Selasa, 06 Januari 2009

Kemelut

Hanya cinta yang sanggup menahan serangan kantuk seorang ibu untuk tetap setia terjaga di keheningan malam, bila suatu waktu anaknya menangis minta disodorkan puting susu. Cinta jualah yang dapt membebaskan burung-burung membelah langit—kemudian mengirimkan kicauan merdunya di kala pagi dan senja hari. Namun cinta pula yang menghanguskan sekian banyak atap dan jendela rumah, tanpa menyisakan sedikitpun harta benda—walau sekadar buat menyambung hidup untuk sehari saja.

Akbar tertidur di pojok ruang penampungan setelah jemu berperang melawan lelah dan lapar. Terlantar di antara kerumunan orang-orang yang bernasib serupa. Tak peduli apakah mereka itu masih lagi bocah, atau manusia dewasa—bahkan, tua renta sekalipun!

Penyakit, demam, dan udara dingin yang senantiasa mengirimkan tusukan nyeri—serta asap tebal dari hutan-hutan terbakar telah ikut pula merusak segalanya. Tambah lagi jiwa yang tercabik-cabik oleh kesedihan lantaran hilangnya sanak-saudara. Tak ada obat. Tak ada selimut tebal yang dapat melindungi mereka dari gigitan nyamuk. Tak ada satupun yang dapat lagi dikunyah, selain suara-suara yang tak kalah cemasnya dari suara hati mereka sendiri.

“Sabar, sabarlah,” ucap sekelompok relawan. “Kita sedang menanti bantuan dari pemerintah dan uluran tangan para dermawan.” Bujuk mereka mencoba kembali menenangkan.

“Sabarlah sedikit! Niscaya Tuhan mengasihi orang-orang yang senantiasa bersabar.” (Tapi, sampai kapan?)

Ledakan tangis perempuan di sampingnya membuyarkan lamunan tentang segelas susu hangat dan sepotong roti yang dilapisi coklat kental. Ditariknya napas dalam-dalam—seakan menyesali kepergian itu—lalu membatinkan cemas:

(Mengapa hanya kematian yang setia menjaga kami di sini—dan sampai kapan harus terus berdiam diri di tangah dera kesabaran dan siksa penantian?)

Seorang lelaki berpakaian necis mendekati orang tua di depannya. Membagi senyum kepada setiap orang, lantas bertanya ramah, “Belum tidur, pak?”

“Mengapa tidak anda tanyakan sekalian—apakah keluargaku masih genap dan utuh?” Jawab Pak tua dengan balik bertanya dengan nada kesal.

Sepertinya orang-orang telah kehilangan akal sehat untuk dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Bayangan penyiksaan telah membunuh kepolosan mereka. Tapi, tak seorangpun memahami keadaan itu, atau memang secara diam-diam, sengaja tidak ambil pusing tentang sekelilingnya.

“Mereka telah memenggal kepala anaknya,” seru Akbar mencoba memberikan keterangan, “dan mencincang bagian tubuhnya yang masih tesisa.”

“Itu karena anaknya melakukan penyerangan terhadap sekelompok orang-orang mereka,” Kilah laki-laki itu mantap.

“Tapi, Muhammad bukan orang jahat!” Akbar merasakan urat-beruratnya dialiri cairan panas. “Dia hanya melindungi ibunya yang dibantai terlebih dahulu!”

Kegeraman menikam bola matanya, yang sesaat kemudian menjelma menjadi sorotan tajam. Lelaki berpakaian necis itu memandangnya dengan kilatan cemas.

“Apa sesungguhnya salah kami, Pak? Mengapa kami terus saja diburu bagai binatang hutan? Padahal, kami tidak tahu apa-apa tentang perselisihan itu.”

“Kita semua korban, Nak. Kita semua korban!” Jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Akbar, “Camkan itu!”

“Siapa sesungguhnya mereka—dan siapa pula sebetulnya diri kami? Bukankah mereka dan kami semua adalah kesatuan yang mendiami tanah ini?”

“Sudahlah. Ini sudah larut. Tidurlah!”

Susah payah Akbar mencoba untuk memejamkan mata—tapi, bayangan kematian ayah, ibu, serta keempat saudaranya mencabik-cabik hati. Beberapa butiran hangat mengalir di kelopak matanya. Menyirami wajahnya yang beku oleh salu kepedihan. (Tuhan, kenapa kau hadirkan kami ke dunia hanya untuk menyaksikan kegilaan berdarah ini?)

Akbar teringat percakapannya beberapa waktu yang lalu—bersama Aisyah—teman sekelasnya yang selalu menghadirkan debaran-debaran kecil di jiwa kelelakiannya.

"Orang-orang itu ketakutan, Akbar.” Bibir Aisyah bergetar hebat. “Demi melenyapkan rasa takut itulah mereka bertindak.”

“Tapi, mengapa sasaran dari penyerangan itu justru ditujukan kepada kami yang tak mempunyai andil sedikitpun?”

“Rasa takut itu telah membuang jauh-jauh pikiran waras mereka.” Timpal Aisyah. “Dan ingat, sengketa ini sudah berabad-abad lamanya.”

Aisyah memalingkan wajahnya. Menjauhi tatapan Akbar yang menyiratkan segudang bantahan. Bibir pemuda itu ikut bergetar ketika berkata:

“Demi Allah, Aisyah! Semua orang di kampung kita tahu, kalau aku dilahirkan di gubuk reot, mirip kandang sapi itu! Dan bukan aku saja, Ahmad, Mislan, Masytah, bahkan ibu-bapak kami juga! Kau dan mereka sama pahamnya akan hal itu. Kampung ini bukan hanya milik mereka, tapi juga kepunyaan kami. Mengapa selalu saja itu yang dipertentangkan?”

Aisyah menjadi serba salah.

“Kau memandangnya dari sudut yang lain, Akbar!”

“Kalau memang begitu, katakan padaku sekarang, dari sudut sebelah mana mereka perhatikan itu?” Tantang Akbar kepada gadisnya, Aisyah. “Mereka telah banyak menggapai bintang, kenapa masih saja rakus menelan bulan seorang diri?” Keluhnya bertubi-tubi.

Percakapan mereka terhenti ketika Jamal, adiknya yang paling kecil, merengek minta pulang. Itulah kali terakhir bagi Akbar mendekap tubuh saudaranya dan merasakan denyut nafas Jamal yang tak beraturan lantaran paru-paru basahnya. Dan itu pula kali terakhir ditatapnya wajah Aisyah, kekasihnya. Sengketa telah merenggut paksa tubuh mereka dan melontarkannya ke sisi jurang yang berbeda. Kemudian ia melihat dunianya terbakar bersama cintanya yang mekar tersembunyi.

Suara-suara bising segera terdengar ketika seorang relawan mengumumkan bahwa bantuan telah tiba. Namun, rasa lapar telah hilang. Digantikan oleh kantuk yang semakin memberat. Akbar kembali mendekap mimpinya tentang segelas susu hangat dan sepotong roti dilapisi coklat kental.

Tiga hari berikutnya, seorang wartawati mendatangi Akbar. Wajahnya mirip betul dengan Aisyah. Hampir saja ia melonjak kegirangan dan melupakan kesedihannya— sekiranya saja wartawati itu tidak terlampau usil—bertanya tentang asal-usulnya.

“Jadi, hanya adik seorangkah yang selamat?”

Hatinya bagai diiris besi tumpul. Tanpa suara Akbar mengangguk perlahan.

“Bagaimana caranya adik bisa selamat dari peristiwa pembantaian itu?”

“Kenapa? Anda merasa heran?” Terbayang olehnya peristiwa keji yang menimpa keluarganya. “Saya juga tidak begitu ingat, bagaimana bisa terhindar dari petaka itu. Hanya Tuhan saja yang tahu rahasia sejati-Nya?”

Jawaban itu seakan ditujukan kepada dirinya sendiri. Kemudian sepasang bibirnya saling memangsa dalam geraman kata-katanya. “Mengapa semua itu menjadi begitu penting artinya dari berpuluh-puluh persoalan lain yang kami hadapi kini? Mengapa tidak terpikirkan oleh kalian tentang kelanjutan hidup kami?” Serangnya bertubi-tubi.

Wartawati yang baru saja mendapat tugas wawancara di hari pertamanya itu menyimak penuh perhatian. Terkesima mendengar penuturan yang jauh lebih mirip hujan api kemarahan. Agaknya, ia dapat memahami kedukaan yang menyayat dalam diri pemuda tersebut.

“...atau, itu tidak termasuk dalam daftar pertanyaan kalian?”

Gadis yang serupa betul dengan Aisyah itu mencoba memaklumi keadaan sekelilingnya. Sengketa ini telah menyeret begitu banyak orang yang tak berdosa ke dalam lembah nestapa.

“Lihat perempuan di ujung sana!” Perintah pemuda itu kepadanya. “Baginya hidup ini tak lagi bertanda. Dia tidak hanya kehilangan suami, tapi juga anaknya yang baru berusia tiga bulan.”

Sesaat Akbar menarik napas dalam. Mengatasi sesak yang menghimpit rongga dadanya. “Di sini jangankan harapan, napas kamipun tak lagi berasa. Anda lihat sendiri, bukan—bagaimana kematian mendekap kami sangat erat?”

“Adik tentu paham, saat ini, pemerintah kekurangan dana untuk sekian ribu nyawa.” Bujuknya mencoba menenangkan Akbar.

“Tapi, siapa sebetulnya pemerintah?” Jawab Akbar menantang. ”Bukankah banyak di antara mereka yang menghambur-hamburkan uang negara untuk sesuatu yang tidak perlu?!”

“Maksud, adik?”

“Berapa banyak simpanan uang mereka di bank? Apa salahnya berbagi sedikit kepada kami untuk dijadikan sesuatu agar dapat kami kunyah pengganjal rasa lapar!?!”

“Pahamilah, dik..., semua..., menaruh simpati kepada...,”

“Kami tidak butuh ucapan belasungkawa...!” Potong Akbar semakin kesal. “Yang kami butuhkan lebih dari rasa simpati. Banyak di antara kami yang jatuh sakit, kemudian mati. Tahu kenapa? Karena tangan-tangan penolong itu, tidak akan pernah sampai kemari. Kami sudah bosan karena terlampau sering disuguhi janji basi. Di hadapan kami mereka menawarkan janji-janji manis—sementara di belakang, mereka terus saja asik mencemooh kami secara diam-diam. Apakah itu yang disebut simpati? Apakah itu yang diajarkan oleh para leluhur?”

Rasa kehilangan yang menyayat. Bau kematian yang busuk dan begitu akrab. Menjadikan dirinya sebagai sosok yang berbeda. Kesinisan meracuni pikirannya. Senjata yang diselipkan Ahmad di pinggangnya—sewaktu sahabat karibnya itu meregang nyawa—masih terus ia genggam. Tapi, senjata seakan memberinya rasa percaya diri yang salah. Ia tak lagi tahu tentang dirinya. Ia merasa sedih—tapi, sekaligus marah.

(Namun, yang pasti—ia masih terus merindukan kampung kelahirannya. Tanah tumpah darahnya!)

Yophie Tiara/ YufitaPontianak, 11 Januari 2000

Dimuat di Mimbar Untan, Februari 2000

Jumat, 02 Januari 2009

AMDAL

Analisis dampak lingkungan (di Indonesia, dikenal dengan nama AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah aspek abiotik, biotik dan kultural. Dasar hukum AMDAL di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang "Izin Lingkungan Hidup" yang merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 tentang Amdal.
Fungsi
Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan
Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan

Kamis, 01 Januari 2009

30 Rahasia Wanita

1. Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak
meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.
2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebih
baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu
menegur dengan ucapan maaf.
3. Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang
paling dia sayang(karena itu banyak wanita yang patah hati bila
hubungannya putus di tengah jalan).
4. Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan
sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki
lain.
5. Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan
cair seperti coklat!!
6. Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima
pujian.
7. Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah
mati,tolak cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada satu
semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah
membuat keputusan,dia akan melakukan apa saja.
8. Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak
cintanya,biarkan dia untuk seketika.Jika kamu masih ingin menganggap
dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan.
9. Wanita suka meluahkan apa yang mereka rasa.Musik,puisi,lukisan dan
tulisan adalah cara termudah mereka meluahkan isi hati mereka.
10.Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang
membuat mereka langsung merasa tak berguna.
11.Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.
12.Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan
respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan
bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia
akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh minit,semua temantemannya
akan tahu berita tersebut.
13.Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum
sembarangan kepada wanita.
14.Jika kamu menyukai sorang wanita, mulailah dengan
persahabatan.Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.
15.Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak
keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.
16.Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau
menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.
17.Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!
18.Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya
mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.
19.Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk
memikat hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.
20.Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita
ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya,kemudian barulah
dirinya sendiri.
21.Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang
dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!
22.Satu ucapan 'Hi' saja sudah cukup menceriakan harinya.
23.Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.
24.Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka sematamata
untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.
25.Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.
26.Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan
sepenuh hati..
27.Senjata wanita adalah airmata!!
28.Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise
buatnya(hadiah,bunga atau sekadar kata-kata romantis).Mereka akan
terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia
tak akan ragu-ragu terhadapmu.
29.Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik
terhadapnya.So,kalau mau memikat wanita pandai-pandailah..
30. Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa yang dia mau
hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.
begitulah wanita..

http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=166069