuah surat dengan ayat-ayatnya, baik lafaz dan maknanya, akan anda temukan benar-benar sejalan dan harmonis, tidak akan anda rasakan bahwa sebuah huruf telah ditambahkan pada sebuah kata dan huruf tersebut tidak ber­pengaruh kepada maknanya. Juga mengenai suatu makna, betapa pun pelik dan halusnya, telah diringkas oleh kata atau ungkapan untuk menyampaikan makna tersebut.

Seandainya anda masih ragu mengenai hal itu dan anda meng­hendaki pertimbangan dan bukti, anda bisa membuka AI-Quran kemudian anda perhatikan sebuah ayat dan dengan bantuan kamus-kamus Bahasa Arab dan para ahli balaghah atau bahasa Yang anda ketahui, kemudian anda mengganti sebuah kata yang ada pada ayat tersebut untuk menunjukkan sebuah makna yang sama. Sekiranya anda mampu menempatkan sebuah kata yang lebih dapat mengungkapkan makna yang dikehendaki dan lebih sempurna dalam menjelaskannya, atau ia sangat cocok untuk ditempatkan sebagai gantinya, tidak kurang dan tidak lebih, maka ketahuilah bahwa pendapat para ulama mengenai adanya i'jaz Al-Quran itu menjadi pendapat yang sia-sia dan tidak bersandar kepada subtansi kebenaran. Adapun apabila anda berpendapat bahwa sebuah kata lain tidak akan mampu menyamai makna dan keharmonisan-kata (al-tanasuk al-lafdhi) sebagaimana yang bisa dilakukan oleh kata-kata Al-Quran; bahwa suatu perubahan dan penggantian terhadap kalimat-kalimat AI-Quran merusak keindah­annya untuk diganti dengan pola kalimat Lain yang janggal, lemah atau tidak sesuai, maka ketahuilah bahwa hal itu menjadi bukti yang tidak bisa lagi diragukan bahwa Al-Quran ini bukan hasil ciptaan dan usaha manusia.

Doktor AI-Buthi selanjutnya menunjukkan sebuah contoh ayat Al-Quran dengan mengatakan:

"Misalkan kita ambil sebuah ayat yang menyifatkan keagungan kekuasaan dan kebijakan Allah ketika menciptakan alam dan aturannya,

Ia singsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan (la jadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 96)

"Cobalah anda perhatikan, kata apa lagi, selain kata "faliq" untuk mengungkapkan makna tersebut dan dalam menggambarkan maksud dan mewujudkan suatu pikiran. Cobalah anda cari sebuah kata untuk ditempatkan pada tempat kata "al-ishbah"yang mem­berikan petunjuk pada adanya gerakan "al-harakah ", kemunculan "al-inbitsaq" dan memenuhi makna yang dikehendaki. Kemudian anda juga boleh mencari sebuah kata yang layak untuk menggantikan kata "sakanan" yang pada kata tersebut ada suasana tenang dan lembut disebabkan harakat fathah yang datang berurutan pada kata tersebut, di samping pada kata tersebut ada sesuatu yangdapat ditimbulkan oleh suatu gambaran, imajinasi dan jiwa. Begitu juga, silakan anda cari kata yang lebih ringkas, lebih mampu meng­ungkapkan dan menyempurnakan makna dari kata "husbanan" yang menakjubkan ini. Silakan anda cari dan buka ayat sekehendak anda, kemudian anda perhatikan dari berbagai seginya, pasti akan anda temukan bahwa semua bahasa akan tidak mampu menggantikan posisi kata-kata yang serupa dengan yang digunakan oleh Al-Quran, atau yang lebih baik darinya. Kalaulah sebuah ayat diubah susunannya, niscaya akan rusaklah keindahannya dan.akan berkuranglah kecemerlangannya. Tentunya penjelasan ini saya maksudkan buat mereka yang mengerti bahasa Arab, yang sudah bisa merasakan rasa bahasa (dzauq) tersebut dan menguasai kaidah-kaidahnya. Sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan demikian, tentunya tidak termasuk. Di sini saya tidak akan menunjukkan beberapa contoh dari Al-Quran, karena semua yang ada dalam Al-Quran bisa merupakan contoh. Anda akan dapat membuktikan bahwa semua posisi kata-kata padanya tidak akan dapat diganti dan diubah. Tentu lain halnya bila anda menemukan ungkapan balaghah di luar Al-Quran, siapapun penulisnya, akan anda temukan berbagai macam cara untuk dapat mengganti dan memperbaiki kata-kata dan strukturnya. Sebaik apapun suatu ungkapan,ia akan tetap bisa diganti dan diperbaiki, bisa diupayakan dan dikritik. Inilah dasar i’jaz Al-Quran, sumber pertama bagi seluruh fenomena i’jaz balaghi. Karaktetistik susunan kalimat dan keistimewaan balaghah-nyalah yang selalu menjadi tema utama pembahasan para ulama."

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa Al-Quran merupakan mukjizat karena balaghah, susunan kata dan aturan­nya, kendatipun para ulama berbeda pendapat mengenai batasan rahasia i’jaz balaghi yang paling utama.

Macam-Macam I'Jaz Al-Qur'an 2

I'JAZ AL-QURAN
Macam-macam I'jaz AI-Quran
( 2 / 3 )

Ayat ini sendiri, pada hakikatnya, merupakan mukjizat. Ia menegaskan keberlanjutan munculnya ayat-ayat bagi manusia dan ayat-ayat yang muncul di jagat raya (afaq), pada diri kita, dan pada tujuan masing-masing. Ini semua merupakan bukti atas kebenaran risalah Islam dan Al-Quran sebagai kebenaran yang datangnya dari Allah SWT.

Dengan demikian, kendatipun dengan keterpecahan umat Islam ke dalam berbagai firqah (kelompok) dan dihadapkannya kepada tipu daya musuh serta dengan tidak adanya alat-alat cetak dan perekam yang canggih sebagaimana yang bisa kita saksikan pada saat ini, Al-Quran tetap terjaga dari tahrif dan tabdil. Adalah merupakan kehendak Allah bahwa seluruh kebatilan yang akan merusak AI-Quran harus musnah. Al-Quran adalah Kitab yang tidak akan dikenai kebatilan baik dari Al-Quran itu sendiri maupun dari luar Al-Quran. Atas dasar itu semua, Al-Quran adalah sebuah Kitab yang tidak pemah mengalami tahrif dan kehilangan, sebagaimana yang terjadi pada kitab-kitab samawi yang lain. Allah berfirman:


Bahkan ia merupakan ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu ..... (AI-Ankabut: 49)

Oleh karena itu pula maka Allah SWT telah menjaga AI­Quran, di samping juga telah menjaga pendahulu-pendahulunya. Sehingga Ia menjaga Bahasa Arab dari kepunahan yang merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang tidak mengalami perubahan, pergantian, kepunahan dan keterbelakangan sebagaimana yang dialami oleh bahasa-bahasa lain di dunia. Dengan asumsi bahwa bahasa adalah seperti wujud yang hidup dan berkembang secara bertahap dan berjalan seperti berkembangnya manusia, dimulai masa kanak-kanak, berkembang sampai masa remaja dan masa tua untuk selanjutnya lanjut usia dan mati. Berdasarkan teori ini, maka perjalanan akhir setiap bahasa di dunia adalah kematian. Ini merupakan persoalan yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau kita membaca sejarah bahasa di dunia, kita tidak akan mendapatkan satu bahasa klasik pun pemah digunakan oleh manusia yang masih hidup sebagaimana asalnya. Namun demikian teori ini tidak ber­laku bagi bahasa Arab. Apa rahasianya? Bukankah bahasa Arab sama seperti bahasa yang lain? Pada dasarnya memang bahasa Arab tidak berbeda dengan bahasa-bahasa lain di dunia, hanya saja rahasia ketidakrelevanan teori diatasterhadap bahasa Arab adalah bukan terletak pada bahasa itu send'tri, melainkan pada mukjizat besar, yaitu Al-Quran Al-Karim yang diturunkan dengan bahasa tersebut, sehingga bahasa tersebut harus terjaga demi keteqagaan AI-Quran; karena Al-Quran menggunakan "bahasa Arab yang terang" (AI-Syu'ara: 195).

Dengan demikian tegaklah mukjizat besar ini dan terombak­lah adat kebiasaan punahnya, bahasa dengan tidak punahnya bahasa Arab, yaitu untuk menjaga Al-Quran. Sepanjang sejarah didunia tidak ada satu nash pun yang terjaga dari tahrif, pengurang­an dan penambahan seperti Al-Quran. Ini merupakan persoalan yang merombak adat kebiasaan, di samping sebagai mukjizat yang mendorong jiwa untuk membenarkannya.

Ringkasnya, apabila AI-Quran merupakan kebenaran mutlak, realitasnya menegaskan hal demikian dan ia sendiri merupakan mukjizat, maka AI-Quran merupakan ayat yang jelas dan petunjuk bahwa mukjizat ini dari sisi Allah SWT. Betapa kebenaran dan mukjizat itu semerbak baunya ketika Allah SWT berfirman:


Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. (Al-Insyirah: 4)

Ayat tersebut ditujukan kepada Rasulullah saw., seorang manusia di antara sekian banyak manusia di sepanjang sejarah yang di­istimewakan oleh wahyu. Ia diseru oleh Al-'Aliyy Al-A'la SWT bahwa Ia akan meninggikan sebutannya. Apakah anda pernah mendapati seorang manusia di antara para tiran, raja, ulama, ahli pikir, baik yang berbudi maupun yang jahat, yang namanya di­tinggikan seperti nama Rasulullah saw.? Apakah anda pernah men­dapati atau mendengar seseorang yang namanya dipanggil pada setiap hari dan di setiap penjuru alam, serta tidak disebut namanya kecuali diikuti dengan mendoakan kesejahteraan dan keselamatan­nya, selain Muhammad bin Abdillah saw.? Baik mereka itu Nabi atau Rasul, jin atau manusia, raja atau makhluk Allah SWT lain­nya. Allah berfirman;


Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. (AI-Kautsar: 1)

Allah juga berfirman:


Sesungguhnya orang-arang yang membencimu dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)

Apakah anda pernah melihat satu keturunan yang lebih banyak dari keturunan Rasulullah saw.? Pernah saya diberitahu oleh sebagian orang bahwa turunan keluarga suci ('ithrah thahirah) itu sudah mencapai 15 juta orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Ini merupakan kebenaran mengenai banyaknya turunan Rasulullah saw. Pertanyaannya sekarang, di mana keturunan para pembenci Rasulullah saw.? Apakah engkau dapati seseorang dari mereka atau engkau dengar suara mereka? (Maryam: 98).

Kalimat-kalimat pada AI-Quran adalah kalimat-kalimat yang menakjubkan, yang berbeda sekali dengan kalimat-kalimat di luar Al-Quran. Ia mampu mengeluarkan suatu yang abstrak kepada fenomena yang dapat dirasakan sehingga di dalamnya dapat dirasakan ruh dinamika. Adapun huruf tidak lain hanyalah simbol makna-makna, sementara lafaz memiliki petunjuk-petunjuk etimologis yang berkaitan dengan makna-makna tersebut. Menuangkan makna-makna yang abstrak tersebut kepada batin seseorang dan kepada hal-hal yang bisa dirasakan (al-mahsusat) yang ber­gerak di dalam imajinasi dan perasaan, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ia diumpamakan jarum suntik yang ditusukkan ke dalam tubuh untuk mengobati penyakit-penyakitnya, untuk meng­angkat spiritualitas-spiritualitasnya, mendekatkannya kepada Allah SWT, untuk merajut sebuah kisah dari lataz-lafaznya yang kaku sehingga temuan-temuan dan pasal-pasalnya berjalan di atas pang­gung yang menambah dinamika kehidupan yang dapat dirasakan. Termasuk kesulitan seseorang ialah menundukkan seluruh kata dalam suatu bahasa, untuk setiap makna dan imajinasi yang di­gambarkannya. Sementara Al-Quran tidak berbicara dengan sebuah kata kecuali sejalan dengan makna yang dikehendaki dan pada tingkat kedalaman paling tinggi. Ketika anda merenungkan sebuah ayat yang akan menjelaskan kepada anda cara penciptaan alam, misalnya dengan dasar sistem yang teratur dan pengaturan yang tidak bertentangan satu sama lain dan tidak rusak, maka anda akan mendapati ayat tersebut menjelaskan makna tersebut dengan fenomena gerakan yang dapat dirasakan, yang berputar di depan kedua mata anda sendiri; seakan-akan anda sedang berada di hadapan laboratorium dengan bergerak sangat cepat pada sistem yang berkelanjutan:


Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah mencipta­kan langit dan bumi selama enam masa, lalu Ia bersemayam di atas 'Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan pula oleh-Nya) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan seru sekalian alam. (Al-A'raf: 54)

Perhatikanlah firman Allah ' Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat" dan anda bayangkan gerakan apa yang terbayang pada pikiran anda? Sungguh anda akan mendapati gambaran gerak yang bergerak dengan cara lain seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT:


Tidak mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40)

Macam-Macam I'Jaz Al-Qur'an

BAB 1
I'JAZ AL-QURAN
Macam-macam I'jaz AI-Quran
( 1 / 3 )

I’jaz AI-Quran terdiri dari beberapa macam. Sebagian di antaranya telah kami jelaskan. Dengan kehendak Allah, pada masa akan datang mudah-mudahan akan terus terungkap i'jaz-i'jaz yang lain, karena keajaiban-keajaiban Al-Quran itu tidak akan pernah habis. Di antara macam i’jaz Al-Quran yang telah kami jelaskan ialah i’jaz balaghi, i’jaz mengenai berita gaib, ijaz tasyri'i (per­undang-undangan) dan i’jaz 'ilmi. I’jaz dengan berbagai macamnya, seperti i’jaz al-thibbi (kedokteran), i’jaz al-falaki (astronomi), i’jaz al-jughrafi (geografi), i’jaz al-thabi'i (fisika), i’jaz adadi (jumlah), i’jaz i'lami (informasi), dan i'jaz-i’jaz lainnya. Macam­macam i'jaz tersebut telah kami bahas pada buku Al-I’jaz Al­-Quraniy fi Wujuhih Al-Muktasyifah (Macam-macam I'jaz Al-Quran yang Terungkap). Adapun buku yang ada ditangan anda adalah hanya merupakan salah satu bagian dari buku tersebut. Atas dasar usulan sebagian pembaca, karena pentingnya persoalan ini, maka pembahasan mengenainya saya pisahkan dalam buku yang ada pada tangan pembaca ini dengan beberapa tambahan agar bisa lebih menambah manfaatnya.

Salah satu i’jaz Al-Quran adalah perhatiannya yang besar terhadap setiap hubungan yang terjadi di dalamnya. Tidak ada satu Kitab Sammawi pun, lebih-lebih Kitab Ardhi, yang memberikan perhatian begitu rupa seperti yang dilakukan oleh AI-Quran. Sejak Al-Quran mulai diturunkan, ayat-ayat dan surat-suratnya sudah dihafalkan oleh banyak kaum Muslimin. Begitu juga tafsir-tafsir­nya, penafsiran-penafsiran Rasulullah mengenainya, dan pendapat­pendapat para ulama tafsir sehingga dengan berlalunya waktu telah lahir thabaqat al-mufassirin (tingkatan-tingkatan para mufassir), dan pada setiap tingkatan tersebut telah banyak buku tafsir yang ditulis. Banyaknya para mufassir dan besarnya perhatian mereka tidak lain adalah karena besarnya peran Al-Quran. Al-Quran tidak hanya mereka tafsirkan, akan tetapi juga dari AI-Quran telah muncul berbagai ilmu yang mereka tulis. Di antaranya studi tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, asbab al-nuzul, pem­bagian ayat kepada makiah dan madaniah, ilmu tajwid, ilmu qiraat, i’jaz AI-Quran, i'rab Al-Quran, ilmu rasm AI-Quran dan buku-buku yang ditulis mengenai penghitungan ayat-ayat Al­Quran, pembagiannya kepada juz, hizb, anshaf al-ahzab dan rub' di samping karya-karya mengenai nasikh-mansukh, linguistik Al­Quran, balaghah, nudzhum (struktur bahasa Al-Quran), bayan (kejelasan) dan ma'ani (makna-makna) kata dan kosa katanya, bahasa kabilah, keutamaan surat-suratnya, pahala membaca Al­Quran, etika tilawah, sampai-sampai perhatian terhadap Al-Quran pun telah mendorong perhatian terhadap penghitungan jumlah kata-kata, lafaz-lafaz, huruf-huruf dan hubungannya antara kata, huruf, ayat dan surat di dalamnya.

Dengan kebetulan, di perpustakaan 'Arif Hikmat, di Madinah AI-Munawarah, saya mendapatkan sebuah makhtuthat (buku yang masih ditulis tangan) yang ditulis kira-kira pada abad ketiga hijriah, yaitu pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Di dalam makhthuthat tersebut terdapat kutipan dari banyak orang mengenai bagaimana cara mereka menghitung huruf-huruf AI­Quran dengan menggunakan biji gandum. Penghitungan-penghitungan tersebut telah mereka susun dalam sebuah risalah kecil yang kebetulan saya temukan. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai jumlah ayat, huruf dan jumlah masing-masing huruf dalam Al-Quran dan seterusnya. Di bawah ini adalah salah satu kutipan dari makhthuthat tersebut:

Diriwayatkan oleh sebagian mereka bahwasanya ia ditanya: "Bagaimana kalian menghitung huruf-huruf AI-Quran?" Dia menjawab: "Dengan gandum." Diriwayatkan juga bahwa mereka menghitungnya selama empat bulan. Menurut penduduk Madinah pertengahan Al-Quran itu pada surat AI-Kahfi, ketika Allah berfirman: maa lam tastati', alaihi shabra (apa yang telah membuat engkau tidak sabar itu) (Al-Kahfi: 78). Al-Hajjaj bertanya kepada mereka: "Beritahu aku huruf AI-Quran mana yang merupakan tengah-tengah Al-Quran?" Lantas mereka menghitung dan sepakat bahwa huruf tengah-tengahnya pada surat Al-Kahfi, yaitu pada firman Allah: wa alyatalaththaf. Huruf "ta" pada setengah pertama Al-Quran dan huruf "lam" pada setengah terakhir AI-Quran. Wallahu a'lam bi al-shawab .. . Inilah hitungan surat, kata dan huruf Al-Quran.

Sudahkah pembaca yang budiman memberikan perhatian sejauh itu? Coba renungkan, adakah sebuah Kitab yang mendapat­kan perhatian sedemikian atau minimal mendekatinya? Inilah Al­Quran, yang pada masa modern ini, telah bisa dihitung dengan bantuan alat hitung elektronik sehingga telah melahirkan banyak karya dalam hal i’jaz 'Adadi Al-Quran. Perhatian yang demikian besar terhadap kalamullah ini menjadi bukti i’jaz dalam menjaga Kitab yang mulia ini, yang Allah telah menjanjikan untuk menjaganya.

Sesungguhnya telah Kami turunkan AI-Quran dan sesungguhnya Kami akan menjaganya. (Al-Hijr: 9)

Allah berfirman:


Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagaan-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar, jika kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang mulsa terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seru sekalian alam. (AI-Waqiah: 75-80)

Allah berfirman:


Bahkan yang didustakan mereka ini ialah Al-Quran yang mulia, yang tersimpan di Lauh Al-Mahfudzh. (AI-Buruj: 21-22)

Saya ingin tegaskan kepada pembaca bahwa AI-Quran dijaga bukan karena ia merupakan Kitab Allah. Karena apabila itu yang menjadi sebab, maka seluruh kitab samawi pun seharusnya dijaga pula dari tahrif (distorsi) dan tabdiI (pengubahan). Sebab keterjagaan Al-Quran adalah kembali kepada persoalan-persoalan berikut:

Pertama, Allah SWT berjanji dan menjamin akan menjaganya.

Kedua, karena risalah Islam merupakan risalah terakhir sehingga perundang-undangannya harus abaditidak boleh diubah, terdistorsi dan diganti. Karena sekiranya pengubahan, pendistorsian dan penggantian itu boleh dilakukan, maka manusia memerlukan sebuah kitab dan seorang rasul yang baru, padahal AI-Quran akan tetap sampai hari kiamat dan Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan rasul.


Bukanlah Muhammad itu ayah seseorang di antara lelaki kalian, melainkan ia rasulullah dan penutup para nabi. (Al-Ahzab: 40)

Dengan demikian, maka Al-Quran wajib terjaga dari tahrif. Sekiranya kita asumsikan bahwa ayat yang menjanjikan akan menjaga Al-Quran, yaitu: "Sesungguhnya telah Kami turunkan AI-Quran dan sesungguhnya Kami akan menjaganya", tidak ada, maka akal sendiri akan menghukumi tentang wajibnya keterjagaan AI-Quran dari tahrif dan tabdil.

Ketiga, karena AI-Quran merupakan penutup kitab samawi, dan bahwa mukjizat para nabi terdahulu pun tetap dinukil, maka hal itu mengharuskan adanya mukjizat abadi yang membenarkan pengakuan penutup para nabi dan kebenaran para nabi dan risalah-­risalah samawi sebelumnya. Allah berfirman:


Dan kitab yang Kami wahyukan kepadamu ialah kitab yang benar, yang membenarkan apa yang (disebutkan di dalam kitab-kitab) sebelumnya; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Melihat hamba-hamba-Nya. (Fathir: 31)

Keempat, Allah SWT berjanji bahwa ayat-ayat-Nya tidak akan terputus, melainkan akan berlanjut. Allah berfirman:


Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami di sekitar jagat raya dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Fushshilat: 53)

Senin, 30 Juli 2012

Pemuda Pemegang Hari Kemudian

PEMUDA, PEMEGANG HARI KEMUDIAN

Pidato Pembukaan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Bandung. 15 Februari 1960

Saudara-saudara sekalian,

Syukur alhamdulillah, pada hari ini akan dibuka dan Insya Allah dibuka Kongres Pemuda seluruh Indonesia. Sebagai yang Saudara-saudara sekalian ketahui dan yang telah pula dikatakan oleh pembicara-pembicara yang terdahulu itu tadi, maka tatkala kita memperingati Hari Pahlawan di Yogyakarta 10 November yang lalu, pada waktu itu saya berikan komando kepada seluruh pemuda Indonesia untuk mengadakan satu kongres. Satu kongres yang masuk ke dalam ingatan saya tatkala saya berpidato di dalam rapat peringatan Hari Pahlawan itu, saya ingat kepada Kongres Pemuda yang diadakan pada Hari Pahlawan 1945 ialah pada kita punya tahun Proklamasi. Pada waktu itu semua pemuda-pemuda dari seluruh pelosok Indonesia berkumpul di Yogyakarta. Bersatu tekad, bersatu kehendak, bersatu api yang menyala-nyala didalam dadanya, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kongres Pemuda 1945 di Yogyakarta itu adalah satu kongres yang hebat, satu manifestasi daripada kehendak seluruh pemuda untuk tidak mau menekuk lutut terhadap kepada imperialisme dan kapitalisme, untuk tidak mau menekuk lutut terhadap kepada ancaman-ancaman yang telah gematerialiseerd daripada pihak musuh untuk membatalkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Demikian besar hikmat yang keluar daripada Kongres 1945 itu sehingga tatkala saya mengucapkan pidato 10 November yang lalu, hati saya penuh dengan keinginan dan harapan agar supaya pemuda-pemuda Indonesia kembali berjiwa sebagaimana di dalam kongres 1945 itu, Maka oleh karena itulah lantas saya berikan komando kepada seluruh pemuda Indonesia untuk mengadakan kongres dan syukur alhamdulillah pada ini hari Saudara-saudara dari seluruh pelosok tanah air kita telah berkumpul di gedung yang bersejarah ini, untuk bersama-sama mengadakan musyawarah dan mufakat, melaksanakan Manifesto Politik.

Saudara-saudara, ada kalangan beberapa orang pesimis, beberapa orang sinikus-sinikus yang berkata: Apakah sekarang tepat waktunya untuk mengadakan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia yang akan memakan biaya yang banyak ? Apakah sekarang tepat waktunya untuk mengerahkan seluruh pemuda Indonesia untuk berkongres, padahal kita menghadapi kesulitan-kesulitan yang sekian banyaknya ? Menghadapi kesulitan dengan belum habis tertumpasnya sama sekali pemberontakan-pemberontakan PRRI dan Permesta ? Menghadapi kesulitan-kesulitan di lapangan sandang pangan, menghadapi kesulitan-kesulitan di lapangan pemberantasan DI dan TII dan lain-lain sebagainya ? Menghadapi kesulitan di dalam kalangan pegawai-pegawai oleh karena pegawai-pegawai itu baru saja di-retool ? Menghadapi kesulitan-kesulitan di lapangan finek ? Apa sekarang tepat waktunya untuk mengadakan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia ?

Jawab saya dengan tegas dan tepat ialah : Justru oleh karena kita menghadapi kesulitan-kesulitan, justru itulah waktunya untuk mengadakan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia. Sebab masih tetap harapan saya, tetap keyakinan saya, bahwa pemuda-pemuda adalah pelopor daripada revolusi. Kesulitan-kesulitan yang kita hadapi adalah kesulitan-kesulitan yang inhaerent dengan revolusi, penyakit-penyakit daripada revolusi dan akibat-akibat objektif di beberapa tempat daripada revolusi itu.

Jikalau kita hendak menyelesaikan revolusi, dari tadinya kita harus lebih dahulu mengetahui bahwa akan menghadapi kesulitan-kesulitan. Jikalau kita hendak menyelesaikan revolusi, mengempur habis-habisan semua kesulitan-kesulitan itu. Jikalau tiap-tiap kesulitan kita anggap sebagai suatu halangan yang mutlak, jikalau tiap-tiap kesulitan-kesulitan kita anggap sebagai suatu halangan yang harus kita pakai untuk membatalkan atau meniadakan suatu tindakan, janganlah mempunyai harapan dapat menyelesaikan revolusi.

Saya tadi telah berkata bahwa kesulitan-kesulitan itu adalah inhaerent daripada revolusi kita. Inhaerent artinya sudah masuk di dalam rangkanya revolusi kita itu. Tidakkah sepantas-pantasnya sewajarnya, selogisnya bahwa kita menghadapi kesulitan-kesulitan, apalagi di dalam tahun 1960, tahun yang saya namakan “Tahun Penemuan Kembali Revolusi Kita”, tahun yang saya namakan “The Year of The Rediscovery of Our Revolution”, lebih tegas lagi tahun retooling. Tidakkah sudah sepantasnya bahwa kita di tahun yang demikian itu, tahun retooling menghadapi kesulitan-kesulitan ? Tiap-tiap retooling membawa kesulitan, bahkan di dalam pidato saya “Manifesto Politik” saya berkata : Tiap-tiap kemajuan membawa persoalan dan persoalan pada hakikatnya membawa kesulitan.

Tahun 1960 adalah tahun retooling overall, retooling di segala bidang, baik di bidang mental maupun bidang politik maupun bidang ekonomim maupun di dalam bidang yang lain-lain.

Di dalam mental kita retool kita punya diri, membongkar apa yang salah di dalam kita punya hati dan pikiran, kita ubah. Perubahan ini tentu membawa kesulitan.

Dan sudahkah kita insyaf bahwa kita sendiri telah mengakui bahwa kita ini sudah beberapa tahun menyeleweng, menyeleweng di segala bidang, menyeleweng daripada rel revolusi ? Pada waktu saya berkata bahwa kita menyeleweng, hampir seluruh Indonesia membenarkan perkataan saya itu. Tetapi manakala kita mengakui bahwa kita menyeleweng, kita pun harus mengetahui, kita pun harus mengetahui, kita harus mengetahui penyelewengan itu dan mengatasi penyelewengan itu tentu membawa kesulitan-kesulitan. Penyelewengan di bidang politik, penyelewengan di bidang ekonomi, bahkan penyelewengan pada dua tahun ini telah gematerialiseerd menjadi pemberontakan-pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan PRRI, pemberontakan Permesta, bukan sekedar berinduk kepada penyelewengan mental, bukan saja berinduk kepada pikiran yang sudah nyeleweng, pemberontakan-pemberontakan itu adalah materialisasi daripada penyelewengan itu.

Oleh karena kita telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang demikian itu, maka kita sendiri, sebagai tadi saya katakana, telah mengakui dan membenarkan bahwa penyelewengan-penyelewengan ini harus kita atasi. Ingat pidato-pidato yang saya ucapkan di tahun 1957, 1958, 1959. Ingat pidato saya pada tanggal 17 Agustus 1957, “The Year of Decision”. Apa yang tercantum dalam pidato 17 Agustus 1957 itu ? Tak lain tak bukan ialah bahwa saya disitu telah sinyalir bahwa kita ini telah meninggalkan relnya revolusi dan kehendaknya kita ini kembali kepada relnya revolusi. Ingat kepada pidato saya 17 Agustus 1958, “The Year of Challenge”.

Apa isinya pidato 17 Agustus 1958, “The Year of Challenge” itu ? Tidak lain tidak bukan juga satu sinyalemen daripada penyelewengan-penyelewengan yang harus kita atasi. Ingat kepada pidato 17 Agustus 1959, The Year of Rediscovery of Our Revolution, Tahun Penemuan Kembali Revolusi Kita. Apakah isinya pidato 17 Agustus 1959 itu ? Tidak lain tidak bukan malahan satu penunjukan jalan bagaimana kita mengatasi penyelewengan-penyelewengan itu, bagaimana caranya kita mengoreksi penyelewengan-penyelewengan itu. Ingat kepada pidato saya yang saya ucapkan di gedung ini, pidato yang saya namakan Res Publica, Sekali lagi Res Publica. Apa isi pidato itu ? Tidak lagi bukan juga sinyalemen kembali daripada penyelewengan-penyelewengan dan jalan untuk mengatasi penyelewengan-penyelewengan itu.

Dan terutama sekali pidato 17 Agustus 1959, pidato yang mengkonstatir kita telah menemukan kembali revolusi kita, pidato The Rediscovery of Our Revolution yang kemudian oleh khalayak ramai dinamakan Manifesto Politik, Manifesto Politik yang kemudian oleh pemerintah, oleh Dewan Pertimbangan Agung, oleh Dewan Perancang Nasional dinyatakan sebagai haluan negara, garis besar haluan negara, menjelang keputusan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terutama sekali pidato ini, sebagai tadi saya katakan, berisikan ini sarinya, bukan sekedar sinyalemen menunjukkan penyelewengan-penyelewengan itu, penyelewengan di segala bidang, penyelewengan-penyelewengan di bidang mental, penyelewengan-penyelewengan di bidang ekonomi, penyelewengan-penyelewengan yang telah gematerialiseerd menjadi pemberontakan-pemberontakan, penyelewengan-penyelewengan lain, tetapi menunjuk dengan tegas dengan nyata, jalan untuk mengatasi penyelewengan-penyelewengan itu dan jalan untuk kembali kepada rel revolusi, revolusi yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Apa inti sari daripada Manifesto Politik itu ? Manifesto Politik yang oleh kongres ini, menurut laporan-laporan yang saya dapat, telah diambil menjadi satu hal yang Kongres Pemuda ini akan musyawarahkan pelaksanaannya. Kongres Pemuda ialah untuk melaksanakan Manifesto Politik.

Apa inti sari daripada Manifesto Politik itu ? Lima Saudara-saudara. Saya senang sekali kepada perkataan angka lima, dan inti sari daripada Manifesto Politik ini menang angka lima, dan inti sari daripada Manifesto Politik ini memang lima ini; Satu: Undang-Undang Dasar 1945, jelas bagi Saudara-saudara. Manifesto Politik berdiri tegak di atas Undang-Undang Dasar 1945, Undang-undang dasar Proklamasi. Kedua: sebagai kelanjutan daripada undang-undang dasar itu oleh karena satu pasal daripada undang-undang dasar itu menghendakinya, nomor dua ialah Sosialisme ala Indonesia. Siapa yang tidak menghendaki sosialisme ala Indonesia, tidak dia berdiri di atas Undang-Undang Dasar 1945, jelas. Ketiga: Dus, dusnya ini saya jelaskan di dalam Manifesto Politik, dua, Demokrasi Terpimpin Sosialisme tidak dapat diselenggarakan tanpa Demokrasi Terpimpin. Sosialisme tidak dapat diselenggarakan dengan demokrasi liberal. Dus, lagi, nomor empat: Ekonomi Terpimpin, sosialisme tidak dapat diselenggarakan dengan ekonomi liberal. Sosialisme adalah Ekonomi Terpimpin dan hanya dapat diselenggarakan dengan Ekonomi Terpimpin. Dus lagi, yang nomor lima: oleh karena sosialisme ini adalah sosialisme Indonesia, Sosialisme ala Indonesia, kembali kepada kepribadian Indonesia sendiri dan kepada kebudayaan Indonesia sendiri.

Inilah inti sari daripada Manifesto Politik. Lima! Saudara-saudara. Saya ulangi: Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia; dus demokrasi terpimpin; dus ekonomi terpimpin, dus kembali kepada kepribadian Indonesia sendiri, kebudayaan Indonesia sendiri. Manakala tidak kembali kepada kepribadian Indonesia sendiri, manakala tidak kembali kepada kebudayaan Indonesia sendiri, maka itu bukan sosialisme ala Indonesia. Mungkin sosialisme ala lain, tetapi bukan sosialisme ala Indonesia.

Nah, ini lima hal menjadi apa yang saya katakana penunjuk jalan bagi bangsa Indonesia, dan penunjuk jalan inisaya berikan sekarang kepada pemuda-pemuda Indonesia untuk ikut serta melaksanakannya. Sudah barang tentu melaksanakan Undang-undang Dasar 1950 dijadikan 1945 kembali membawa kesulitan, kataku. Liberalisme dijadikan sosialisme, membawa kesulitan, demokrasi liberalisme dijadikan sosialisme, membawa kesulitan, demokrasi liberal kepada Demokrasi Terpimpin membawa kesulitan, kebudayaan asing atau yang saya katakana kebudayaan gila-gilaan kepada kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian Indonesia sendiri, membawa kesulitan. Tetapi sebagai tadi saya katakana kesulitan-kesulitan ini harus kita atasi dan untuk mengatasinya kita harus mengadakan retooling perkataan yang sekarang sudah termasyhur retooling di segala bidang. Dan tadi sudah saya katakan: oleh karena tahun 1960 adalah tahun retooling maka tahun ini penuh dengan kesulitan-kesulitan, oleh karena retooling dengan sendirinya membawa persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan. Malahan boleh saya katakana tahun 1960 adalah kulminasi puncak daripada kesulitan-kesulitan sebagai akibat daripada retooling-retooling itu.

Saudara-saudara, maka saya berikan Manifesto Politik kepada bangsa Indonesia sebagai cara, sebagai jalan bagi kita untuk menyehatkan kita punya tubuh, kita punya tubuh sebagai negara, kita punya tubuh sebagai masyarakat. Sekarang saya panggil pemuda-pemuda untuk ikut serta di dalamnya, dan ikut serta melaksanakan Manifesto Politik ini. Maka oleh karena itulah pada pidato 10 November 1959 yang lalu saya mengadakan komando agar supaya pemuda-pemuda Republik Indonesia seluruhnya mengadakan Kongres Pemuda yang pada hari ini mulai dengan sidangnya.

Manakala kita mengadakan retooling di segala bidang, maka salah satu amanat saya kepada pemuda-pemuda di Indonesia ialah supaya pemuda-pemuda pun mengadakan retooling, retooling di dalam badan dan tubuh pemuda-pemuda Indonesia sendiri. Dan retooling itu sebagai tadi dikatakan oleh Saudara Roeslan Abdulgani retooling itu adalah mengenai organisasi, mengenai mental pula, retooling kalau kita mengambil pokoknya di dua bidang: retooling mental dan retooling organik.

Retooling mental, bagi pemuda-pemuda apa artinya itu ? Saya minta dan memang demikianlah harapan saya kepada seluruh pemuda Indonesia, agar supaya seluruh pemuda-pemuda Indonesia percaya, berpikir, berperasaan, jikalau saya boleh memakai perkataan perkataan yang selalu saya pakai, yakin, ilmul yakin, ainul yakin, hakul yakin, bahwa satu-satunya jalan untuk menyehatkan kita punya negara, kita punya masyarakat, ialah lima hal ini tadi: Undang-undang Dasar 1945, sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, kembali kepada kebudayaan, kepribadian kita sendiri. Lima hal ini harus menjadi keyakinan Saudara-saudara.

Manakala hal itu belum menjadi keyakinan Saudara-saudara, retool-lah Saudara-saudara punya mental di dalam kongres ini dan selanjutnya agar supaya betul-betul yakin, ainul yakin, hakul yakin kataku, bahwa ini jalan satu-satunya untuk menyehatkan kita punya negara, masyarakat dan bangsa.

Saya sendiri yakin, ya saya adalah seorang manusia, tetapi sebagai saya katakana di dalam pidato Isra’ dan Mi’raj tempo hari itu, saya alhamdulillah dengan mengucap syukur di hadapan Tuhan Ilahi, saya mempunyai pegangan hidup, saya mempunyai pegangan hidup, saya mempunyai keyakinan. Kecuali keyakinan agama. Saya mempunyai keyakinan kemasyarakatan, saya mempunyai keyakinan politik dan keyakinan saya ini ialah bahwa kesadaran Indonesia sekarang ini hanya bias kita selesaikan, hanya bisa kita selesaikan, hanya bisa kita sehatkan jikalau kita berdiri di atas hal yang lima itu.

Saya sekarang bertanya kepada pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi Indonesia: Apakah Saudara-saudara juga sudah yakin seperti demikian itu ? Apakah Saudara-saudara sudah yakin bahwa hanya sosialisme ala Indonesia-lah yang bisa membawa kebahagiaan kepada bangsa kita, rakyat kita yang maha miskin ini ? Apakah Saudara-saudara sudah yakin bahwa demokrasi liberal harus kita buang, kita ganti dengan demokrasi terpimpin ? Apakah Saudara-saudara sudah yakin bahwa kita semuanya harus kembali kepada kebudayaan kepribadian kita sendiri ?

Nah, inilah yang dinamakan retooling mental. Ini adalah pokok dari segala pokok, jika Saudara-saudara tidak mempunyai isi batin, isi keyakinan yang demikian itu, meskipun Saudara-saudara mengadakan kongres berhari-hari, berpuluh-puluh hari, malahan Saudara-saudara akan kocar-kacir, jikalau Saudara tidak mempunyai keyakinan, pegangan batin yang satu itu, sebagai yang tadi dikatakan oleh Saudara Roeslan Abdulgani.

Gedung ini telah mengadakan dua kali sidang besar yang historis, bersejarah. Apa sebab Konferensi Asia Afrika dalam sidang-sidangnya yang hanya beberapa hari saja bisa menelurkan dasasila, sepuluh dasar bagi perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika? Oleh karena mereka punya keyakinan, mempunyai pegangan tidak terpecah-pecah, meski punya pikiran ke utara dan ke selatan, ke barat dan ke timur. Tetapi sebaliknya, kata Saudara Roeslan Abdulgani, Konstituante yang bersidang disini bertahun-tahun dengan tidak membawa hasil, oleh karena tidak mempunyai pegangan. Dan saya amat gembira sekali dengan perkataan Saudara Roeslan Abdulgani tadi bahwa Saudara-saudara masuk di dalam gedung Kongres Pemuda ini, Saudara gulung Saudara punya panji-panji pemuda, organisasi-organisasi pemuda sendiri-sendiri, masukkan ke dalam kotak dan diganti dengan satu bendera, bendera Sang Merah Putuh. Saya minta Saudara-saudara demikian seterusnya di dalam deleberasi, di dalam permusyawaratan-permusyawaratan dalam sidang yang akan datang.

Saudara-saudara, kecuali retooling mental daripada pemuda-pemuda dan termasuk juga pemudi-pemudi dan terus terang saja, saya tadi pada waktu di gedung Gubernuran, saya sudah mengutarakan kekhawatiran saya, bahwa Kongres Pemuda ini terlalu bertitik beratkan kepada pemuda-pemuda, kurang pemudinya. Saya disini melihat seorang pemudi, Ibu Ainun Mardiyah dari Aceh, saya melihat disitu ada pemudi, ada pemudi, ada pemudi, ada pemudi. Kurang pemudinya ! Coba lihat meja ini, Cuma satu wanitanya.

Saudara-saudara, apa tadi saya katakan ? Saudara ganti panji-panji itu dengan satu panji yaitu kita punya bendera Sang Merah Putih. Kecuali kita mengadakan retooling mental itu, kita harus mengadakan retooling organik. Bagaimana keadaan yang lalu yang dahulu, yang berlainan sama sekali dengan tahun 1945, tatkala pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi di dalam Kongres 1945 di Yogyakarta kompak, bersatu, tidak terpecah-pecah, hanya dengan satu pegangan: mempertahankan Proklamasi, mempertahankan ucapan kita, bahwa kita telah merdeka dan tidak mau dijajah lagi oleh bangsa siapapun. Kemudian daripada itu sebenarnya, terus terang saja tahun 1946, pemuda-pemuda telah terpecah-pecah. 1946 terpecah-belah, diadakan kongres, tidak bisa bersatu lagi; 1948 diadakan kongres, dengan susah payah diadakan kongres, tidak tercapai persatuan itu.

Pendek Saudara-saudara, sejak 1945, kemudian daripada itu, sebenarnya dunia pemuda Indonesia ini telah terpecah belah, akibat daripada Manifesto November 1945, akibat daripada diadakannya partai-partai politik dan pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi dijadikan satu alat daripada partai-partai politik itu. Pemuda dan pemudi dimasukkan di dalam kotak-kotak: kotaknya partai ini, pemuda dan pemudinya ini; kotaknya partainya itu, pemuda dan pemudinya itu; kotaknya partai itu, pemuda-pemudinya itu dan demikian seterusnya. Terus terang, Saudara-saudara masuk kotak-kotak pada waktu itu. Saudara-saudara tidak bersatu padu dengan yang lain, Saudara-saudara masing-masing menebah dada: “Aku pemudanya partai itu.” Di lain pihak di sana pun menebah dada: “Aku pemudanya partai itu,” sehingga sebagai tadi saya katakan, sejak tahun 1945 itu kemudian, terpecah-pecahlah alam pemuda Indonesia.

Hal yang demikian itu harus kita atasi. Saya berkata: Partai hendak mengambil pemuda ? Partai hendak merebut pemuda ? Silahkan ! Boleh ! Tetapi, partai boleh berkata: Sebagai dijadikan adagium, sering kali dijadikan adagium, : “Siapa yang memegang pemuda ialah yang memegang hari kemudian.” “Wie de jeugd heeft de toekomst.” Tiap-tiap partai mau merebut pemuda oleh karena berkeyakinan bahwa siapa yang mempunyai, memegang pemuda, ialah yang memegang hari kemudian. Boleh kataku, tetapi saya berkata juga, tetapi, pemuda harus menjawab, bukan saja “Siapa yang memegang pemuda memiliki hari kemudian”, jawablah “Siapa yang memiliki hari kemudian, engkaulah yang akan mendapat pemuda ini.” “Wie de toekomst heeft, heeft de jeugd.” Siapa yang menuju kepada hari kemudian yang gilang-gemilang, siapa yang di dalam konsepsinya, siapa yang di dalam politiknya, siapa yang di dalam perjuangannya menuju kepada hari kemudian yang gilang-gemilang, disitulah tempatnya pemuda.

Dan apa hari kemudian yang gilang-gemilang itu ? Hari kemudian yang gilang-gemilang, tak lain tak bukan ialah sebagai yang saya katakan di dalam Manifesto Politik 17 Agustus 1959, tiga kerangka:

Satu: Negara Republik Indonesia Kesatuan berwilayah kekuasaan dari Sabang sampai Marauke.

Dua: Masyarakat yang adil dan makmur di dalamnya, masyarakat sosialis ala Indonesia.

Ketiga: Negara Republik Indonesia dengan masyarakatnya yang adil dan makmur itu di dalam satu kerangka persahabatan dengan seluruh manusia di dunia ini.

Ini adalah toekomst, ini adalah hari kemudian yang gilang-gemilang. Partai yang tidak menuju kepada tiga kerangka ini: Negara Republik Indonesia Kesatuan berwilayah dari Sabang sampai Marauke dengan di dalamnya masyarakat yang adil dan makmur, sosialisme ala Indonesia, dengan menempatkan negara Republik Indonesia dan masyarakat itu di dalam kerangka persahabatan seluruh manusia di dunia, tidak mungkin partai demikian itu, atau tidak harus mungkin partai yang demikian itu, bisa mendapat hatinya pemuda.

Tetapi di kalangan pemuda sendiri, dalam tahun 1946, 1947, 1948, 1949, 1950 dan seterusnya ada banyak yang menjadi alat daripada partai yang tidak menuju kepada tiga kerangka ini. Ini yang harus di retool. Ini adalah soal retooling mental. Saya minta kepada Saudara-saudara sekalian, pemuda-pemuda, agar supaya Saudara-saudara kecuali mengadakan retooling mental. Di dalam kongres ini membicarakan hal retooling organik itu agar supaya dunia pemuda tidak terpecah-belah lagi seperti yang sudah-sudah lagi.

Saya tidak akan sebut-sebutkan jalannya kepada Saudara-saudara. Sebab saya mempunyai pembantu-pembantu dan saya sudah minta kepada pembantu-pembantu saya itu untuk nanti memberikan penerangan-penerangan kepada Saudara-saudara. Pembantu-pembantu saya ialah: Pak Jenderal Nasution yang nanti akan berpidato, memberikan petunjuk-petunjuk kepada Saudara-saudara, Saudara Roeslan Abdulgani pembantu saya pula, malahan istimewa di dalam bidang keorganisasian, pembantu saya yang nomor dua; Bapak Profesor Mr. Muh. Yamin yang duduk di sana pun menjadi pembantu saya; Saudara Chairul Saleh yang duduk di sana itu pembantu saya; Saudara Profesor Dr. Priyono yang sekarang masih ada di Bali oleh karena menceritai Raja dan Ratu Muang Thai, juga saya jadikan pembantu saya untuk memberikan penjelasan-penjelasan di dalam kongres ini; Saudara Wahib Wahab yang duduk di sana pun pembantu saya. Sehingga saya, cukuplah hanya mengemukakan kehendak, keinginan, harapan agar supaya Saudara-saudara kecuali mengadakan retooling mental, juga mengadakan retooling organik. Dengarkan benar-benar nanti, penjelasan-penjelasan dari Pak Roeslan Abdulgani mengenai keorganisasian, penjelasan-penjelasan di bidang lain-lain oleh Pak Jenderal Nasution, oleh Pak Yamin, Pak Chairul Saleh, Pak Wahib Wahab, Pak Priyono.

Kita pemuda-pemuda harus menjadi satu badan fungsional. Nah, ini perkataan, sampai sekarang sebetulnya pemuda-pemuda belum menjadi satu golongan fungsional. Saya menghendaki agar supaya dunia ini menjadi satu golongan fungsional, bahkan satu golongan fungsional yang terpenting. Sampai sekarang pemuda-pemuda sekedar isi kotak, sekedar menjadi alat. Sampai sekarang saya belum bisa berkata: Dunia pemuda daripada Sabang sampai Marauke adalah satu golongan fungsional. Dan saya menghendaki agar supaya kongres ini bisa menelorkan hal yang demikian itu. Supaya pemuda tidak lagi menjadi pemuda kotak, supaya pemuda tidak lagi menjadi alat tetapi menjadilah pada seluruhnya satu golongan fungsional.

Dan saya tidak berkata: golongan fungsional yang terpenting, lebih penting daripada golongan fungsional yang lain-lain. Maaf, saya katakan misalnya: lebih penting daripada golongan fungsional tani, oleh karena golongan fungsional yang lain-lain itu dalam menyelenggarakan sumbangannya untuk menyelesaikan revolusinya tentu membawa pula harapan-harapan, tuntutan-tuntutan, eisen-eisen untuk golongannya sendiri-sendiri, dan itu adalah tuntutan-tuntutan, yang wajar, saya katakan. Tetapi bagi pemuda-pemudi, tuntutan-tuntutan itu praktis tidak ada. Bagi pemuda-pemudi, Saudara menyumbang saja, Saudara hanya bisa menyumbang saja. Menyumbang-menyumbang, mengabdikan. Oleh karena itu maka saya berkata: golongan fungsional pemuda jikalau itu bisa dilakukan, dan saya doakan agar supaya bisa diadakan, golongan fungsional pemuda ini, sebenarnya lebih penting daripada golongan fungsional lain-lainnya. Cuma pada saat sekarang ini, golongan fungsional pemuda itu, sebagai fungsional, belum ada dan harus diadakan oleh kongres sekarang ini.

Saudara-saudara, dalam kita menghadapi persoalan-persoalan ini, saya, sebagai saya harapkan, dan sudah Saudara ketahui, saya mengharapkan daripada pemuda-pemuda itu sumbangan, sumbangan-sumbangan. Tadi Pak Roeslan mengucapkan dua perkataa: bahwa di kalangan Saudara-saudara ini adalah “de sjouwers der stenen”, pembawa batu-batu. Ada lagi kata Saudara Roeslan Abdulgani: “De sjouwers van het brandhout”, pembawa kayu untuk dimasukkan ke dalam api itu agar supaya ikut menyala-nyala. Saya gembira bahwa Saudara adalah “de sjouwers der stenen en de sjouwers van het brandhout”. Pembawa batu-batu, pembawa kayu-kayu bakar. Tetapi buat revolusi besar seperti revolusi kita ini, revolusi kecil-kecilan, revolusi yang saya katakan “a summing up of many revolution in one generation”, revolusi yang multikompleks, revolusi yang pancamuka: ya, revolusi politik, ya revolusi ekonomi, ya revolusi kebudayaan, ya revolusi mental, ya revolusi membentuk manusia Indonesia baru. Revolusi Pancamuka yang besar ini, bahkan pernah saya katakan, bahwa revolusi Indonesia adalah sebenarnya lebih besar daripada revolusi Amerika, lebih besar daripada revolusi Sovyet, lebih besar daripada revolusi-revolusi di negara-negara lain, oleh karena revolusi Amerika adalah terutama sekali hanya revolusi politik, revolusi Sovyet terutama sekali hanya revolusi politik, revolusi sosial-ekonomis, sedang kita adalah revolusi pancamuka, multikompleks, many revolution in one generation, untuk revolusi yang besar seperti revolusi kita ini, kita tidak cukup dengan sekedar “sjouwers der stenen, sjouwers van het brandhout”. Saya minta agar supaya pemuda-pemuda, terpimpin, dus kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Hafalkan ini, gampang sekali menghafalkan lima ini. Saya ulangi lagi: Undang-undang Dasar 1945, sosialisme ala Indonesia dus, demokrasi terpimpin, dus ekonomi terpimpin, dus kembali kepada kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Lima ini harus menjadi pegangan Saudara-saudara, harus menjadi isi batin Saudara-saudara, bahkan menjadi sebagai tadi saya katakan keyakinan, hakul yakin daripada Saudara-saudara. Dan jikalau semua pemuda dan pemudi Indonesia mempunyai keyakinan yang hakul yakin yang demikian itu, maka saya tidak ragu-ragu bahwa kongres pertama yang besar daripada pemuda Indonesia sesudah kita kembali kepada Undang-undang Dasar 1945 ini, membawa hasil yang sebaik-baiknya.

Saya sendiri, saya tadi berkata, mempunyai keyakinan. Apalagi jikalau saya ingat kepada Bandung ini. Di Bandung ini saya mulai menjadi pemuda yang aktif, tatkala saya lebih muda daripada engkau yang sudah berkumis, lebih muda daripada engkau, lebih muda daripada engkau, saya mulai aktif di dalam politik. Di Bandung ini, sebelum saya mulai hidup aktif di dalam politik, saya mendirikan dengan beberapa kawan “Pemuda Indonesia”, yang dulunya ada Pemuda Jawa “Jong Java”, ada “Pemuda Surabaya”, “Jong Sumatranen Bond”, ada Pemuda Ambon “Jong Ambon”, ada Pemuda Timor “Jong Timor” daripada “Timor Bond”, buat pertama kali diadakan “Pemuda Indonesia” dan saya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa sayalah ikut aktif di dalam mendirikan Pemuda Indonesia ini. Kemudian saya aktif di dalam hidup politik.

Kemudian, sebagai Saudara-saudara tahu, gedung ini ditempati oleh wakil-wakil daripada 1600 juta rakyat untuk Konferensi Asia-Afrika, sehingga sebenarnya gedung ini sudah harus menghikmati kepada Saudara-saudara. Ini hari pula, saya berdiri disini di hadapan pemuda-pemudi Indonesia, disaksikan oleh seluruh dunia, yang wakil-wakilnya duduk disana, dunia Barat maupun dunia Timur, baik dunia yang masuk di dalam blok Amerika, maupun dunia yang masuk di dalam blok Sovyet. Sekarang ini Saudara-saudara bersidang dengan diawasi oleh seluruh dunia. Maka karenanya, saya minta benar-benar, Saudara-saudara harus benar-benar membuat kongres ini satu kongres yang berhasil. Jangan seperti sebagai yang tadi dikatakan oleh Saudara Roeslan Abdulgani, kongres ini menjadi satu kongres yang tidak berhasil sebagai yang telah kita alami dengan Konstituante. Pemuda dan pemudi sekarang menunjukkan bahwa pemuda dan pemudi bisa mengadakan satu kongres yang membawa seluruh pemuda dan pemudi Indonesia kepada penyelenggaraan Manifesto Politik.

Saudara-saudara tahu penyelenggaraan Manifesto Politik. Untuk itu akan diadakan Front Nasional. Bukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Tidak ! Front Nasional dan di dalam Manifesto Politik itu saya katakan bahwa Front Nasional inilah yang nanti akan meng-ho-lo-pis-kuntuk-baris-kan seluruh rakyat Indonesia agar supaya terlaksanalah apa yang dicita-citakan oleh Manifesto Politik khususnya, umumnya oleh amanat penderitaan daripada rakyat Indonesia. Ya, pikiran saya di dalam Front Nasional itu nanti ada satu bagian Front Pemuda, Front Pemuda sebagai fungsional.

Dus, saya ulangi lagi: diadakan Front Nasional peng-ho-lo-pis-kuntul-baris-kann seluruh rakyat Indonesia untuk menyelenggarakan tiga kerangka, untuk menyelenggarakan lima hal yang tercantum di dalam Manifesto Politik. Di dalam Front Nasional ini Saudara-saudara, satu bagiannya ialah Front Pemuda. Pemuda fungsional, sebagai salah satu functionaliteit. Bukan pemuda kotak, bukan alat. Satu pemuda, Front Pemuda, Front Pemuda sebagai functionaliteit.

Jikalau bisa dicapai hal yang demikian itu, Front Pemuda-nya ini di dalam kongres ini, dan hasil daripada kongres ini dibawa kepada saya, maka nanti, Front Pemuda yang dibentuk di dalam kongres ini, yang hanya dengan pegangan seperti yang tadi saya katakan itu nanti dimasukkan di dalam Front Nasional yang pada saat sekarang itu. Malahan saya mengharap agar supaya nanti jikalau saya sudah mengangkat anggota-anggota resmi daripada Panitia Persiapan Front Nasional ini, di antara deretan nama anggota-anggota daripada Panitia Persiapan Front Nasional ini, tercantumlah dengan gilang-gemilang, namanya seorang pemuda dan seorang pemudi.

Saya kira sudah cukup terang saya punya amanat kepada Saudara-saudara sekalian, dan sekarang atas permintaan Saudara Ketua Panitia, saya nyatakan dengan resmi, Kongres Pemuda Seluruh Indonesia dibuka.

Pidato pada pemukaan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia

di Bandung, 15 Februari 1960.