Minggu, 27 Maret 2011

Pesan Charles Brooke The White rajah of Serawak 1915

“Ku mohon dengarkan lah kata-kataku ini dan ingat lah baik-baik."
Akan tiba saat nya, ketika aku sudah tidak di sini lagi, orang lain akan datang terus menerus dengan senyum dan kelemah lembutan, untuk merampas apa yang sesungguh nya yang menjadi hak mu yakni tanah di mana kamu tinggal, sumber penghasilan mu dan bahkan makanan yang ada di mulut mu.
Kalian akan kehilangan hak kalian yang turun temurun,di rampas oleh orang asing dan para spekulan yang pada giliran nya akan menjadi tuan dan pemilik,sedang kan kalian, hai anak –anak negeri ini akan di singkirkan dan tidak akan menjadi apa pun kecuali menjadi para kuli, dan orang buangan di pulau ini.

Sabtu, 26 Maret 2011

Daftar Cerita Rakyat

Cerita-Cerita Rakyat Melayu

  1. Cerita Mak Miskin
  2. Pak Salui Membubu
  3. Pak Salui Merimba
  4. Batu Belah
  5. Tuan Putri Pergi Menangguk
  6. Kisah Putri Tujuh Saudara
  7. Pelanduk Pergi Menanau
  8. Saudagar Kaya
  9. Cerita Hantu
  10. Mak Sariande dan Si Bungkuk
  11. Nek Kuntan
  12. Si Jung
  13. Ciwi-Ciwi dan Pak Salui
  14. Orang Melanggian
  15. Si Morong
  16. Si Bagu’
  17. Cerita Nek Rusa
  18. Pak Si Gadde
  19. Orang Ingin Bermenantu Orang Alim
  20. Kisah Gunung Sinujuh
  21. Burung Ceriak
  22. Burung Kallak
  23. Nek Gergasi
  24. Bangau dan Katak
  25. Si Putri Jadi Ruwai
  26. Zainal Abidin Berperang
  27. Burung Burak
  28. Pelanduk Menghitung Buaya
  29. Carita Babi
  30. Si Bungsu Jadi Burung Ruwai
  31. Kera’ dan Kura’
  32. Campring Dandung
  33. Raja dan Mak Sawa’
  34. Si Budiman
  35. Pak Salui dan Pak Kiding
  36. Putri Menangguk
  37. Pak Salui dan Mak Salui
  38. Batu Betarup
  39. Sultan Sambas dan Dayak Sukung
  40. Pak Su Pelanduk Pergi Nannau
  41. Datuk Leong dan Datuk Rambai
  42. Datuk Tele
  43. Orang Bukit Panglima Hitam
  44. Datuk Kecil
  45. Kisah Orang mencari Rotan
  46. Raja Tunggal Berlayar
  47. Pergi Membuat Jalur
  48. Raja Bujang
  49. Pak Ukur Pergi Menjala
  50. Pak Mahlem Mencari Rusa
  51. Hantu Sungai Labbai
  52. Raja Majapahit dan Haji Budiman
  53. Nek Kuntan
  54. Lanun
  55. Bujang Nadi
  56. Anak Nek Miskin Pergi Pangka’
  57. Pak Sengkadah Pergi Berburu
  58. Cerita Saudagar Kaya
  59. Cerita Nek Longan
  60. Pak Su Pelanduk Berlomba Lari
  61. Tuan Putri Menangguk
  62. Raja Buaya
  63. Perang Sukung
  64. Burung Klukuk
  65. Perempuan Kerja Huma
  66. Pak Dolah
  67. Selamat Berkat
  68. Pelanduk Pergi Nannau
  69. Cerita Lanun
  70. Cerita Orang Dahulu Mencari Ikan
  71. Kapal Lanun
  72. Tam Tuyul
  73. Orang Pergi Mencari Rotan
  74. Cerita Orang Berburu
  75. Hantu Kambe’
  76. Abu Nawas
  77. Pelanduk
  78. Si Tunjuk
  79. Cerita Orang Berkebun
  80. Burung Ceriak
  81. Cerita Burung Uncik
  82. Cerita Membubu
  83. Pak Sait
  84. Unten dan Jang Katuk
  85. Si Bengal dan Si Buta’
  86. Batu Betarup
  87. Asal Sambas
  88. Cerita Nujum
  89. Cerita Orang Memberi Sedekah
  90. Tukang Lesung
  91. Si Guru
  92. Si Pira’ dan Si Bujang
  93. Si Kera’ dan Si Kura’
  94. Pelanduk dan Marang
  95. Raja dan Si Nujum
  96. Cerita Selamat Berkat
  97. Cerita Pelanduk dan Rusa
  98. Pak Salui Makan Pisang
  99. Juragan Bujang dan Kiyai

100. Si Pira’ dan Si Jenah

101. Putri Kijang

102. Rusa Menjelma

103. Biawak

104. Tuan Putri Nannun

105. Nek Gergasi dengan Putri Kalling

106. Tan Unggal

107. Batu Belah

108. Semangat Padi

109. Dongeng Binatang

110. Pelanduk Berlomba Lari dengan Tengkuyung

111. Tangga’ Ammas

112. Burung Pirik Ajaib

Sastra Melayu Sungai Laur Bagian Hilir

1. Dayak Melayu

2. Pak Aluy Mansang Penjerat

3. Pelandok dan Buaya

4. Malin Kundang

5. Bunga Lima Warna Sekuntum Pancawarna

6. Anjing Sakti

7. Si Miskin dengan Raja

8. Tuan Putri Empunai

9. Jodoh dengan Malaikalmaut

10. Biak Kumang

11. Manjang dengan Rimo

12. Pelandok dengan Singe

13. Pelandok Mencari Laok

14. Seragak dengan Si Gantang

15. Gunong Palong

16. Mak Sogeh

17. Putri Kepala’ Asu’

18. Mak Miskin Nanggok

19. Kuda Ragam

20. Orang Ulu

21. Pelandok & Nek Gergasi

22. Kengkarangan (Syair)

23. Pantun

Sastra Lisan Sungai Sekadau

1. Pelanduk Awas

2. Didik-didik Darah Adik Hantu Gergasi

3. Bawang Merah Bawang Putih

4. Ini’ Pilong

5. Si Miskin

6. Pa’ Alui

7. Dayang Cenani

8. Somang Betolu

9. Ngudas Padi

10. Si Paloi

11. Kisah Hantu

12. Lamambang Bunga Katingan

13. Pak Maji

14. Lembio

15. Si Beruang dengan Engkuring

16. Sengkuba Batu

17. Lamambang Bulan

18. Hantu Rayo

19. Tengkuyung dengan Pelanduk

20. Ini’ Bodap

21. Anyang Bergelar Singa Ria

22. Terontang Mimpi

23. Lamambang Bulan Jadi Macan

24. Dara Dumbokng

25. Raja Ulu Ai’

26. Lonta

27. Abang Amat

28. Batu Betanggok

29. Lamambang Tujuh Miadi’

30. Biawak dengan Boruk

31. Ugu’ Nam Bodak

32. Jumpayang Gantokng

33. Rintik Jawa

34. Cenanom

35. Ya kaka Ya kiki

36. Urang Raja Berburu

37. Ine’ Ranin

38. Tujuh nyadi’ Nutok Padi

39. Pemalam

40. Ahmad

41. Kayu Pagi

42. Pogi Ngampua’

43. Antu Berburu

44. Asal Mula Ulu Kapuas

45. Ular Lamaong

46. Kesah Asal Padi

47. Raja Berbulu Kejarum

48. Bemanang (Upacara Pengobatan)

49. Sirakng (Upacara Pengobatan)

50. Matakng (Upacara Pengobatan)

51. Lagu Bedudu (Folk Song)

52. Ambung-ambung Tumbuh dirawa’ (Folk Song)

53. Joda & Jolai (Folk Poetry)

54. Gong Gamal (Instrumen Musik)

55. Nombang/Nembang (Folk Song)

56. Ayun Sundah (Mantra)

57. Bekobo (Mantra)

58. Pantun

59. Syair

Eksistensi Upacara Tepung Tawar Dalam Era Globalisasi

Masih Eksis di Era Globalisasi dan Modernisasi
Tradisi Upacara Tepung Tawar

UPACARA adat Tepung Tawar kini telah menjadi sebuah keharusan, dan menjadi trend di zaman modern. Kita perlu melirik kembali makna dan tradisi tentang upacara tepung tawar ini. Karena, dulu menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara-upacara, baik upacara di dalam kehidupan rumah tangga maupun upacara bagi masyarakat pada umumnya,


UPACARA tradisi tepung tawar, umumnya banyak dilakukan masyarakat Melayu dan Suku Dayak terutama di daerah Kalimantan Barat (Kalbar). Tapi pada masyarakat umum, upacara tepung tawar yang dikenal ada empat jenis. Yakni Tepung Tawar Badan, Tepung Tawar Mayit, Tepung Tawar Peralatan serta Tepung Tawar Rumah.

M Natsir S Sos Msi, peneliti budaya pada Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak, memaparkan, dari empat jenis Tepung Tawar tersebut masing-masing mempunyai perbedaan baik yang menyangkut peralatan maupun bahan-bahan yang dipergunakan.

Seperti Tepung Tawar Badan, komposisinya terdiri dari tepung beras, beras kuning, bertih, daun juang-juang, daun gandarusa, daun pacar, minyak bau (minyak Bugis). Minyak bau nantinya diolesi pada bagian tubun tertentu dan bagi wanita cukup dengan syarat tidak perlu menyentuh bagian tubuh (pusar).

Tradisi tepung tawar badan juga diperuntukan bagi anak kecil yang melaksanakan gunting rambut atau naik ayun (naik tojang), juga dalam melaksanakan pernikahan, khitanan bagi laki-Iaki dan perempuan. Objek yang akan diberikan menurut tata cara yang berlaku, serta dilampas dengan memakai daun juang-juang, maupun daun ribu-ribu yang telah di celupkan pada seperangkat peralatan tepung tawar,

Adapun bagian-bagian yang dikenakan secara berurutan pada kening, bahu kanan, bahu kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, serta kaki kiri. Sementara paduan berteh dihamburkan pada kiri dan kanan. Ritual tepung tawar tidak bisa dikerjakan sembarangan. Karena menggunakan lafaz khusus yang tidak bisa diungkapkan disini, perlu terlebih dahulu dilakukan ahlinya.

Tepung tawar bisa juga dilakukan bagi keluarga yang meninggal tiga hari dimakamkan, umumnya dilakukan sebagai peralatan yang dipakai mandi mayit. Peralatan yang disimpan diluar rumah di tepung tawar yang disebut dengan acara pesulli (pembersihan peralatan mayit).

Natsir yang juga Staf Edukasi pada Fakltas Fisip Untan ini, menjelaskan, peralatan di kehidupan seperti kendaraan sepeda motor, mobil, sampai pada umumnya kendaraan ini dipasang pada saat baru dipakai dan ketika mengalami musibah. Tujuannya untuk meminta keselamatan dengan keyakinan, bahwa masih ada kekuatan gaib yang mempengaruhi di dalam kehidupan dan tetap memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Tepung tawar mayit dengan tepung tawar yang lain jauh berbeda, hanya minyak bau yang tidak dipakai dan diganti dengan telur ayam yang diletakan pada tong tempat air memandikan mayit,” papar Natsir waktu ditanya itu.

Tujuan dari upacara tepung tawar mayit, agar ahli keluarga yang ditinggalkan senantiasa sabar menerima cobaan dari Allah. Dapat terhindar dari musibah dengan memohon agar dijauhkan dari segala musibah yang datang dengan mohon keselamatan. Tidak hanya manusia dan juga peralatan yang telah dipakai dengan wujud terimakasih telah dipergunakan sebagai peralatan mandi.

Pada pelaksanaan ritual tepung tawar mayit, peralatan yang dilampas dengan daun ribu-ribu serta peralatan lainnya. Peralatan yang sudah bersih, baru boleh dibawa masuk kedalam rumah yang sebelumnya disimpan di luar rumah. Telur yang disimpan pada tong dibuang segera. Tempat pemandian mayit ditaburi dengan abu dapur sebagai ungkapan, bahwa di dalam kehidupan semua pasti mati dan yang telah menjadi laksana abu yang kembali ketempat asalnya.

Upacara ritual tepung tawar peralatan sama seperti tepung tawar yang lainnya, hanya tidak menggunakan miyak bau. Biasanya yang ditepung ini adalah kendaraan baru, maupun kendaraan yang telah mendapat musibah. Seperti, setelah kecelakaan atau kendaraan hilang ditemukan kembali.

Kepercayaan masyarakat dengan menepung tawar kendaraan, dimaksud, kendaraan yang dipergunakan bisa membawa keselamatan. Sebaliknya juga bisa mendatangkan musibah, karena kendaraan tersebut mempergunakan bahan-bahan yang terbuat dari besi. “Hal ini disebut tua besi, bahwa bisa membawa tuah keberuntungan dan juga bisa membawa kerugian,” terang dia.

Kepercayaan ini masih melekat di masyarakat pada umumnya, bahwa besi tersebut mengandung kekuatan gaib, artinya ada penunggunya mahluk halus yang sering mengikuti besi. Sehingga kepercayaan ini tidak tertepas dari memohon, agar kekuatan yang ada dapat menjadi sebuah kekuatan positif, dapat mempengaruhi jiwa pemakainya. Dan meminta izin agar selalu di dalam keselamatan.

Jika ini tidak dilakukan dengan tepung tawar sebagian kepercayaan masyarakat akan mempengaruhi jiwa. Kendaraan bisa menabrak atau ditabrak. Bahkan bisa hilang dicuri, yang biasa diungkapkan dengan kata-kata "sueh?". Lafaz doa yang disebutkan tidak bisa sembarangan melalui tata cara tertentu.

Upacara tepung tawar bagi anak bayi, juga dilakukan dengan upacara ritual dengan segala persiapan yang disediakan bagi ahli keluarga yang mempunyai hajatan. Peralatan yang perlu dipersiapkan dan dengan lengkap, harus sudah ada jika acara dimulai. Adapun perlengkapan alat-alat tersebut antara lain, beras yang ditumbuk dicampur dengan daun pandan dan kunyit dibuat tepung. Daun-daun yang diperlukan untuk alat tepung tawar daun kelapa yang dibuat seperti bunga tapak bebek diberi bertangkai disebut pentawar, dengan jumlah dua buah.

Kemudian daun-daun yang disusun dan diikat, setelah itu dipotong ujung pangkalnya sehingga rata permukaannya disebut tetungkal dengan jumlah tiga buah. Nyiru kecil yang terbuat dari anyaman kulit bambu atau disebut juga layau digunakan untuk mengipas-ngipas badan disebut tudung bakul.

Besi, kayu arus, bekas kayu baker diikat dengan tali disebut mereka pengeras. Benang yang diputarkan diatas kepala menurut mereka mudah-mudahan keluarga itu dapat diikat hatinya menjadi suatu ikatan yang kuat dan kokoh, tak ubahnya seperti benang itu.Tepung yang sudah ditumbuk dan diaduk di dalam tabung bambu yang berukuran garis tengahnya lebih kurang 20 cm, setingginya 18 cm, terbuat dari bambu.

Betung gunanya untuk menyimpan tepung yang sudah diaduk, tabung bambu ini disebut tudung telak. Beras dimasukan ke dalam gantang, sirih, pinang, tembakau, gambir, kapur, uang logam secukupnya disebut pengeras, Beras yang dicelup dengan kunyit disebut beras kuning atau beras kunyit. Anggota yang melaksanakannya tiga orang untuk tetungkainya dan dua orang untuk melaksanakan pentawamya, dengan jumlah lima orang.

Cara melaksanakan tepung tawar ini, setelah tepung diaduk, tetungkal dan penawar yang terbuat dari daun-daun dan daun kelapa itu dicelupkan pada tepung kemudian dicapkan pada kening, tangan kiri dan kanan, pusat, kaki kiri dan kanan dengan membaca selawat nabi doa untuk memohon keselamatan. Setelah selesai upacara tepung tawar, maka dilanjutkan dengan acara selanjutnya yaitu menggunting rambut bayi. Undangan yang hadir pada kegiatan tersebut adalah keluarga dan tetangga terdekat.

Teori interaksionisme simbolik sebagaimana dikemukakan Veeger (1993:36, dalam Natsir) adalah mengambarkan masyarakat bukanlah dengan memakai konsep-konsep seperti sistem, struktur sosial, posisi status, peranan sosial, pelapisan sosial, struktur institusional, pola budaya, norma-norma dan nilai-nilai sosial, melainkan dengan memakai istilah "aksi".

Seperti peranan upacara adat yang tergambar akan menjadi sebuah daya rekat masyarakat. Sehingga upacara tersebut semakin sering dilakukan akan semakin dapat mempererat yang sangat berkaitan satu dengan lainnya, sehingga menjadi sebuah kebutuhan dan adanya saling ketergantungan dan keseimbangan di dalam kehidupan bersama.

Kaitan hal ini, Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB), H Ibrahim Salim, menilai, perlunya dilestarikan nilai-nilai ritual upacara adat di era globalisasi dan modernisasi saat ini, seperti tradisi tepung tawar. Pasalnya, di dalam upacara tersebut syarat dengan nilai-nilai didalam kehidupan, terutama kearifan lokal. Bahwa manusia tidak terlepas dari kekhilafan dan kesalahan, selalu memohon ampun dan petunjuk kepada Allah SWT.

Dengan terus melaksanakan kewajiban dalam kehidupan di dunia, saling gotong royong, menghormati yang tua, menghargai lingkungan baik benda-benda yang bergerak maupun benda yang tidak bergerak. Karena, barang-barang tersebut mempunyai manfaat bagi kehidupan. “Dan itu adalah bagian dari mahluk Allah SWT, yang tak bisa disembarangkan. Juga air dan lingkungan agar selalu dijaga kebersihannya. Ini digambarkan dengan air tepung tawar, yang dimaksudkan agar jagan saling curiga dan berprasangka buruk dengan yang lain dan mempunyai hati yang bersih.

Selalu mempererat tali silaturahmi dengan saudara-saudara yang ada di sekitar kita, terjaganya rasa solidaritas sesama di dalam kehidupan yang beragam, sehingga tercapai keinginan bersama hidup di dalam ketentraman terhindar dari malapetaka dan dijauhi bencana demi terwujudnya cita-cita semua manusia di muka bumi ini.(**)

oleh : Mizar Bazarvio

Mengenal Tradisi Saprahan

Mengenal Tradisi Saprahan; Makan Dalam Kebersaman
Saf Lambangkan Strata Sosial Masyarakat

Pontianak,- SAPRAHAN adalah kata yang sudah tak asing terdengar di telinga masyarakat Kalbar, khususnya masyarakat Melayu Sambas, Mempawah dan Pontianak. Padahal kata ini adalah sebuah jamuan makan, melibatkan banyak orang yang duduk di dalam satu barisan, saling berhadapan duduk satu kebersamaan. Apa makna dari makan saprahan itu?

MASA kini, tradisi tersebut (makan saprahan) telah berganti menjadi sebuah trend baru prasmanan. Dimana sulit untuk mempertemukan sekelompok orang atau masyarakat dalam satu majelis. Saling berbagi rasa tanpa berprasangka, saling berhadapan sembari menikmati hidangan makanan di hadapannya.

Tradisi ini sebenarnya penuh dengan syarat nilai-nilai di dalam kehidupan masyarakat. Namun kini telah bergeser dari acara sebenarnya. Jika dilihat masa kini, yang duduk di dalam satu majelis sudah tak bisa membedakan dan tak mengetahui posisi masing-masing menurut struktur sosial dalam masyarakat.

Hal ini semakin sumbang, jika yang saling berhadapan adalah bukan dari ahlul bait, namun juga bukan muhrimnya. Sehingga eksistensi nilai di dalam kebersamaan menjadi suasana yang berbeda. Bagi pria dan wanita, tentunya ada perbedaan di dalam majelis. Bagi bukan muhrim, dapat dilakukan secara bergantian, terkecuali dalam jamuan keluarga.

Namun di dalam masyarakat yang datang dari berbagai lapisan, harus dipahami. Kita harus berada dimana? “Pemisahan ini, bermakna bahwa di dalam tradisi Islam dilarang keras untuk duduk bersama yang bukan muhrim,” terang M.Natsir.S.Sos.M.Si, Peneliti Budaya pada Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

Kembali pada persoalan pokok, bahwa yang disebut dengan seprahan adalah saf-saf atau baris-baris mereka yang duduk menghadap makanan.

Pada makanan ada juga yang dialas dengan kain putih maupun hijau yang membentang panjang. Juga ada yang ditumpuk pada satu talam. Panjang kain saprahan minimal 2 meter, ukuran dapat menampung 10 atau 5 orang yang saling berhadapan. Mereka yang berhadapan biasa disebut barisan atau saf yang resminya 3 saf. Saf-saf ini sebenarnya diatur menurut strata sosial dari para undangan, atau kedudukan mereka di masyarakat.

Natsir yang juga Staf Edukasi di Fisipol Jurusan Pariwisata, Universitas Tanjungpura, memaparkan, saf pertama biasanya mereka yang memiiiki kedudukan penting. Zaman dulu adalah diduduki oleh raja dan alim ulama, ditambah pembesar kerajaan. Masa sekarang saf tersebut bisa saja diperuntukan bagi pejabat.

Sementara pada saf kedua diduduki kaum kerabat terdekat, sedangkan pada saf ke-3 untuk masyarakat umum. Dalam tradisi saprahan ada yang unik, yakni tatacara atau tampilan hidangan yang berwarna seragam. Jika berwarna putih, Maka semua tempat diseragamkan dengan warna yang sama.

Biasanya tempat tersebut terbuat dari keramik atau alumunium putih dilengkapi dengan kain lap atau serbet. Hidangan ini dibawa kelompok atau grup pembawa saprahan dengan berpakaian seragam terdiri dari 3 atau 5 petugas juga memakai sarung tangan dan kaus kaki putih.

Berpakaian khas telok belanga berkain corak insang dengan sopan santun yang dijunjung tinggi. Untuk menerima tamu diperlukan kejelian bagi yang mendapat tugas tersebut. Bagaimana ketika mereka harus pandai memilih, siapa tamu yang datang dan harus ditempatkan pada saf yang mana, sesuai dari ketokohan dan strata sosial dari undangan yang datang.

Jika saf sudah penuh, maka dengan segera disiapkan hidangan di hadapan para undangan. Jumlah petugas yang telah ditentukan tak boleh diganggu orang lain. Mereka harus pandai meletakan dan menata lauk pauk serta hidangan. Letak mesti sejajar, seperti kepala ikan yang rnenghadap ketimur. Maka rangkaian makanan yang dijamu sernuanya diatur sama.

Jika ada yang berlawanan arah, rnaka akan menjadi sumbang, hilang kesan kebersamaan, keseragaman, serta kekompakan. Undangan jika melihat hal tersebut, sumbang, maka harus segera memberitahu dengan pengantar. Ini agar segera dibetulkan posisinya. Namun, semestinya yang ditugaskan harus jeli meletakannya.

Sementara ketika undangan sedang makan, sebagian mereka (petugas) harus hilir rnudik rnemperhatikan lauk-pauk yang ada di depan para undangan. Jika habis harus segera diganti dengan tatacara tertentu. "Jangan pernah sekalipun mengganti lauk yang habis dengan membawa makanan dari dapur kepiring di depan undangan, kemudian mernindahkan makanan tersebut ke dalam piring yang telah dipakai sebelumnya,” terang Natsir.



Kepala Paret



Natsir memaparkan lagi, tradisi makan saprahan ada istilah yang disebut dengan kepala paret. Kepala paret yang ditunjuk adalah yang duduk pada saf yang paling depan atau pada bagian atas. Kepala paret menentukan memulai acara makan maupun menutup acara makan. Ketika kepala paret rnemulai makan, barulah diikuti dengan yang lainnya. Begitu juga jika kepala paret mengakhiri, maka yang lain harus mengikuti.

Jika masih dilanjutkan yang lain maka dapat saja dia disebut dengan istilah “selak” atau “buaya”. Implementasinya adanya perasaan senasib, kebersamaan, sopan santun menghargai yang dituakan atau menghargai pemimpin. Karena pemimpin sudah menunjukan tatacara budi bahasa yang baik, penuh dengan kesopanan.

Adanya saling meghormati, memuliakan pemimpin. Artinya tamu tak boleh ada yang mendahului. Yang pasti, semakin sering duduk dan makan di dalam kebersamaan, maka semakin kental tali persaudaraan sesamanya masyarakat.

Pada zaman dahulu posisi kepala paret sudah pasti raja. Namun untuk saat ini, bisa saja yang diduduki para pejabat, atau mereka yang dituakan. Kepala paret memang betul-betul diistimewakan. Mereka dengan hidangan khusus, dalam penyajian dilengkapi dengan nampan berwarna emas, tempat cuci tangan dan lap tangan bersih. Memulai makanan maka ahlul bait (tuan rumah) mempersilakan dengan hormat kepada kepala paret untuk segera memulainya.



Disaji Tiga Gelombang



Tiga gelombang yang dimaksud adalah tiga sesi hidangan yang berbeda undangan yang hadir pada suatu majelis. Biasanya, ada kesepakatan dari ahli tuan rumah berupa nasi putih, sayur Ikan pedas, sambal belacan (sambal terasi), ayam, ikan asin, pisang raja atau pisang hijau. Bahkan juga ada ditambah dengan makanan khas cencalok (anak udang halus yang diberi sambal) dan buduk.

Seperti biasa jika kepala paret sudah selesai makan diikuti dengan yang lain dengan meletakan sendok dengan cara terbalik. Akan tetapi, umumnya dilakukan dengan menggunakan tangan, tanpa sendok.

Untuk acara kedua, dimulai lagi seperti semula. Lazim disebut dengan gelombang kedua, juga dengan kata-kata nenunggu gelombang kedua berupa hidangan pencuci mulut, kue-kue dengan segelas kopi dalam ukuran cawan kecil disebut dengan kopi makjande. kue berupa bingke berendam, belodar, roti kap.

Pada acara berikut dengan menunggu gelombang ketiga, hidangan yang dikeluarkan adalah air serbat (air yang terbuat dari ramuan berwarna merah hati). Air serbat (aek penguser) sebagai tanda yang disebut dengan kode, bahwa acara sudah berakhir bagi undangan segera meninggalkan tempat jamuan.

Akhir acara kepala paret menunjuk seseorang untuk membaca Shalawat Nabi.

Dalam acara makan saprahan tak bisa dikerjakan sembarangan. Karena setiap tata cara rnengandung kearifan lokal dan penuh dengan nilai-nilai. Dalam hal ini, jika dihayati dan diambil arti dan maksudnya, maka akan lebih bermakna.

Pantangan yang berlaku dalam jamuan makan saprahan, adalah jangan berbicara kotor serta keji, jangan berludah. Jika ada yang bersin, maka dengan segera meninggalkan tempat dan digantikan dengan yang lain. Para undangan dilarang mengambil bagian yang bukan di hadapannya.

Menurut Natsir, secara teoritis, adat dalam tradisi saprahan sangat merunut pada teori Maslow, yakni rnenempatkan kebutuhan makan dalam hierarki atau sebuah sistem. Tidak ada batasan siapa yang berhak mengadakan makan saprahan. Karena dalarn tradisi saprahan memiliki sifat serta kegunaan tertentu, dan kadang tak terlepas dari tujuan adat. Tujuannya, bagaimana interaksi masyarakat untuk saling mengakrabkan diri, saling mengenal satu sama lain, rasa kebersamaan tercipta sesama warga.



Kebersamaan, Ketaatan dan Religius



Dari paparan di atas, dapat disarikan disini beberapa nilai yang terkandung dalam pelaksanaan acara makan saprahan, yakni nilai kebersamaan, nilai ketaatan dan nilai religius.

Nilai Kebersamaan. Pada dasarnya upacara saprahan itu sifatnya transparan. Diikuti oleh seluruh warga kaum kerabat dan adanya gotong royong sebelum acara dimulai. Pelaksanaan dikoordinir para keluarga besar. Dengan mencerminkan rasa kebersaman dan kekompakan yang tinggi, dimulai dari awal sampai akhir persiapan, pelaksanaan hingga berakhirnya kegiatan.

Nilai Ketaatan. Nilai ini tercermin adanya dorongan dalam diri warga masyarakat untuk melaksanakan tradisi yang turun menurun sifatnya, khususnya acara saprahan. Adanya rasa rnenghormati pemimpin yang dianggap bisa mewakili kepentingan masyarakatnya, atau juga yang dianggap dituakan sangat dihormati. Ini merupakan manifestasi dari ketakwaan seorang insan yang diungkapkan di dalam sebuah hadits, taat kepada Allah SWT, taat kepada Rasul} dan taat kepada pemimpin. Adanya rasa keterikatan, otomatis menciptakan rasa persatuan dan kesatuan sesama ummat. Tradisi ini harus dapat dipertahankan, agar acara seperti ini menjadi sebuah identitas masyarakatnya.

Nilai Religius. Dari pelaksanaan upacara saprahan dapat dilihat bahwa di dalam menghadapi hidangan yang dianugrahkan Allah SWT tak terlepas dari acara berdoa dan ditutupi dengan membaca Shalawat kepada Nabi. Ini agar di dalam acara tersebut mendapat berkah serta pahala dan selamat dari musibah dan bencana.

Jadi dalam pelaksanaan acara saprahan dapat mengikat persatuan dan kesatuan, yang akhirnya dapat menumbuhkan identitas diri masyarakat yang bersangkutan. Terutama dari nilai kebersamaan, kegotong-royongan dan kekompakan yang diwujudkan dalam rangkaian upacara tersebut. Nilal-nilai tersebut dapat diaplikaslkan pada generasi muda melalui pendidikan non formal di rumah atau di lingkungan sosial maupun dalam pendidikan sekolah secara formal. Selanjutnya acara saprahan perlu dilakukan secara berkesinambungan untuk melestarikan salah satu adat budaya bangsa, guna memupuk rasa kebersamaan antar warga hingga memperkokoh rasa identitas bersama.(**)

Mizar Bavario