Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

KETIKA AMERIKA TERPAKSA "TUNDUK" KEPADA SOEKARNO

Bung Karno geram. Ike mencoba merayunya, "Tolong bebaskan pilotku". Tapi Bung Karno tetap saja geram. Mungkin juga karena yang merayu Soekarno adalah Ike, seorang pria tua. Ike itu adalah nama panggilan D. Dwight Eisenhower, presiden AS di masa itu. Kali ini Amerika memang kena batunya.


Negara digdaya itu dibikin malu Indonesia ketika pilotnya, Allen Pope ditembak jatuh di pulau Morotai. Lebih malu lagi, karena dengan tertangkapnya pilot itu, kedok AS dan CIA akhirnya terbuka. Kedok yang membuktikan AS melalui CIA sudah main api dengan petualangannya di balik pemberontakan separatisme di Indonesia. Termasuk juga infiltrasi AS yang mempersenjatai para pemberontak itu. Ini yang bikin Bung Karno geram, dan mulai memainkan kartu trufnya.


Bung Karno yang tadinya dikerjai Amerika, sekarang balas mengerjai Amerika. Bung Karno sadar, tertangkapnya Allen Pope mendongkrak posisi tawar Indonesia di hadapan Amerika. Cerita selanjutnya adalah bagaimana Ike dan John F. Kennedy jadi repot dibuatnya.


Inilah moment bersejarah ketika Indonesia yang miskin untuk pertama kalinya punya posisi tawar tinggi di hadapan "juragan kaya", Amerika.


Bung Karno tidak cuma menuntut Amerika mesti minta maaf. Tapi masih ada sederet permintaan lain yang bikin Amerika "maju kena mundur kena". Eisenhower minta Indonesia melepaskan pilot Allen Pope. Tapi Bung Karno tidak mau melepas begitu saja dengan gratis. Pilot itu adalah kartu truf-nya.
Inilah kisah bagaimana Bung Karno dengan amarah "memiting leher Allen Pope" sambil telunjuknya memberi isyarat agar Amerika mau bersimpuh di kaki Bung Karno (tentu saja ini hanya simbolisasi teatrikal).


Gantung Allen Pope! Hukum mati Allen Pope! Begitu gelombang protes di depan kedutaan AS di Jakarta setelah Allen Pope tertangkap. tahun 1958 itu . Rakyat Indonesia memang dibikin naik darah oleh kelakuan Allen Pope. Soalnya si pilot ini sudah menjatuhkan bom di Ambon yang memakan tak sedikit korban jiwa.


Di tengah suasana panas itu, teman-teman Mas Tok atau Guntur Soekarnoputra tidak berhenti menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pilot Allen Pope.


Percakapan Bung Karno dengan putra sulungnya berkaitan hal itu, sudah banyak diungkap berbagai sumber. Tapi sebetulnya ada yang lebih penting lagi di balik percakapan antara Bung Karno dan Mas Tok berikut ini.....


Bung Karno sedang mandi. Mas Tok yang masih remaja menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tidak sabar. Karena pintu terus digedor, Bung Karno melongok sebentar. "Ada apa tho Mas Tok? Bapak belum selesai mandi".


Begitu pintu terbuka, Mas Tok langsung menyambar ayahnya dengan pertanyaan, "Bener nggak sih bapak menukar pembebasan Allen Pope dengan tebusan pesawat Hercules?". Mas Tok memang tidak sabaran ingin segera tahu jawabnya. Saat itu juga dia harus mendapatkan bocoran jawabannya. Memang sebelumnya di antara teman-temannya, mereka sudah kasak-kusuk membenarkan gosip itu. Mas Tok jadi panas juga. Soalnya sebagai anak Bung Karno, seharusnya dia lebih tahu dari teman-temannya.


Mas Tok yang penasaran tidak perlu menunggu lama menanti jawab ayahnya. Pertanyaan Mas Tok itu langsung disambar dengan tawa khas ayahnya. Menggelegar, "Hahahahaha......biar saja Amerika kasih Hercules itu buat Bapak. Kalau Amerika kirim pesawat lagi, nanti Bapak suruh tembak lagi. Sebagai tebusannya, Bapak minta Marilyn Monroe dan Ava Gardner".


Itu humor khas Bung Karno. Humor seorang negarawan nyentrik. Cara Bung karno bercanda dengan politikus sejawatnya sehari-hari, tidak beda jauh dengan guyonan-nya dengan anak-anaknya. Mas Tok dan adik-adiknya sudah hafal adat ayahnya. Dasar Bung Karno!


Tapi sebetulnya di balik canda itu, mungkin bahkan Bung Karno dan Mas Tok sendiri waktu itu belum menyadari sesuatu. Yaitu buntut dari posisi tawar Indonesia tadi, Bung Karno telah memulai tonggak lahirnya sejarah armada baru bagi AURI, yaitu lahirnya skuadron Hercules di Indonesia. Armada ini kelak turut punya andil dalam merebut Irian Barat dari Belanda.


Itu semua berawal dari negosiasi tarik ulur demi pembebasan seorang pilot yang bikin Amerika gelisah. Bagaimana tidak? Soalnya kalau tidak segera diselamatkan, bisa-bisa pilot itu buka mulut tentang info rahasia yang berkaitan dengan permainan CIA.


Dulu serangan Maukar ke Istana didesas-desuskan akibat Bung Karno menggoda tunangan sang pilot.
Gosip selanjutnya menghantam Bung Karno lagi. Yaitu pembebasan pilot Allen Pope digosipkan karena Bung Karno dirayu oleh istri Pope, yang sengaja didatangkan dari Amerika. Walaahhh....


Kedengaran kayak gosip murahan. Tapi tunggu dulu! Sejarah kadang memang diwarnai gosip murahan, yang bermuara pada hasil yang tidak murahan. Konon itu yang namanya intrik politik tingkat tinggi. Intrik yang menggunakan sisi kelemahan Bung Karno. Kelemahan apalagi kalau bukan soal perempuan? Mentang-mentang Bung Karno mata keranjang.....


Bung Karno memang mata keranjang. Tapi pihak yang anti Bung Karno kadang memanipulasi sisi ini secara berlebihan. Sama halnya CIA yang menggunakan kelemahan don yuan-nya Bung Karno untuk menjatuhkan kredibilitas presiden RI di mata rakyatnya. Menjatuhkan Bung Karno adalah satu-satunya cara agar Amerika bisa bercokol kuat di Indonesia. Sudah dicoba segala cara agar Bung Karno jatuh, tidak berhasil juga. Dicoba dengan cara ancaman embargo, penghentian bantuan.....ehhh Bung Karno malah teriak, "Go to hell with your aid!".


Akhirnya CIA pakai cara lain. Yaitu infiltrasi ke berbagai pemberontakan di Indonesia. Puncaknya terjadi dalam pertempuran di pulau Morotai, tahun 1958. Ketika itu TNI (pasukan marinir, pasukan gerak cepat AU, dan AD) menggempur Permesta, gerakan pemberontakan di Sulawesi Utara.


Persenjataan Permesta tidak bisa dianggap enteng. Soalnya ada bantuan senjata dari luar. Tadinya tudingan bahwa CIA adalah biang kerok semua ini masih dugaan saja. Ketika kapal pemburu AL dan mustang AU melancarkan serangannya, satu pesawat Permesta terbakar jatuh.


Sebelum jatuh, ada dua parasut yang tampak mengembang keluar dari pesawat itu. Parasut itu tersangkut di pohon kelapa. TNI segera membekuk dua orang. Yang satu namanya Harry Rantung anggota Permesta. Dan yang tak terduga, satunya lagi bule Amerika. Itulah si pilot Allen Pope. Dari dokumen-dokumen yang disita, terkuak Allen Pope terkait dengan operasi CIA. Yaitu menyusup di gerakan pemberontakan di Indonesia untuk menggulingkan Soekarno.


Tak pelak lagi, tuduhan bahwa Amerika dengan CIA adalah dalang pemberontakan separatis, bukan isapan jempol!


Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika. Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. Setelah pesawat B-26 yang dipilotinya jatuh dihajar mustang AU dan kapal pemburu AL, komentar Pope: "Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang". Setelah itu dia masih sempat minta rokok.


Tapi sebetulnya yang lebih bikin malu Amerika bukan soal kalah yang dikatakan Pope tadi. Tapi tertangkapnya Allan Pope mengungkap permainan kotor AS untuk menggulingkan Soekarno. Amerika terus ngeyel menyangkal. Tapi bukti-bukti yang ada, akhirnya membungkam mulut Amerika.


Taktik kotor itu jadi gunjingan internasional. Tanpa ampun, kedok Amerika dengan CIA-nya berhasil dibuka Indonesia, lengkap dengan bukti-bukti telak. Amerika terpaksa berubah 180 derajat menjadi baik pada Soekarno. Semua operasi CIA untuk mengguncang Bung Karno (untuk sementara) dihentikan.


Amerika berusaha mati-matian minta pilotnya dibebaskan. Segala cara pun mulai dilakukan untuk mengambil hati Bung Karno. Eisenhower mengundang Soekarno ke AS bulan Juni 1960. Lalu Soekarno juga diundang John Kennedy di bulan April 1961. Di balik segala alasan diplomatik tentang kunjungan itu, tak bisa disangkal itu semua buntut dari cara Bung Karno memainkan kartunya terhadap Amerika.


Selama periode itu, Bung Karno main tarik ulur dengan pembebasan Pope. Tarik ulur itu berjalan alot. Karena Bung Karno ogah melepaskan Pope begitu saja. Bung Karno sengaja berlama-lama "memiting leher" Allan Pope sebelum Amerika meng-iya-kan permintaan Indonesia. Amerika mati kutu. Tak ada jalan lain. Negosiasi pun segera dimulai. Negosiasi alot yang memakan waktu 4 tahun, sebelum akhirnya Allen Pope benar-benar bebas.


Dimulai dengan Ike atau Eisenhower yang membujuk, merayu dan mengundang Bung Karno ke Amerika. Namun sesudahnya Bung Karno tetap tidak mau tunduk diatur-atur Ike. Situasi mulai berubah sedikit melunak setelah kursi kepresidenan AS beralih ke John F. Kennedy.


John Kennedy tahu, kepribadian Soekarno sangat kuat dan benci di-dikte. Karena itu dengan persahabatan dia mampu "merangkul" Soekarno. "Kennedy adalah presiden Amerika yang sangat mengerti saya", kata Bung Karno.


Dengan John, negosiasi mulai mengarah ke titik terang. Berkaitan itu pula, John mengirim adiknya Robert Kennedy ke Jakarta. Robert membawa sejumlah misi, diantaranya: "bebaskan Pope".


Konon ketika itu juga Amerika mengirim istri Allen Pope yang cantik. Perhitungannya, wanita cantik mampu meluluhkan hati Bung Karno. Ini asal mula beredar issue bahwa Bung Karno dirayu istri Allen Pope. Yang tidak banyak disebutkan orang, yaitu ibu dan saudara perempuan Allen Pope juga datang memohon-mohon dengan tangisan minta belas kasihan Bung Karno.


Buat Bung Karno, pilot itu dibebaskan atau tidak dibebaskan, hasilnya sama saja. Yaitu tidak membuat korban-korban bom si pilot bisa hidup kembali. Jadi kenapa tidak memanfaatkan saja ketakutan Amerika yang ciut kalau pilot itu buka mulut?


Bung Karno memainkan kartu trufnya atas dasar apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia pada waktu itu. Indonesia betul-betul sengsara dan kelaparan, jadi butuh uang dan nasi. Indonesia sedang bertempur melawan Belanda untuk merebut Irian Barat. Jadi butuh senjata, sejumlah perangkat perang dan armada tempur.


Permintaan Bung Karno itu tentu saja tidak disampaikan dengan cara mengemis. Tapi dengan cara yang menyeret Amerika untuk membuat interpretasi diplomatik. Mau tidak mau, isyarat diplomatik Soekarno bikin Amerika harus bisa membaca yang tersirat di balik yang tersurat.


Dibanding Ike alias Eisenhower, John Kennedy lebih peka membaca isyarat itu. Itulah yang dimaksud Bung Karno bahwa John Kennedy mengerti dirinya. Kennedy tidak cuma sekedar mengundang Bung Karno ke Amerika untuk plesiran. Tapi juga ada tindak lanjut nyata di balik undangan diplomatik itu.


John paham Indonesia butuh perangkat perang untuk merebut Irian Barat. Di antaranya armada tempur. Karena itu diajaknya Bung Karno mengunjungi pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno dbantu dalam pembelian 10 pesawat hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan 2 tanker.


Negosiasi pembebasan Allen Pope antara Ike dan Bung Karno tadinya alot. Tapi jadi licin jalannya dengan John. Dia tidak pelit membalas "kebaikan" Bung Karno yang memenuhi permintaan AS untuk membebaskan Allen Pope.


Hasilnya? Hercules dari Amerika, menjadi cikal bakal lahirnya armada Hercules bagi AURI (armada yang kelak ikut bertempur merebut Irian Barat). Bung Karno bisa membuat Amerika menghentikan embargo. Lalu menyuntik dana ke Indonesia. Juga beras 37.000 ton dan ratusan persenjataan perangkat perang. Kebutuhan itu semua memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu.


Ternyata begini ini yang namanya negosiasi tingkat tinggi. Akhirnya Allen Pope dibebaskan secara diam-diam oleh suatu misi rahasia di suatu subuh, Februari 1962. Negosiasi itu seluruhnya tentu makan biaya yang tidak sedikit. Siapa yang mesti membayar semua itu? Konon rekening Permesta yang harus membayar ganti rugi akibat negosiasi itu. Sempat terdengar selentingan bahwa jalan by pass Cawang-Tanjung Priok dan Hotel Indonesia lama di Bundaran HI Thamrin, adalah wujud dari ganti rugi itu. Benarkah demikian? Wallahualam.


Sayang hubungan mesra Bung Karno dengan Amerika berakhir setelah Kennedy terbunuh tahun 1963. Terbunuhnya Kennedy membuat CIA kembali leluasa mewujudkan mimpi lama yang sempat terhenti. Yaitu terus mengguncang kursi Bung Karno, hingga Putra Sang Fajar itu akhirnya benar-benar terbenam. Kita semua tahu bagaimana akhir episode itu.




Walentina Waluyanti
Nederland, 9 Februari 2010

Senin, 09 April 2012

Ingrris VS Indonesia

Pasca proklamasi 17 agustus 1945 ,tentara sekutu yang menang perang mengutus tentara inggris ke indonesia di bawah pimpinan rear admiral peterson. tugasnya menjaga ketertiban dan keamanan umum sambil menunggu kedatangan tentara belanda dari australia yang akan kembali ke indonesia. rear admiral peterson kemudian digantikan oleh jendral sir philip christtison pada september 1945.

jendral christison mengakui secara de facto bahwa soekarno menguasai jawa , sumatera dan madura. Ia pun meminta kepada dunia untuk tidak menganggap soekarno - hatta sebagai penjahat perang melainkan seorang pejuang yang membela tanah airnya indonesia.
meski begitu tentara inggris dan indonesia nyaris saja saling tembak dan itu hanya gara gara keisengan.


Di halaman depan asrama kepolisian indonesia yang letaknya tepat di depan pos penjagaan rumah kediaman bung karno , terdapat sebatang pohon mangga yang besar dan megah , daunnya lebat , pohonnya tinggi , buahnya jarang.
buah mangga yang matang terkadang jatuh karena digigit codot pada malam hari. dan biasanya jika ada buah jatuh maka para anggota polisi yang berada di asrama dan petugas jaga di rumah bung karno akan berlari berebut mengambilnya , karena letaknya cukup dekat dengan pos penjagaan.
jika ada suara kresek kresek dan diakhiri dengan suara BLUGG!!! , maka mereka semua akan "siap siaga" dan "waspada".


suatu malam , seorang anggota polisi bernama didi kardi hidayat muncul isengnya , ia mengambil batu dan melemparkannya ke arah pohon mangga sehingga memberi kesan ada buah mangga yang jatuh.
Beberapa petugas jaga yang sedang istirahat segera berlari menyebrang jalan pegangsaan timur menuju pohon mangga sambil tetap membawa senjata mereka.
ternyata tak jauh dari sana , satu regu patroli tentara inggris sedang melintasi jalan pegangsaan timur . tentara inggris itu terkejut dan curiga saat melihat beberapa orang berlari sambil membawa senjata, karena itu mereka pun segera bertiarap di pinggir jalan sambil siaga siap tempur.
cukup lama tentara inggris itu tiarap namun tak ada perkembangan selanjutnya , tak ada lagi gerakan apalagi suara tembakan. akhirnya khawatir ada jebakan mereka balik arah kembali ke markas.

pagi harinya sepasukan tentara inggris datang dan langsung mengepung asrama kepolisian dan membuat kaget juga tegang anggota kepolisian indonesia. komandan tentara inggris mempertanyakan insiden semalam , saat patroli mereka merasa dihadang dan akan diserang orang bersenjata dari asrama ini.
untung saja setelah pimpinan masing masing turun tangan dan mencari tahu masalah sebenarnya , peristiwa ini dapat diselesaikan dengan damai tanpa insiden apapun.

SUMBER : KESAKSIAN BUNG KARNO , 1945 -1967

Penipu Masuk Istana

Pelacur Markonah Kibuli Soekarno

Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kedua nama ini membuat geger Indonesia pada zaman presiden Soekarno. Waktu itu sekitar tahun 1950-an, Indonesia sedang berjuang membebaskan Irian Barat. Markonah berumur 50-an. Wajahnya lumayan menarik. Tapi ia memiliki cacat di matanya sehingga selalu memakai kaca mata hitam.

Pasangan suami-istri itu mengaku sebagai raja dan ratu Suku Anak Dalam, Sumatera. Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.

Hebatnya para pejabat memberikan sambutan yang luar biasa kepada mereka. Mereka dijamu, dielu-elukan, diajak foto bersama dan mendapat liputan media massa. Entah bagaimana ceritanya, kemudian ada seorang pejabat yang memperkenalkan sang raja dan ratu itu kepada Presiden Soekarno.

"Pejabat ini, saya nggak tahu namanya, menyampaikan ke Bung Karno, kalau Raja Idrus dan Ratu Markonah sudah seharusnya diterima di istana. Sebab raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat," jelas sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong saat berbincang dengan detikcom.

Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Maka Soekarno pun mengundang Idrus dan Markonah ke Istana Merdeka. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.

Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat.

Namun kenyataan sering kali tidak seindah harapan. Fakta berbicara lain tentang Raja dan Ratu unik tersebut. Idrus dan Markonah yang dianggap raja dan ratu yang bisa membantu Indonesia membebaskan Irian Barat ternyata hanya penipu kelas kakap. Kedok mereka terbongkar saat suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta.

"Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus, karena Idrus itu ternyata tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipu itu. Markonah ternyata seorang pelacur kelas bawah di Tegal, Jawa Tengah. "Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” beber Anhar Gonggong yang kemudian tertawa terkekeh.

Anhar menganalisa, Soekarno bisa tertipu Idrus dan Markonah karena ia sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu juga, karena sebagai pemimpin, Bung Karno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat. "Itu penyakit pemimpin kita, selalu ingin kelihatan dekat dengan rakyat," ulas Anhar.

Skandal Idrus dan Markonah merupakan kasus penipuan nasional pertama yang dialami negeri ini dengan korban istana. Ternyata penipuan dengan korban istana tidak berhenti pada zaman Soekarno. Kasus serupa bahkan kembali berulang pada pemerintahan selanjutnya.

Sumber : www.detik.com

Penipu Masuk Istana

Pelacur Markonah Kibuli Soekarno

Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kedua nama ini membuat geger Indonesia pada zaman presiden Soekarno. Waktu itu sekitar tahun 1950-an, Indonesia sedang berjuang membebaskan Irian Barat. Markonah berumur 50-an. Wajahnya lumayan menarik. Tapi ia memiliki cacat di matanya sehingga selalu memakai kaca mata hitam.

Pasangan suami-istri itu mengaku sebagai raja dan ratu Suku Anak Dalam, Sumatera. Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.

Hebatnya para pejabat memberikan sambutan yang luar biasa kepada mereka. Mereka dijamu, dielu-elukan, diajak foto bersama dan mendapat liputan media massa. Entah bagaimana ceritanya, kemudian ada seorang pejabat yang memperkenalkan sang raja dan ratu itu kepada Presiden Soekarno.

"Pejabat ini, saya nggak tahu namanya, menyampaikan ke Bung Karno, kalau Raja Idrus dan Ratu Markonah sudah seharusnya diterima di istana. Sebab raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat," jelas sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong saat berbincang dengan detikcom.

Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Maka Soekarno pun mengundang Idrus dan Markonah ke Istana Merdeka. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.

Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat.

Namun kenyataan sering kali tidak seindah harapan. Fakta berbicara lain tentang Raja dan Ratu unik tersebut. Idrus dan Markonah yang dianggap raja dan ratu yang bisa membantu Indonesia membebaskan Irian Barat ternyata hanya penipu kelas kakap. Kedok mereka terbongkar saat suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta.

"Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus, karena Idrus itu ternyata tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipu itu. Markonah ternyata seorang pelacur kelas bawah di Tegal, Jawa Tengah. "Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” beber Anhar Gonggong yang kemudian tertawa terkekeh.

Anhar menganalisa, Soekarno bisa tertipu Idrus dan Markonah karena ia sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu juga, karena sebagai pemimpin, Bung Karno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat. "Itu penyakit pemimpin kita, selalu ingin kelihatan dekat dengan rakyat," ulas Anhar.

Skandal Idrus dan Markonah merupakan kasus penipuan nasional pertama yang dialami negeri ini dengan korban istana. Ternyata penipuan dengan korban istana tidak berhenti pada zaman Soekarno. Kasus serupa bahkan kembali berulang pada pemerintahan selanjutnya.

Sumber : www.detik.com

Wanita di Sekeliling Soekarno

Siti Oetari

Posted Image


Siti Oetari adalah putri sulung Hadji Oemar Said Tjokroaminoto tokoh Sarekat Islam sekaligus merupakan istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Soekarno menikahi Oetari usianya belum genap 20 tahun. Siti Oetari sendiri waktu itu berumur 16 tahun. Soekarno menikahi Oetari pada tahun 1921 di Surabaya. Sewaktu itu Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Soekarno kemudian menceraikan Oetari.



Inggit Garnasih


Posted Image


Sudah lama jalan Ciateul berganti nama menjadi jalan Ibu Inggit Garnasih. Siapakah dia? Berikut satu artikel yang saya temukan.
Bung Karno dan H. Agus Salim, mereka berpolemik panjang lebar soal poligami. Bung Karno tidak setuju karena dianggapnya poligami adalah perendahan harkat dan martabat kaum perempuan sebaliknya Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu, Bung Karno istrinya banyak sementara Agus Salim tetap beristri satu.

Akhirnya segala sesuatu dikembalikan pada niatnya, yang luar biasa adalah istri Bung Karno, Ibu Inggit. Apabila Bung Karno api maka Inggit kayu bakarnya. Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan, Inggit menghibur ketika Soekarno kesepian. Inggit menjahitkan ketika kancing baju Soekarno lepas, Inggit hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai Ibu maupun teman. Inggit bagi Soekarno laksana Khadijah bagi Muhammad. Bedanya Muhammad setia hingga Khadijah meninggal sedangkan Soekarno kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi.

Dalam kamus hidupnya hanya ada kata memberi tak ada kata meminta. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno seperti singa yang mengaum dari satu podium ke podium berikutnya, pikirannya tercurah untuk pergerakan, Inggit yang setia mencari uang. Inggit mencinta karena cinta, tanpa pamrih tanpa motivasi. Suatu malam di jalan Jaksa, kedua pasang mata bertemu, Soekarno berkata “Aku cinta padamu”. Inggit tersipu menunduk dalam-dalam sambil mempermainkan ujung kebaya. Itulah cinta yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata, tanpa bahasa. Kejadian yang sangat lazim dan sederhana tetapi merupakan kejadian penting yang terlupakan oleh segenap bangsa.

Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani, merupakan batere bagi kehidupan Soekarno yang menderita. Tetapi di ujung masa penjajahan Soekarno berkata pada Inggit, “Euis, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.”
“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.
“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Jadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”
“Tidak, antarkan saja aku ke Bandung.” jawab Inggit lagi.

Akhirnya Soekarno mengantar Inggit ke Bandung. Kembali tinggal di jalan Tjiateul dan Soekarno balik ke Jakarta. Dalam kesepiannya Inggit selalu berdoa bagi kebaikan Soekarno. Inggit kembali menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang sebagai nafkah.
Dagangannya dititipkan di toko Delima. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi.

Siang itu aku lewat di Jl. Ciateul yang sibuk dan panas, yang sekarang dinamakan Jl Inggit Garnasih. Tampak sebuah rumah lama dicat baru, katanya disitu dulu Inggit tinggal dan akan dijadikan museum. Aku tengok isinya … kosong melompong. Tak ada yang ditinggalkan oleh Inggit selain satu pelajaran tentang CINTA.


Fatmawati


Posted Image


Fatmawati (ada yang berkata nama aslina Fatimah. Red.) lahir pada tanggal 5 Pebruari 1923, dari suami-isteri Hassan Din dan Siti Chatidjah. Tidak memiliki rumah sendiri (dan selalu menyewa atau, menumpang), Hassan Din bukan orang berada. Kemelaratan ini lebih-lebih lagi melanda ketika Hassan Din harus keluar dari Borsumi dan aktif dalam gerakan Muhammadiyah di Bengkulu.

Pernah, ketika masih duduk di kelas II HIS Muhammadiyah, Fatmawati berjualan ketoprak seusai sekolah. "Inilah jalan yang aku tempuh untuk meringankan beban orangtuaku," tulisnya. Usia 12 tahun, sudah bisa dilepas di warung beras ayahnya.

Ketika usianya 15 tahun, Fatmawati bertemu dengan Sukarno. Bahkan seluruh keluarga -- ayah, ibu, Fatma dan adik ayahnya -- naik delman mengunjungi rumah Sukarno di Curup. "Masih kuingat, aku mengenakan baju kurung warna merah hati dan tutup kepala voile kuning dibordir." Pendapat Fatmawati tentang Inggit, yang waktu itu jadi isteri Bung Karno: "Inggit mempunyai pembawaan halus, pandai tersenyum dan gemar makan sirih. Berpakaian rapi, tak banyak reka-reka menurut model sebelum generasiku, memakai gelur bono Priangan. Pada penglihatanku, Ibu Inggit seorang yang tidak spontan, gerak-geriknya hati-hati. Bercakap pun demikian. Matanya kelihatan seakan-akan suka marah dan kesal. Jika orang tak kuat batin, rasanya susah berdekatan dengan beliau

Saat yang paling penting dalam kehidupannya, di saat-saat menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, demikian Fatmawati. Ibu Negara ini yang menggunting dan menjahit bendera pusaka yang kini disimpan. Di masa-masa pergolakan ada beberapa catatan penting tentang soal yang bisa saja dianggap remeh-remeh. Misalnya: Kunjungan beliau yang pertama ke luar negeri adalah ke India. Beliau ketika itu memakai perhiasan pinjaman dari isteri Sekretaris Negara, seorang keturunan bangsawan kraton yang kebetulan punya persediaan.

Tentang Yogya - dan Fatma berdiam di gedung yang kini namanya Gedung Negara -- ia menulis: "Satu kali kami menjamu Merle Cochran dengan perabot dan pecah-belah pinjaman dari kiri-kanan dengan protokol `perjuangan`nya." Artinya: protokol yang juga sibuk pinjam taplak meja di rumah lain kalau kebetulan ada tamu negara. Juga protokol yang, tanpa bisa dilihat oleh tamu negara, bersembunyi dan memberi tahukan kepada Bung Karno, kapan dia harus angkat gelas. Istana waktu itu memang bukan Istana yang sekarang.

Fatmawati meninggal pada tahun 1980 dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Ia adalah istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Dari pernikahananya dengan Soekarno ia dikaruniai 5 orang anak.


Hartini Soekarno


Posted Image


Hartini Soekarno, Lahir di Ponorogo Jawa imur pada tanggal 20 September 1924 beragama Islam. Hartini menempuh pendidikan awal di HIS ( Holland Indlands School ) dan terakhir Kelas dua SMA yaitu pada tahun 1942. Wanita Karir di bidang Wiraswasta ini beralamat di Jalan Proklamasi No. 62 di Jakarta Pusat.

Enam belas tahun dalam suka maupun duka, Hartini setia mendampingi suaminya hingga wafat. Resmi menjadi istri Soekarno, setahun setelah pertemuannya yang pertama di Prambanan, Yogyakarta tahun 1952. Ketika itu ia sudah menjadi janda berusia 28 tahun. Dengan suaminya yang pertama, Suwondo, ia dikaruniai lima anak. Menikah dengan Soekarno, ia mendapat dua anak.

Biasa dipanggil Tien, ia anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya, Osan, pegawai kehutanan, mendidiknya secara tradisional. Tidak mengherankan bila Tien berpendidikan formal hanya hingga kelas dua SMA. Pendapatnya tentang istri cukup sederhana. Selain sebagai istri, kita juga adalah ibu, kawan, dan kekasih bagi suami.

Sebagai ibu, menurut Tien, bila suami sakit harus dilayani dengan cermat. Meminumkan obat, memijati, dan mengelusnya hingga terlena. Sebagai kawan, di mana dan kapan pun, patut mengimbangi pembicaraannya. Ia banyak membaca dan rajin mengumpulkan informasi, agar mampu menjadi kawan bicara yang baik dan bijak.

Awet muda dan tampak cantik dalam usia 60 tahun. Rahasia kecantikan Hartini, setiap bangun pagi ia segera minum segelas air putih dan olah raga ringan. Juga minum jamu ramuan sendiri berupa kunyit, daun asam, temu, asem kawak, daun beluntas, dan gula merah, yang direbusnya. Ia minum jamu dua kali sehari dan tidak makan yang amis, seperti ikan dan telur.


Ratna Sari Dewi Soekarno


Posted Image


Ratna Sari Dewi yang berdarah Jepang bernama asli Naoko Nemoto, merupakan istri kelima dari mantan presiden Republik Indonesia yang pertama yaitu Ir. Soekarno, wanita kelahiran Tokyo, 6 Februari 1940. Yang dinikahi oleh Soekarno pada tahun 1962 itu terdaftar dengan nama lengkap Ratna Sari Dewi Soekarno yang beralamat di Shibuya-Ku, Kamiyama-Cho, 31-1, Tokyo.

Bagaimana pula dengan Naoko Nemoto? Dialah geisha yang begitu sempurna di mata Sukarno. Kecantikannya begitu mempesona, sehingga tak kuasa Sukarno meredam hasrat cintanya yang berkobar-kobar. Gadis Jepang ini lahir tahun 1940, sebagai anak perempuan ketiga seorang pekerja bangunan di Tokyo. Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai ia lulus sekolah lanjutan pertama pada tahun 1955.

Setahun kemudian, ia mengundurkan diri, dan menekuni profesi geisha Akasaka’s Copacabana yang megah, salah satu kelab malam favorit yang sering dikunjungi para tamu asing. Ke kelab inilah Sukarno datang pada 16 Juni 1959. Bertemu Naoko, dan jatuhlah hatinya. Setelah itu, Bung Karno masih bertemu Naoko dua kali di hotel Imperial, tempat Bung Karno menginap. Akan tetapi, versi lain menyebutkan, pertemuan keduanya terjadi setahun sebelumnya, di tempat yang sama.

Usai lawatan dua pekan, Bung Karno kembali ke Jakarta. Tapi sungguh, hatinya tertinggal di Tokyo… hatinya melekat pada gadis cantik pemilik sorot mata lembut menusuk, sungging senyum yang lekat membekas. Seperti biasa, Bung Karno mengekspresikan hatinya melalui surat-surat cinta. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Isyarat itu ia tangkap melalui surat balasan Naoko.

Tak lama, Bung Karno segera melayangkan undangan kepada Naoko untuk berkunjung ke Indonesia. Sukarno bahkan menemaninya dalam salah satu perjalanan wisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta makin subur bersemi di hati keduanya. Terlebih ketika Naoko menerima pinangan Bung Karno, dan mengganti namanya dengan nama pemberian Sukarno. Jadilah Naoko Nemoto menjadi Ratna Sari Dewi. Orang-orang kemudian menyebutnya Dewi Soekarno.

Tanggal pernikahan keduanya, ada dua versi. Satu sumber menyebut, keduanya menikah diam-diam pada tanggal 3 Maret 1962, bersamaan dengan peresmian penggunaan nama baru: Ratna Sari Dewi berikut hak kewarganegaraan Indonesia. Sumber lain menyebut mereka menikah secara resmi bulan Mei 1964. Agaknya, sumber pertamalah yang benar.

Lepas dari kapan Bung Karno menikahi Ratna Sari Dewi, akan tetapi, cinta Bung Karno kepadanya begitu meluap-luap. Jika ia bertestamen agar dimakamkan di sisi makam Hartini, maka terhadap Ratna Sari Dewi, Bung Karno bertestamen agar dimakamkan dalam satu liang.

Faktanya, Hartini dan Ratna Sari Dewi yang begitu terlibat secara emosional pada hari terakhir kehidupan Bung Karno. Hartini yang setia mendampingi di saat ajal menjemput. Hartini pun tahu, dalam keadaan setengah sadar di akhir-akhir hidupnya, Bung Karno membisikkan nama Ratna Sari Dewi. Hal itu diketahui pula oleh Rachmawati.

Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di akhir hayat, luluh hatinya. Tak ada lagi rasa “tak suka” kepada Hartini maupun Ratna Sari Dewi. Rachma sadar, ayahnya begitu mencintai Hartini dan Dewi, sama seperti besarnya cinta Bung Karno kepada Fatmawati, ibunya.

Buah asmara Bung Karno – Ratna Sari Dewi adalah seorang gadis cantik yang diberinya nama Kartika Sari Dewi atau akrab disapa Karina. Bung Karno sempat menimang bayi Kartika, meski jalan hidupnya tak memungkinkan untuk mendampinginya tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. (roso daras)


Haryati



Posted Image


Haryati adalah seorang penari di Pejabat Setiausaha Negara. Mereka berkahwin pada tahun 1963 dan bercerai tiga tahun kemudian. Sukarno seterusnya berkahwin dengan Yurike Sanger pada tahun 1964, perkahwinan itu juga hanya bertahan tiga tahun.

Begitu juga dengan Kartini Manoppo, bekas pramugari syarikat penerbangan Indonesia, Garuda. Sukarno jatuh cinta pada Kartini apabila melihat potret wajah wanita itu yang dilukis oleh Basuki Abdullah. Mereka bernikah pada tahun 1959 dan memperoleh anak pada tahun 1967. Anak itu diberi nama Totok Suryawan Manoppo.

Isteri terakhir yang dinikahi secara rasmi oleh Sukarno ialah Heldy Djafar setahun sebelum kejatuhannya sebagai presiden pada tahun 1967. Perkahwinan dengan Heldy hanya berlangsung selama dua tahun kerana selepas kejatuhannya Sukarno dihumban ke dalam tahanan di Wisma Yaso, Jakarta. Heldy adalah istri yang memegang rekor beda usia di antara deretan istri si mantan presiden. Saat menikah pada 1966, usia keduanya terpaut 48 tahun.

Sumber : kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Wanita di Sekeliling Soekarno

Siti Oetari

Posted Image


Siti Oetari adalah putri sulung Hadji Oemar Said Tjokroaminoto tokoh Sarekat Islam sekaligus merupakan istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Soekarno menikahi Oetari usianya belum genap 20 tahun. Siti Oetari sendiri waktu itu berumur 16 tahun. Soekarno menikahi Oetari pada tahun 1921 di Surabaya. Sewaktu itu Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Soekarno kemudian menceraikan Oetari.



Inggit Garnasih


Posted Image


Sudah lama jalan Ciateul berganti nama menjadi jalan Ibu Inggit Garnasih. Siapakah dia? Berikut satu artikel yang saya temukan.
Bung Karno dan H. Agus Salim, mereka berpolemik panjang lebar soal poligami. Bung Karno tidak setuju karena dianggapnya poligami adalah perendahan harkat dan martabat kaum perempuan sebaliknya Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu, Bung Karno istrinya banyak sementara Agus Salim tetap beristri satu.

Akhirnya segala sesuatu dikembalikan pada niatnya, yang luar biasa adalah istri Bung Karno, Ibu Inggit. Apabila Bung Karno api maka Inggit kayu bakarnya. Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan, Inggit menghibur ketika Soekarno kesepian. Inggit menjahitkan ketika kancing baju Soekarno lepas, Inggit hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai Ibu maupun teman. Inggit bagi Soekarno laksana Khadijah bagi Muhammad. Bedanya Muhammad setia hingga Khadijah meninggal sedangkan Soekarno kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi.

Dalam kamus hidupnya hanya ada kata memberi tak ada kata meminta. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno seperti singa yang mengaum dari satu podium ke podium berikutnya, pikirannya tercurah untuk pergerakan, Inggit yang setia mencari uang. Inggit mencinta karena cinta, tanpa pamrih tanpa motivasi. Suatu malam di jalan Jaksa, kedua pasang mata bertemu, Soekarno berkata “Aku cinta padamu”. Inggit tersipu menunduk dalam-dalam sambil mempermainkan ujung kebaya. Itulah cinta yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata, tanpa bahasa. Kejadian yang sangat lazim dan sederhana tetapi merupakan kejadian penting yang terlupakan oleh segenap bangsa.

Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani, merupakan batere bagi kehidupan Soekarno yang menderita. Tetapi di ujung masa penjajahan Soekarno berkata pada Inggit, “Euis, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.”
“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.
“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Jadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”
“Tidak, antarkan saja aku ke Bandung.” jawab Inggit lagi.

Akhirnya Soekarno mengantar Inggit ke Bandung. Kembali tinggal di jalan Tjiateul dan Soekarno balik ke Jakarta. Dalam kesepiannya Inggit selalu berdoa bagi kebaikan Soekarno. Inggit kembali menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang sebagai nafkah.
Dagangannya dititipkan di toko Delima. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi.

Siang itu aku lewat di Jl. Ciateul yang sibuk dan panas, yang sekarang dinamakan Jl Inggit Garnasih. Tampak sebuah rumah lama dicat baru, katanya disitu dulu Inggit tinggal dan akan dijadikan museum. Aku tengok isinya … kosong melompong. Tak ada yang ditinggalkan oleh Inggit selain satu pelajaran tentang CINTA.


Fatmawati


Posted Image


Fatmawati (ada yang berkata nama aslina Fatimah. Red.) lahir pada tanggal 5 Pebruari 1923, dari suami-isteri Hassan Din dan Siti Chatidjah. Tidak memiliki rumah sendiri (dan selalu menyewa atau, menumpang), Hassan Din bukan orang berada. Kemelaratan ini lebih-lebih lagi melanda ketika Hassan Din harus keluar dari Borsumi dan aktif dalam gerakan Muhammadiyah di Bengkulu.

Pernah, ketika masih duduk di kelas II HIS Muhammadiyah, Fatmawati berjualan ketoprak seusai sekolah. "Inilah jalan yang aku tempuh untuk meringankan beban orangtuaku," tulisnya. Usia 12 tahun, sudah bisa dilepas di warung beras ayahnya.

Ketika usianya 15 tahun, Fatmawati bertemu dengan Sukarno. Bahkan seluruh keluarga -- ayah, ibu, Fatma dan adik ayahnya -- naik delman mengunjungi rumah Sukarno di Curup. "Masih kuingat, aku mengenakan baju kurung warna merah hati dan tutup kepala voile kuning dibordir." Pendapat Fatmawati tentang Inggit, yang waktu itu jadi isteri Bung Karno: "Inggit mempunyai pembawaan halus, pandai tersenyum dan gemar makan sirih. Berpakaian rapi, tak banyak reka-reka menurut model sebelum generasiku, memakai gelur bono Priangan. Pada penglihatanku, Ibu Inggit seorang yang tidak spontan, gerak-geriknya hati-hati. Bercakap pun demikian. Matanya kelihatan seakan-akan suka marah dan kesal. Jika orang tak kuat batin, rasanya susah berdekatan dengan beliau

Saat yang paling penting dalam kehidupannya, di saat-saat menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, demikian Fatmawati. Ibu Negara ini yang menggunting dan menjahit bendera pusaka yang kini disimpan. Di masa-masa pergolakan ada beberapa catatan penting tentang soal yang bisa saja dianggap remeh-remeh. Misalnya: Kunjungan beliau yang pertama ke luar negeri adalah ke India. Beliau ketika itu memakai perhiasan pinjaman dari isteri Sekretaris Negara, seorang keturunan bangsawan kraton yang kebetulan punya persediaan.

Tentang Yogya - dan Fatma berdiam di gedung yang kini namanya Gedung Negara -- ia menulis: "Satu kali kami menjamu Merle Cochran dengan perabot dan pecah-belah pinjaman dari kiri-kanan dengan protokol `perjuangan`nya." Artinya: protokol yang juga sibuk pinjam taplak meja di rumah lain kalau kebetulan ada tamu negara. Juga protokol yang, tanpa bisa dilihat oleh tamu negara, bersembunyi dan memberi tahukan kepada Bung Karno, kapan dia harus angkat gelas. Istana waktu itu memang bukan Istana yang sekarang.

Fatmawati meninggal pada tahun 1980 dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Ia adalah istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Dari pernikahananya dengan Soekarno ia dikaruniai 5 orang anak.


Hartini Soekarno


Posted Image


Hartini Soekarno, Lahir di Ponorogo Jawa imur pada tanggal 20 September 1924 beragama Islam. Hartini menempuh pendidikan awal di HIS ( Holland Indlands School ) dan terakhir Kelas dua SMA yaitu pada tahun 1942. Wanita Karir di bidang Wiraswasta ini beralamat di Jalan Proklamasi No. 62 di Jakarta Pusat.

Enam belas tahun dalam suka maupun duka, Hartini setia mendampingi suaminya hingga wafat. Resmi menjadi istri Soekarno, setahun setelah pertemuannya yang pertama di Prambanan, Yogyakarta tahun 1952. Ketika itu ia sudah menjadi janda berusia 28 tahun. Dengan suaminya yang pertama, Suwondo, ia dikaruniai lima anak. Menikah dengan Soekarno, ia mendapat dua anak.

Biasa dipanggil Tien, ia anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya, Osan, pegawai kehutanan, mendidiknya secara tradisional. Tidak mengherankan bila Tien berpendidikan formal hanya hingga kelas dua SMA. Pendapatnya tentang istri cukup sederhana. Selain sebagai istri, kita juga adalah ibu, kawan, dan kekasih bagi suami.

Sebagai ibu, menurut Tien, bila suami sakit harus dilayani dengan cermat. Meminumkan obat, memijati, dan mengelusnya hingga terlena. Sebagai kawan, di mana dan kapan pun, patut mengimbangi pembicaraannya. Ia banyak membaca dan rajin mengumpulkan informasi, agar mampu menjadi kawan bicara yang baik dan bijak.

Awet muda dan tampak cantik dalam usia 60 tahun. Rahasia kecantikan Hartini, setiap bangun pagi ia segera minum segelas air putih dan olah raga ringan. Juga minum jamu ramuan sendiri berupa kunyit, daun asam, temu, asem kawak, daun beluntas, dan gula merah, yang direbusnya. Ia minum jamu dua kali sehari dan tidak makan yang amis, seperti ikan dan telur.


Ratna Sari Dewi Soekarno


Posted Image


Ratna Sari Dewi yang berdarah Jepang bernama asli Naoko Nemoto, merupakan istri kelima dari mantan presiden Republik Indonesia yang pertama yaitu Ir. Soekarno, wanita kelahiran Tokyo, 6 Februari 1940. Yang dinikahi oleh Soekarno pada tahun 1962 itu terdaftar dengan nama lengkap Ratna Sari Dewi Soekarno yang beralamat di Shibuya-Ku, Kamiyama-Cho, 31-1, Tokyo.

Bagaimana pula dengan Naoko Nemoto? Dialah geisha yang begitu sempurna di mata Sukarno. Kecantikannya begitu mempesona, sehingga tak kuasa Sukarno meredam hasrat cintanya yang berkobar-kobar. Gadis Jepang ini lahir tahun 1940, sebagai anak perempuan ketiga seorang pekerja bangunan di Tokyo. Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai ia lulus sekolah lanjutan pertama pada tahun 1955.

Setahun kemudian, ia mengundurkan diri, dan menekuni profesi geisha Akasaka’s Copacabana yang megah, salah satu kelab malam favorit yang sering dikunjungi para tamu asing. Ke kelab inilah Sukarno datang pada 16 Juni 1959. Bertemu Naoko, dan jatuhlah hatinya. Setelah itu, Bung Karno masih bertemu Naoko dua kali di hotel Imperial, tempat Bung Karno menginap. Akan tetapi, versi lain menyebutkan, pertemuan keduanya terjadi setahun sebelumnya, di tempat yang sama.

Usai lawatan dua pekan, Bung Karno kembali ke Jakarta. Tapi sungguh, hatinya tertinggal di Tokyo… hatinya melekat pada gadis cantik pemilik sorot mata lembut menusuk, sungging senyum yang lekat membekas. Seperti biasa, Bung Karno mengekspresikan hatinya melalui surat-surat cinta. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Isyarat itu ia tangkap melalui surat balasan Naoko.

Tak lama, Bung Karno segera melayangkan undangan kepada Naoko untuk berkunjung ke Indonesia. Sukarno bahkan menemaninya dalam salah satu perjalanan wisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta makin subur bersemi di hati keduanya. Terlebih ketika Naoko menerima pinangan Bung Karno, dan mengganti namanya dengan nama pemberian Sukarno. Jadilah Naoko Nemoto menjadi Ratna Sari Dewi. Orang-orang kemudian menyebutnya Dewi Soekarno.

Tanggal pernikahan keduanya, ada dua versi. Satu sumber menyebut, keduanya menikah diam-diam pada tanggal 3 Maret 1962, bersamaan dengan peresmian penggunaan nama baru: Ratna Sari Dewi berikut hak kewarganegaraan Indonesia. Sumber lain menyebut mereka menikah secara resmi bulan Mei 1964. Agaknya, sumber pertamalah yang benar.

Lepas dari kapan Bung Karno menikahi Ratna Sari Dewi, akan tetapi, cinta Bung Karno kepadanya begitu meluap-luap. Jika ia bertestamen agar dimakamkan di sisi makam Hartini, maka terhadap Ratna Sari Dewi, Bung Karno bertestamen agar dimakamkan dalam satu liang.

Faktanya, Hartini dan Ratna Sari Dewi yang begitu terlibat secara emosional pada hari terakhir kehidupan Bung Karno. Hartini yang setia mendampingi di saat ajal menjemput. Hartini pun tahu, dalam keadaan setengah sadar di akhir-akhir hidupnya, Bung Karno membisikkan nama Ratna Sari Dewi. Hal itu diketahui pula oleh Rachmawati.

Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di akhir hayat, luluh hatinya. Tak ada lagi rasa “tak suka” kepada Hartini maupun Ratna Sari Dewi. Rachma sadar, ayahnya begitu mencintai Hartini dan Dewi, sama seperti besarnya cinta Bung Karno kepada Fatmawati, ibunya.

Buah asmara Bung Karno – Ratna Sari Dewi adalah seorang gadis cantik yang diberinya nama Kartika Sari Dewi atau akrab disapa Karina. Bung Karno sempat menimang bayi Kartika, meski jalan hidupnya tak memungkinkan untuk mendampinginya tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. (roso daras)


Haryati



Posted Image


Haryati adalah seorang penari di Pejabat Setiausaha Negara. Mereka berkahwin pada tahun 1963 dan bercerai tiga tahun kemudian. Sukarno seterusnya berkahwin dengan Yurike Sanger pada tahun 1964, perkahwinan itu juga hanya bertahan tiga tahun.

Begitu juga dengan Kartini Manoppo, bekas pramugari syarikat penerbangan Indonesia, Garuda. Sukarno jatuh cinta pada Kartini apabila melihat potret wajah wanita itu yang dilukis oleh Basuki Abdullah. Mereka bernikah pada tahun 1959 dan memperoleh anak pada tahun 1967. Anak itu diberi nama Totok Suryawan Manoppo.

Isteri terakhir yang dinikahi secara rasmi oleh Sukarno ialah Heldy Djafar setahun sebelum kejatuhannya sebagai presiden pada tahun 1967. Perkahwinan dengan Heldy hanya berlangsung selama dua tahun kerana selepas kejatuhannya Sukarno dihumban ke dalam tahanan di Wisma Yaso, Jakarta. Heldy adalah istri yang memegang rekor beda usia di antara deretan istri si mantan presiden. Saat menikah pada 1966, usia keduanya terpaut 48 tahun.

Sumber : kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Detik-Detik Menjelang Kepergian Soekarno

Jakarta , Selasa, 16 Juni 1970.

Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi.

Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik

strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan

berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran

parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus

mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari

rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.



Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat

sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di

pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang

hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu

tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya

kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan

berwibawa dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad,

sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup.



Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah

membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya

bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu

mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau,

kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar.

Menahan sakit.

Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini

tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.



Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian, Megawati, anak

sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya.

Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya,

kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke

telinga manusia yang

paling dicintainya ini.





"Pak,Pak,iniEgaâ?¦" .Senyap.



Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir

Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin

mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui

kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya

bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi

tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai.

Soekarno terdiam lagi.



Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang

sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu

menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati

menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak.

Di luar kamar, sepasukan tentara terus

berjaga lengkap dengan senjata.



Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara

hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya. Keesokan

hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega

lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan

Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil

dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak

terperi, Soekarno berkata lemah.



"Hatta.., kau di sini..?".



Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau

kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam

kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar.

Sedikit tersenyum menghibur.



"Ya, bagaimana keadaanmu, No?" . Hatta menyapanya dengan sebutan yang

digunakannya di masa lalu.Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.

Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang

sangat dihormatinya ini.



Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya

dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika

mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. "Hoe gaat het met jouâ?¦?" Bagaimana

keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.



Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di

depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak

lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga

tumpah. Hatta ikut menangis.



Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah

takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat

dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya

siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa

dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.



"Noâ?¦"



Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan

lebih. bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya

terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa

baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik

antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali

tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih

memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.



Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi

Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno

yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi

membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini

menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan

puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit.

Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.



Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter

kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang

paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai

seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan

lama lagi.



Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi

Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan

kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian

tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu

terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua

matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak

bergerak lagi. Kini untuk selamanya sang Proklamator telah pergi. Situasi

di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara

burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang

begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang

pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi

banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang

manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu

satu abad. Manusia itu kini telah tiada.



Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter

kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi:

Soekarno telah berpulang ke pangkuan sang pencipta

Detik-Detik Menjelang Kepergian Soekarno

Jakarta , Selasa, 16 Juni 1970.

Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi.

Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik

strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan

berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran

parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus

mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari

rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.



Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat

sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di

pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang

hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu

tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya

kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan

berwibawa dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad,

sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup.



Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah

membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya

bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu

mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau,

kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar.

Menahan sakit.

Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini

tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.



Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian, Megawati, anak

sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya.

Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya,

kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke

telinga manusia yang

paling dicintainya ini.





"Pak,Pak,iniEgaâ?¦" .Senyap.



Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir

Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin

mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui

kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya

bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi

tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai.

Soekarno terdiam lagi.



Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang

sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu

menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati

menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak.

Di luar kamar, sepasukan tentara terus

berjaga lengkap dengan senjata.



Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara

hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya. Keesokan

hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega

lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan

Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil

dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak

terperi, Soekarno berkata lemah.



"Hatta.., kau di sini..?".



Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau

kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam

kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar.

Sedikit tersenyum menghibur.



"Ya, bagaimana keadaanmu, No?" . Hatta menyapanya dengan sebutan yang

digunakannya di masa lalu.Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.

Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang

sangat dihormatinya ini.



Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya

dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika

mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. "Hoe gaat het met jouâ?¦?" Bagaimana

keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.



Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di

depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak

lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga

tumpah. Hatta ikut menangis.



Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah

takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat

dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya

siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa

dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.



"Noâ?¦"



Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan

lebih. bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya

terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa

baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik

antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali

tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih

memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.



Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi

Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno

yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi

membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini

menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan

puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit.

Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.



Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter

kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang

paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai

seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan

lama lagi.



Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi

Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan

kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian

tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu

terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua

matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak

bergerak lagi. Kini untuk selamanya sang Proklamator telah pergi. Situasi

di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara

burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang

begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang

pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi

banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang

manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu

satu abad. Manusia itu kini telah tiada.



Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter

kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi:

Soekarno telah berpulang ke pangkuan sang pencipta