Rabu, 13 November 2002

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Jumat, 01 Februari 2002

Kamus Bahasa Sambas

KAMUS BAHASA SAMBAS

ABJAD A
Acara sedekah = ngeluarkan = hol
Air - aek
akibatnya = rappokkannye
almarhum = jannat
ama-sama (mis: pergi bersama/jalan bersama tapi lain kendaraan)= seratte
ambil sedikit dengan ujung jari = ngutis = kutis
ammo' = Huh???
ampar = gelar (untuk tikar/kasur/ karpet)
anak kedua = angngah
anak keempat= unning
anak keenam (tergantung ciri fisik dll) =
anak kelima = acci'
anak ketiga = udde
anak pertama = allong
anak yang orang tuanya beda ras = tongpan
anak-anakan = boneka
anda = kau (untuk sebaya) = dirre' (untuk yang lebh muda) = allong, angngah, unning, udde, acci', ammo', attam, utteh, anjang, andah, ussu, dll (untuk yang lebih tua, atau dihormati)
andah (rendah)
anjang (tinggi)
Anting2 - subbang
apam pulau pinang = martabak manis
ape do' = ape di = bille di = itok dih be
Asoek Kang = anjing yg telah mati lalu menjadi hantu anjing... (mitos)
awal = pungka'
awal hari = pungka' ari
Ayaman= peliharaan
ayap = linglung
azan = abbang

ABJAD B
bagaimana = gai kemane
Baggeng= koreng yang meluas
bagian rumah yang tidak beratap, sebagai tempat menyuci, mandi dsbg = pelataran
Baloi= sama tidak menang (biasanye wkt main Uwau/layangan)
bambu pecah = tababbas
banyak = tebayak = melambak
banyak bertanya: alek inyan
baring = gurring
basa' buse' = kalau ndak salah artinye baysah kuyup
baskom dari logam = barreng
bau air kencing kering = passing
bau air kencng tapi masih basah = rangngang
bau bangkai = bunto'
bau benda berbahan kain yang disimpan lama = bangngam
bau cairan yang sudah lama = bangar
bau kentut = lassot
bau keringat yang kering karena berjemur = bau ari
becaccak = berlari
begini = gai tok
Begitu : gayye (ussah nak gayye = jangan begitu)
begitu = gai ye
begummol = berantem
bejanjang = bepaggian
Bejereh= mencari silsilah keluarge
bekerja cepat karena mendadak = taggeradag
bekibau - bekipas kepanasan dgn bahan kain
Belambak= mandi berenang di sungai
belompang = nempeleng (tak belompangkan = tak tempeleng)
belongak = panci
belut = insirat
Benar = inyan,
bences = ikan sarden (ikan kaleng)
benda yang ditarik terus diikat = kamput
Bendera (nom) = pendere (b.. south dialect) ( serapan portugis * a bandeira*)
benjol = bincut
beputar-putar dekat kite/sekeliling kite = beselili
berceceran (cair) = belaceran
Bergaya angkuh = kerewak
bergetar = begajjik
Berhenti/ Selesai (misc.context) = taem ( Huh? serapan inggris *time*)
berhias = bemesen
Berjalan Beriring = Beririk
berjalan layau keberatan karena bawa barang berat = tepereh-pereh
berjalan, melewati orang, masuk ke dalam rumah tanpa permisi = meloros
berkutu = takkaan
berlibur (verb intrans) = plasser (serapan bahasa prancis * le plaisir*)
Bermain air atau lumpur - bekumbah
bermain/bergurau = pongah
beronyi = panen
bersin = kasek
Besaok= bertaut
besok = isok
besumpik - ndak ah....
betatap = meraba raba
bibi = mak tuak
bimbang = ribbe
binatang kecil, gatal kalau digigit = amak
bisul = binsol
bocor = passok
bodoh = babbal
bodoh sekali = bunto' kalle'
boggo = ?? bongo...Huh??? ( perlu diucapkan ato ndk ditulis dengan uruf fonetis
bola yang dibuat dari daun kelapa = gonde
bolak-balik = kilek-kulu (dekat) = besundang (jauh)
Borek = bekas luka atau koreng yg bertumpuk
Bosan = baus
buai : Huh? = LAMBUT
buai=lembut , mudah patah
Buai=sappor utk gorengan tp kalau barang=rapuh
buang air besar sedikit di celana karena tidak tahan = tekincik
bubbu = alat nyarek ikan
bubut = nama burung dengan kepala warna hitam, badan dan sayap warna merah
Bukan begitu? - ndak ke?
bukan main= kan agek yeh
bulak = bohong
Bullar= mata yang katarak, seperti mata ikan
bulu bertanggalan = langngar
bumbun = tempat berteduh yg dibuat menggunakan alang-alang, seperti rumah orang Irian
bungkus(n) = kerubbong
buntung (anggota badan) = kuddong = kuttong
buai : lambut (cth : bondungnye buai lalu)
bopet : lemari
beropi : masak nasi
beronyi : panen padi
bebulak : bohong
bous : bosan
bejolon : jalan jalan
betapas : banyak
betappur : sembunyi

ABJAD C
cacat berbentuk goresan = ronges
cacat sedikit (ada bagian yang hilang tapi hanya di permukaan) = rompeng
cacat sedikit (ada bagian yang hilang) =simpak
cacing besar warna ungu = tamar
cantik = kaca'
Cantik/Ganteng = tiriggas
caping = capel
Capung - cibbi'
cari perhatian depan lawan jenis = mejeng = nodeng
carrat = kepingin
carut = ngomong jorok
celana keras karena disetrika dengan tepung kanji = najjing
celana pendek = kolor
cemberut = tebajju'
cepat habis = lassat
Ceret (nom)= ketel (serapan bahasa inggris *kettle*)
cibik = jinjing
cirammut = cantik, imut
Comberan - penciring ngan
cubit = kubik
curang = bangsat
ceret = teko
cutam = pingsan
carrat = kepingin
cangker = cangkir

ABJAD D
dagu = dogek
dahulu kala = gek dolo = gek mare'
Dakeh= daki, kotoran yang nempel pd kulit
daki = taggar
Dapur (nom,) = siok
dapur = suyyok
datangi = pagge' = sirre'
degil suka mengganggu = jajjal
dikenai perlakuan secara bersama-sama = perabenkan
dilap tapi sampahnya juga ikut terangkut = santal
dipukul = belabbau
disebabkan = dikarenakan = barang
do' ; ?? ( biasenye; ape do'!/ kemane do' )
do', di, dih, be = kata hubung, penekanan sebuah pernyataan, pertanyaan
Duduk - duddok
dukun = bomo
Dulu - dolok

ABJAD E
ABJAD F
ABJAD G
Gaggai= tidak tegap, udah tue
gane: Huh? = BISUL BASSAR TAPI NDAAN BE PUNNAT = BIASENYA KANNA' TUNGKAL LAKKA' MERUBUHKAN SARANG SAMUT ATAU ENTUGIN
gane= cacing laut
gane=penyakit mistik karene simbarangan bakar sampah dkt rmh
ganteng = aksi
ganti = saling
gatal = miang
ge kmare = jaman dulu
Gelas - gallas,cangker,
gerakan mulut mengunyah = konyap-konyap
gerattus ; ??
gerottak = jembatan
getek = birrah = miang
gigi besar = gigi kapak
gigi tumbuh betimpa' = tukak
gigit tebu sambil dipatahkan = inggis
Gogon= gigih bekerja
Gopoh= tergesa-gesa
gosok = ontos
gosong/hangus = rattong
guring = baring

ABJAD H
ha......tang ngamok=lha kok marah?
habis tidak bersisa = langngis
habis tidak menyisakan yang lain padahal sudah ditawarkan kesemua = radda'
hancur tidak berbentuk lagi kondisi basah = tibanynyai
hattam = selesai melakukan,meyelesaikan
hidung = ideng
hisap = insap
hitung = reken
hitung = reken

ABJAD I
ikan iddup=ikan segar
ikut = ngimbai
illek'= hilir
incabi' - tande ndak mao'
indonesia = seperti anaknya pak sambas kurang lebihnya
ingin = carrat
ingin lagi = nganynyat(kanynyat) = nganynyan
ingin makan atau minum karena meliat orang makan atau minum = maccor
injak = kaccak
intip = nilik
intirah = anak anak masih bau kencur
istirahat = parrai
ittam (kulit hitam)
itting=kuttel= mengambil satu per satu (bagian daun atau buah)
Iya - aok

ABJAD J
Jajjak= jejak,nempel/mencapai
jalan = lorong
jalan jinjit = nunjing
jaman dulu = gek marek
janda = balu
Jandol= bentuk kepala/dahi yang lebih ke depan
jatuh = belabik = tebuang = serampah = lurroh
jelas perkataannya = rambus
Jembatan = gerattak
jendela = tingkap
jendela: penyawan
jijik = gatti'
jika 2 orang atau lebih sedang berjalan, ada yang berjalan lebih cepat meninggalkan yang lain = nojon
jollu = buaya
jondel = istilah untuk dahi yang agak menonjol
jontek = sentil
jope - mengapa
jope ; ?? = WHY?
jope = kenapa
jope= jodi ope (akronim)
jopput = ambil sesuatu yang kecil menggunakan 5 ujung jari tangan
jorok = cerobo'
jual cepat = lego

ABJAD K
kadaluarsa = ubas
kakek = nek aki
kalau daan salah "kepanasan" ye kalau bahase kite lisoh (bukan lusoh)
kalimayar=sejenis intigik(luwing) tapi kalau malam bs ngeluarkan cahaye ijjau(ad fosfor x) bahaye mun masuk dlm telinge
kalimpappat- kelilipan
kalimpappat: Huh? = BINATANG SEJENIS BANGNGAS TERABANG MALAM HARI ADE LAMPU/CAHAYE DI PARUTNYE = FIREFLY
kalimpappat=kunang2
kambek = hantu yang dimitoskan muncul ketika hujan panas
Kami - kamek
kamput = ikat
kantong untuk bawa barang(n) = tas kresek
kapas-kapus : ?? ( mun merokok biasenye Y )
Kappeh= menjepit papan dengan bambu atau kayu dengan tidak memakai paku/ cuma di ikat ( pada umumnye di tarub)
karut = ikat
kasar = ngelotok
Kasur/tilam = siduni, rasbang
kata hubung pertentangan, tapi = kila'ang
kata saya = jiku
katanya = jinye
Kecaing-kecaing = teriak-teriak, biasanya binatang...
Kecoro2= sikap yang kurang serius
keinginan besar tapi tidak didukung dengan kemampuan = berawe
Kelaek = bekantan
kelappon = sejenis kue bulat dg gule merah
kemana-mana hilang arah = pitau
kemana-mana tak tentu arah = siaw layau
kemarin = semari
kemasukan = kesarongan
kemasukkan sampah halus = kalimpanan
kencing waktu tidur = tibubbo' (variasinya salah satunya dari bang ning abdul)
kening agak masok ke dalam = caddog
kening agak menonjol = jandol
kepala = kepalak
kepala termiring-miring = lele'
kerabbok : ?? = MERAGAU DENGAN 5 JARI SEKUAT KUAT TENAGE
kerabbok=menggenggam
kerangge = semut merah
keraok = teriak
kesedak = kesadokkan
Ketela - bandong
ketue = palak ceritte / palak kesah
Kita - kitte
Kocak/teler= penyakit telinga (mengeluarkan nanah)
kok = mengapa = tang
koyak-koyak = rambau
kualat = tullah
kuat makan = bogoh
kuat-kuat = ngancang
kue = tambol
Kue bolu (nom) = bahulu ( serapan bhs, portugis * o bolo* )
kunci gembok = grendel (ser belanda)
Kunyah (verb.) = ampa'
kupu-kupu = rami

ABJAD L
laboeng = ikan kecil-kecil (maaf ndok ticarek padonan katenye)
labong = mata pisau nya rusak
laccoh=jernih/bening
lading = pisau
Lading = pisau
lalat besar = langau
lalat besar = langau
lampu senter: cuar
laron= cakkaller
Lasak= luka lecet
lassot = satu jenis bau kentut, alias bau tidak sedap
latah tekajjut = cok kolok
layyak = jahe
leher = tiggek
Leler= langngai= lalai, lena
lemari = bopet
lembab/agak basah = jappok'
lempeng anjol = makan dari sagu yg dibuat dengan ditekan-tekan pada kuali yg dipanaskan tanpa minyak
lempeng guloeng = dadar gulung
lengah = lappe
lengah = leke
lengah = leke
lesu letih dan susah bergerak = telempe
liat = lawan sappor = karraw
limpus ; ?? = TENGGALLAM esp. ORANG PENDEK NANG MANDI DI SUNGAI BIAR PUN BEDIRI TAPI AEK LABBIH DALAM
limpus = tenggelam
limpus = tenggelam melewati kepala
Ling-lung (adj) = lingau, lelo
linglung = lingau
listrik mati karena kelebihan = tepattek
lucu membuat tertawa = galli'
luka besar menganga = tiberokkai
lunak = buai
lurus = bujor = kojor

ABJAD M
mak biak = istri
Makan = makan (halus), meradak (kasar)
makan = ngenam
makan = ngradak(kasar) = pajoh(kasar) = melantak = beratah
makan dengan lahap = ngompol
makan di warung = ngenam
malu = camma'
malu = kassang = camma'
malu karena salah, sakit hati = kassang
mampu = rabbah
Maraek = mubazir
marah (mengomel) = ngerepek = ngerebeh
mare = pergi
masak = muddoh
Massek= air payau
masuk dalam genangan air = ncalum
masuk ke dalam = nyussok
mata = mate
Mata Mencorong = Tibajul, Ticinnat
mata posisinya tidak singkron antara yang kiri dengan yang kanan = bular
matang = barraw
matte = saking terpananya sampai terdiam
Mattek= menghitung (mungkin di adopsi dari kata Matematika x i)
mau tertawa ditahan-tahan tapi tersenyum-senyum = tekidum-kidum
mbula : bohong
melamun (verb) = teconnom
melamun = teconom
melimpai ; ??
meloloi (melalai) = merayap
melotot = tecinnat
memang = anangdah
memanggil = sarro'
mematahkan/melawan arahkan = pulakkan
Membawa - cibbik
membicarakan orang lain = beragi
membuat emping padi yang masih muda = nyance
menahan supaya tidak bergerak = raggang
menangkap ikan pakai tangan kosong = gammal
menarik benda yang elastis = bajjang
Mencarut= berkata jorok
menemani orang berbicara = berelon
Mengapa begitu = tang gayye
mengerjakan sawah tetangga secara bergantian sama-sama, ada perjanjian = belalle'
menggelar tikar, beraktivitas (makan, baring, tidur) di lantai tapi di atas tikar = belampar
mengomel = ngerebeh
menurun fungsinya karena sudah tua (barang) = soak
menyatakan tidak mungkin/tidak dapat/mustahil = paik = pae' = ingkoset
merangkum = ngambau
merayap di dinding = bedaddai
merembes = melarrah
Meruse = mubazir
Mial= makan dengan lahap/selera sekali
miang = gatal
Minyak Goreng = minyak makan
mis : sambas = bagai na' anak ang allong sambas dih be paduannye
misahkan padi dari tangkainya dengan diinjak-injak = ngirrik
miskin = sontok
mopo = bahenol
motong = tempong = nampang = melasah
mudah hancur menjadi serpihan kecil-kecil = sappor
Mulluttan= cerewet
mulut = mulut
mulut monyong = muncong
Mummor= memear, luka dalam
mun incibbi' ye....binatang
musim tanam padi = nandor

ABJAD N
naksir = ngurat
Nampah= memesan, nak nampah= mau cari perkara
Nangga'= main ke tetangga
ncibik = capung
nek ari gosi = raksasa
nenek = nek uwan
ngakkal = tertawa terpingkal pingkal
Ngalayap = Intayap
ngallu=sakit kepala
ngelebe' - nak nagis ajak.......
ngelikik = tertawa terpingkal-pingkal
ngenam : Huh?
ngenam=jajan diluar
ngeramput = omong bohong
ngerawai = ngail ikan bossar di laut
Ngerepek= marah tapi merungut
ngilu (kepala) = ngallu
ngilu (tulang) = ngillo'
ngomel = ngerepek
ngompol = istilah untuk orang yang makannya lahap
Ngontet= merebut dengan cara paksa
ngotah = menjerat burung menggunakan getah
Nillik= ngintip
ninggkap = tiarap
noel = burung elang
nogok= tidak pergi kemana-mana/ tidak beraktivitas ( no go)
nyarattek = bikin nafsu
Nyelisik= menyelidiki, mencari kutu di kepala
nyirok = nyiru
nyuloh = beburu ikan pakai tombak
nyulok = nyari udang kaccik di laut
nyungkoeng = pacaran (berdua-duaan)

ABJAD O
obat = tambe
ompong = rongak
Orang - urrang,biak

ABJAD P
Pagar buat anak kecil - addak
paha = punggeng
pakis = miding
palles = tempat air seperti gallon tapi terbuat dari kaca
paman = pak tuak
Panci (utk memasak nasi) = appan, kenceng
panci besar dari besi = kenceng
panen = karang = beranyi
panggil = sarroe'
panggilannya = long = ngah, ning, de, ci', mo', tam, jang, ndah, su
pantingan= korek api gas
Parit - beram
patungan = birisan
payau = masse'
Pelar= mata yang agak juling
pelupa, mudah lupa = lupa' lape'
Pemballar= suka membuat humor/lucu2
penyakitan/sering sakit = dade'an
penyangngat = lebah
penyapu = sapu
peranggi = labu
pergi entah kemana = ayap
perhatian (tidak ingin mengecewakan) = ratte'
Peringngak= suke ngatekan kekurangan orang lain
Pernah = suah
pesek = picak
pincang = jengkat
pindah = kaleh
Pintu (adj) = lawang (serapan bahase jawe "lawang")
pintu: lawang
piring = pinggan
piring = pinggan
pisau = lading
pojok = suyyok = pintok
pojok antara pintu dengan dinding = lintok
Pongah= gurau
posisi terbalik = tongkeng
pulloeng = santet
punya = no' , punyanya = no'ong
pusing = pening lalat = babbang
panning = pusing
pelor = peluru
piccik = pencet
pirik = burung pipit
parang = golok

ABJAD R
rakkek = sakit kaki, encok
rambut = rambut
rappas = patah, putus
rata = lati
rattas : jitan baju/ celana terlepas
raut muka berubah karena panik akibat terkejut akan sesuatu hal = keseng
raut muka kecewa = tebirong
raut muka mau menangis (mis : mau minta sesuatu, biasanya anak-anak) = melebe'
remang-remang = kaddau
renyah = garing = rangngup
ribut = hinggar
Rindu = salok
Ronges=ronceng= luka gores
rukkok = buah duku

Selasa, 01 Januari 2002

Di bawah Lindungan Ka'bah

Dibawah Lindungan Ka’bah
SURAT DARI MESIR
Sahabat!
Sudah saya terima surat sahabat yang terkirim dalam bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat
bersedih hati sebab semenjak kita bercerai di Jeddah, tak pernah saya menerima surat lagi
daripada engkau. Tetapi setelah surat itu saya terima saya baca, hilanglah sedih dan duka saya,
nyata bahawa engkau tidak melupakan saya.
Maksudnya engkau terangkan itu, sangat saya setujui, itulah suatu maksud yang baik, sebab itu
adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendukakan hati dan merawankan fikiran, yang kerapkali
benar terjadi di dalam lingkungan belia-belia kita.
Saya setuju maksud sahabat itu, pertama adalah karangan yang engkau maksudkan itu, akan ganti
bingkisan (persembahan) kita kepada orang-orang yang menjadi korban itu, hantaran kepada
arwah mereka yang suci; kedua ialah untuk menjadi cermin perbandingan orang-orang yang
hidup kemudian daripada mereka.
Bukan sedikit belia-belia yang telah menanggung sebagai orang yang telah ditanggung oleh
kedua orang itu, tetapi sukar orang yang selamat sampai ke akhirnya. Padahal "rindu dendam"
atau "cinta berahi" itu laksana Lautan Jawa, orang yang tidak berhati-hati mengayuh perahu
memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia diguling oleh ombak dan gelombang, hilang
ditengah samudera yang luas itu, tidak akan tercapai selama-lamanya tanah tepi.
Tidak ada bantuan yang dapat saya berikan kepada engkau di dalam pekerjaan itu, hanya bersama
ini saya kirimkan surat-surat yang semasa kita masih di Makkah tak sempat saya berikannya
kepada engkau.
Demi apabila buku ini telah selesai, kirimkanlah kiranya kepadaku barang senaskah, guna
menghidupkan kenang-kenanganku pada masa yang telah lampau, semasa itu kita masih dibawah
Lindungan Kaabah.
Sahabatmu.
MEKKAH PADA TAHUN 1927
Harga getah di Jambi, di seluruh tanahair sedang naik, negeri Mekah baharu sahaja pindah dari
tangan Shariff Hussin ke tangan Ibn Sa'ud, Raja Hijaz dan Najad dan daerah takluknya yang
kemudian ditukarkan namanya menjadi kerajaan "Arabiah Sa'udiah". Setahun sebelum itu telah
naik haji dua orang yang kenamaan dari negeri kita. Keamanan negeri Hijaz, telah tersiar. Kerana
itu banyak orang yang berniat menyempurnakan Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang
berangkat menuju Jeddah penuh sesak memebawa jemaah haji.
Konon khabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum atau
pun sesudahnya.
Ketika itulah saya naik haji. Dari pelabuhan Belawan saya telah belayar menuju ke Jeddah
menumpang kapal "Karimata". Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan
besar. Pada hari kelima belas sampailah saya dipelabuhan Jeddah, pantai Laut Merah itu. Dua
 hari kemudian saya pun sampai ke Mekah tanah suci kaum Muslimin sedunia.
Betapa besar hati saya ketika melihat ka'bah tidaklah dapat saya perikan, kerana dari kecilku
sebagai kebiasaan tiap-tiap orang Islam, Ka'bah dan menara Masjidil Haram yang tujuh itu
menjadi kenang-kenanganku.
Saya injak tanah suci itu dengan persangkaan yang baik, saya hadapi tiap-tiap orang yang
mengerjakan ibadat dengan penuh kepercayaan, bahwa mereka pun berasa gembira iaitu
sebagaimana yang saya rasai itu saya tidak akan bertemu dengan kejadian-kejadian yang ganjil
atau hikayat yang sedih daripada penghidupan manusia. Sebab sangka saya tentu sahaja selain
daripada diri saya sendiri, oran-orang yang datang kesana itu adalah orang-orang yang gembira
dan yang mampu banyak tertawanya daripada tangisannya. Tetapi rupanya, di mana-mana jua di
atas dunia ini; asalkan sahaja ditempati manusia, kita akan bertemu dengan yang tinggi dan yang
rendah, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratapan tangis.
Saya telah mendengar di antara azan (bang) yang sayup-sayup sampai di puncak menara yang
tujuh, di antara gemuruh doa manusia sedang berkeliling (tawaf) di sekeliling Ka'bah, di antara
takbir umat yang sedang pergi balik di antara Safa dan Marwah, saya telah mendengar ratap dan
rintih seorang makhluk tuhan, sayu-sayup sampai antara ada dengan tiada hilang-hilang timbul di
dalam gemuruh yang hebat itu.
Sebagai kebiasaan jemaah yang datang dari Tanah Jawa, saya menumpang di rumah seorang
syeikh yang pekerjaan dan pencariannya semata-mata daripada memberi tumpangan bagi orang-
orang haji, di hadapan bilik yang telah ditentukan oleh seorang syeikh untuk saya, ada pula
sebuah bilik kecil yang muat dua orang. Disana tinggal seorang belia yang yang baharu berusia
32 tahun, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka
bermenung seorang diri di dalam biliknya itu. Biasanya sebelum kedengaran azan subuh ia lebih
dahulu bangun pergi ke masjid seorang diri. Menurut keterangan syeikh kami belia itu berasal
dari Sumatera, datang pada tahun yang lalu, jadi ia adalah seorang yang telah bermukim di
Mekah.
Melihat kebiasaannya demikian dan sifatnya yang soleh itu, saya menaruh hormat yang besar atas
dirinya dan saya ingin hendak berkenalan. Maka dalam dua hari sahaja berhasillah maksud saya
itu; saya telah beroleh seorang sahabat yang mulia patut dicontohi. Hidupnya sangat sederhana,
tiada lalai daripada beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tidak berfaedah,
lagi pula sangat suka memerhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan
kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasauf yang tinggi.
Bila saya terlanjur mempercakapkan dunia dan hal ehwalnya, dengan sangat halus dan tiada
terasa percakapan itu dibelokkannya kepada ke halusan budi-pekerti dan ketinggian kesopanan
agama, sehingga akhirnya saya terpaksa tunduk dan memandangnya lebih mulia daripada biasa.
Baru dua bulan sahaja semenjak dari awal Ramadhan sampai Syawal, pergaulan saya dengannya,
saya telah banyak tertarik olehnya di dalam menuju kesucian, terutama di dalam negeri yang
semata-mata untuk beribadat itu. Tetapi pergaulan yang baik itu tiba-tiba telah terusik sebab
dengan kapal yang paling akhir telah tiba seorang teman baru dari Padang. Entah kerana
kebetulan sahaja atau atau disengaja lebih dahulu, ia telah menjadi jemaah sheikh kami pula.
Sahabat saya yang baru tiba ini sangat terkejut melihat bahawa sahabat saya ada di Mekah.
Rupanya tidak disangka-sangkanya mereka akan berjumpa disana dan sahabat saya pun rupanya
tidak menyangka akan berjumpa dengan sahabat baru itu.
 Nama sahabat saya ialah hamid dan nama saudara baru itu Salleh.
Salleh menurut keterangannya, hanya dua atau tiga hari sahaja sebelum naik haji akan tinggal di
Mekah, ia akan pergi ke Madinah lebih dahulu; dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah
ia akan balik ke Mekah. Setelah selesai mengerjakan haji, ia akan meneruskan perjalanannya ke
Mesir, menyambung pelajarannya.
Setelah musta'id maka Salleh pun berangkat ke Madinah.Ketibaan sahabat baru itu mengubah
keadaan-keadaan dan sifat-sifat Hamid, entah khabar apakah yang agaknya yang baru di bawa
darinya dari kampung yang mengganggu kesejahteraan fikiran Hamid. Ia bertambah tekun
membaca kita-kitab terutamanya tasauf karangan Imam Al-Ghazali. Terkadang-kadang kelihatan
ia termenung seorang diri di atas satah (atap rumah yang mendatar sepeti rumah-rumah di negeri
Arab) rumah tempatnya tinggal melihat tenang-tenang kepada qal'ah (bintang-bintang) tua di atas
puncak Jabal Hindi. Saya seakan-akan tidak pedulikannya lagi. Sedang saya mengerjakan tawaf
keliling ka'bah maka terlihat oleh saya ia bergantung kepada kaswah (kain tabir yang
melingkungi Ka'bah) menengadahkan mukanya kelangit, airmatanya menitik dengan derasnya
membasahi serban yang membalut dadanya, kedengaran pula ia berdoa: Ya Allah! Kuatkanlah
hati hambamu ini!"
Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihan itu telah pindah kedada saya, meski
pun saya tak tahu apa yang disedihkannya.
Khabar apakah yang agaknya yang telah dibawa oleh Salleh dari kampung? Apakah sebab Hamid
bersedih hati demikian rupa? Dunia yang manakah yang telah memutuskan harapannya?
Tipudaya siapakah yang telah melukai hatinya, hingga ia menjadi demikian rupa itu? Itu sentiasa
menjadi soal kepada saya.
Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas satah, pada sebuah bangku yang
bertikar daun kurma berjalin memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya
yang indah di halaman langit, saya beranikan hati saya dan saya dekati dia. Maksud saya kalau
dapat hendak membahagi kedukaan itu atau merentang-rentang barang sedikit kedukaan hatinya.
" Saudara Hamid!" –kata saya.
"Oh saudara, duduklah kemari!" – katanya pula sambil memperbaiki duduknya dan
mempersilakan saya.
Setelah sama-sama duduk, ia pun menanyakan keramaian orang haji dan kami pun
memperkatakan keadaan pada tahun ini. Tiap-tiap perkataan terhadap kepada tanahair,
pembicaraan diputarnya kepada yang lain, serupa ia tak suka. Maka akhirnya hati saya tiada tahan
lagi, saya pun berkata:
" Sudah lama saya perhatikan hal ehwal kamu, saudara, rupanya engkau dalam dukacita yang
amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mahu
menyatakan kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul
dan ringan sama menjinjing apa lagi jauh dari tanahair, sewajibnyalah saya engkau beritahu,
apakah yang menyusahkan hati engkau sekarang, sehingga banyak perubahanmu daripada yang
biasa?"
Ia memandang kepada saya dengan tenang.
" Katakanlah kepada saya, wahai sahabat!" –ujar saya pula.
 " Saya akan menolong engkau sekadar tenaga yang ada pada saya.Kerana meski pun kita belum
lama bergaul, saya telah tahu bahawa engkau adalah seorang yang budiman, saya tidak akan
mensiakan kepercayaan engkau kepada diri saya."
" Ini satu rahsia tuan!" – katanya.
" Saya akan pikul rahsia itu jika engkau percayakan kepada saya dan saya akan masukkan ke
dalam perbendaharaan hati saya dan kemudian saya kunci pintunya erat-erat. Kunci itu akan saya
lemparkan jauh-jauh sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya kedalam lagi.
Mendengar perkataan saya itu mukanya kembali tenang dan ia pun berkata:" Jika telah demikian
tuan berjanji, tentu tuan tidak akan mensiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuan,
kerana kebaikan budi tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada tuan
sebab-sebab saya bersedih hati dan akan saya paparkan satu-persatu, sebagaimana berkata-kata
dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap tuan simpan citra diri saya selama saya hidup,
tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada tuan, sapa tahu ajal di dalam tangan Allah
S.W.T,. Saya izinkan tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan
suka meratap memikirkan kemelaratan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-
moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin dan memberi rahmat kepada saya ditanah
perkuburan."
Air mata saya terpercik mendengarkan perkataan itu.
Ia bermenung kira-kira dua atau tiga minit; di antara gemuruh suara manusia yang hampir sunyi
di dalam Masjidil Haram itu, di antara doa-doa beribu-ribu makhluk yang sedang berangkat ke
hadrat Tuhan sahabatku itu mengumpulkan ingatannya. Awan gelap yang menutup keningnya
hilanglah dari sedikit ke sedikit; setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan
mengumpulkan ingatan yang bercerai-cerai dan ia pun memulai perkataannya.
ANAK YANG KEMATIAN AYAH
Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah meninggal, ia telah meninggalkan saya
sebelum saya kenal siapa dia dan betapa rupanya, hanya di dinding masih saya dapati gambarnya,
gambar semasa ia masih muda, gagah dan manis.
Ia telah meninggalkan saya dan ibu di dalam keadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami
tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah lama, yang lebih dikenal kalu disebut gobok atau
dangau. Kemiskinan kami telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan
pergaulan dunia ini, kerana tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah
runtuh. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk
zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap.
Meskipun pada masa itu ibu masih muda dan ada juga dua tiga orang dari kalangan saudagar-
saudagar atau orang-orang berpangkat yang memintanya menjadi isteri, tetapi semuanya telah
ditolaknya dengan perasaan yang sangat terharu. Hatinya belum lupa kepada almarhum ayah,
semangatnya boleh dikatakan telah mengikutinya ke kuburan.
Pada waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa ia
hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan
menyerahkan saya masuk sekolah supaya saya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun
sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-
duyun menghampirkan diri, ini menghampirkan diri, ini mengatakan mamak, itu mendakwa
 bersaudara, berkarib famili, rumah-tangga sentiasa dapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi
setelah perniagaan jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu, tersisihlah kedua
laki-isteri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Oleh kerana malu ayah
pindah ke Kota Padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang
sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu.
Ibu pun menunjukkan kepada saya beberapa doa dan bacaan, yang menjadi wirid daripada
almarhum ayah semasa hidup, menghamparkan penghargaan yang besar-besar kepada Tuhan seru
sekalian alam, memohonkan belas kasihanNya.
Kerana di dalam umur yang semuda itu ia telah di timpa sengsara yang tiada keputusan, tidaklah
sempat saya meniru meneladani teman sama anak-anak. Waktu teman-teman bersukaria bersenda
gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah dekat ibu,
mengerjakakan pekerjaan yang dapat saya tolong, Kadang-kadang ada juga disuruh saya bermain-
main, tetapi hati saya tiada dapat bergembira seperti teman-teman itu, tetapi kegembiraan
bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira
itu. Apa lagi kalau saya ingat, bagaimana ia kerap kali menyembunyikan airmata dekat saya,
sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri daripadanya.
Setelah badan saya agak besar, saya lihat banyak anak-anak yang sebaya saya berjaja kuih; maka
saya mintalah kepadanya supaya dia sudi pula membuat kuih-kuih itu, saya sanggup
menjualkannya dari lorong ke lorong, dari satu beranda rumah orang ke beranda yang lain,
mudah-mudahan dapat meringankan agak sedikit tanggungan yang berat itu. Permintaan itu
terpaksa dikabulkannya, sehingga saya akhirnya telah menjadi seorang anak penjual kuih yang
terkenal.
Hatinya kelihatan duka memikirkan nasib saya; anak-anak yang lain waktu pagi masuk bangku
sekolah, saya sendiri tidak. Untuk penjualan kuih-kuih itu hanya cukup untuk makan sehari-hari,
orang lain pun tak ada tempat meminta Bantu, sakit senang adalah tanggungan sendiri.
Umur saya telah masuk enam tahun, setahun lagi saya mesti menduduki bangku sekolah,
walaupun sekolah yang semurah-murahnya, sekolah desa, misalnya, tetapi yang akan menolong
dan membantu tak ada sama sekali, tetapi ibu kelihatan tidak putus harapan, ia berjanji akan
berusaha. Supaya kelak saya menduduki bangku sekolah, membayarkan cita-cita almarhum
suaminya yang sangat besar angan-angannya, supaya saya kelak menjadi orang yang berguna
dalam pergaulan hidup.
Masa setahun lagi ditunggu dengan sabar.
Bersambung....
PENOLONG
Enam bulan kemudian.
Berhampiran dengan rumah kami ada sebuah gedung besar berpekarangan yang cukup luas;
dalam perkarangan itu ada juga ditanam buah-buahan yang lazat seperti sauh dan
rambutan.Rumah itu lama tinggal kosong, kerana tuannya seorang Belanda telah balik ke Eropah
dengan mendapat pencen. Yang menjaga rumah itu selama ini adalah seorang jongos tua.
Khabarnya konon rumah itu akan dijual, sebab tuan itu tidak balik lagi ke negeri ini. Selama itu
kerap kali kami datang ke situ meminta buah rambutan dan sauh kepada Pak Leman. Demikian
juga nama jongos tua itu.
Tiba-tiba rumah itu diperbaiki, kerana telah dibeli oleh seorang saudagar tua yang hendak
 berhenti dari berniaga. Ia akan hidup pada hari tua dengan senang, sebagai berehat daripada
pekerjaannya yang berat pada masa ia muda memakan hasil daripada rumah-rumah sewa yang
banyak di Padang dan di Bukit Tinggi, demikian juga sawah-sawahnya yang luas di sebelah Paya
Kumbuh dan Lintau.
Setelah rumah itu selesai diperbaiki, pindahlah orang hartawan itu ke sana bersama dengan isteri
dan seorang anak perempuannya. Di hadapan rumah itu di atas batu marmar yang licin ada
tertulis perkataan; Haji Jaafar.
Tiap-tiap pagi saya lalu di hadapan rumah itu menjunjung nyiru berisi goring pisang, mata saya
sentiasa memandang ke jendela-jendelanya yang berlangsir kain sutera kuning, hendak melihat
keindahan perhiasan rumahnya. Fikiran saya menjalar, memikirkan kesenangan hati orang yang
tinggal dalam rumah itu, cukup apa yang dimakannya dan diminumnya; airliur saya meleleh bila
saya ingat, bahawa kami di rumah kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak. Setelah saya
meninggalkan halaman rumah itu, maka dengan suara yang merawankan hati saya panggilkan
jualan saya; "Beli goreng pisang! Masih panas!"
Lama kelamaan tertariklah perempuan yang setengah tua itu hendak memanggil jualan saya,
demikian juga anaknya. Pernah kedengaran oleh saya ia berkata: " Panggillah Nab kesian juga
saya!"
Perempuan itu suka memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang. Pak Leman yang
telah menjadi jongos untuk memelihara perkarangan itu, belum pernah dapat suara keras
daripadanya. Anak perempuannya itu masih kecil, sama dengan saya. Apa perintah ibunya diikuti
dengan patuh, rupanya ia amat disayangi kerana anaknya hanya seorang itu.
Sudah dua tiga kali saya datang ke rumah indah dan bagus itu; setiap kali saya datang bertambah
sukanya melihat kelakuan saya dan belas kasihan akan nasib saya. Pada suatu hari perempuan itu
bertanya kepada saya; " Di mana engkau tinggal anak, dan siapa ayah bondamu?"
" Saya tinggal dekat sahaja di sini mak"-jawab saya. " Itu rumah tempat kami tinggal, di seberang
jalan. Ayah saya telah mati dan saya tinggal dengan ibu saya. Beliaulah yang membuat kuih-kuih
ini; pagi-pagi saya berjual goreng pisang dan kalau petang biasanya menjual rakit udang (jengket
udang) atau godok perut ayam."
" Berapakah keuntungan sehari?" tanyanya pula.
" Tidak tentu, mak. Kadang-kadang kalau untung baik dapat setali (25 sen), Kadang-kadang kalau
kurang dari itu, sekadar cukup untuk kami makan setiap hari…."
" Kasihan…." – katanya sambil menarik nafas.
Setelah itu ia berkata pula: " Bawalah ibumu nanti petang kemari, katakana mak yang baru
pindah ke rumah ini hendak berkenalan dengan ibu."
" Saya mak, ibu saya kurang benar keluar dari rumah."
" Suruh lah sahaja kemari, katakan mak perlu hendak bertemu."
" Baiklah kalau begitu , mak" – jawab saya.
 Setelah itu saya pun pulang, sampai di rumah saya katakanlah kepada ibu perkataan orang di
gedung besar itu. Mula-mula ibu seakan-akan hendak bertempik, dia agak marah kepada saya,
kalau-kalau saya telah berlangsung mulut menerangkan untung nasib diri kepada orang lain.
Tetapi setelah mendengar keterangan saya, hatinya pun senang. Pada petangnya takut-takut
cemas pergilah dia ke rumah besar itu.
Meskipun ibu saya merasa malu-malu dan insaf akan kerendahan darjatnya, Mak Asiah, demikian
nama isteri Engku Haji Jafar itu, sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan
perempuan-perempuan isteri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku
dipandangnya sebagai saudaranya, segala nasib dirinya dan penanggungan ibu didengarnya
dengan tenang dan muka yang rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu
menceritakan hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah di antara keduanya
persahabatan yang kental, harga menghargai dan cinta menyintai.
Semenjak itu saya sentiasa datang ke rumah itu. Saya sudah beroleh seorang adik yang tidak
berapa tahun kecilnya daripada saya, yaitu anak perempuan di gedung besar itu, Zainab namanya.
Peribahasa yang halus dari Mak Asiah, adalah didikan juga daripada suaminya, seorang hartawan
yang amat peramah kepada fakir dan miskin. Konon khabarnya, kekayaan yang di dapatnya itu
adalah daripada usahanya sendiri dan titik peluhnya, bukan waris daripada orang tuanya.
Dahulunya dia seorang yang melarat juga, tetapi berkat yakinnya, terbukalah baginya pintu
pencarian. Sungguhpun ia telah kara-raya, sekali-kali tidaklah ia lupa kepada keadaannya tempoh
dahulu, ia sangat insaf melihat orang-orang yang melarat, lekas memberi pertolongan kepada
orang yang berhajat.
Pada suatu pagi saya datang mendapatkan ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira,
membawa khabar suka yang sangat membesarkan hatinya, iaitu esok Zainab akan dihantarkan ke
sekolah dan saya akan dibawa sama. Saya akan disekolahkan dengan belanja Haji Engku Jaafar
sendiri bersama-sama anaknya.
Mendengar perkataan itu bercucuran airmata ibuku kerana sukacitanya, kejadian selama ini yang
sangat diharap-harapnya.
Esok paginya, saya saya tidak menjunjung nyiru tempat kuih lagi, tetapi telah pergi ke sekolah
menjunjung batu tulis. Agaknya dua macam faedah yang akan diambil oleh Engku Haji Jaafar
menyerahkan saya, pertama untuk menolong saya, kedua untuk jadi teman anaknya. Saya pun
insaf, lebih-lebih setelah beberapa nasihat daripada ibuku. Zainab telah saya pandang sebagai
adik kandung, saya jaga daripada gangguan murid-murid yang lain. Lepas dari sekolah kerapkali
saya datang dengan ibu ke rumah besar itu, kalau-kalau ada yang patut kami Bantu dan kami
tolong, kerana kami telah dipandang sebagai anggota rumah yang besar itu.
Umur saya lebih tua daripada Zainab dua tahun. Meskipun saya hanya anak yang beroleh
pertolongan daripada ayahnya, sekali-kali tidaklah Zainab menganggap saya sebagai orang lain
lagi, tidak pula ia pernah mengangkat diri, agaknya kerana kebaikan didikan ayah-bondanya.
Cuma di sekolah, anak-anak orang kaya kerapkali menggelakkan saya anak yang berjual goreng
pisang telah bersekolah bersama-sama dengan anak orang hartawan.
Dua perkataan yang manis, yang timbul daripada hati yang suci, telah merapatkan kami,
perkataan itu ialah abang dan adik.
Sampai sekarang, saya masih teringat nikmat kehidupan dalam dunia anak-anak yang kerapkali
diratapi oleh ahli-ahli sya`ir, yang hanya datang sekali ke alam manusia selama hidupnya. Waktu
 itu bila pulang dari sekolah, saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari,
berkejar-kejaran dan bermain galah dalam perkarangan rumahnya, memanjat pohon rambutan
yang sedang ranum, kekadang bercari-carian dan bersorak-sorak. Waktu itu ibuku dan ibunya
sedang duduk di beranda belakang; ibuku sentiasa merendahkan diri, melihat kami yang rasa
sukacita. Kadang-kadang waktu petang kami duduk di beranda muka, membelek buku gambar,
bertengkar dan berkelahi, kemudian damai pula.
Hari Minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut. Ke muara atau ke tepi Batang Arau, melihat
perahu pengail yang sedang di lambung-lambungkan gelombang di tengah lautan yang luas, kain
layarnya dipuput oleh angin yang menghantarkannya ke tengah, akan mencari rezekinya. Negeri
Pariaman hijau nampaknya dari jauh, ombak memecah dan menderum tiada berhenti memukul
pasir tepi itu. Di sana kami berlari-larian mengejar ambai-ambai yang segak dan lekas lari ke
sarangnya. Kadang-kadang kami buat unggunan pasir sebagai rumah-rumah atau masjid-masjid,
tiba-tiba datang ombak yang agak besar, di hapuskannya unggunan yang kami dirikan itu; anak-
anak perempuan lari ke tepi menyinsingkan tepi bajunya, takut tersiram air laut.
Waktu orang berlimau, sehari akan puasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang, kerana di
sanalah ayahku berkubur, dan beberapa famili ibu Zainab. Saya disuruh membawa air wangi
dalam botol. Zainab mambawa bunga-bungaan dan ibuku serta ibunya mengiringi dari belakang.
Semuanya masih tergambar dalam fikiran saya hari ini, masih saya ingat bahawa persaudaraan
kami suci dan ikhlas adanya, dari tahun berganti tahun, sampai kami tamat dari sekolah
pertengahan.
Amat besar budi Engku Haji Jaafar kepada saya, banyak kepandaian yang telah saya peroleh
kerana kebaikan budinya itu. Dari sekolah rendah (H.I.S) saya sama-sama naik dengan anaknya
menduduki Mulo. Tetapi setelah tamat dari sana, sekolah kami tak akan disambung lagi, kerana
sebenarnya didikan ibuku amak melekat kepada diri saya, iaitu condong kepada mempelajari
agama. Zainab pun hingga itu pelajarannya, kerana dalam adat orang hartawan dan bangsawan di
Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga Mulo, belum berani mereka
melebihi dari kebiasaan umum, melepaskan anak perempuannya belajar jauh-jauh. Setelat tamat
dari mulo, menurut adat, Zainab masuk dalam pingitan, ia tidak akan dapat keluar lagi kalau tidak
ada satu keperluan yang sangat penting, ini pun harus ditemani oleh ibu atau orang
kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak.
Dan saya, bila sekolah itu tamat, akan berangkat ke Padang Panjang, sebab Engku Haji Jaafar
masih sanggup membelanjai saya, apa lagi demikianlah cita-cita ibuku.
APAKAH NAMANYA INI?
Saat yang ditakutkan itu pun telah datang; dengan hati riang, bercampur masyghul, saya terpaksa
meninggalkan bangku sekolah. Riang, kerana saya telah beroleh diploma dan masyghul kerana
berpisah dengan bangku sekolah dan dengan teman-teman. Ertinya masa gembira, masa
menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan, telah habis.
Setelah guru membahagikan diploma kami masing-masing dengan bersorak-sorak kami
meninggalkan perkarangan sekolah, kami bersalam-salaman satu dengan yang lain dan guru
memberi kami peringatan, supaya sekolah kami diteruskan bagi siapa yang sanggup
Anak-anak Belanda dan beberapa anak saudagar-saudagar yang mampu, dengan megah
menyatakan di hadapan teman-temannya, bahawa sekolah itu akan diteruskannya; setelah habis
cuti tahunan, mereka akan berangkat ke tanah Jawa mengambung pelajarannya. Saya sendiri,
tidaklah saya khabarkan bahawa saya akan menambah pelajaran agama, kerana selama ini teman-
 teman mengejekkan saya, mengatakan saya gila agama.
Yang berasa sedih sangat, adalah anak-anak perempuan yang masuk pingitan (Terkurung di
rumah saja) tamat sekolah bagi mereka ertinya suatu sangkar yang telah sedia buat seekor burung
yang bebas terbang.
Zainab sendiri, semenjak tamat sekolah, ia pun telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya
guru dari luar yang akan mengajar berbagai-bagai kepandaian yang perlu bagi anak-anak
perempuan, seperti menyulam, merenda, memasak dan lain-lainnya. Petang hari ia menyambung
pelajarannya dalam perkara agama.
Saya, tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang, melanjutkan
cita-cita ibu saya dan kerana kemurahan Engku Haji Jaafar juga. Sekolah-sekolah agama yang
ada di situ mudah sekali saya masuki, kerana lebih dahulu saya telah mempelajari ilmu umum;
saya hanya tinggal memperdalam pengertian dalam perkara agama saja, sehingga akhirnya salah
seorang guru memberi fikiran, menyuruh saya mempelajari agama di luar sekolah saja, sebab
kepandaian saya lebih tinggi dalam hal ilmu umum daripada kawan-kawan yang lain.
Demikian lah pelajaran itu telah saya tuntut dengan bersungguh hati, tetapi…. Semenjak mula
saya pindah ke Padang Panjang, sentiasa saya merasa keseorangan. Kian lama saya tinggal dalam
negeri dingin itu, kian terasa oleh saya bahawa saya sebagai seorang yang terpencil. Keindahan
alam yang ada di sekeliling kota dingin itu menghidupkan kenang-kenangan saya kepada hal-hal
yang telah lalu. Gunung Merapi dengan kemuncak tandikat waktu matahari akan terbenam dan
mempertaruhkan jabatan memberi cahaya kepada bulan, singlang yang sentiasa diliputi dengan
kebun-kebun tebunya yang beriak-riak ditiup angin, semuanya membangkitkan perasaan-
perasaan yang ganjil, yang sangat mengganggu fikiran saya.
Saya berasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, peti,
meja tulis, kain dan baju semuanya cukup. Teapi badan saya ringan, seakan-akan suatu
kecukupan yang telah kurang.
Saya Cuma ingat, bahawa jika dengan teman-teman sama sekolah saya pergi melihat keindahan
air terjun di Batang Anai atau mendaki Bukit Tuai, atau gua Batu Sungai Anduk, bila masa saya
melihat keindahan ciptaan alam itu, saya ingat alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat
pula. Kerana saya tahu betul bahawa ia seorang anak perempuan yang dalam perasaannya; waktu
sama-sama sekolah, ia sukar benar mendengarkan nyanyian-nyanyian yang sedih, walaupun
nyanyian Barat atau Timur. Bila mana lalu dihadapan rumahnya seorang buta bersama-sama
cucunya yang kecil, kerapkali ia menitikkan airmata. Bagaimanakah perasaannya kelak jikalau
dia ada pula di tempat yang indah itu?
Sentiasa saya hitung pertukaran hari ke bulan dan dari bulan ke tahun. Apabila cuti sekolah bagi
bulan puasa telah hampir, gembiralah hati saya kerana akan dapat saya mengadap ibu saya
memaparkan di hadapannya bahawa ia sudah patut gembira kerana anaknya ada harapan akan
menjadi orang alim dan dapat pula bersimpuh di hadapan Engku Haji Jaafar yang dermawan,
bahawa pertolongannya ada harapan akan berhasil, bersimpuh pula di hadapan Mak Asiah kerana
dengan pertolongannya saja saya telah menjadi orang baik. Kemudian dari itu akan dapat pula
bertemu dengan Zainab. Saya akan nyatakan di hadapannya pengalaman yang telah saya dapat
selama pergi menuntut ilmu, dan saya hadiahkan kepadanya gambar dari "Panorama" keliling
kota Padang Panjang yang saya ambil gambarnya bersama-sama teman sejawat saya. Tentu akan
saya terangkan di hadapannya dengan gembira, dengan besar hati, sehingga ia akan termanggu-
 manggu mendengar cerita saya, apa lagi ia amat sukar akan dapat keluar dari lingkungan
rumahnya.
Apabila sekolah saya tutup, segala segala cita-cita yang telah saya reka selama belajar, dan telah
saya susun di jalan antara Padang Panjang dengan Padang semuanya dapat saya jalankan; ibu
saya menitik airmata kerana kegirangannya, Engku Haji Jaafar tersenyum mendengar saya
mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memuji-muji saya sebagai seorang anak yang berbudi,
Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya, mulut saya tertutup, saya menjadi
seorang yang bodoh atau pengecut.
" Bila abang pulang?" Katanya.
" Pukul sepuluh pagi tadi." Jawab saya.
" Apa khabar?Baik?"
" Alhamdulillah………."
Setelah itu saya menjadi bingung, tidak tentu lagi apa yang akan saya terangkan kepadanya.
Segala rancangan saya terhadap dirinya yang saya reka-rekakan tadi, semuanya hilang. Ia melihat
tenang-tenang kepada saya, seakan ada pembicaraan saya yang ditunggunya, tetapi kian lama
saya kian gugup, sehingga sudah lalu hampir lima belas minit, tidak ada diantara kami yang
bercakap.
"Mudah-mudahan kelak selamatlah, dan kerapkali datang kemari kalau masih di rumah"- katanya
pula; lalu ia berdiri dari tempat duduknya, kembali ke pekarangan belakang, ke dalam pingitan.
Saya pun berdiri saya ambil songkok saya sambil menarik nafas panjang saya pun keluar.
Dalam hati, saya teringat hendak menulis surat kepadanya akan ganti diri saya menerangkan
segala perasaan hati. Surat itu akan saya tulis dengan tulus ikhlas, tidak bercampur dengan kata-
kata yang dapat menyinggung perasaan hati, baik perkara cinta atau perkara lain-lainnya, apa lagi
surat itu tidak akan diketahui oleh orang isinya jika ditulis dalam bahasa Balanda. Tetapi
ha…saya tak sampai hati, sebab perbuatan itu hanya sehingga daerah persaudaraan antara adik
dan abang, tidaklah mengapa.
Tetapi adalah saya ini seorang yang lemah, otak saya tak dapat mempengaruhi dan
mengendalikan hati saya, sepandai-pandainya mengatur dan menyusun kata, akhirnya tentu salah
satu perkataan di dalam surat itu terpaksa juga membawa erti lain, padahal dalam perkara yang
halus-halus anak perempuan amat dalam pemeriksaannya.
Cinta itu adalah " jiwa" antara cinta yang sejati dengan jiwa tak dapat dipisahkan, cinta pun
mereka sebagaimana jiwa, ia tidak memperbezakan di antara darjat dan bangsa, di antara kaya
dan miskin, mulia dan papa demikianlah jiwa saya, diluar dari pada resam basi, terlepas daripada
kekang kerendahan saya dan kemuliaannya; saya merasainya, bahawa Zainab adalah diri saya,
Saya merasai ingat kepadanya adalah kemestian hidup saya. Rindu kepadanya membukakan pintu
angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang.
Dahulu saya tidak pedulikan hal itu, tetapi setelah saya besar dan berpisah daripadanya, barulah
saya insaf, bahawa kalau bukan di dekatnya, saya berasa kehilangan.
Mustahil ia akan dapat menerima cinta saya, kerana dia langit dan saya bumi, bangsanya tinggi
dan saya daripada kasih sayang ayahnya. Bila saya tilik diri saya, tidak ada padanya tempat buat
 lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tuanya bermenantu, mustahil pula saya akan
temasuk golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Jaafar, kerana tidak
ada yang akan dapat diharapkan dari saya, tetapi tuan…. Kemustahilan itulah yang kerapkali
memupuk cinta.
Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. Sebelum berangkat saya datang ke
rumahnya menemuinya, menemui ayah dan ibunya. Daripada ayahnya saya dapat nasihat; "
Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama
dan dapat hendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu….."
" InsyaAllah Engku"- jawab saya.
Setelah itu saya berangkat; seketika saya melengung yang penghabisan ke belakang; kelihatan
oleh saya Zainab berdiri di pintu tengah, melihat kepada saya. Di situ timbul pula kembali sifat
saya yang pengecut; saya mengadap ke muka dan saya pun pergi……

SEPERUNTUNGAN
Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah
menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian sekonyong-konyong dari Engku Haji Jaafar
yang dermawan. Ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, kerana ketinggian budinya
dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satu pun perbuatan umum di sana yang tak
dicampuri oleh Engku Haji Jaafar.
Kematiannya membawa perubahan yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dan
rumahtangga Zainab. Dia yang telah membuka pintu yang luas kepada saya memasuki rumahnya
di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mahu tak mahu telah tertutup. Sebagai seorang lain,
Pertemuan kami tidak berleluasa seperti dulu lagi. Ah…. zaman semasa anak-anak, dia telah
pergi dari kalangan kami dan tak akan kembali lagi.
Belum beberapa lama setelah budiman itu menutup matanya,datang pula musibah baru kepada
saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah
ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, iaitu penyakit dada. Kerapkali
Zainab dan ibunya datang melihat ibuku, dan duduk dekat kepalanya, sedang saya duduk menjaga
dengan diam dan sabar. Kerapkali juga Mak Asiah berkata; " Ah luka lama yang belum sembuh
sekarang datang pula yang baru. Belum lama saya menjagai suami saya sakit, sekarang saya mesti
melihat sahabat saya yang menanggung sakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh."
Waktu itu Zainab diam dalam menungnya, di hadapan ibu yang sedang sakit, kerapkali ia melihat
kepada saya dengan muka yang tenang, dan agaknya bersertaan dengan nasib yang
ditanggungnya sendiri. Tetapi sepatah kata pun tak keluar daripada mulutnya dan saya pun
melihat pula, sehingga kedua mata kami bertemu dan dari dalam ruang-ruang mata yang hitam,
seakan-akan terbayang berulang-ulang beberapa perkataan yang penting, meskipun lidah tiada
sanggup menunjukkan ertinya.
Mak Asiah pergi bersama Zainab, di meja mereka letakkan sepinggan bubur yang telah
didinginkan, ditutup dengan sebuah piring kecil untuk ibu, kerana dia tak kuat makan nasi. Ketika
ia akan pergi, ia berkata:" Jagalah ia baik-baik, jika ia bangun kelak, berilah bubur ini barang
sesenduk pun."
" Baiklah mak"-kata saya.
 Pintu mereka tutupkan baik-baik dan mereka pun pergi. Setelah beberapa saat kemudian ibuku
mengembangkan matanya; di dalamnya hanya kelihatan tinggal cahayaa dari kekerasan hati,
padahal Kekuatan telah habis sama sekali.
Dicarinya saya dengan matanya yang telah kabur, tangannya yang telah tinggal jangat pembalut
tulang itu mencapai-capai ke kiri ke kanan mencari tangan saya, dengan segera saya berikan
tangan kanan saya, dipegangnya erat-erat dan dibawanya kemulutnya seraya diciumnya, lama
sekali; dari matanya titik airmata yang panas.
" Hamid"- katanya, rupanya kekuatan kembali sedikit; " Ibu hendak berbicara dengan engkau,
penting sekali, nak!"
" Lebih baik ibu diamkan dahulu, agaknya ibu terlalu payah."
" Tidak, Mid, kekuatan ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan bicara ini kepadamu."
" Apakah yang ibu maksudkan?"
" Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahsia pada dirimu."
" Rahsia apa ibu?"
" Engkau cinta kepada Zainab!"
" Ah, tidak ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda
tak cinta padanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal " cinta." Anakanda tahu bahawa
jika anakanda menyerahkan cinta kepadanya, takkan ubahnya seperti seorang yang mencurahkan
semangkuk air tawar ke dalam lautan yang amat luas; laut tak akan berubah sifatnya kerana
semangkuk air itu."
" Wahai anakku, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan bahawa engkau sedang
diserang penyakit cinta, takut akan kena cinta, itulah dia sifat daripada cinta; cinta itulah yang
telah merupakan dirinya menjadi suatu perbuatan, cinta itu kerapkali berupa putus harapan, takut,
cemburu, hiba hati terkadang-kadang berani. Di hadapan ibumu yang telah lama merasai pahit
dan manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku
masih terang-benderang."
" Anakku …… sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya
menurutkan perintah hati, bukan menurut pendapat otak. Dari belum berbahaya sebelum ia
mendalam, kerapkali kalau yang kena cinta tak pandai ia merosakkan kemahuan dan kekerasan
hati lelaki. Kalau engkau perturutkan tetap engkau menjadi seorang anak yang berputus asa, apa
lagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya…..
" Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan timbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan
juga, bahawa emas tak setara dengan loyang, sutera tak sebangsa dengan benang."
" Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi,
ertinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumahtangga orang di sana. Meski
pun ibu Zainab seorang yang penuh dengan budi pekerti. Tentu saja kebaikannya kepada kita
tidak lagi sebagai suaminya hidup. Apa lagi famili-famili mereka yang bertali darah sudah banyak
yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumahtangga itu, iaitu orang-orang baru yang tidak
kenal akan kita."
 " Memang anak,….. cinta itu " Adil" sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak
memperbeza-bezakan antara raja dengan orang meminta-minta, tiada menyisihkan orang kaya
dengan orang miskin, orang mulia dengan orang hina, bahkan kadang-kadang tidak juga berbeza
baginya antara bangsa dengan bangsa, tetapi aturan pergaulan hidup, tiada membiarkan yang
demikian itu berlaku, orang sebagai kita ini telah dicap dengan darjat " Bawah" atau "
Kebanyakkan" sedang mereka diberi nama " cabang atas"; cabang atas ada kalanya kerana
pangkat dan ada kalanya kerana harta benda. Cincin emas orang sayang hendak memberi
bermatakan kaca, tentu dicarikan orang, biar lama, permata intan berlian, atau zamrud dan nilam
yang telah diasah oleh orang rantai perintang-perintang hatinya, kerana lama menanggung dalam
penjara."
" meski pun Zainab suka kepada engkau…. Kerana agaknya batinnya suci daripada perasaan
takbur dan mengangkat dirinya, tidaklah langsung kalau ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka,
bermuafakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai dan taulan. Kalau mereka tak sepakat,
waktu itulah kelak kau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat
kepada jiwamu. Sebab api masih belum besar tidak engkau padami lebih dahulu."
" Tidak ada yang lebih baik untuk melupakan hal itu sebelum ia mendalam, sebab cinta kepada
orang yang demikian, adalah cinta arwah ayahmu hendak kembali ke dunia, kerana ia berbesar
hati melihat engkau telah besar. Ia tahu dan melihat segala apa yang kejadian dalam dunia ini, dan
ia ingin sekali hendak datang. Tetapi sayang…. Alam dunia telah terbatas jauh sekali dengan
alam barzakh….."
Lama saya termenung mendengarkan perbicaraan ibu itu, pertama kerana amat dalam
penyelidikannya kepada faham hidup ini, kedua memikirkan kekuatan jiwanya yang timbul,
seakan-akan malaikat yang memimpin dia sedang berbicara, yang tidak saya sangka-sangka akan
sejelas itu. Beberapa saat antaranya saya pun menjawab:" Terima kasih, ibu, nasihat ibu masuk
benar kedalam hatiku, semuanya benar belaka, sebenarnya sudah lama pula anakanda merasa
yang demikian, sehingga dengan hati sendiri anakanda berjanji hendak melupakannya, yang amat
ajaib ialah peperangan otak dengan hati. Tetapi bila kelihatan rumahtangga, atau kelihatan
rupanya sendiri, dan kadang-kadang bila namanya disebut orang hati ini lupa akan perintah otak,
ia kembali berdebar, ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Inilah yang kerapkali
mengalahkan anakanda."
" Ah, anakku, pandai benar engkau mewartakan nasibmu kepada ibumu! Mengapa engkau segila
itu benar, pada hal agaknya engkau belum mengetahui bagaimana pula perasaan Zainab kepada
dirimu?"
" Wahai ibu, Cuma anakanda tahu bahawa cintaku mendapat sambutan dengan semestinya,
agaknya tidaklah separah ini benar luka hatiku, kerana cinta yang dibalas itulah ubat yang paling
mujarab bagi seorang anak muda dalam hidupnya, tak akan lebih pintanya daripada itu, hati anak
muda akan besar dan merasa beruntung, jika anakanda ketahui bahawa airmata anakanda yang
selama ini telah banyak tercurah tidak bagai air yang tenggelam di pasir; bahawa pengharapan
dalam menuju hidup tak terhambat ditengah jalan; bahawa cita-cita hendak memandangi langit
tidak di halangi oleh awan. Cinta anakanda kepadanya bukan mencintai tubuhnya dan bentuk
badannya, tetapi jiwa anakandalah yang mencintai jiwanya, kecintaan anakanda bukan
dipeterikan oleh kebiasaan bergaul dan bukan pula kerana kepandaian menyusun surat-surat
kiriman. Kebebasan pergaulan bisa ditutupi dengan perangai yang dibuat-buat dan kepintaran
mengarang surat dapat pula menyembunyikan kepalsuan hati. Anakanda menyintai Zainab kerana
budinya; di dalam matanya ada terkandung suatu lukisan hati yang suci dan bersih."
 " Anakku, sudah tinggi fikiranmu rupanya, sudah dapat engkau menerangkan perasaan hati
dengan perkataan yang cukup, sudah menurun pada dirimu kelebihan ayahmu. Ibu tak dapat
menyambung perkataan lagi….. perkataanmu hanya ibu sambut dengan airmata. Hanya kepada
Tuhan ibu berharap, mudah-mudahan Dia memberikan anugerah dan perlindungan akan dirimu.
Dia yang telah menanamkan perasaan itu ke dalam hatimu, Dia pula yang berkuasa mencabutnya.
Mudah-mudahan itu hanya suatu khayal, suatu angan-angan yang kerapkali mempengaruhi hati
anak muda, yang dapat hilang kerana pergantian siang dan pertukaran malam."
" Mudah-mudahan," jawab saya.
Demikianlah nasihat kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya
kelihatan kepayahannya menyelesaikan nafas yang turun naik. Kadang-kadang dilihatnya saya
tenang-tenang dan dingangakan mulutnya sedikit minta minum. Ubat-ubatnya tak memberi
faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberi nasihat itu, datanglah masa yang
ditunggu-tunggunya, masa berpindah daripada alam yang sempit kepada alam yang lapang.
Sementara saya asyik meminumkan ubat, di tangan kanan saya terpegang sudu dan di tangan kiri
terpegang gelas. Ia melihat kepada saya dengan tenang, alamat berpisah yang akhir. Dari
mulutnya keluar kalimah suci, bersamaan dengan kepergian nyawanya ke dalam alam yang baqa',
yang di sana tempat manusia lepas daripada segala penyakit.
Saya tercengang dan seakan-akan bingung, di tangan kanan saya sudu masih terpegang, di tangan
kiri saya berisi ubat; saya lihat ke atas meja, di sana terletak beberapa botol yang telah kosong
dan ramuan dukun yang telah layu, limau manis yang dihantarkan oleh Zainab pagi hari itu baru
diusiknya seulas, lebihnya masih tinggal terletak di atas meja. Waktu itulah baru saya insaf
bahawa itu bukan perkara sudu, gelas, bukan perkara ubat ramuan, tetapi perkara ajal semata-
mata…..
Sekarang saya sudah tinggal sebatang kara di dunia ini!
Bersambung....
TEGAK DAN RUNTUH
Telah lalu kejadian itu dan dia telah memberi kesan ke dalam jantung saya; rupa-rupanya
kedukaan dan cubaan mesti diturunkan kepada manusia secukup-cukupnya dan sepuas-puasnya,
menanglah siapa yang tahan.
Sejak kematian itu tidak beberapa kerap lagi saya datang ke rumahnya, saya karam dalam
permenungan, memikirkan hidup saya di belakang hari, sebatang kara di dunia ini.
Pada suatu petang sedang matahari akan tenggelam ke dasar lautan di Batang Arau, di antara
Hujung Gunung Padang, di celah-celah ombak yang memecah ke atas pasir yang putih di Pulau
Pandan, di waktu saya sedang berjalan seorang diri di pesisir Batang Arau yang indah, melihat
perahu keluar masuk, tiba-tiba......
kelihatan oleh saya sebuah perahu tumpangan datang dari seberang, di atasnya duduk tiga orang
perempuan yang agak tua, bertudung kain bugis halus, setelah perahu kecil itu hampir, keluar dari
dalamnya perempuan-perempuan itu, seorang di antaranya ialah Mak Asiah sendiri, ia lekas
melihat saya, " Oh, engkau Hamid? Mengapa di sini?" Katanya.
" Berjalan-jalan emak," jawabku; " Dan emak dari mana?"
 " Dari menziarahi kubur bapamu….mengapa engkau tak datang ke rumah semenjak ibumu
meninggal?" Kerana Engku Haji Jaafar tiada lagi, akan engkau alangi saja datang ke rumah?
" Tidak emak, Cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agak mendukacitakan hatiku, itu sebab
saya kurang benar keluar rumah.
" Tak boleh begitu, Hamid; sebabnya engkaulah yang mesti menyabarkan hati kami. Besok
engkau mesti datang ke rumah, ibu tunggu kedatanganmu, banyak yang perlu kita bincangkan."
" Baiklah mak."
" Saya tunggu, ya?"
" Baik, mak!"
Setelah itu ia pun pergi di tengah jalan, sebelum mereka naik dari sampan, rupanya pembicaraan
mereka terhadap diri saya saja. Kerana tak berapa jauh langkahnya, perempuan-perempuan tua
yang lain semuanya menoleh kepada saya sebagai rupa orang menunjukkan belas kasihan.
Besoknya janji itu pun saya tepati.
Wahai tuan, hari itulah masa yang tak dapat saya lupakan! Saya datang ke rumah itu, rumah
tempat saya bersenda gurau dengan Zainab di waktu kecil, rumah itu seakan-akan hilang
semangat dan memang kehilangan semangat, kerana bekas-bekas kematian masih kelihatan nyata.
Pintu luar terbuka sedikit dan saya ketuk pintunya yang mengadap ke dalam; pintu terbuka….
Zainab yang membukakan.
" Abang Hamid!" katanya.
Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat
kedatangan saya. Baru sekali itu dan baru saat itu selama hidup saya melihat mukanya demikian,
yang tak pernah saya gambarkan dan tuturkan dengan susunan kata, pendeknya wajah yang
memberikan saya penuh pengharapan.
" Bang Hamid!" katanya menyambung perkataannya, " Sudah lama benar abang tak kemari, lupa
agaknya abang kepada kami!"
Gugup saya hendak menjawab; saya pintar mengarang khayal dan angan-angan tetapi bila sampai
di hadapannya saya menjadi seorang yang bodoh.
" Tidak, Zainab" jawabku dengan gugup; " Tetapi….. bukankan kita sama-sama kematian?"
" Memang, kematian itulah yang sepatutnya menjadikan abang kerap kemari."
Seketika itu mukanya kembali ditekurkannya menghadapi kakinya, tangannya berpegang ke
pinggir pintu, rambutnya yang halus menutupi sebahagian keningnya dan sepatah kata pun dia
tidak berbicara lagi.
" Zainab…" kataku pula. " Sebetulnya tidak saya…. Pernah lupa datang kemari, barangkali
engkaulah… agaknya yang … lupa kepadaku."
 Mendengar itu ia bertambah menekur, tak berani ia mengangkat muka lagi, dan saya pun gugup
hendak menambah perkataan, memang bodoh saya ini, dan pengecut!
Tiba-tiba dalam saya menyediakan perkataan yang akan saya katakana pula dalam sedang
merenungi kecantikan Zainab, kedengaranlah dari halaman tapak kaki emak Asiah menginjak
batu; Zainab mengangkat mukanya seraya berkata: " Itu ibu datang."
Saya masih dalam kebingungan, Zainab lalu kehadapan saya mengadap kedatangan ibunya.
Ketika sampai ke beranda dia berkata " Sudah lama Mid?"
" Baru sebentar, mak" jawabku.
Saya disuruh duduk, Zainab dengan segera pergi ke belakang memasak kopi sebagaimana
kebiasaannya. " Hampir mak terlupa akan janji kita. Tadi mak pergi ke rumah orang sebelah
kerana tiada lama lagi dia akan mengahwinkan anaknya; jadi dari sekarang sedang bersiap-siap
menyediakan yang perlu, maklumlah tetangga, perlu bantu-membantu."
Saya dengarkan perkataannya, tetapi fikiran saya masih tetap ingat kepada kejadian tadi. Fikiran
saya menjalar kemana-mana, memikirkan tegur Zainab dan mukanya yang merah ketika mula-
mula melihat saya; hanya suatu kejadian yang tiba-tibakah itu, atau adakah dia merasai apa yang
saya rasai? Dalam pada itu Mak Asiah masih tetap membicarakan beberapa perkara menyebut-
nyebut jasa suaminya, menyebut kebaikan ibuku. Akhirnya sampai pembicaraan kepada Zainab.
" Bagaimanakah fikiranmu Hamid, tentang adikmu Zainab ini?"
" Apakah yang emak maksudkan' Tanya saya.
" Semua keluarga di darat (darat adalah sebutan dari Padang Halus) telah bermuafakat dengan
emak hendak mempertalikan Zainab dengan seorang anak saudara almarhum bapamu, yang ada
di darat itu, dia sekarang sedang bersekolah di Jawa. Maksud mereka dengan perkahwinan itu
supaya hartabenda almarhum bapanya dapat dijagai oleh familinya sendiri, oleh anak saudaranya,
sebab tidak ada saudara yang lain, dialah anak yang tunggal. Pertunangan itu telah dirunding oleh
orang yang sepatutnya, jika tiada aral melintang, bulan depan hendak dipertunangkan dahulu,
nanti apabila tamat sekolahnya akan dilangsungkan perkahwinan. Hal ini telah mak rundingkan
dengan Zainab, tetapi tiap-tiap ditanya dia menjawab belum hendak bersuami, katanya, tanah
perkuburan ayahnya masih merah, airmatanya belum kering lagi. Itulah sebabnya engkau disuruh
kemari, akan emak lawan berunding, mak masih ingat pertalian engkau dan Zainab masa engkau
kecil dan masih sekolah; engkau banyak mengetahui tabiatnya apalagi engkau tidak
dipandangnya sebagai orang lain, sukakah engkau Hamid, menolong emak?" Lama saya
termenung…..
" Mengapa engkau termenung, Hamid? Dapatkan engkau menolong emak, melembutkan hatinya
dan memujuk ia supaya mahu? Hamid!.... emak percaya sepenuh-penuhnya kepadamu sebagai
Allahyarham bapamu percaya kepada engkau!'
" Apakah yang akan dapat saya Bantu mak? Saya seorang yang lemah. Sedangkan ibunya sendiri
tak dapat mematah dan melembutkan hatinya apatah lagi saya orang lain, anak semangnya."
" Jangan bercakap begitu, Hamid, engkau bukan emak pandang sebagai orang lain lagi, almarhum
telah memasukkan engkau ke dalam golongan kami, walaupun beragih tetapi tak bercerai. Maka
di atas namanya hari ini, di atas nama Haji Jaafar mak meminta tolong melembutkan hati
 adikmu."
" Oh itu namanya perintah, saya kabulkan permintaan mak."
Mukanya kelihatan gembira, meskipun dia tak sempat memperhatikan bagaimana perubahan
muka saya yang telah muram. Kemudian keluarlah Zainab membawa dua cawan kopi dan
beberapa piring kuih. Ibunya melihat kepadanya dengan kasih dan mesra, kerana pada diri
anaknya itulah tergantung pengharapannya dan penghabisan.
" Duduk, Nab, abangmu Hamid hendak berkata-kata sepatah dua kata dengan engkau."
Saya masih agak bingung dan Zainab telah duduk dekat ibunya dengan wajah kemalu-maluan.
Beberapa minit lamanya tenang saja dalam ruangan itu tak seorang jua pun di antara kami yang
berkata; ibunya seakan-akan menunggu supaya perkataan itu lekas dimulai, Zainab kelihatan
malu tak mahu melihat muka saya, sedang saya masih termenung memikirkan dari manakah
percakapan itu akan saya mulai.
" Bicaralah, Hamid, amat banyak masa terbuang," kata ibu dengan tiba-tiba. Sulit sekali untuk
memulai pembicaraan itu, sulit menyuruh seorang mengerjakan suatu pekerjaan yang berat
hatinya melakukan, pekerjaan yang berlawanan dengan kehendak hatinya sendiri. Tetapi di balik
itu, sebagai seorang anak muda yang telah dicurahi orang kepercayaan dengan sepenuhnya, yang
sudi mengorbankan jiwa untuk menyimpan rahsia. Akhirnya hati saya dapat saya bulatkan dan
mulai berkata:
" Begini Zainab…. Sudah lama ayah meninggal, semenjak itu lenganglah rumah ini, tiada
seorang pembela pun yang akan dapat menjaganya. Selain dari itu, menurut aturan hidup di
dunia, seorang gadis perlulah mengikut perintah orangtuanya, terutama kita orang Timur ini. Buat
menunjukkan setia hormatnya kepada orangtuanya, ia perlu menekan perasaan hati sendiri. Dia
mesti ingat sebuah saja, iaitu mempergunakan dirinya, baik murah atau mahal, untuk berkhidmat
kepada orangtuanya."
" Sekarang, kerana memikirkan kemuslihatan rumahtangga dan memikirkan hati ibumu, pada hal
hanya sendiri lagi yang dapat engkau khidmati, ia berkehendak supaya engkau mahu
dipersuamikan…. dipersuamikan dengan…kemanakan ayahmu."
Seakan-akan terlepas dari suatu beban yang maha hebat saya rasanya, setelah selesai perkataan
yang sulit itu. Selama saya berbicara Zainab masih tetap menekur ke meja, tanganya
mempermain-mainkan sebuah pontong macis, diramas-ramasnya dan dipatah-patahnya, belum
sebuah juga perkataan keluar dari mulutnya. Setelah kira-kira lima minit lamanya, barulah
mukanya diangkat, airmatanya kelihatan mengalir, mengalir setitik dua titik ke pipinya yang
halus dan indah itu.
" Bagaimana, Zainab, jawablah perkataanku!"
" Belum abang, saya belum hendak kahwin.
" Atas nama ibu, atas nama almarhum ayahmu."
" Belum abang!"
 " Sampai hati abang memaksa aku?"
" Abang bukan memaksa engkau, adik… ingatlah ibumu."
Mendengar itu dia kembali terdiam, ibunya pun terdiam, ia telah menangis pula. Karam rasanya
bumi ini saya pijakkan, gelap tujuan yang akan saya tempuh. Dua kejadian yang hebat telah
membayang dalam kehidupan saya sehari itu, tak ubahnya dengan seorang yang bermimpi
mendapat sebutir mutiara ditepi lautan besar, sebelum mutiara itu dibawa pulang, tiba-tiba sudah
tersedar; meskipun mata dipaksa hendak tidur, mimpi yang tadi telah tinggal mimpi, ia telah
tamat sehingga itu tidak akan bertambah-tambah lagi.
Selama ini saya masih ragu, adakah Zainab membalas cinta saya; pertemuan saya dengan dia itu
memberikan pengharapan sedikit pada saya, tetapi belum pengharapan itu dapat saya yakni
tibalah penyerahan ibunya yang berat itu.
Hanya hingga itu dapat saya ceritakan kepada tuan apa yang terjadi sehari itu. Setelah itu saya
pun pulang ke rumah saya, di jalan pulang saya rasakan badan saya sebagai bayang-bayang tanah
serasa bergoyang saya pijakkan.
Bersambung....
BERJALAN JAUH
Dua kejadian yang berjuang pada hari itu, cukuplah untuk menentukan tujuan nasib saya; nikmat
hati hanya lalu sebagai khayal belaka. Setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan
tidak akan kembali lagi. Kepada Tuhan dapatlah saya menghantarkan satu kesyukuran yang
bersih, sebab saya telah dapat memberikan suatu pengorbanan untuk seorang perempuan yang
lemah, saya telah menolongnya, memujuk anaknya yang keras.
Untuk itu perasaan hati sendiri telah saya tekankan; sungguh besar sekali korban yang saya
berikan, memang kalau diukur dengan fikiran, saya ini hanya pantas menjadi saudara Zainab,
menjadi pembelanya, tetapi cinta mempunyai suatu lapangan yang lebih luas daripada ukuran
fikiran itu. Inilah yang tertulis dalam hati, yang sukar dilupakan selamanya. Ada suatu jawapan
yang tergantung, yang saya sempat dengar dari mulut Zainab, dan keras persangkaan saya akan
dirinya pada hari itu; itulah yang sentiasa menjadi penyakit pada saya, tetapi menjadi ubat juga.
Kemudian saya insaf, bahawa alam ini penuh dengan kekayaan. Allah menunjukkan kuasaNya.
Tidaklah adil jika semua makhluk dijadikan dalam tertawa, yang akan menangis pun ada pula.
Kita mesti mengukur perjalanan alam dengan ukuran yang luas, bukan dengan nasib diri sendiri.
Bukankah patut saya syukur dan terima kasih, sebab seorang perempuan tua dapat saya tolong,
saya patahkan hati anaknya yang hanya satu tempat menumpahkan segala pengharapannya. Kalau
kelak terjadi perkahwinan Zainab dengan kemanakan ayahnya dan mereka hidup beruntung,
sehingga Mak Asiah waktu menutup mata tidak merasa bahawa ia masih ada hutang piutang
dengan anaknya, bukankah saya telah mengusahakannya?
Memang, mula-mula hati itu mesti bergoncang; bukahkan loceng-loceng dirumah juga berbunyi
keras dan berdengung jika kena pukul? Tetapi akhirnya, dari sedikit ke sedikit, dengung itu akan
berhenti juga. Cuma saja saya mesti berikhtiar, supaya luka-luka yang hebat itu jangan mendalam
kembali, saya mesti berusaha, supaya ia beransur-ansur sembuh. Untuk itu saya mesti berusaha,
saya mesti meninggalkan Kota Padang, terpaksa tak melihat wajah Zainab lagi, saya berjalan
jauh.
 Setelah saya siapkan segala yang perlu dan rumahtangga saya pertaruhkan kepada salah seorang
sahabat handai yang setia, dengan tak seorang pun yang mengetahui, saya berangkat
meninggalkan Kota Padang, kota yang permai dan yang sangat saya cintai itu, dengan
menekankan dan membunuh segala perasaan yang sentiasa mengharu hati, saya tumpangi kereta
yang berangkat ke Siantar.
Di kiri kanan saya banyak penumpang lain yang akan menuju ke kota Medan, setelah saya sampai
ke Medan, saya buat surat kepada Zainab, sesudah hati saya, saya beranikan; itulah surat saya
yang pertama kali kepadanya. Jika kelak ternyata dia tak cinta kepada saya, syukur, sebab saya
tak melihat mukanya yang kesal membaca surat. Tetapi kalau ia nyata ada mempunyai perasaan
sebagi yang saya rasai dan surat itu diterimanya dengan sepertinya, tentu sekurang-kurangnya
saya akan menerima belas kasihannya, sebagai seorang melarat yang diarak oleh untung nasib
saya.
Demikian bunyi surat itu masih hafaz oleh saya:
" Menyesal sekali, kerana sebelum berangkat tak sempat saya bertemu muka dengan adinda lebih
dahulu, maafkanlah adik, kerama amat banyak halangan yang menyebabkan saya tak sempat
datang ketika itu, halangan yang tak sapat saya sebutkan.
Barangkali agak sedikit tentu adik bertanya juga dalam hati, apa gerangan sebabnya abang Hamid
berangkat dengan tiba-tiba. Biarlah hal itu menjadi soal buat sementara waktu, lama-lama tentu
akan hilang jua dengan sendiri.
Banyak hal-hal yang akan saya terangkan dalam surat ini, tetapi tak sanggup pena saya
menulisnya. Hanya dengan surat ini saya bermohon sangat supaya adik menuruti cita-cita ibu.
Jika kelak maksud famili sampai dan adik bersuami; berikan kepadanya kesetiaan yang penuh.
Akan hal diri saya ini, ingatlah sebagai mengingat seorang yang telah pernah bertemu dalam peri
penghidupanmu, seorang sahabat dan boleh juga disebut saudara yang ikhlas dan saya sendiri
akan memandang tetap engkau sebagai adikku.
Jika pergaulanmu kelak dengan suamimu berjalan dengan gembira dan beruntung, sampaikanlah
salam abang kepadanya. Katakan bahawa di suatu negeri yang jauh, yang tak tentu tanahnya, ada
seorang sahabat yang sentiasa ingat akan kita. Dan biarlah Allah memberi perlindungan atas kita
semuanya.
Wassalam abangmu,
Hamid,
Demikianlah bunyinya surat yang saya kirimkan. Tiada lama saya di Medan, saya menuju ke
Singapura, mengembara ke Bangkok, belayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari
Karachi belayar menuju ke Mesir masuk ke Iraq, melalui Sahara Najad dan akhirnya sampailah
saya ke tanah suci ini.
Sekarang sudah tuan lihat, saya telah ada di sini, di bawah lindungan Ka`bah yang suci, terpisah
daripada pergaulan manusia yang lain. Di sinilah saya selalu tafakur memohon kepada Tuhan
seru sekalian alam, supaya ia memberi saya kesabaran dan keteguhan hati menghadapi
kehidupan.
Setiap malam saya duduk beri`tikaf di dalam Masjidil Haram, doa saya telah berangkat ke langit
 biru, membumbung ke dalam alam ghaib bersama-sama permohonan segala makhluk yang
makbul.
Segala ingatan kepada zaman yang lama-lama, dari sedikit beransur-ansur lupa juga. Cuma
sekali-sekali ia terlintas difikiran, ketika itu saya menarik nafas panjang, kerana biar pun luka
sembuh dengan kunjung, bekasnya mesti ada juga. Tetapi hilang pula dengan segera, bila saya
bawa tawaf dan sa`ie(berjalan antara Safa dan Marwah), atau saya bawa bertekun di dalam masjid
tengah malam. Sudah hampir datang tamaninah (ketetapan) ke dalam hati saya menurut
persangkaan saya mula-mula, tamatlah cerita ini sehingga itu.

BERITA DARI KAMPUNG
Setelah setahun saya di sini dan waktu mengerjakan haji telah datang. Tuan sendiri yang mula-
mula saya kenal semenjak orang-orang yang akan mengerjakan haji dari tanahair kita. Kemudian
sebagai tuan maklum, datanglah pula saudara kita Salleh ini. Salleh adalah salah seorang teman
saya semasa kami bersekolah agama di Padang dan Padang Panjang; oleh kerana sekolahnya di
Padang telah tamat, dia hendak meneruskan pelajarannya ke Mesir, ia singgah di Mekah ini untuk
mencukupkan rukun. Sekarang ia berangkat ke Medinah, supaya sehabis haji dapat ia
menumpang kapal yang membawa orang Mesir kembali yang sewanya lebih murah dari kapal-
kapal lain.
Dengan kebetulan sekali, dia telah memilih syeikh kita menjadi tempatnya, menumpang,
sehingga sahabat lama itu bertemu kembali, setelah kami bercerai selama itu.
Wahai tuan….. kedatangannya telah menghidupkan ingatan kembali kepada yang lama-lama, dia
menceritakan kepadaku, bahawa dia telah beristeri dan isterinya telah sudi melepaskan die belajar
sejauh itu.
Padahal mereka baru saja berkahwin. Dipujinya isterinya sebagai seorang perempuan yang setia,
yang teguh hatinya melepaskan suaminya berjalan jauh, kerana untuk menambah
pengetahuannya. Setelah beberapa hari dia datang, dibawanya saya ke Maala di atas sebuah
bangku di halaman qahwa ia membicarakan akan suatu hal yang sangat menggerakkan fikiran
saya.
Sambil meminum syahi (teh) Arab yang panas dan enak, ia mulai berkata:
" Hamid! Tempoh hari sudah saya katakan, bahawa saya telah beristeri, isteri saya itu ialah
Rosnah..ingatkah engkau akan Rosnah, sahabat karib Zainab?"
Saya pucat mendengar nama Zainab disebutnya. Kerana sudah lama benar saya tiasa mendengar
nama itu disebut orang, kecuali saya sendiri, perubahan muka saya itu dilihat oleh Salleh sambil
tersenyum duka.
" Kerapkali isteriku disuruhnya datang kerumahnya" katanya meneruskan ceritanya. " Kerana
hubungan persahabatan mereka itu yang karib. Rupanya Zainab telah sudi membukakan rahsia-
rahsianya yang sulit kepada isteri saya. Yang paling hebat, ialah seketika pada suatu hari isteri
saya datang ke rumahnya, didapatinya Zainab merenung sebuah album, di dalam album itu
terkembang sehelai surat kecil yang telah lusuh dan lunak, kerapkali dibaca dan dibuka
lipatannya. " Setelah adinda kelihatan olehnya" kata isteriku," album itu ditutupnya dengan segera
dan surat itu disimpannya baik-baik ke dalam laci mejanya, setelah itu dia kelihatan kepada
adinda dengan tenang, wajahnya muram, matanya berbekas tangis dan dia menarik nafas
panjang".
 " Tiada tahan rupanya hati isteriku melihat kejadian itu, maklumlah kaum perempuan itu
seperasaan, lalu ia berkata: " Zainab!.... mengapa engkau menangis pula, sahabat? Tidakkah di
rumah yang sepermai ini sarang orang yang berdukacita.Di rumah yang indah-indah dan gedung
yang permai, yang di kiri kanannya dikelilingi oleh kebun-kebun yang subur, cukup dengan
orang-orang gajian yang setia, tiadalah patut terdapat orang yang mengalirkan airmata. Disana
tidaklah ada kesedihan dan kedukaan."
Zainab menjawab: " Salah sekali persangkaanmu, sahabat! Bahawasanya airmata tidaklah ia
memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun. Airmata adalah kepunyaan
bersyarikat, dipunyai oleh orang-orang yang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk,
oleh tukang sabit rumput yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga
oleh penghuni gudang-gudang yang permai dan istana-istana yang indah. Bahkan di situlah lebih
banyak orang menelan ratap dan memulas tangis. Luka jiwa yang mereka hidupkan, dilingkung
oleh tembok dinding yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan oleh orang di luar penuh
dengan kepahitan."
" Kesedihan orang lain lebih merdeka dan lebih puas, dapat ia menerangkan fahamnya yang
tertumbuk kepada alam yang sekelilingnya, dapat pula mereka lupakan dan menghilangkan.
Tetapi di rumahtangga yang sebagai ini, kedukaan akan dirasakan sendiri, airmata akan
dicucurkan seorang, rumah dan gedung menjadi kubur kesedihan yang tiada berhujung".
Airmata Zainab kembali jatuh.
" Mengapa engkau menangis juga, sahabatku! Kesedihan apakah yang engkau tanggungkan?
Teringatkah engkau kepada ayahmu? Kalau demikian, engkau salah, Zainab! Lupa engkau
agaknya, bahawa kedukaan itu tumbuh diapit oleh dua rumpun kesukaan."
" Bukan demikian, sahabat!" jawabnya. " Buat diriku sendiri, Tuhan telah mentakdirkan berlainan
dari orang. Kedukaanku tumbuh di antara dua kedukaan pula. Dahulu saya telah berduka,
sekarang berdukacita dan kelak akan terus berluka hati."
" Engkau mengesali nasib, Zainab!"
" Menyesali nasib saya tidak, menyedar untung saya bukan, melainkan yang sebetulnyalah yang
saya katakan."
" Zainab…. Kalau tidak akan merbahaya benar, nyatakanlah kepadaku, apa yang menjadi sebab
dukacitamu sebesar itu benar. Kerana sudah agak lama saya melihat mukamu muram, sehingga
airmata saya sendiri kerapkali bersyarikat, tercurah untuk kesedihanmu, sahabat! Saya akan
meratap menuruti ratap engkau, kerana tidak ada kepandaian kita kaum perempuan selain dari
menangis."
Laksana seorang anak yang memohon dikasihani, dipeluknya Rosnah, seketika lamanya kedua
sahabat itu berpeluk-pelukan, bertangis-tangis tiada berkata-kata.
" Sudahlah, zainab, ingatlah akan dirimu, kelak engkau, demikian pun saya, ditimpa oleh
penyakit lain. Ceritakanlah kepada saya hal yang engkau rahsiakan itu, mudah-mudahan kerana
sesudah ada tempat menerangkan, tanggungan itu supaya ringan sedikit, sebab beban untuk
sendiri telah dibahagi dua." Mula-mula termenung, setelah beberapa saat lamanya ia pun berkata:

HARAPAN DALAM PENGHIDUPAN
" Ingatkah engkau, Ros, bahawa duhulu ada tinggal berhampiran rumahku ini seorang anak muda
bernama Hamid?" " Masihkah aku tak ingat, anak muda yang baik budi dan beroleh pertolongan
daripada almarhum ayahmu." " Ah, Ros, saya amat kasihan kepada orang muda itu, dia seorang
muda yang hidup miskin, mendapat bantuan daripada ayahku, semasa usianya baru 4 tahun
ayahku yang membantunya, dan seketika sekolahnya akan lanjut, ayahku meninggal pula,
 kemudian meningal ibunya. Rupanya kerana ia sentiasa dirundung malang, sangatlah dukacita
hatinya, berbulan-bulan khabar tidak berita pun tidak, budinya baik sekali, pekertinya tinggi dan
mulia; memang dalam kalangan orang-orang yang dirudung malang itu kerapkali timbul budi
pekerti yang mulia, timbul dengan baik dan suburnya, bukan kerana latihan manusia.
" Bertahun-tahun lamanya kami hidup seperti adik beradik; maka pada dirinya saya dapati
beberapa sifat yang tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak ada pada pemuda-pemuda lain, baik
dalam kalangan bangsawan atau hartawan sekalipun. Sampai kepada saat yang paling akhir
daripada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan suatu perangai yang patut dicela,
sehingga ibu-bapaku amat memuji akan dia. Ia tahu benar akan kewajipannya. Wahai Ros, saya
tertarik benar kepadanya dan kepada tabiatnya. Ia suka sekali bersunyi-sunyi, memisahkan diri
daripada pergaulan ramai, laksana seorang pendita bertapa yang benci akan dunia lata ini.
Kerapkali ia pergi bermenung ke tepi pantai samudera Hindi yang luas itu, memerhatikan
pergelutan ombak dan gelombang, seakan-akan fikirannya terpaku telah terpaku kepada
keindahan alam ini. Bila dia pulang ke rumah ibunya yang dicintai, ia menunjukkan khidmatnya
dengan sepertinya bila dia bertemu dengan saya, buah katanya tiada keluar dari lingkar
kesopanan, tahu ia menimbang hati dan menjaga kata.
Sebagai yang kau tahu, kita pun tamat dari sekolah, maka adat-istiadat telah mendinding
pertemuan kita dengan lelaki yang bukan muhrim bukan saudara atau famili karib, waktu itulah
saya merasai kesepian yang sangat. Saya merasa kehilangan seorang teman yang sangat saya
takjupi. Keadaan memisahkan saya dengan dia, tiada dapat lagi saya mendengarkan buah tuturnya
yang lemah lembut. Waktu itulah saya insaf, bahawa saya sudah ditimpa suatu perasaan yang
ganjil, saya lengang dan sunyi, ingatan saya sebentar-sebentar kembali kepada Hamid saja.
" Engkaukan tahu, Ros, Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan segalak pemuda lain, tetapi
hati kecilku amat kasihan kepadanya, agaknya, hidupnya yang sederhana itulah yang telah
memaut hati sanubariku. Saya sangat hiba kepadanya kerana saya merasa tak ada orang lain yang
akan menghibai dirinya. Hairan Ros, saya telah karam di dalam khayal, di dalam angan-angan.
Kadang-kadang saya singkirkan dia dari fikiran, kerana timbul memikirkan takburku memikirkan
darjatku, saya merasai ketinggian dan kemuliaan diriku, lebih daripada kedudukan darjat Hamid
dan saya takut terjatuhnya ke dalam jurang cinta, tetapi orang mengkhabarkan bahawa takut
itupun setengah daripada rupa cinta juga."
Maka di antara awan yang gelap gelita dan angin badai yang berhembus semenjak pertengahan
malam, tiba-tiba cahaya fajar pun naiklah, itulah kenang-kenangan dan pengharapan, daripada
cinta dan rindu dendam. Sebenarnya Ros…..saya cinta kepada Hamid.
Biar engkau tertawakan daku, sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata,
bahawa saya cinta kepada Hamid. Ia tidak berpembela, tidak ada orang yang akan sudi
menyerahkan diri menjadi isterinya, kerana dia miskin, tidak ada gadis yang akan sudi
mempedulikan dia, kerana rupanya tak gagah. Itulah sebabnya dia saya cintai, hartaku ada sedikit,
cukup untuk membantu cita-citanya, kerana saya lihat dia akan menjadi seorang ahli seni jika ada
yang membantu. Buat saya dialah orang yang paling pantas dan cekap. Meskipun bagi orang lain
agaknya tidak. Saya leluasa melihatnya lalu lintas di halaman rumah, meskipun dia tak melihat
saya. Jika sekali-sekali dia datang mengunjungi ibuku, aku dengarkan perkataannya yang penuh
dengan ilmu dan pengetahuan itu baik-baik.
Pada suatu hari, hari yang tak dapat saya lupakan, ia datang kerumah ini menemui ibuku. Ketika
itu ibu tiada di rumah, tiba-tiba saya bertemu muka dengan dia. Rupanya ada perkataan yang
 hendak dikatakannya, mulutnya masih gugup dan tak lancar, rasa-rasa terdengar olehku sekarang:
" Zainab, sebenarnya tidaklah pernah saya lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah yang
agak lupa kepadaku."
Alangkah nikmatnya rasa hatiku mendengar perkataannya itu, tetapi belum sempat saya
menyusun kata untuk menjawab, ibu datang, perkataan kami terhenti sehingga itu. Badanku
serasa bayang-bayang perkataannya menjadi teka-teki bagi hatiku, adakah tutur katanya itu
daripada rasa pertalian adik dan abang saja atau daripada kesucian cinta?
" Agaknya, engkau pandang rendah saya ini, Ros, mencintai seorang yang tiaa bersekedudukan
dengan diri sendiri, dan jauh tak tentu tempatnya."
" Waktu itu isteriku menjawab," kata salleh, ujarnya: " Tidak Nab, cinta itu adalah perasaan yang
mesti ada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci,
Cuma tanahnya lah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah
oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan, langkah serong dan lain-lain perangai
yang tercela. Tetapi kalau ia jatuh ke tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati,
keikhlasan, setia, budipekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. Saya tiada hendak
menghinakan engkau kerana jatuh cinta padanya, wahai sahabatku Zainab, dan saya banyak pula
membaca dalam buku-buku, bahawa biasa cinta yang suci bersih itu tidaklah tumbuh dengan
sendirinya, kerana jiwa itu bertemu dengan batin, dalam azal (baka) kejadian Allah sebelum
badan kasar manusia ini berkenalan. Itulah kuasa ghaib yang perlu kita percayai. Sebab itu saya
percaya bahawa cintamu tak jatuh ke pasir tentu saja Hamid mencintai engkau pula; tidaklah jiwa
engkau tertarikh mengingat akan dia, kalau kiranya jiwanya tak mengingat engkau pula. Hati
orang yang bercinta mempunyai mata, ia dapat melihat barang yang tak dilihat oleh orang lain."
" Ah" jawab Zainab " Itu Cuma kira-kira dan agak-agak belaka, agak-agak dan kira-kira tak dapat
dipercayai, masakan orang yang berpisah sangat jauh, tak berhubungan surat sedikit jua pun akan
ingat kepada orang yang ditinggalkannya."
" Jangan begitu, Zainab, engkau tiada percaya percakapanku, kerana hatimu terlalu dipengaruhi
oleh angan-anganmu. Percayalah bahawa Hamid ingat pula akan engkau."
" Wahai……kesana rumit..ke sini rumit, Ros; saya percayai bahawa dia ingat kepadaku
sebagaimana saya ingat kepadanya, entah agaknya saya menggantang-gantang asap. Tidak saya
percayai, hati saya bertambah luka. Saya tahu mengingat orang jauh itu penyakit, tetapi saya pun
takut penyakit itu akan hilang dari hati saya….aduh gusti Allah!!"
Setelah itu terhenti sendiri percakapan kedua sahabat itu. Yang kedengaran hanya sedu-seduan
dua orang seperasaan dan yang kelihatan ialah orang yang keluh kesah putus asa."
Sekianlah cerita yang dibawa oleh sahabat kita Salleh itu. Tidak berapa lama ia menerima riwayat
ganjil itu dari isterinya, ia pun berangkat. Rupanya dengan takdir Tuhan, kami pun bertemu di
tanah suci ini, pertemuan yang tidak di sangka-sangka sedikit pun.
" Barangkali terganggu perjalanan jiwamu menuju bakti kesucian kerana mendengar berita yang
saya bawa itu" kata Salleh. " Tetapi saya sebagai orang yang tiada tahan memegang rahsia
sehingga terkatakan juga olehku kepada engkau, dan beruntung engkau Hamid…..Berbahagia
sekali."
" Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tak berpengharapan? " Tanya saya dengan tiba-
tiba kepadanya.
 " Bukanlah cinta itu sudah satu keuntungan dan satu pengharapan Hamid?" Tanyanya pula…..
Setelah itu saya menerangkan berita itu, tidak berapa hari kemudian Salleh mengirimkan sepucuk
surat buat isterinya Rosnah menerangkan pertemuan kami dengan tiba-tiba itu…..
Tuan!….telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gelita. Tidak tentu arah yang saya
tempuh, tidak kelihatan suatu bintang di halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam
menuju perjalanan itu demi setelah sampai berita yang demikian. Seakan-akan kegelapan itu
terang sedikit ke sedikit, sebab dari Timur melintang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti,
cahaya itu lebih benderang dari cahaya suria, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin
dari cahaya kelap-kelip bintang-bintang.
Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh laksana
seorang bersalah besar yang dibuang negeri, tiada manusia yang datang menengok, tidak ada
famili yang melihat, ditimpa oleh haus dan dahaga, sekarang saya telah lepas dari pembuangan,
saya telah dibolehkan pulang dan beroleh ampun, telah ada manusia yang lalu-lintas, telah hilang
haus dan dahaga, sekarang baru saya tahu dan mengerti, bahawa sukacita itu ada juga dijadikan
Tuhan di dalam dunia fana ini.
Dahulu kalau disebut orang kepada saya untung dan bahaya, tidak lain yang terlintas dalam
fikiran saya daripada rumah yang indah, gedung yang permai, wang berbilang, emas bertahil,
cukup dengan kenderaan dan kehormatan, dijunjung orang ke mana pergi. Sekarang saya telah
insaf, bahawa semua itu bukan untuk bahagia, yang sejati ialah jika kita tahu, bahawa kita bukan
hidup terbuang di dalam dunia ini, tetapi ada orang yang mencintai kita.
Lebih setahun saya menghilangkan diri, tidak ada orang lain yang bertanya hal ehwal saya dan
saya pun tak bertanya hal ehwal orang lain. Segala kesakitan hidup telah saya tanggungkan. Ada
juga orang yang menyatakan kasihan, ada orang yang lalu lintas di hadapan saya, sambil
menggelengkan kepala. Tetapi bukanlah mereka mengasihi jiwa saya, mereka mengasihi tubuh
kasar saya yang kurus tak makan atau ditimpa penyakit. Semuanya tiada erti buat saya. Sekarang
barulah saya tahu diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, iaitu
orang yang saya cinta.
Dahulu saya telah putus asa hendak hidup, kadang-kadang terlintas di dalam hati saya hendak
membunuh diri. Akan sekarang, wahai tuan, saya hendak hidup, hendak merasai kelazatan cahaya
matahari sebagai orang lain pula, sebab pengetahuan hidupku telah ada.
************ ********* ************
Habislah cerita sahabatku Hamid hingga itu, mukanya kelihatan berseri-seri, sebab simpanan di
dadanya meluap selama ini telah dapat ditumpahkannya kepada orang yang dapat dipercayainya.
Waktu itu saya menjawab sambil bergurau sedikit: " InsyaAllah, habis mengerjakan haji saya
akan lekas kembali pulang, mudah-mudahan kita dapat pulang bersama-sama."
Iapun menjawap sambil tersenyum " Mudah-mudahan………"
Bersambung....
SURAT-SURAT
Sepuluh hari sebelum orang-orang haji berangkat ke `Arafah mengerjakan wuquf jemaah-jemaah
 telah kembali dari ziarah besar ke Madinah. Waktu itulah pula Salleh kembali ke Mekah. Surat
balasan dari isterinya yang datang sepeninggalannya ke Madinah telah kami serahkan ke
tangannya. Dalam minggu itu juga datang surat Zainab kepada Hamid.
Salinan surat Rosnah.
Kandaku tuan!
Surat kekanda telah adinda terima, surat yang telah lama adinda harap-harapkan…. Disini ada
beberapa perkataan lagi- isteri (yang tak perlu saya salin)
Akan hal Zainab ia sekarang sakit-sakit, badannya telah kurus agaknya kerana selalu ingat segala
kejadian yang lama-lama itu, adinda, tiada dapat menahan hati, melihat surat kekanda kepadanya.
Seketika membaca surat itu, badannya kelihatan gementar, entah kerana cemasnya entah kerana
harapannya, dapatlah kekanda maklumi sendiri. Ia sangat harap dan sangat rindu hendak bertemu
dengan Hamid, tetapi hatinya menjadi syak wasangka memikirkan badannya yang selalu tiada
sihat itu, entah akan bertemu juga entah tidak.
Alangkah beruntungnya dua orang bersahabat itu kelak, jika mereka dapat bertemu kembali. Ya,
mudah-mudahan Allah yang pengasih lagi penyayang mengkabulkan permohonan hambaNya,
Amin!

Rosnah.
Salinan surat Zainab
Abangku Hamid!
Baru sekarang adinda beroleh berita di mana abang sekarang. Telah hampir dua tahun hilang saja
dari mata, laksana seekor burung yang terlepas dari sangkarnya sepeninggalan yang empunya
pergi. Kadang-kadang adinda sesali diri sendiri. Agaknya adinda telah bersalah besar sehingga
kekanda pergi tak memberitahu dahulu.
Sayang sekali, pertanyaan abang belum adinda jawab dan abang hilang sebelum mulutku sanggup
menyusun perkataan penjawabnya. Kemudian itu abang perintahkan adinda menurut perintah
orang tua, tetapi adinda syak-wasangka melihatkan sikap abang yang gugup ketika menjatuhkan
perintah itu.
Wahai abang…. Pertalian kita diikat oleh beberapa macam tanda Tanya dan tekateki, sebelum
terjawab semuanya, kita telah berpisah dengan tiba-tiba. Memang demikiankah kehendah takdir?
Adinda sentiasa tiada putus pengharapan, adinda tunggu khabar dan berita. Di balik tiap-tiap
kalimah daripada suratmu. Abang!....surat yang terkirim dari Medan, ketika abang akan belayar
jauh, telah adinda periksa dan adinda selidik; banyak sangat surat itu berisi bayangan, di balik
yang tersurat ada yang tersirat. Adinda hendak membalas tetapi kearah manakah surat itu hendak
adinda kirimkan, abang hilang tak tentu rimbanya!
Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikkan dan adinda pesankan kerinduan
adinda hendak bertemu. Tetapi bulan itu tetap tak datang; pada malam yang berikutan dan
seterusnya ia kian kusut….. hanya kepada angin petang yang berhembusan di ranting-ranting
kayu di dekat rumahku, hanya kepadanya ku bisikkan menyuruh supaya ditolongnya
memeliharakan abangku yang berjalan jauh, entah di darat di laut entah sengsara kehausan.
 Hanya kepada surat abang itu, surat yang hanya sekali itu adinda terima selama hidup adinda
tumpahkan airmata, kerana hanya menumpahkan airmata itulah kepandaian yang paling
penghabisan bagi orang perempuan. Tetapi surat itu bisu, meski pun ia telah lapuk dalam lipatan
dan telah layu kerana kerap dibaca, rahsia itu tidak juga dapat dibukanya.
Sekarang abang, badan adinda sakit-sakit, ajal entah berlaku pagi hari entah besok petang, gerak
Allah siapa tahu, besarlah pengharapanku supaya abang dapat pulang, dapat juga hendaknya kita
bertemu…..
dan jika abang terlambat pulang, agaknya bekas tanah penggalian, bekas air penalkin dan jejak
mijan yang dua, hanya yang akan abang dapati.
Adikmu yang tulus:
Zainab.

Wahai, akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca
surat itu? Dapatkah, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya di waktu itu? Surat
demikian adalah pengharapannya selama ini, pengharapannya dan buah mimpinya semasa ia
masih bergaul, memikirkan kerendahan darjatnya, tiadalah disangka-sangkanya bahawa ia akan
seberuntung itu, menerima surat dari Zainab, belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia
diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia
dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan
yang mula-mula dikenal dalam penghidupan seorang pemuda, adalah lebih berharga kepada
senyuman seorang penghulu daripada budaknya yang lebih mulia daripada sebentuk cincin yang
dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati, adalah lebih mahal daripada senyuman, satu
jiwa adalah lebih berharga daripada sebentuk cincin.
Tetapi malang kerana surat itu diterima Hamid, ketika dia telah jauh dari hadapan Zainab. Apa
lagi manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri.

DI BAWAH LINDUNGAN KAABAH
Pada hari kelapan Zulhijjah perintah daripada syeikh kami menyuruh menyiapkan segala
keperluan untuk berangkat ke `Arafah, kerana pada hari kesembilan akan wuquf (Berhenti sehari
lamanya) di sana. Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat tersebut.
Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahawa dia
dipengahruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua hari, kelihatan ia termenung saja, bertambah
daripada biasa, ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan, bahawa badannya terasa sakit-
sakit. Tetapi oleh kerana pergi wuquf ke `Arafah menjadi rukun daripada mengerjakan haji, tak
dapat tidak ia pun mesti ikut ke sana. Maka dipasanglah sakdup-sakdup di punggung unta yang
beribu-ribu banyaknya. Bersedia hendak membawa orang haji ke `Arafah itu. Kira-kira pukul
empat petang, jemaah-jemaah telah berangkat berduyun-duyun menuju ke `Arafah, jalan sempit
dan penuh oleh manusia dan kenderaan berbagai-bagai, ada yang mengenderai keldai, kuda dan
unta, tetapi yang paling banyak duduk dalam sakdup iaitu dua buah tandu yang dipasang kiri
kanan punggung unta. Saya bersama dengan Hamid menumpang dalam satu sakdup.
Di `Arafah sangat benar panasnya, sehingga ketika berhenti di tempat itu sehari lamanya, kita
ingat-ingat akan berwuquf kelak di padang Mahsyar. Setelah matahari terbenam kami kembali
 menuju ke Mina, berhenti sebentar di Muzdalifah memilih batu untuk melempar " Jumrah" di
Mina itu kelak. Setelah berdiam di Mina pada hari yang ke sepuluh, ke sebelas, kedua belas,
ketiga belas, bolehlah kembali ke Mekah mengerjakan tawaf besar dan Sai`e, setelah itu bercukur,
sehabis bercukur baru disebut " haji".
Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih korban untuk fakir dan
miskin.
Sekarang kembali diceritakan keadaan Hamid. Demamnya yang dibawa dari Mekah bertambah
menjadi-jadi, lebih-lebih setelah mendapat hawa yang panas di `Arafah itu. Di sana banyak orang
yang mati kerana kepanasan. Hamid tak mahu lagi makan, badannya sangat lelah, sehingga
seketika berangkat ke Mina ia tiada sedarkan dirinya, demi melihat hal itu, jantung saya berdebar-
debar, saya kasihan kepadanya. Kalau-kalau di tempat itulah dia akan bercerai buat selama-
lamanya dengan kami, lebih-lebih melihat mukanya yang sangat pucat dan badannya yang sangat
lemah.
Setelah selesai penyembelihan besar itu, pada hari yang ke sebelas kami berangkat ke Mekah,
iaitu mengerjakan rukun yang agak cepat, tidak menunggu sampai tiga hari. Sebelum
mengerjakan tawaf besar itu, lebih dahulu kami singgah ke rumah kami. Kerana penyakit Hamid
rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badwi upahan, yang biasanya
menerima upah mengangkat orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas
bangku itu, yang diberi hamparan daripada kulit dahan kurma berjalin, khadam syeikh datang
terburu-buru menghantarkan sepucuk surat dari Sumatera, setelah kami buka, ternyata datangnya
dari Rosnah. Muka Salleh menjadi pucat,jantung saya berdebar-debar membaca isinya yang tiada
sangka-sangka, Zainab telah meninggal, surat menyusul, Rosnah.
Setelah dibacanya dengan sikap yang sangat gugup Salleh menyimpan surat kawat itu ke dalam
sakunya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu.
Tiba-tiba dari tempat tidurnya Hamid kedengaran berkata; " Surat apakah yang tuan-tuan terima?
Apakah sebabnya tuan-tuan sembunyikan daripadaku? Adakah ia membawa duka atau khabar
suka? Jika ia khabar suka, tidakkah patut saya diberi sedikit saja daripada kesukaan itu? Kalau
khabar itu mengenani diri saya sendiri lebih baik tuan-tuan terangkan kepada saya lekas-lekas,
tidaklah patut tuan-tuan sembunyikan lama-lama jangan dibiarkan saya di dalam sakit
menanggung perasaan yang ragu-ragu."
" Tenagkanlah hatimu, sahabat! Kehendak Allah telah berlaku, ia telah memanggil orang yang
dicintaiNya ke hadratNya."
" Oh, jadi Zainab telah dahulu daripadaku? " tanyanya pula.
" Ya, demikianlah, sahabat!"
Mendengar jawapan itu kepanya tertekun, ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua
titik airmata yang panas.
Tidak beberapa saat kemudian, datanglah Badwi tersebut membawa tandu yang kami pesan,
Hamid pun dipindahkan ke dalam dan diangkat dengan segera menuju Masjidil Haram, saya dan
Salleh mengiringkan di belakang menurut Badwi yang berjalan cepat itu. Setelah sampai di dalam
masjid, dibawalah dia tawaf keliling Ka`bah tujuh kali. Ketika sampai yang ke tujuh kali
diisyaratkannya kepada Badwi yang berdua itu menyuruh menghentikan tandunya di antara pintu
 Ka`bah dengan batu hitam, di tempat yang bernama Maltezam, tempat segala doa yang makbul.
Orang lain tawaf pula berdesak-desak. Dengan sifat sabar orang-orang Badwi mengangkat tandu
ke dekat tempat yang tersebut. Hati saya sangat berdebar melihatkan keadaan itu, saya lihat muka
Hamid, di sana sudah nampak terbayang tanda-tanda kematian. Sampai di sana dihulurkannya
tangannya, dipegangnya kesoh kuat dengan tangannya yang telah kurus, seakan-akan tidak akan
dilepaskannya lagi. Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca doa demikian bunyinya:
" Ya Rabbi, ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, di bawah lindungan Ka`bah,
rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia.
Kepada siapa lagi yang saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan Engkau ya Tuhanku!
Tidak ada suatu tali pun tempat saya bergantung, lain daripada tali Engkau, tidak ada pintu yang
akan saya tutup, lain daripada pintu Engkau.
Berilah kelapangan jalan buat saya, saya hendak pulang ke hasrat Engkau; saya menuruti orang-
orang yang dahulu daripada saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya.
Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali….."
Setelah itu suaranya tidak kedengaran lagi; di mukanya terbayang suatu cahaya muka yang jernih
dan damai, cahaya keredhaan daripada Ilahi.
Di bibirnya terbayang suatu senyuman dan….sampailah waktunya lepaslah ia daripada
tanggungan dunia yang amat berat ini, dengan keizinan Tuhannya, di bawah lindungan Ka`bah!
Pada hari itu selesailah mayat sahabat yang dikasihi itu dimakamkan di perkuburan Ma`ala yang
masyhur.
SURAT ROSNAH YANG MENYUSUL
Dua minggu sudah kejadian itu, datanglah surat Rosnah yang dijanjikannya kepada suaminya itu,
demikian bunyinya:
" Kekanda yang tercinta!"
Adinda kirimkan surat ini menyusul surat kawat yang dahulu. Zainab meninggal. Apakah dari itu
lagi yang harus adinda nyatakan? Dia telah menanggung penyakit dengan sabar dan tawakkal,
mula-mula adinda hendak sampaikan khabar ini kepada Hamid, sebab sentiasa Hamid menjadi
buah mulutnya sampai saatnya yang penghabisan, tiba-tiba kawat kekanda datang pula, Hamid
telah menyusul kekasihnya.
Demikianlah kedua makhluk yang tidak beruntung nasibnya itu, mudah-mudahan arwahnya
mendapat bahagia di akhirat.
Adinda harus mengaku, bahawa jarang sekali kita bertemu dengan seorang perempuan sebagai
Zainab. Tidak ada orang yang tahu tentang keadaan dirinya, kecuali ibunya dan adinda.
Pendengaran yang sampai kepadanya, bahawa Hamid ada di Mekah mengobarkan kembali akan
api yang telah hampir padam.
Lima hari sebelum ia meninggal dunia, pagi-pagi benar dia sudah bangun dari tempat tidurnya,
mukanya lebih jernih dari biasa. Dengan senyum dia berkata, bahawa dia bermimpi melihat
 Ka`bah, dantara manusia yang sedang tawaf. Dia melihat Hamid melambaikan tangannya
memanggil dia, supaya mendekatkan kepadanya, setelah dia mendekat dia terbangun…..
Lepas hari itu, tidak banyak bicara lagi, doktor pun datang juga memeriksai dia, tetapi ketika
melihat wajahnya, mengertilah adinda, bahawa ubat yang dibawanya sebenar-benarnya ialah buat
ibu Zainab, tidak buat Zainab lagi, sebab di tangga ketika dia akan pulang, jelas benar oleh adinda
doktor itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik daripada biasa. Kira-kira pukul dua tengah malam,
dipandangnya adinda tenang-tenang, kemudian dilihatnya pula buku album yang terletak di meja
tulisnya; adinda pun mengertilah apa yang dimaksudkannay. Adinda ambil album itu dan adinda
buka. Demi dilihatnya gambar Hamid, jatuhlah dua titis airmata yang bulat dari mata yang telah
cekung itu. Setelah itu diambilnya tangan ibunya, dibawanya ke dada. Maka dengan beransur-
ansur, laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badannya dengan sukmanya.
Kekanda, demikianlah kematian zainab, dan sekarang suatu pula yang menjadikan was-was
adinda, iaitu keadaan ibunya, bagaimanakah kelak perasaan perempuan itu kerana kehilangan
anaknya.
Sekianlah dan buat semangat orang yang telah mati, adinda kirimkan salamku dan moga kekanda
lekas pulang.
Adindamu
Rosnah
PENUTUP
Kian lama kian sunyilah tanah Mekah. Bukit-bukit yang telah gondola itu tegak dengan teguhnya
laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang beransur pulang ke kampong
masing-masing. Kedai-kedai kian sudah tutup, sebab 6 bulan pula lamanya pasar akan sepi. Tidak
putus-putus unta berarak-arak diiringkan oleh gembalanya bangsa Badwi sambil bernyanyi-
nyanyi.
Sehari sebelum kami meninggalkan Mekah, pergilah kami berziarah ke perkuburan Ma,ala
tempat Hamid dikuburkan. Di sana masih bertemu kesannya, meskipun agak sukar mencarinya,
sebab telah banyak pula orang lain yang berkubur. Saya hadapkan muka saya ke pusara itu dan
saya berkata:
" Penghidupanmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung
sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami.
Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan
cinta. " Allah adalah Maha adil, jika sempit bagimu dunia ini berdua, maka alam akhirat adalah
lebih lapang dan luas, di sanalah kelak makhluk menerima balasan dari kejujuran dan
kesabarannya; di sanalah penghidupan yang sebenarnya, bukan mimpi dan bukan khayalan.
" Kami pun dalam menunggu titah pula, sebab ada masanya datang dan ada masanya pergi. "
Selamatlah, moga-moga Allah memberi berkat atas jiwamu dan jiwa Zainab."
Pukul empat petang kami tawaf keliling Ka`bah " Tawaf Wida" ertinya tawaf selamat berpisah.
Sehari itu juga kami akan berangkat ke Juddah. Saudaraku Salleh belayar dengan kapal yang
 menuju ke Mesir……
Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju ke tanahair yang tercinta………..

TAMAT
" Dalam kerendahan diri, ada ketinggian budi,
" Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa,
" Dalam kesempitan hidup, ada keluasan ilmu,
" Hidup ini indah jika segalanya kerana Allah S.W.T.
* Penulis : Haji Abdul Malik Karim Abdullah (HAMKA)
* Tajuk : Dipetik dari buku Dibawah Lindungan Kaabah.
* Cetakan : Pustaka Antara