Sabtu, 14 Juni 2014

Memahami Revolusi Mental

Perkenankan saya terlebih dulu menegaskan bahwa kehadiran saya di sini adalah sebagai seorang undangan yang diminta untuk mengartikan istilah “Revolusi Mental” yang dikemukakan oleh Joko Widodo (Jokowi) dan Tim. Penegasan ini saya kemukakan karena cara kita memahami sekarang ini diwarnai dengan kecenderungan untuk mengambil apa yang kita lihat dan dengar hanya menurut apa yang kita suka, atau menafsirkannya sesuai kepentingan kita. Cara pikir ini cenderung mengabaikan substansi. Substansi inilah yang akan saya bicarakan. 

Memahami Istilah

  1. Untuk itu, pertama-tama perlu saya sampaikan bahwa istilah ‘Revolusi Mental’ banyak dipakai dalam sejarah pemikiran, manajemen, sejarah politik dan bahkan sejarah musik. Penggunaan itu terjadi baik di dunia Barat maupun Timur, baik oleh pemikir Islam, Kristiani, Hinduisme maupun (Zen) Buddhisme. Bung Karno pun pernah menggunakan istilah ini dalam pidato 17 Agustus 1956.
  2. Istilah ‘mental’ adalah nama bagi genangan segala sesuatu menyangkut cara hidup – misalnya: ‘mentalitas zaman’. Di dalam cara hidup ada cara berpikir, cara memandang masalah, cara merasa, mempercayai/meyakini, cara berperilaku dan bertindak. Namun kerap muncul anggapan bahwa ‘mental’ hanyalah urusan batin yang tidak terkait dengan sifat ragawi tindakan dan cirri fisik benda-benda dunia. Daya-daya mental seperti bernalar, berpikir, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan memang tidak ragawi (tidak kasat mata), tetapi dunia mental tidak mungkin terbangun tanpa pengalaman ragawi. Pada gilirannya, daya-daya mental pun dibentuk dan menghasilkan perilaku serta tindakan ragawi. Kelenturan mental, yaitu kemampuan untuk mengubah cara berpikir, cara memandang, cara berperilaku/bertindak juga dipengaruhi oleh hasrat (campuran antara emosi dan motivasi).
  3. Karena itulah kita memakai istilah ‘mentalitas’ untuk menggambarkan dan juga mengkritik “mentalitas zaman”. Ada mentalitas petani, mentalitas industrial, mentalitas priyayi, mentalitas gawai (gadget), dsb. Mentalitas priyayi tentu bukan sekadar perkara batin para priyayi, melainkan cara mereka memahami diri dan dunia, bagaimana mereka menampilkan diri dan kepercayaan yang mereka yakini, cara berpakaian, bertutur, berperilaku, bertindak, bagaimana mereka memandang benda-benda, ritual keagamaan, seni, dsb.
  4. Kekeliruan memahami pengertian mental (dan bahkan ada yang menyempitkannya ke kesadaran moral) membuat seolah-olah perubahan mental hanyalah soal perubahan moral yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal ragawi seperti soal-soal struktural ekonomi, politik, dsb. Padahal kesadaran moral, atau hati nurani yang mengarahkan orang ke putusan moral yang tepat, hanyalah salah satu buah daya-daya mental yang terdidik dengan baik.
  5. Kekeliruan ini muncul dari perdebatan menyangkut kaitan kebudayaan, struktur sosial dan pelaku. Kekeliruan itu terungkap dalam omongan kita sehari-hari: “Wah, itu masalah mental pelakunya!”, atau: “Tidak, itu masalah struktur!” Akibatnya, interaksi keduanya terasa putus. Pokok ini tidak perlu diurai panjang lebar di sini. Cukuplah disebut bahwa kesesatan itu melahirkan pandangan seakan-akan ‘kebudayaan’ berurusan hanya dengan ranah subyektif pelaku, sedangkan ‘struktur sosial’ berurusan dengan ranah obyektif tindakan. Dan keduanya tidak berhubungan. Itu pandangan primitif dan sesat.
  6. Bagaimana kesesatan itu dikoreksi? Jawabnya: hubungan integral antara “mental pelaku” dan “struktur sosial” terjembatani dengan memahami ‘kebudayaan’ (culture) sebagai pola caraberpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam praktik kebiasaan sehari-hari (practices, habits). Di dunia nyata tidak ada pemisahan antara ‘struktur’ sebagai kondisi material/ fisik/ sosial dan ‘kebudayaan’ sebagai proses mental. Keduanya saling terkait secara integral.
  7. Corak praktik serta sistem ekonomi dan politik yang berlangsung tiap hari merupakan ungkapan kebudayaan, sedangkan cara kita berpikir, merasa dan bertindak (budaya) dibentuk secara mendalam oleh sistem dan praktik habitual ekonomi serta politik. Tak ada ekonomi dan politik tanpa kebudayaan, dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa ekonomi dan politik. Pemisahan itu hanya ada pada aras analitik. Pada yang politik dan ekonomi selalu terlibat budaya dan pada yang budaya selalu terlibat ekonomi dan politik.
  8. Selain sebagai corak/pola kebiasaan, tentu kebudayaan juga punya lapis makna yang berisi cara masyarakat menafsirkan diri, nilai dan tujuan-tujuan serta cara mengevaluasinya. Kebudayaan juga punya lapis fisik/material karya cipta manusia termasuk sistem pengetahuan yang melandasinya. Namun dalam praktek sehari-hari ketiganya tidak terpisah secara tajam.
  9. Contohnya adalah bagaimana selera dan hasrat terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang kita peroleh melalui struktur lingkungan. Konsumerisme sebagai gejala budaya lahir dari perubahan struktur lingkungan yang memaksakan hasrat tertentu agar menjadi kebiasaan sosial. Misalnya, kebiasaan berbelanja sebagai gaya hidup dan bukan karena perlu, atau menilai prestise melalui kepemilikan benda bermerek luar negeri.
  10. Implikasi dari kekeliruan memahami gejala yang disebut pada butir 5 dan 6 di atas sangat besar. Pernyataan-pernyataan publik seperti pendekatan ekonomi dan politik sudah gagal sehingga diperlukan jalan kebudayaan adalah contoh kekeliruan memahami hubungan integral struktur, kebudayaan, dan pelaku. Kekeliruan itu juga melahirkan anggapan seakan-akan urusan perubahan mental akan menciutkan masalah-masalah kemiskinan dan korupsi sebagai perkara moral bangsa – “kalau moral berubah, selesailah masalah!”. Sungguh keliru anggapan itu.


Operasionalisasi Revolusi Mental

  1. Dengan paparan di atas, bagaimanakah kita mengartikan ‘Revolusi Mental’? Revolusi Mental melibatkan semacam strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan berisi haluan umum yang berperan memberi arah bagaimana kebudayaan akan ditangani, supaya tercapai kemaslahatan hidup berbangsa. Strategi berisi visi dan haluan dasar yang dilaksanakan berdasarkan tahapan, target setiap tahap, langkah pencapaian dan metode evaluasinya.
  2. Tetapi karena ‘kebudayaan’ juga menyangkut cara kita berpikir, merasa dan bertindak, ‘revolusi mental’ tidak bisa tidak mengarah ke transformasi besar yang menyangkut corak cara-berpikir, cara-merasa dan cara-bertindak kita itu. Kebudayaan hanya dapat “di-strategi-kan” jika kita sungguh memberi perhatian pada lapis kebudayaan tersebut. Karena itu, kunci bagi ‘Revolusi Mental’ sebagai strategi kebudayaan adalah menempatkan arti dan pengertian kebudayaan ke tataran praktek hidup sehari-hari.
  3. Jadi, untuk agenda ‘Revolusi Mental’, kebudayaan mesti dipahami bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, pameran, kesenian, tarian, lukisan, atau celoteh tentang moral dan kesadaran, melainkan sebagai corak/pola cara-berpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam tindakan, praktik dan kebiasaan kita sehari-hari. Hanya dengan itu ‘Revolusi Mental’ memang akan menjadi wahana melahirkan Indonesia baru.
  4. Apa yang mau dibidik oleh ‘Revolusi Mental’ adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas (lihat butir 4 untuk pengertian ini), cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni, agama, dsb. Begitu rupa, sehingga mentalitas bangsa (yang terungkap dalam praktik/kebiasaan seharihari) lambat-laun berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu.
  5. Di satu pihak, pendidikan lewat sekolah merupakan lokus untuk memulai revolusi mental. Di lain pihak, kita tentu tidak mungkin membongkar seluruh sistem pendidikan yang ada. Meski demikian, revolusi mental dapat dimasukkan ke dalam strategi pendidikan di sekolah. Langkah operasionalnya ditempuh melalui siasat kebudayaan membentuk etos warga negara (citizenship). Maka, sejak dini anak-anak sekolah perlu mengalami proses pedagogis yang membuat etos warga negara ini ‘menubuh’. Mengapa? Karena landasan kebangsaan Indonesia adalah kewarganegaraan. Indonesia tidak berdiri dan didirikan di atas prinsip kesukuan, keagamaan atau budaya tertentu.
  6. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diperkenalkan kepada siswa mulai dari usia dini. Dalam menjalankan Revolusi Mental, pendidikan kewarganegaraan merupakan tuntutan yang tidak dapat diganti misalnya dengan pelajaran agama. Sebaliknya, pelajaran agama membantu pendidikan kewarganegaraan.
  7. Untuk keperluan pendidikan kewarganegaraan kita dapat menyusun pertanyaan: Keutamaan/karakter baik (virtue) apa yang harus dipelajari oleh siswa agar menjadi warga negara yang baik? Sebagai infrastuktur kultural, keutamaan/karakter baik (virtue) apa yang perlu dipelajari siswa untuk “menemukan kembali” Indonesia yang dicita-citakan bersama?
  8. Sebagai contoh, jika gagasan tentang Indonesia yang mau dikembangkan adalah Indonesia yang bebas korupsi, maka keutamaan yang dididik adalah kejujuran; jika sasarannya adalah kebinekaan, maka yang dididik adalah pengakuan dan hormat pada keragaman budaya, agama, suku/etnisitas, dll; jika kepemimpinan, maka yang dikembangkan adalah tanggungjawab; dst.
  9. Tampaknya memang tidak ada yang baru dari hal-hal yang disebut di atas. Dengan memusatkan perhatian pada perubahan kebiasaan sehari-hari yang punyai dampak kebaikan publik, kebaruan terletak pada cara mendidik. Proses pendidikan mesti bermuara ke corak kebiasaan bertindak. Artinya, pendidikan diarahkan ke transformasi dari pengetahuan diskursif (discursive knowledge) ke pengetahuan praktis (practical knowledge). Pengetahuan diskursif tentu sangat dibutuhkan dalam mengawal secara kritis kehidupan berbangsa-bernegara, namun biarlah sementara ini itu jadi urusan para intelektual/cendekia. Bagi agenda ‘Revolusi Mental’, yang paling dibutuhkan adalah pengetahuan praktis – transformasi pada tataran kebiasaan bertindak sehari-hari para warga negara dalam lingkup dan skala seluas bangsa.
  10. Keutamaan (virtue) adalah pengetahuan praktis. Ini berarti bahwa dalam proses pendidikan, Revolusi Mental adalah membuat bagaimana kejujuran dan keutamaan lain-lainnya itu menjadi suatu disposisi batin ketika siswa berhadapan dengan situasi konkret. Ketika berhadapan dengan kesulitan saat ulangan, misalnya, siswa tidak lagi melihat kejujuran sebagai hal terpisah dari dirinya. Dia tidak lagi berpikir apakah akan mencontek atau tidak, karena kejujuran sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi habit. Kejujuran mengalir dari dirinya. Ibarat seseorang yang mahir berenang, dia tidak lagi perlu memikirkan ritme gerakan tangan dan kakinya. Gerakan itu menjadi bagian dirinya ketika dia berada di air.
  11. Contoh lain bisa kita ambil dari Skandinavia dimana kesetaraan (equality) diajarkan sejak anakanak. Itulah mengapa sistem welfare state menjadi mungkin di Negara-negara Skandinavia. Kendati dikenai pajak progresif, warga memahami arti dan keutamaannya karena kesetaraan sudah menjadi sikap dasar (dan tentu saja juga karena penyelenggara negara yang akuntabel dan tidak korup). Di Jepang, sikap stoic (Jepang: gaman) sudah diajarkan sejak usia 3 – 6 tahun sampai menjadi kebiasaan dan sikap hidup sehari-hari. Kita tentu masih ingat reaksi tenang, rasional, terkendali dan hening masyarakat Jepang yang banyak dibahas media internasional ketika terjadi tragedi nuklir 2011.


Kantung-kantung Perubahan

  1. Pendidikan di sekolah hanyalah bagian saja dari proses pendidikan warga negara. Padahal kalau sungguh mau dilaksanakan, Revolusi Mental harus menjadi gerakan kolosal berskala nasional. Gerakan itu mencakup masyarakat seluas bangsa agar perilaku sosial setiap individu menjadikan keutamaan warga negara sebagai kebiasaan.
  2. Untuk itu, kita tidak perlu menunggu adanya kebijakan. Silakan memulai dengan membangun kantung-kantung perubahan dan menyusun siasat yang berfokus pada transformasi cara hidup sehari-hari kelompok-kelompok warga negara. Siasat itu melibatkan gerakan rutin dalam bentuk langkah-langkah konkret untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang punya dampak terhadap terwujudnya kebaikan hidup berbangsa dan bernegara.
  3. Jadi, ‘Revolusi Mental’ bukanlah urusan membikin panggung di mana para selebriti mencari sorak dan puja-puji. Transformasi sejati terjadi dalam kesetiaan bergerak dan menggerakkan perubahan dalam hal-hal yang rutin. Hanya melalui kesetiaan inilah ‘Revolusi Mental’ akan terjadi. ‘Revolusi Mental’ juga tidak akan terjadi hanya dengan khotbah tentang kesadaran moral, serta tidak terjadi dengan pelbagai seminar dan pertunjukan. Semua itu cenderung jadi panggung slogan. Agar ‘Revolusi Mental’ menjadi siasat integral tranformasi kebudayaan, yang dibutuhkan adalah menaruh arti dan praksis kebudayaan ke dalam proses perubahan ragawi menyangkut praktik dan kebiasaan hidup sehari-hari pada lingkup dan skala sebesar bangsa. Arah itu juga merupakan resep bagi masyarakat warga untuk ikut terlibat secara ragawi dalam memulai dan merawat revolusi mental.
  4. Jika pada awal Reformasi kita banyak membicarakan civil society, maka inilah arti civil society yang sebenarnya: civil society adalah gerakan para warga negara (citizens) untuk melaksanakan transformasi secara berkelanjutan bagi pemberadaban hidup bersama yang bernama Indonesia. Itulah ‘Revolusi Mental’.


Sumber : http://www.jokowi.id/opini/mengartikan-revolusi-mental/

Kamis, 05 Juni 2014

Mengenang Kembali Persahabatan Uni Soviet dan Indonesia

Sejarah telah mencatat, bahwa pada tahun 1961 terutama tanggal 12 April terjadi peristiwa yang menandai semakin mesranya hubungan Uni Soviet dengan Indonesia. Peristiwa ini ditandai dengan kunjungan Presiden Soekarno untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-60 bersama dengan teman-teman Soviet-nya.

Kunjungan Bung Karno ke Rusia 1961, berada dalam sebuah paviliun pada pameran ruang angkasa di Moskow.
Kunjungan ini merupakan acara yang sifatnya simbolis, baik Indonesia dan Uni Soviet saling berharap tentang masa depan hubungan yang lebih baik. Beberapa ahli kemudian mengeluarkan pandangan mereka tentang hubungan Indonesia dengan Uni Soviet. Pemerintah Uni Soviet saat itu memiliki harapan bahwa Indonesia dapat menjadi sekutu, baik secara militer maupun Ideologis.

Pada saat itu suasana di berbagai belahan dunia sedang terjadi ketegangan karena perebutan ideologi antara blok barat dan timur dan revolusi sosialis tengah terjadi di beberapa negara yang pengaruh dan dampaknya sangat luas. Wajar jika kemudian kedekatan Soekarno ini menimbulkan banyak spekulasi terutama di negara Barat.

Namun pemerintah Uni Soviet sangat memahami bahwa mereka tidak dapat memaksakan kehendak dalam hal ideologi negara atau mengklaim posisi dominan terhadap Indonesia. Baik Indonesia ataupun Uni Soviet saling menyadari bahwa mereka dapat berfokus untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.

Meskipun hubungan Soekarno dan Uni Soviet masih dapat menjadi hal yang diperdebatkan, namun dalam artikel ini kita ingin menggambarkan bagaimana pemerintah Soviet sangat menghormati kharisma dan kepribadian Soekarno. Beberapa bulan setelah Kosmonaut Soviet Yuri Gagarin menyelesaikan misi luar angkasa dan menjadi manusia pertama yang berhasil berada di ruang angkasa, seorang pahlawan Uni Soviet yang sangat dikagumi saat itu pun turut menghadiri acara perayaan ulang tahun Soekarno. Maka kemudian mereka saling bertemu dan mendokumentasikan peristiwa bersejarah ini dalam sebuah sesi foto.

Dari peristiwa ini dapat dilihat bagaimana Presiden Soekarno sangat dihormati oleh pemerintah Uni Soviet. Dalam acara tersebut Yuri Gagarin menerima medali kehormatan dari tangan Presiden Soekarno sendiri, yaitu Order of the Star, 2nd Class (Bintang Adipradana), sebuah penghormatan yang kemudian juga pernah diberikan kepada seorang pemimpin negara Soviet, Leonid Brezhnev.

Soekarno dengan Yuri Gagarin, Nikita Khruchev dan Leonid Brezhnev di Kremlin (Moscow, Juni 1961)
Peristiwa ini hanyalah sebuah awal, kata-kata “Sputnik” dan “Gagarin” segera menjadi semboyan dari hubungan kedekatan Indonesia dan Uni Soviet yang dikenal tidak hanya di Indonesia, namun ke seluruh dunia.

Lebih jauh lagi, hubungan kedekatan antara Uni Soviet mulai tampak pada kunjungan Kosmonaut Uni Soviet ke-2 Gherman Titov ke Indonesia pada bulan September 1962. Sejauh ini hanya ada 2 kosmonaut Uni Soviet yang sangat dihormati, yakni Yuri Gagarin dan Gherman Titov. Kunjungan kali ini atas undangan pribadi Presiden Soekarno.
Poster Misi Luar Angkasa Uni Soviet di Indonesia

Istri dari Mayor Jendral Ahmad Yani berfoto bersama dengan Kosmonaut Soviet (dari kiri ke kanan) Gherman Titov, Andrian Nikolaev, Pavel Popovich dan Yuri Gagarin.

.Presiden Soekarno dalam sebuah acara di Kremlin Moscow pada tahun 1964.
Dari kiri ke kanan: U.S.S.R. Kosmonaut Yuri Gagarin, Chairman of the U.S.S.R. Supreme Soviet Anastas Mikoyan dan U.S.S.R. Kosmonaut Valentina Tereshkova.

Tahun berikutnya, pada bulan Januari 1963, kosmonaut ke-3 Uni Soviet Andrian Nikolaev juga berkunjung ke Indonesia. Bersama dengan istrinya Valentina Tereshkova (wanita pertama Uni Soviet yang pernah melakukan perjalanan ke luar angkasa pada bulan Juni 1963) dan rekannya Valery Bykovsky (yang juga mencatat prestasi perjalanan luar angkasa) berkunjung ke Indonesia.

Saat itu adalah masa dimana Uni Soviet memiliki hubungan aktif dengan Indonesia dengan berbagai bantuannya (termasuk militer). Uni Soviet dikenal aktif memberikan bantuan, terutama setelah peristiwa penyerahan Irian Barat ke Indonesia dan periode moderinisasi peralatan militer skala besar Tentara Nasional Indonesia. Saat itu juga Indonesia memiliki pesawat jet tempur supersonic MIG-21 untuk pertama kalinya.

Samudera Hindia, 1962. "Ordzhonikidze" Kapal Jenis Light Cruiser yang kemudian dinamakan 'IRIAN'
Hal ini merupakan sebuah langkah besar yang mewakili perubahan kultur di lingkungan TNI AU dan AL ketika diperlukan modernisasi dan kemampuan militer untuk menguasai peralatan yang lebih canggih. TNI pada saat itu mendapatkan pujian berkat kecakapan dan kemampuannya untuk menghadapi tuntutan perubahan yang cukup drastis dan cepat.

Pertemuan dengan orang-orang Uni Soviet ini Indonesia diselenggarakan pada tingkat yang berbeda, yaitu tamu pribadi Presiden Soekarno yang diterima di istana Bogor dan mereka yang diterima pada resepsi akbar di Stadion Senayan. Soekarno memperkenalkan tamunya dan menyampaikan pidato pada pertemuan di Senayan tentang persahabatan antara rakyat Indonesia dengan Uni Soviet dan tentang masa depan Indonesia.
Para Tamu dari Uni Soviet sedang beradi di Stadion Utama Senayan yang kemudian dinamakan Gelora Bung Karno
Stadion ini dibangun oleh Kontraktor dari Uni Soviet dan dibuka Pertama Kalinya pada Tahun 1962

Ini merupakan acara yang luar biasa dalam sejarah Indonesia, mengingat betapa banyak orang Indonesia yang datang dari berbagai daerah. Soekarno dikenal dengan kecakapannya dalam berpidato dan kedekatannya dengan rakyat Indonesia. Ketiga kosmonaut Uni Soviet juga berbicara dalam acara tersebut dan diterima dengan penuh kekaguman.

Dari sudut pandang Uni Soviet, rakyat Indonesia dikenal dengan penuh semangat, terdapat puluhan ribu orang Indonesia yang memberikan sambutannya kepada tamu dari Uni Soviet. Sebuah perasaan ingin tahu terhadap kosmonaut dan tanda persahabatan dengan bangsa Soviet. Selain di Jakarta perayaan ini juga dilakukan di kota-kota besar seperti Palembang, Surabaya, Solo dan Bandung. Di Bandung seorang penyanyi lokal menyanyikan lagu Rusia yang sangat terkenal “Black Eyes” dalam bahasa Sunda untuk memeriahkan suasana.

Nikita Khrushchev , Kepala Negara Uni Soviet saat bersama Presiden Soekarno sedang Meninjau Maket Stadion Senayan 1960

Dalam rangkaian kunjungannya, kosmonaut Andrian Nikolaev suatu ketika meminta supaya dapat berkunjung ke Kebun Binatang Surabaya. Ia merupakan penyayang binatang. Dalam sekejap permintaannya pun dengan segera dapat diatur dan diwujudkan. Di kota Surabaya pun terlihat berbagai spanduk untuk menyambut kosmonaut Uni Soviet ini.

Marsekal Omar Dani, komandan Angkatan Udara saat itu, juga telah mengatur pertemuan antara pilot pesawat tempur Uni Soviet dengan pilot Indonesia. Kemudian mereka mengadakan pertemuan yang diadakan di Bali. Seluruh delegasi yang hadir merasakan suasana yang hangat dan ramah. Sebuah pertemuan juga diadakan dengan melibatkan warga setempat.

Jurnalis dan pengamat politik saat itu meyakini bahwa, jika bukan karena perubahan politik pada tahun 1965 orang Indonesia telah terbang ke ruang angkasa bersama salah satu misi ruang angkasa Uni Soviet. Cepat atau lambat akan direalisasikan di kemudian hari.

Foto-Foto Soekarno Bersama Nikita Khrushchev dalam Kunjungannya ke Indonesia
Keakraban Kedua Pemimpin Negara ini bahkan dapat Terlihat di Sela-Sela Jamuan Makan.

.....

Tampak Kedua Kepala Negara memainkan Angklung







Artikel ini saya ambil dari sebuah blog Mikhail Tsyganov tentang pandangan Prof Alexey Drugov, seorang akedemisi yang tertarik untuk mengumpulkan kembali sejarah hubungan Indonesia dan Uni Soviet. Ia menggambarkan bagaimana prestasi Uni Soviet di bidang luar angkasa telah mempengaruhi Indonesia.

Sebuah perjalanan yang unik bangsa Indonesia, mengingat cerita seperti ini sudah jarang kita ketahui. Dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, kita dapat melihat bagaimana Presiden Soekarno yang sangat cakap dalam bergaul dan menjalin hubungan dengan bangsa asing memiliki visi yang luar biasa, membawa nama Indonesia dalam kancah Internasional. Selain itu kita juga dapat melihat bagaimana kecapakapan Presiden Soekarno untuk menggerakan masa menyambut delegasi dari Uni Soviet, semua tampak antusias menyambut mereka.

Selain itu melalui Kita  juga dapat melihat bagaimana tempat-tempat seperti stadiun Gelora Bung Karno atau Kebun Binatang Surabaya pernah menjadi tempat kebanggaan bangsa Indonesia. Ini mungkin salah satu kecerdasan Presiden Soekarno dalam membangun citra bangsa Indonesia mengingat kondisi Indonesia saat itu masih terbilang masih sangat tertinggal dengan bangsa asing lainnya.