Tampilkan postingan dengan label Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

Sejarah Kota Palembang

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Batu-bersurat (prasasti) itu ditemukan oleh Controleur Batenberg di tepi sungai Kedukan Bukit, yakni diantara Bukit Seguntang dengan Situs Karanganyar pada tahun 1926 dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Prasasti tersebut oleh penduduk kampung Kedukan Bukit waktu itu dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti lomba Bidar, yakni dengan cara meletakkan di haluan Bidar yang akan diperlombakan. Konon, Bidar atau Perahu yang digentoli dengan batu “sakti-bertuah” itu senantiasa menang berlomba. Kemudian Batu-bersurat Kedukan Bukit itu ditelaah oleh para pakar sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M. Yamin yang menyatakan, itulah proklamasi (penggalian/pemindahan) ibukota Sriwijaya (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.

Prasasti Kedukan Bukit itu berbunyi sebagai berikut:

(1) Swasti cri cakawarsatita 605 ekadaci cu (2) klapaksa wulan waicakha dapunta hiyang nayik di (3) samwau manalap siddhayatra disaptami cuklapaksa (4) wulan jyesta dapunta hiyang marlapas dari Minanga (5) Tamvan mamawa yam wala dualaksa danan koca (6) duaratus cara di samwau danan jalan sariwu (7) tluratus sapulu dua wannakna datam di Mukha Upang (8) Sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan (9) laghu mudita datam marwuat wanua (10) Criwijava siddhayatra subhiksa.

[Bacaan Prof. Poerbacaraka, G. Coedes, Prof. Dr. Ph.S. Van Ronkel Dr. Buchari, Prof. Slametmulyana]

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Berbicara mengenai asal usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama. Pada abad ke-17 kota Palembang menjadi ibukota Kesultanan Palembang Darussalam yang diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa). Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama. Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI. Berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.

Sejarah Kota Palembang

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Batu-bersurat (prasasti) itu ditemukan oleh Controleur Batenberg di tepi sungai Kedukan Bukit, yakni diantara Bukit Seguntang dengan Situs Karanganyar pada tahun 1926 dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Prasasti tersebut oleh penduduk kampung Kedukan Bukit waktu itu dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti lomba Bidar, yakni dengan cara meletakkan di haluan Bidar yang akan diperlombakan. Konon, Bidar atau Perahu yang digentoli dengan batu “sakti-bertuah” itu senantiasa menang berlomba. Kemudian Batu-bersurat Kedukan Bukit itu ditelaah oleh para pakar sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M. Yamin yang menyatakan, itulah proklamasi (penggalian/pemindahan) ibukota Sriwijaya (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.

Prasasti Kedukan Bukit itu berbunyi sebagai berikut:

(1) Swasti cri cakawarsatita 605 ekadaci cu (2) klapaksa wulan waicakha dapunta hiyang nayik di (3) samwau manalap siddhayatra disaptami cuklapaksa (4) wulan jyesta dapunta hiyang marlapas dari Minanga (5) Tamvan mamawa yam wala dualaksa danan koca (6) duaratus cara di samwau danan jalan sariwu (7) tluratus sapulu dua wannakna datam di Mukha Upang (8) Sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan (9) laghu mudita datam marwuat wanua (10) Criwijava siddhayatra subhiksa.

[Bacaan Prof. Poerbacaraka, G. Coedes, Prof. Dr. Ph.S. Van Ronkel Dr. Buchari, Prof. Slametmulyana]

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Berbicara mengenai asal usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama. Pada abad ke-17 kota Palembang menjadi ibukota Kesultanan Palembang Darussalam yang diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa). Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama. Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI. Berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.

Situs Kota China dan Sejarah Awal Kota Medan

Berbicara tentang keberadaan Kota Medan sekarang ini, maka tidak bisa dilepaskan dari aspek historisnya yang merujuk pada kawasan situs Kota China yakni Bandar Pelabuhan yang ramai dikunjungi pada permulaan abad ke-12 hingga awal abad ke-14.

Pada masa itu, berdasarkan bukti-bukti arkeoologisnya (Archeological Evidence) diketahui cenderung merujuk pada era kedinastian Sung, Yuan dan Ming di China. Demikian pula temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa komunitas pedagang yang berasal dari mancanegara seperti China, Johor, Jawa, Burma, Thailand pernah singgah ke Bandar Pelabuhan yang terletak di pesisir timur pantai Sumatera Utara.

Keberadaan situs Kota China diketahui pada akhir abad 19 pada waktu kunjungan Anderson. Kemudian pada 1875 Halewijn (1876) mencatatnya dengan nama Kota China. Pada saat itu terdapat puluhan rumah tangga yang dikontrol oleh Sultan Deli di Labuhan. Kampung terjuan dan Hamparan Perak terletak hanya beberapa kilometer dsebelah barat. Lalu, di sebelahnyaterdapat Suku DuaBelasKota yang dikontrol oleh Kejuruan Hamparan Perak yakni seorang Melayu Karo (Veth,1877).

Catatan awal keberadaan kawasan ini ditemukan dari riwayat perjalanan John Anderson, seorang Scotisch yang diutus dari Penang pada tahun 1823 dalam bukunya: "Mission to the East Coast of Sumatera and Malay Peninsula" yang menyebutkan bahwa didaerah tersebut terdapat batu bertulis yang masyarakat tidak dapat membaca.

Anderson juga mengingatkan akan pentingya Sei Deli sebagai jalur pelayaran sungai (riverine) dan pintu masuk (entrance) menghubungkan dataran tinggi (hinterland) dan lembah Deli.

Catatan Anderson tersebut dipublikasikan pada Tijdschrift von het BataviascheGenootshap yang pada 1882, yakni 20 tahun setelah pengusaha Belanda menginjakkan kakinya diDeli, Controleur Labuhan Deli berkeinginan menyelidiki inskripsi sebagaimana yang dimaksud Anderson tersebut, tetapi tidak menemukan batu bertulis tersebut.

Situs Kota China dan Sejarah Awal Kota Medan

Berbicara tentang keberadaan Kota Medan sekarang ini, maka tidak bisa dilepaskan dari aspek historisnya yang merujuk pada kawasan situs Kota China yakni Bandar Pelabuhan yang ramai dikunjungi pada permulaan abad ke-12 hingga awal abad ke-14.

Pada masa itu, berdasarkan bukti-bukti arkeoologisnya (Archeological Evidence) diketahui cenderung merujuk pada era kedinastian Sung, Yuan dan Ming di China. Demikian pula temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa komunitas pedagang yang berasal dari mancanegara seperti China, Johor, Jawa, Burma, Thailand pernah singgah ke Bandar Pelabuhan yang terletak di pesisir timur pantai Sumatera Utara.

Keberadaan situs Kota China diketahui pada akhir abad 19 pada waktu kunjungan Anderson. Kemudian pada 1875 Halewijn (1876) mencatatnya dengan nama Kota China. Pada saat itu terdapat puluhan rumah tangga yang dikontrol oleh Sultan Deli di Labuhan. Kampung terjuan dan Hamparan Perak terletak hanya beberapa kilometer dsebelah barat. Lalu, di sebelahnyaterdapat Suku DuaBelasKota yang dikontrol oleh Kejuruan Hamparan Perak yakni seorang Melayu Karo (Veth,1877).

Catatan awal keberadaan kawasan ini ditemukan dari riwayat perjalanan John Anderson, seorang Scotisch yang diutus dari Penang pada tahun 1823 dalam bukunya: "Mission to the East Coast of Sumatera and Malay Peninsula" yang menyebutkan bahwa didaerah tersebut terdapat batu bertulis yang masyarakat tidak dapat membaca.

Anderson juga mengingatkan akan pentingya Sei Deli sebagai jalur pelayaran sungai (riverine) dan pintu masuk (entrance) menghubungkan dataran tinggi (hinterland) dan lembah Deli.

Catatan Anderson tersebut dipublikasikan pada Tijdschrift von het BataviascheGenootshap yang pada 1882, yakni 20 tahun setelah pengusaha Belanda menginjakkan kakinya diDeli, Controleur Labuhan Deli berkeinginan menyelidiki inskripsi sebagaimana yang dimaksud Anderson tersebut, tetapi tidak menemukan batu bertulis tersebut.

Sumatra Tempoe Doeloe

Air Mantjoer in de Kloof van Singgalang (Anai-kloof) op Sumatra's Westkust-1 1880



alai te Lawang bij Matoer ten westen van Fort de Kock 1900



Altaar van de klenteng te Padang 1880


arau teompoe doelo 1880


Assistent-residentshuis te Solok 1910


Badplaats Ajer Tabit nabij Pajakoemboeh 1915


Balei Batipoe te Padangpandjang, Sumatra's Westkust 1880


Blik- en koperwerk op de markt te Pajakoemboeh 1920


Boekik Ambacang 1919


Brug en (links) spoorbrug te Singkarak, Sumatra's Westkust 1920


Brug en spoorbrug bij het meer van Singkarak, Sumatra's Westkust 1920


Brug in de weg van Pajakoemboeh naar (vermoedelijk) Pakanbaroe 1920


Brug in Siloenkang, afd. Tanah Datar, Sumatra's Westkust 1920


Bruiloftsgezelschap voor een woning te Kota Gedang 1900


Bus van de autobusdienst van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust tussen Padangpandjang


danau maninjau 1880


Dans en muziek tijdens feestelijkheden te Soengei Poear op Sumatra's Westkust 1990


Dansende mannen tijdens feestelijkheden te Soengei Poear op Sumatra's Westkust 1895


Datoe Toemenggoeng Soetan Soeliman, Laras-hoofd te Soengei Poear in Oud-Agam


De apenberg met het Puttertje te Padang 1901


De grot van Kamang bij Fort de Kock 1920


De Nagari-huizen die L.C. Westenenk heeft laten bouwen in Fort van der Capellen 1910


De races te Fort de Kock 1911


De residentswoning van Fort de Kock 1900


De visloods en de vleesloods op een pasar te Fort de Kock 1906


De vlakte van Agam, Sumatra's Westkust 1900


Depot te Solok van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust 1935


Drijfjacht op wilde varkens te Tilatang bij Fort de Kock-1 1911


e pasar te Pajakoemboh, Sumatra's Westkust 1910


Emmahaven met de goenoeng Meroe bij Padang 1935


Emmahaven met de kolenviaducten van de Ombilin Maatschappij bij Padang 1901


emontage van de spoorbrug bij het opbreken van de lijn tussen Pajakoemboeh en Limbanang


Emplacement te Fort de Kock van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust 1935


Emplacement te Singkarak van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust 1935


Emplacement van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust te Padangpandjang 1935


F.W.J.H. Tengbergen voor zijn huis te Padang 1900


Familie te Pajakoemboeh 1900


Fort de Kock in 1826


Fort de Kock, gezien vanuit de watertoren, Sumatra 1938


Grot van Kamang bij Fort de Kock 1880


gunuang marapi


kawah merapi 1880


harau 1910


Haven van Padang 1867


mesdjit koto toeo 1880


muaro padang 1880


ngarai sianok 1900


ootjes te Moeara Padang 1880


oerang mentawai 1907

Sumatra Tempoe Doeloe

Air Mantjoer in de Kloof van Singgalang (Anai-kloof) op Sumatra's Westkust-1 1880



alai te Lawang bij Matoer ten westen van Fort de Kock 1900



Altaar van de klenteng te Padang 1880


arau teompoe doelo 1880


Assistent-residentshuis te Solok 1910


Badplaats Ajer Tabit nabij Pajakoemboeh 1915


Balei Batipoe te Padangpandjang, Sumatra's Westkust 1880


Blik- en koperwerk op de markt te Pajakoemboeh 1920


Boekik Ambacang 1919


Brug en (links) spoorbrug te Singkarak, Sumatra's Westkust 1920


Brug en spoorbrug bij het meer van Singkarak, Sumatra's Westkust 1920


Brug in de weg van Pajakoemboeh naar (vermoedelijk) Pakanbaroe 1920


Brug in Siloenkang, afd. Tanah Datar, Sumatra's Westkust 1920


Bruiloftsgezelschap voor een woning te Kota Gedang 1900


Bus van de autobusdienst van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust tussen Padangpandjang


danau maninjau 1880


Dans en muziek tijdens feestelijkheden te Soengei Poear op Sumatra's Westkust 1990


Dansende mannen tijdens feestelijkheden te Soengei Poear op Sumatra's Westkust 1895


Datoe Toemenggoeng Soetan Soeliman, Laras-hoofd te Soengei Poear in Oud-Agam


De apenberg met het Puttertje te Padang 1901


De grot van Kamang bij Fort de Kock 1920


De Nagari-huizen die L.C. Westenenk heeft laten bouwen in Fort van der Capellen 1910


De races te Fort de Kock 1911


De residentswoning van Fort de Kock 1900


De visloods en de vleesloods op een pasar te Fort de Kock 1906


De vlakte van Agam, Sumatra's Westkust 1900


Depot te Solok van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust 1935


Drijfjacht op wilde varkens te Tilatang bij Fort de Kock-1 1911


e pasar te Pajakoemboh, Sumatra's Westkust 1910


Emmahaven met de goenoeng Meroe bij Padang 1935


Emmahaven met de kolenviaducten van de Ombilin Maatschappij bij Padang 1901


emontage van de spoorbrug bij het opbreken van de lijn tussen Pajakoemboeh en Limbanang


Emplacement te Fort de Kock van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust 1935


Emplacement te Singkarak van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust 1935


Emplacement van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust te Padangpandjang 1935


F.W.J.H. Tengbergen voor zijn huis te Padang 1900


Familie te Pajakoemboeh 1900


Fort de Kock in 1826


Fort de Kock, gezien vanuit de watertoren, Sumatra 1938


Grot van Kamang bij Fort de Kock 1880


gunuang marapi


kawah merapi 1880


harau 1910


Haven van Padang 1867


mesdjit koto toeo 1880


muaro padang 1880


ngarai sianok 1900


ootjes te Moeara Padang 1880


oerang mentawai 1907