Sabtu, 11 Agustus 2012

Manifesto Politik Mahasiswa Indonesia

MANIFESTO POLITIK MAHASISWA INDONESIA

Menurut suratkabar Suara Pembaruan (6 Januari 2004) delapan organisasi kemahasiswaan mendeklarasikan "Manifesto Politik Mahasiswa Indonesia". Isi manifesto itu antara lain menolak masuknya politisi bermasalah ke lembaga legislatif dan eksekutif.

« Kedelapan organisasi itu adalah Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP-IMM), Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI), Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi) Pusat, Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

« Menurut Ketua PMII A Malik Haramain, Senin (5/1), di Jakarta, mereka telah menetapkan sejumlah kriteria untuk menentukan bermasalah atau tidaknya seorang politisi. Kriteria itu antara lain terlibat dalam kasus korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, perusakan lingkungan, kejahatan seksual, narkoba, tindak pidana, malas dan berkinerja buruk, serta penyalahgunaan kekuasaan.

« Berdasarkan kriteria tersebut, Malik menyebutkan Akbar Tandjung dan Wiranto digolongkan sebagai politisi bermasalah. "Kami meminta kedua politisi itu legowo untuk tidak mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau duduk di lembaga eksekutif, sampai ada putusan final terhadap perkara yang kini dihadapi kedua politisi itu," katanya.

« Organisasi mahasiswa yang mengeluarkan manifesto itu, lanjutnya, masih akan terus mengumpulkan data dan membuka posko pengaduan dari masyarakat menyangkut politisi bermasalah, kemudian mengumumkannya secara terbuka kepada masyarakat. "Kami berharap dalam pemilu 2004, masyarakat tidak memilih politisi bermasalah," tegasnya.

« Dalam manifesto itu, mahasiswa juga menolak bercokolnya kembali kekuatan lama, yakni militer, Orde Baru, dan kelompok yang tidak mendukung reformasi. Selain itu, para mahasiswa juga akan melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dengan menginformasikan kriteria kelompok reformis dan antireformis, kelompok orang bermasalah dan Orde Baru, serta mengajak publik untuk menolak dan melawan upaya partai politik melakukan politik uang dan teror politik ». (kutipan dari Suara Pembaruan selesai)

MANIFESTO POLITIK YANG BERSEJARAH

Diumumkannya Manifesto Politik Mahasiswa Indonesia oleh delapan organisasi mahasiswa tersebut merupakan perkembangan penting dalam kehidupan kemahasiswaan, yang pada waktu akhir-akhir ini mengalami semacam « pasang surut », dan karenanya suaranya terasa kurang bergema dalam kehidupan nasional kita. Ini berlainan dengan tahun-tahun 1997 dan 1998, ketika gerakan mahasiswa secara besar-besaran telah merupakan motor pendobrak untuk menggulingkan rezim militer Suharto dkk dan melancarkan reformasi di semua bidang kehidupan negara dan bangsa yang telah dirusak atau dibusukkan oleh Orde Baru.

Manifesto politik mahasiswa Indonesia ini dikeluarkan pada saat yang amat tepat, yaitu ketika bangsa kita sedang menghadapi tugas besar pemilu, dan ketika situasi negeri kita makin menunjukkan keprihatinan yang serius di berbagai bidang, terutama di bidang moral atau akhlak. Ketika bangsa kita sedang menghadapi ekonomi yang sulit, atau utang yang banyak dan pengangguran yang membengkak , para « tokoh » dan para politisi kita kelihatan sibuk sekali mencari segala peluang untuk memperkaya diri dengan korupsi atau kejahatan-kejahatan dalam bentuk lainnya.

Berbagai kesulitan atau kerusakan yang dihadapi oleh bangsa dan negara kita dewasa ini ada hubungannya yang erat dengan membusuknya akhlak atau moral para tokoh dan para politisi kita, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang dididik atau « dibina » selama puluhan tahun oleh rezim militer Orde Baru. Dari segi ini dapat dilihat betapa pentingnya Manifesto PolitikMahasiswa Indonesia. Dapatlah kiranya dikatakan bahwa Manifesto Politik tersebut adalah termasuk peristiwa yang bersejarah bagi angkatan muda kita.

INVESTASI HARI DEPAN INDONESIA

Sesudah tergulingnya Suharto dari tampuk kekuasaan, banyak orang mengharapkan bahwa berbagai pemerintahan yang menggantikannya akan bisa memperbaiki kerusakan-kerusakan berat yang dibikin oleh rezim mikliter Orde Baru selama 32 tahun. Tetapi, nyatanya, pemerintahan Habibi, Abdurrahman Wahid, dan Megawati-Hamzah sekarang iniu tidak bisa berbuat banyak sekali untuk mendatangkan perobahan-perobahan yang mendasar. Kerusakan dan pembusukan yang ditimbulkan rezim militer ternyata begitu besarnya, sehingga tidak mudah untuk diperbaiki dalam tempo singkat. Di samping itu, sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih begitu kuatnya atau begitu luasnya, sehingga kekuatan pro-reformasi atau pro-demokrasi menghadapi banyak kesulitan dalam menjalankan tugasnya.

Dalam situasi menjelang pemilu, di mana partai-partai mulai sibuk mempersiapakan diri dalam perebutan suara, atau dagang sapi yang penuh dengan kongkalikong dan kompromi, atau pencarian dana dengan cara-cara haram dan bathil (korupsi, selingkuh, penyelewengan atau pencurian) itulah dikeluarkan Manifesto Politik inj. Manifesto ini adalah suara generasi muda yang sudah muak (dan marah !) melihat situasi bangsa dan negara yang begitu rusak oleh karena kelakuan atau perbuatan para politisi kita.

Arti penting dan bersejarah Manifesto ini adalah bahwa ini dilahirkan oleh angkatan muda dari berbagai aliran politik dan agama. Ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan besar yang dituangkan dalam Manifesto ini merupakan platform bersama angkatan muda dewasa ini, dan sekaligus juga program kegiatan atau program perjuangan bersama. Tekad bersama yang dicantumkan dalam Manifesto Politik ini merupakan investasi politik (dan moral) yang amat penting dan berharga bagi HARI DEPAN negara dan bangsa kita.

MANIFESTO POLITIK YANG BESAR ARTINYA

Dalam Manifesto Politik ini angkatan muda Indonesia – melalui 8 organisasi mahasiswanya – telah secara tegas dan jelas menolak masuknya politisi yang bermasalah dalam lembaga legislatif dan eksekutif, yaitu orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, perusakan lingkungan, kejahatan seksual, narkoba, tindak pidana, malas dan berkinerja buruk, serta penyalahgunaan kekuasaan.

Isi yang juga amat penting dalam Manifesto ini adalah penegasan bahwa mahasiswa juga menolak bercokolnya kembali kekuatan lama, yakni militer, Orde Baru, dan kelompok yang tidak mendukung reformasi. Selain itu, para mahasiswa juga akan melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dengan menginformasikan kriteria kelompok reformis dan antireformis, kelompok orang bermasalah dan Orde Baru, serta mengajak publik untuk menolak dan melawan upaya partai politik melakukan politik uang dan teror politik.

Ketegasan sikap dalam menolak bercokolnya kembali kekuatan lama, yakni militer, Orde Baru dan kelompok yang tidak mendukung reformasi, membuktikan bahwa angkatan muda Indonesia (termasuk mahasiswa) lewat Manifesto Politik ini sudah bertekad untuk meninggalkan samasekali atau berpisah dengan « kekuatan lama » ini. Karena, angkatan muda Indonesia melihat bahwa sudah tidak punya harapan lagi bahwa « generasi Orde Baru » (antara lain : generasi KAMI, KAPPI, Pemuda Pancasila, dan berbagai organisasi lainnya yang bernaung di bawah Golkar) masih bisa berbuat sesuatu yang baik atau berguna demi kepentingan bangsa dan negara.

PERLU DAPAT DUKUNGAN YANG LUAS

Mengingat besarnya arti Manifesto Politik dalam menghadapi masalah-masalah besar dan rumit sebelum dan sesudah Pemilu, maka jelas bahwa sudah semestinya kalau seluruh kekuatan pro-demokrasi dan pro-reformasi –tidak peduli dari kalangan yang mana pun atau golongan apa pun – memberi dukungan yang sebesar-besarnya terhadap tekad yang baik dari angkatan muda kita ini. Selain itu, Manifesto Politik ini perlu jadi pegangan bersama bagi berbagai organisasi mahasiswa di seluruh universitas di Indonesia.

Manifesto Politik Mahasiswa Indonesia yang isinya begitu penting adalah pertanda yang menggembirakan bahwa ketika banyak orang sudah pesimis menghadapi banyaknya kerusakan atau kebobrokan di negeri kita, angkatan muda kita mengambil sikap yang tegas dan angkat suara. Dan yang lebih menggembirakan lagi yalah bahwa sikap bersama ini bersifat lintas-partai, lintas-golongan, lintas-agama, dan lintas-ideologi. Ini mencerminkan jiwa dan pandangan Bhinneka Tunggal Ika, yang pada saat-saat ini terasa sangat dibutuhkan..

Manifesto Politik Mahasiswa Indonesia adalah program politik yang besar dari angkatan muda , sebagai perlawanan atau koreksi terhadap generasi Orde Baru atau Angkatan 66 (dan sebagian Angkatan 45). Di sini pulalah terletak kebesarannya, sebagai sumbangan kepada perjuangan selanjutnya generasi yang akan datang.

Paris 9 Januari 2004

Jumat, 10 Agustus 2012

Fakta Seputar Proklamasi

Fakta seputar proklamasi

Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Beliau terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan de Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi.

Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.

“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!

Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar orang Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Anwar Ibrahim (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood. Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan Prince Soekarno!

Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Perilocoso (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas! “Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar!” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru

Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Pemerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).

Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!

Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekrit, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bung Karno. Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

(disari dari berbagai sumber)

Kamis, 09 Agustus 2012

Soal G30S : Bung Karno dan Suharto

SOAL G30S, BUNG KARNO DAN SUHARTO

Sebentar lagi akan datang 30 September. Bagi banyak orang, di masa yang lalu, tanggal ini dan hari-hari berikutnya, merupakan hari yang mengandung kenang-kenangan yang penuh kepedihan dan kegetiran. Bahkan, bagi sebagian bangsa kita, penderitaan yang diakibatkan buntut peristiwa G30S masih dirasakan sampai sekarang, lebih dari 37 tahun kemudian. Kekuasaan rezim militer Orde Baru di bawah pimpinan Suharto dkk, telah membikin peristiwa 30 September 1965 sebagai dasar serentetan pengkhianatan terhadap Bung Karno dan Republik Indonesia, dan sebagai sumber berbagai pelanggaran HAM secara besar-besaran yang dilakukan selama puluhan tahun.

Selama ini, sudah banyak yang ditulis – atau dibicarakan – tentang G30S serta buntutnya yang panjang. Tetapi selama jangka waktu yang lama ini, sebagian terbesar tulisan mengenai peristiwa ini, serta berbagai akibatnya, hanya menyajikan versi sefihak yang banyak diputarbalikkan atau dipalsu oleh para pendukung rezim militer. Oleh karena itu, perlu terus didorong lahirnya berbagai macam tulisan -atau kegiatan lainnya - tentang G30S serta akibatnya, yang memungkinkan kita bersama untuk meninjaunya dari banyak sudut pandang. Sebab, sekarang makin jelas bagi banyak orang bahwa G30S sebenarnya mengandung persoalan-persoalan yang rumit dan punya latar-belakang politik dan sejarah yang panjang dan berliku-liku. Jadi, masalah G30S bukanlah masalah yang sederhana. Dan, karenanya, makin banyak kalangan mempersoalkan berbagai aspek G30S adalah makin baik bagi bangsa dan generasi yang akan datang.

FAKTOR DALAM NEGERI DAN LUAR NEGERI

Peristiwa G30S, seperti banyak persoalan besar lainnya, dipengaruhi berbagai faktor sejarah, dan faktor dalamnegeri dan luarnegeri. Di antara faktor-faktor itu terdapat faktor Bung Karno; yang merupakan lambang terpusat perjuangan nasional untuk kemerdekaan melawan kolonialisme dan imperialisme (ingat pidato Bung Karno “Indonesia menggugat” dan kumpulan pidato-pidato beliau dalam “Di bawah Bendera Revolusi”). Ada juga faktor-faktor PKI, sebagian golongan Islam dan Angkatan Darat. Di samping itu, ada faktor perang dingin, sebagai perkembangan internasional penting sesudah Perang Dunia ke-II. Saling keterkaitan berbagai faktor dalamnegeri dan faktor luarnegeri ini tercermin di Indonesia dalam peristiwa-peristiwa penting, antara lain (sekadar menyebutkan sejumlah kecil contoh-contohnya) : revolusi 45, Konferensi Bandung 1955, pembrontakan PRRI-Permesta, politik konfrontasi Malaisia, Trikora, perang Vietnam, masalah Taiwan, hubungan Indonesia-RRT

Di antara faktor-faktor dalam negeri adalah naiknya prestise PKI sesudah pemilu tahun 1955. Kenaikan prestise PKI ini membikin tidak senangnya sebagian dari TNI-AD, dan juga sebagian negeri-negeri Barat. Sejumlah perwira-perwira TNI-AD, dengan mendapat sokongan Amerika Serikat (CIA) melakukan pembrontakan terhadap pemerintahan pusat di tahun 1958, dengan mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang disokong oleh partai politik Masjumi dan PSI. (Ingat juga peristiwa penerbang AS Allan Pope yang ditembak jatuh di Ambon tahun 1958).

Bung Karno, yang waktu itu merupakan tokoh internasional dalam melawan imperialisme dan kolonialisme (ingat, antara lain : gerakan Non-blok, Ganefo, Konferensi Wartawan Asia-Afrika, Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing) mendapat dukungan yang besar dari PKI. Berbagai politik Bung Karno jelas-jelas tidak menguntungkan kepentingan sejumlah negeri-negeri Barat. Politik negeri-negeri Barat tertentu ini punya pengikut juga di Indonesia, termasuk di kalangan Angkatan Darat dan sebagian golongan Islam.

MENGHANCURKAN PKI UNTUK MENGGULINGKAN BUNG KARNO

Dalam jangka waktu lama sekali (lebih dari 32 tahun), para pendiri rezim militer Orde Baru menyajikan kepada opini umum bahwa persoalan G30S adalah terutama berkaitan dengan PKI. Bahkan, nama resmi yang diberikan kepada peristiwa ini adalah GESTAPU/PKI. Tetapi, dalam berbagai kesempatan, pimpinan Angkatan Darat dan para pendukung Orde Baru lainnya menuduh bahwa dalam peristiwa ini Bung Karno “terlibat”, atau tidak mau bertindak tegas, atau bahkan bersimpati kepada PKI. Selalu dikemukakan oleh mereka bahwa PKI adalah dalang G30S atau penggeraknya. Bahwa sejumlah pimpinan PKI terlibat dalam rencana sejumlah perwira-perwira militer untuk mencetuskan G30S ini telah diakui sendiri oleh para pemimpin PKI. Tetapi, tidaklah bisa dikatakan bahwa PKI sebagai partai secara keseluruhan ikut terlibat dalam G30S.

Sampai sekarang, banyak sekali hal yang bersangkutan dengan G30S yang masih tetap menjadi misteri atau masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab secara tuntas. Misalnya : sampai di manakah kebenaran berita bahwa Dewan Jenderal mau mengadakan kudeta? Siapakah sebenarnya Syam Kamaruzaman itu? Apakah Suharto sudah mengetahui rencana G30S? Sampai di manakah CIA tersangkut dalam peristiwa ini? Apa sajakah peran Bung Karno dalam menghadapi G30S dan sesudahnya?


ARTI TERGULINGNYA BUNG KARNO DAN HANCURNYA PKI

Sedikit demi sedikit, dan berangsur-angsur, sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan itu sudah mulai ada jawabannya. Meskipun masih banyak soal G30S yang belum jelas benar duduk perkaranya, tetapi satu hal sudah pasti, yaitu bahwa rezim militer Suharto dkk menjadikan masalah ini sebagai kesempatan untuk menghancurkan PKI dan melalui kehancuran PKI ini untuk kemudian menggulingkan Bung Karno. Dan hal yang sudah pasti lainnya, yalah bahwa hancurnya kekuatan PKI dan jatuhnya Bung Karno adalah merupakan “kemenangan” kubu imperialis, yang diketuai oleh AS.

Jadi, sekarang makin jelas bagi banyak orang bahwa dalam meninjau masalah G30S kita harus juga berusaha memperhitungkan faktor Bung Karno. Sebab, akhirnya, nasib Bung Karno terkait erat juga dengan peristiwa G30S ini. Para pendukung rezim militer Suharto memberi julukan “Gestapu Agung” kepada Bung Karno, dan kemudian digulingkan dari kedudukan beliau sebagai presiden. Beliau telah dikenakan tahanan rumah secara ketat, sesudah dijadikan sasaran demontrasi yang terus-menerus digerakkan oleh pimpinan Angkatan Darat. Bung Karno, panglima tertinggi ABRI, meninggal dalam tahanan Angkatan Darat sesudah mengalami berbagai siksaan batin dan jasmani.

Rezim militer Suharto dkk – yang didukung oleh Angkatan Darat dan Golkar sebagai tulang-punggung – telah bertindak secara amat kejam dalam menumpas kekuatan PKI. Dengan tujuan utama menyingkirkan Bung Karno dari tampuk pimpinan negara dan bangsa, maka Suharto dkk menghancurkan lebih dahulu kekuatan PKI. Sebab, jelas bahwa sejak akhir tahun 50-an dan permulaan tahun 60-an PKI merupakan kekuatan pendukung politik Bung Karno yang paling gigih ( ingat, antara lain : Manipol, Nasakom, Resopim, Trikora, Dwikora, Indonesia keluar dari PBB). Dan berbagai politik Bung Karno ini pada umumnya, atau pada pokoknya, adalah anti-imperialisme dan anti-kolonialisme. Karena itulah Bung Karno punya cukup banyak musuh, baik di luarnegeri maupun di dalamnegeri.


POLITIK BUNG KARNO ADALAH KIRI

Memang, sikap politik Bung Karno adalah pada pokoknya “kiri”. Politik “kiri” yang dianutnya sejak tahun-tahun mahasiswa inilah yang membikin beliau seorang pejuang nasionalis yang besar. Kebesaran Bung Karno adalah berkat sikap politik beliau yang “kiri”, yang anti-imperialisme dan anti-kapitalisme, yang pro-rakyat. Sikap inilah yang dipertahankannya sampai terjadinya G30S. Dalam rangka ini perlu dicatat diselenggarakannya Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing –KIAPMA, permulaan Oktober 1965, di Hotel Indonesia Jakarta, yang dibuka oleh Bung Karno. Konferensi internasional ini penyelenggaranya adalah Indonesia dan sasaran utamanya adalah Amerika Serikat.

Jadi, dalam meninjau masalah G30S, di samping menyorotinya dari segi pertentangan antara segolongan Angkatan Darat dan PKI waktu itu, kita perlu sekali memperhitungkan di dalamnya juga faktor Bung Karno dan faktor internasional (baca: perang dingin), yang merupakan latar-belakang yang juga cukup penting. Berbagai aspek G30S punyai kaitan yang erat dengan perang dingin. Karena itu, hancurnya kekuatan PKI dan digulingkannya Bung Karno oleh Suharto dkk adalah peristiwa penting yang menggembirakan bagi negara-negara Barat.

Dari segi inilah kita dapat melihat mengapa dalam jangka lama rezim militer Suharto mendapat simpati, atau dukungan, atau bantuan – dalam berbagai bentuk dan cara – dari negara-negara Barat (terutama AS). Hancurnya kekuatan yang mendukung politik Bung Karno menyebabkan kemunduran besar dalam gelora perjuangan rakyat berbagai negeri melawan imperialisme dan kolonialisme. Itulah sebabnya, selama masa Orde Baru jiwa Konferensi Bandung menjadi loyo atau apinya jadi padam. Rezim militer Suharto dkk membikin akibat G30S sebagai sarana untuk menghapuskan arti penting dan bersejarah Konferensi Bandung. Ini wajar. Sebab semangat Konferensi Bandung adalah justru bertentangan sama sekali dengan tujuan politik rezim militer ini. Semangat konferensi Bandung banyak dijiwai oleh semangat “kiri” Bung Karno.


SUHARTO BUKANLAH PAHLAWAN BANGSA

Dalam mengenang kembali berbagai peristiwa yang berkaitan dengan G30S tahun 1965, sudah tentu saja kita harus menggugat pembunuhan besar-besaran - dan segala macam siksaan yang tidak berperi-kemanusiaan – terhadap jutaan manusia tidak bersalah oleh militer dan para pendukung Suharto dkk . Menggugat masalah ini adalah kegiatan penting untuk mengingatkan bangsa kita supaya kebiadaban besar-besaran yang pernah terjadi di kalangan bangsa kita itu tidak terjadi lagi di kemudian hari. Bukan itu saja. Menggugat berbagai kejahatan Suharto sekitar peristiwa G30S ini juga perlu untuk meyakinkan banyak orang bahwa Suharto dkk bukannya “pahlawan bangsa” yang patut disanjung-sanjung seperti selama puluhan tahun itu.

Sekarang makin banyak bukti yang nyata bagi banyak orang bahwa Suharto bukanlah “bapak pembangunan”, bukan pula Pancasilais sejati. Banyaknya cerita yang berbau busuk sekitar keluarganya (ingat : kasus Ibu Tien, Sigit, Tutut, Bambang, Tommy, Ari, Probosutedjo dll) meyakinkan banyak orang bahwa Suharto adalah seorang kepala keluarga yang tidak pantas dijadikan contoh bangsa. Selama lebih 32 tahun Suharto, yang mengkhianati Bung Karno ini, telah disanjung-sanjung oleh para pendukung Orde Baru.

Sudah terlalu lama G30S telah dijadikan dalih atau alasan oleh Suharto dkk untuk menyebar racun perpecahan, dengan indoktrinasi yang menyesatkan tentang Bung Karno dan pendukung utamanya (PKI). Indoktrinasi ini, yang dijalankan secara besar-besaran dan dalam jangka yang lama sekali, menimbulkan kerusakan mental yang besar sekali. Indoktrinasi lewat buku-buku di sekolah, lewat film dan televisi, lewat ceramah atau seminar dan bermacam-macam kursus, telah membikin “buta” banyak orang. Sampai sekarang, dalam masyarakat kita, masih banyak orang yang terpengaruh oleh indoktrinasi Orde Baru tentang Bung Karno dan PKI ini. Mereka ini terdapat di berbagai partai politik, badan pemerintahan, DPR/DPRD, ornop, kalangan agama (termasuk kalangan Islam).


GUNAKAN 3O SEPTEMBER UNTUK MENGGUGAT ORBA

Sekarang ini terbukalah kesempatan untuk menyajikan kepada bangsa Indonesia hal-hal yang selama ini ditutup-tutupi atau dipalsu oleh Orde Baru mengenai G30S. Kita semua harus berusaha membongkar, sejauh mungkin, latar-belakang peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia ini. Antara lain, kita harus membikin 30 September jadi hari menggugat berbagai kejahatan rezim militer Suharto dkk. Menggugat berbagai kejahatan rezim militer Suharto dkk ini adalah kewajiban kita semua. Ini perlu kita lakukan, demi pelurusan sejarah, demi rekonsiliasi nasional, demi persatuan bangsa, dan demi pendidikan generasi yang akan datang. Generasi muda kita, dan generasi yang akan datang, tidak boleh diracuni oleh segala pembusukan yang telah terjadi selama Orde Baru.

Dalam rangka ini pulalah tulisan kali ini menyambut adanya kegiatan-kegiatan di berbagai tempat di Indonesia untuk menjadikan tanggal 30 September sebagai hari untuk membongkar berbagai kejahatan Orde Baru terhadap peri-kemanusiaan. Di antara kegiatan-kegiatan itu terdapat pertemuan “Mengungkap Tabir '65 » di Jakarta (tanggal 29-30 September) yang diselenggarakan oleh Lakpesdam NU, Yappika, Elsam, SNB, PEC, Pakorba, LPRKROB, LPKP, JKB dll.

« Tabir ’65 » memang harus dibuka. Dan, seluas-luasnya.

Paris, 26 September 2003

Rabu, 08 Agustus 2012

Jejak Langkah Putra Sang Fajar

Jejak Langkah Putra Sang Fajar

6 Juni 1901
SUKARNO dilahirkan di Surabaya, dari pasangan Ida Ayu Rai Srimben (asal Singaraja, Bali) dan Raden Soekemi Sosrodihardjo (Probolinggo, Jawa Timur). Setelah pindah sebentar ke Sidoarjo, keluarga Soekemi menetap di Mojokerto, Jawa Timur, dan Sukarno mulai bersekolah di sekolah dasar zaman Belanda hingga kelas lima. Lalu, ia melanjutkan pendidikan ke Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Eropa berbahasa Belanda, di Surabaya.

1915
Masuk Hoogere Burger School (HBS), sekolah menengah Belanda, dan ikut di rumah Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam. Di situ, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh senior pergerakan dan memulai proses magang politik.

21 Januari 1921
Artikel Sukarno yang pertama terbit di halaman depan koran Oetoesan Hindia milik Sarekat Islam. Sukarno mengawini Oetari Tjokroaminoto--yang menjadi perkawinan pertama Soekarno.

Pertengahan 1921
Kuliah di (Technische Hooge School—Institut Teknologi Bandung).

1923
Menikahi Inggit Garnasih, janda berusia 12 tahun lebih tua dan induk semangnya selama ia kuliah di Bandung.

25 Mei 1926
Mendapatkan gelar insinyur dari THS. Hotel Preanger adalah salah satu karyanya. Pertengahan 1926: Ikut mendirikan Klub Studi Umum, Bandung, klub diskusi yang berubah menjadi gerakan politik radikal. Terbit artikelnya yang terkenal: "Nasionalisme, Islam, dan Marxisme".

4 Juni 1927
Mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) di Bandung. Pada kongres 1928, gerakan itu memproklamasikan diri sebagai partai, dengan nama baru: Partai Nasional Indonesia.

28 Oktober 1928
Sumpah Pemuda. Berbagai kelompok pemuda menyatakan "memiliki bangsa, bahasa, dan tanah air yang sama: Indonesia." Lagu kebangsaan Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan.

29 Desember 1929
Sukarno ditangkap bersama tokoh PNI lain dan dijebloskan ke tahanan Penjara Banceuy. Tuduhannya: merencanakan pemberontakan kepada Belanda.

Agustus 1930
Pengadilan Sukarno. Dalam pembelaannya yang amat terkenal, "Indonesia Menggugat", ia mengecam penjajahan dan menyerukan perlawanan. Untuk pertama kalinya dia memakai istilah "Marhaen" sebagai ganti kaum buruh (proletar).

31 Desember 1931
Hukuman Sukarno dipotong dua tahun dan ia dibebaskan. PNI pecah, Sukarno belakangan memilih masuk Partindo.

1 Agustus 1933
Sukarno ditangkap untuk kedua kalinya.

21 November 1933
Sukarno menyatakan diri keluar dari Partindo.

17 Februari 1934
Sukarno dibuang ke Ende, Flores.

Februari 1938
Pengasingan Sukarno dipindahkan ke Bengkulu.

9 Juli 1942
Sukarno kembali ke Pulau Jawa dan merebut simpati sebagai pemimpin pergerakan Indonesia di zaman Jepang

16 April 1943
Bersama Jepang, Sukarno membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera), yang ternyata dipakai Jepang sebagai pekerja paksa (romusha) dan menjadi propagandis Jepang.

7 September 1943
Penguasa Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia kelak di kemudian hari (tidak ada batas waktu spesifik).

1 Juni 1945
Dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Sukarno melahirkan istilah Pancasila, yang menjadi dasar negara Indonesia. Rapat itu juga menyekapati Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstituti negara Indonesia.

16 Agustus 1945
Sukarno menolak tuntutan pemuda untuk memproklamasikan Indonesia dengan alasan belum mendapat kepastian menyerahnya Jepang dalam perang. Mereka menculik Sukarno dan Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok.

17 Agustus 1945
Proklamasi Indonesia dibacakan Sukarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia.

18 Agustus 1945
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang dan menetapkan Sukarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Kelak mereka dikenal dengan Dwi-Tunggal.

3 November 1945
Pemerintah mengeluarkan maklumat yang isinya menyukai terbentuknya partai politik dan mengadopsi sistem parlementer.

14 November 1945
Kabinet pertama yang baru berusia tiga bulan jatuh, digantikan kabinet kedua dengan bentuk parlementer di bawah Perdana Menteri Sjahrir. Sejak saat itu, kabinet selalu jatuh-bangun.

18 September 1948
Pecah pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin Muso, tokoh PKI yang sejak 1920-an mengungsi di Moskow.

27 Desember 1949
Lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda resmi menyerahkan
kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Pada Agustus 1950, ia berhasil menyatukan negara dalam negara itu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

17 Oktober 1952
Dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober, ketika sebagian tentara angkatan darat mengarahkan moncong meriamnya ke Istana dan menuntut Sukarno membubarkan parlemen.

18 April 1955
Berlangsung Konferensi Asia Afrika atas prakarsa Bung Karno.

31 Desember 1956
Muhammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI.

21 Februari 1957
Sukarno membekukan sistem demokrasi parlementer yang berlangsung sejak 1950 dan menggantinya dengan demokrasi terpimpin.

14 Maret 1957
Sukarno memberlakukan keadaan perang dan darurat perang (SOB) akibat
banyaknya pemberontakan militer di daerah.

30 November 1957
Terjadi percobaan pembunuhan terhadap Sukarno. Semua pelaku dihukum mati. Para pelaku diidentifikasi sebagai kelompok antikomunis.

5 Juli 1959
Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya membubarkan konstituante (DPR Sementara) dan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

17 Agustus 1959
Sukarno memperkenalkan Manifesto Politik yang oleh MPRS dikukuhkan
menjadi Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Manipol memuat lima pokok: UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia (USDEK).

30 September 1960
Di depan Majelis Umum PBB, Sukarno menguraikan Pancasila dan perjuangan membebaskan Irian Barat dalam pidato berjudul To Build the World Anew.

1963
Untuk menandingi Olimpiade yang digelar negara-negara Barat, Sukarno
menggelar pertandingan olahraga internasional Ganefo (Games of New Emerging Forces) di Senayan, Jakarta, 10-22 November 1963, yang diikuti 48 negara.

3 Mei 1964
Karena kebenciannya kepada kolonialisme Inggris di Asia, Sukarno menyerukan "Ganyang Malaysia". Indonesia keluar dari PBB dan membentuk Poros Jakarta-Peking.

14 Januari 1965
Partai Komunis Indonesia mulai melancarkan provo-kasi dengan tuntutan untuk mempersenjatai buruh dan tani (angkat-an kelima). Sukarno belum menanggapinya.

26 Mei 1965
Beredar isu "Dokumen Gilchrist" yang menyebutkan adanya dewan jenderal
dalam tubuh angkatan bersen-jata untuk mengambil kekuasaan dari Sukarno.

Juli 1965
Sukarno mulai sakit-sakitan dan D.N. Aidit memerintahkan agar biro khusus PKI menyiapkan gerakan mengantisipasi dampak sakitnya Sukarno.

30 September 1965
Penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal AD di Jakarta. PKI, yang memperoleh perlindungan Sukarno, dituding sebagai biang keladinya.

14 Oktober 1965
Mayor Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segara membekukan kegiatan PKI dan ormas-ormasnya. Sukarno menolak untuk bertindak tegas terhadap PKI.

11 Maret 1966
Dengan helikopter, Sukarno terbang ke Istana Bogor, setelah mendengar Istana dikepung pasukan tak dikenal. Di sanalah dia menandatangani Supersemar.

20 Juni 1966
Sidang Umum Ke-4 MPRS di Jakarta antara lain menetapkan, jika Presiden
berhalangan tetap, pengemban Supersemar, yakni Soeharto, menjadi presiden.

21 Januari 1967
Pidato pertanggungjawaban Sukarno pada 10 Januari, Nawaksara, ditolak MPRS dan DPRGR menyimpulkan ada petunjuk Sukarno terlibat dalam peristiwa 30 September.

22 Februari 1967:
Sukarno diberhentikan dari jabatan presiden dan digantikan Jenderal Soeharto.

21 Juni 1970:
Sukarno wafat di Istana Bogor setelah menderita sakit yang lama di Wisma Yasa, Jakarta. Jenazah Sukarno dimakamkan di Blitar. Hingga akhir hayatnya, Sukarno tak pernah diadili karena tuduhan pro-PKI.

Selasa, 07 Agustus 2012

SUKARNO: SEORANG BIMA, SEORANG HAMLET

Sukarno: Seorang Bima, Seorang Hamlet

"Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa." (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat)
SUKARNO tidak dimakamkan "di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar." Tidak seperti diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak. Prospek bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah populer yang terlalu dekat dari Jakarta jelas merisaukan pemerintahan baru. Soeharto hanya mengizinkan Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di samping makam ibunya.

Bahkan jasad matinya membuat gentar. Dan kini, 30 tahun sejak meninggalnya, nama serta wajah Sukarno tidak pernah benar-benar lumat terkubur. Kampanye puluhan tahun Orde Baru untuk membenamkannya justru hanya memperkuat kenangan orang akan kebesarannya, simpati pada epilog hidupnya yang tragis, serta maaf atas kekeliruannya di masa silam.

Sukarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasional Indonesia yang paling menonjol—mungkin seperti Che Guevara bagi Kuba. Di banyak rumah, foto-fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding meski pemerintahan berganti-ganti. Di kaki lima, posternya masih tampak dipajang bersebelahan dengan gambar Madonna, Iwan Fals, dan Bob Marley—simbol dari zaman yang sama sekali lain.

Pada Pemilihan Umum 1999, dia hadir sebagai juru kampanye "in absentia" bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin putrinya, Megawati Sukarnoputri. Gambar besarnya diusung dalam arak-arakan. Posternya dipajang di mulut-mulut gang. Dan Sukarno memenanginya. PDI Perjuangan meraih suara terbanyak, mengantarkan Megawati menjadi wakil presiden sekaligus melempangkan jalan bagi pemulihan nama Sukarno sendiri.

"Sejarahlah yang akan membersihkan namaku!"

Sumpah itu jadi kenyataan. Sejarah—dan waktu—kini berpihak padanya. Hari-hari ini, peringatan 100 tahun kelahirannya dirayakan dengan pesta akbar. Tidak hanya dalam kenangan penghuni gubuk reyot pedesaan dan kampung kumuh perkotaan—orang-orang Marhaen yang menjadi sumber ilham dan curahan simpati besarnya—tapi juga dalam konser musik klasik tempat orang-orang berdasi dan bermobil Baby Benz mendengarkan Aida gubahan komponis besar Italia, Giuseppe Verdi.

Untuk pertama kalinya sejak tragedi berdarah 1965, yang sebagian dosanya dibebankan padanya, dia memperoleh kembali secara lebih proporsional kehormatan yang menjadi haknya.

Seperti Verdi mengilhami pembebasan Italia lewat opera dan musik indahnya, Sukarno—lebih dari siapa pun—memang berjasa besar menyatukan bangsa Indonesia dalam kesadaran bersama meraih kemerdekaan, lewat orasi-orasinya yang berani dan menggemuruh pada 1920-an.

"Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia!"

Tak hanya mengantarkan kemerdekaan Indonesia, dia kelak memang
mengguncang dunia pula. Dari lembah Sungai Nil hingga Semenanjung Balkan, dari Aljazair hingga India, namanya dikenang sebagai salah satu juru bicara Asia-Afrika paling lantang dalam melawan "imperialisme dan kolonialisme Barat".

Sebagai orator, dia mampu menghipnotis dan menggenggam massa dalam
tangannya. Dan dengan itu dia mendesakkan "revolusi psikologis", menjebol
keyakinan umum pribumi Indonesia, yang kala itu hampir sekuat mitos dan
takhayul, bahwa kolonial Belanda berkulit putih tidak bisa dikalahkan.

Aktivisme politik Sukarno diilhami dari sumber-sumber yang beragam, dari buku yang dibaca dan tokoh senior yang ditemuinya. Dia menyerap semuanya, lalu menggumpalkan dalam dirinya, hampir sepenuhnya eklektis dan sinkretis—kemampuan khas Jawa.

Mengenyam pendidikan sekolah menengah (Hogere Burger School) di Surabaya, Sukarno tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, gerakan politik prakemerdekaan yang memiliki basis penerimaan paling luas. Dan Tjokro menjadi mentor politiknya yang pertama (bahkan kelak menjadi mertuanya)—tapi bukan satu-satunya.

Sukarno menyebut lingkungan rumah Tjokro sebagai "dapur revolusi Indonesia". Tidak berlebihan. Berbagai tokoh pergerakan, meski dengan aliran yang berbeda, sering bertemu di situ. Sukarno bisa menemukan Ki Hadjar Dewantoro, penggagas gerakan pendidikan Taman Siswa dan satu dari "Tiga Serangkai" pendiri Indische Partij—partai radikal pertama yang menyerukan kemerdekaan Indonesia secara tuntas dari Belanda. Dari Ki Hadjar, Sukarno menyerap bagaimana menyatukan pandangan Barat dengan pandangan tradisional Jawa. Di rumah itu pula Sukarno berkenalan dengan Hendrik Sneevliet (pendiri Indische Sociaal Democraticshe Vereeniging, leluhur Partai Komunis Indonesia) dan Alimin ("orang yang memperkenalkan saya pada Marxisme").

Islam dan Marxisme menjadi dua arus ideologi yang dominan dalam perlawanan terhadap penjajah kala itu. Tak jarang seorang tokoh pergerakan waktu itu menjadi pengurus Sarekat Islam dan ISDV sekaligus, seperti Semaun, misalnya. Namun, kendati kedua aliran memandang kolonial Belanda sebagai musuh bersama ("Kristen bagi Islam" dan "kapitalis-imperialistis bagi Marxis"), dua-duanya sendiri kelak akan terbukti dan tak terjembatani.

Sukarno berkenalan dengan arus ketiga yang lebih memukaunya, "nasionalisme". Ketika kuliah di Technische Hoogeschool (kini Institut Teknologi Bandung) beberapa tahun kemudian, dia bertemu dengan Ernest F.E. Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo—dua keping lain dari "Tiga Serangkai". Khususnya dari Douwes Dekker, Sukarno menyerap gagasan nasionalisme sekuler, yang menolak dasar Islam dan realisme-sosial komunis sekaligus, serta memimpikan sebuah negara merdeka tempat manusia dengan ras berbeda, aliran berbeda, terikat kesetiaan pada satu tanah air.

Debut politik pertama Sukarno adalah ikut mendirikan Klub Studi Umum di Bandung pada 1926, sebuah klub diskusi yang berubah jadi gerakan politik radikal belakangan. Namanya kian menjulang ketika setahun kemudian dia menulis rangkaian artikel berjudul Nasionalisme, Islam, dan Marxisme dalam Indonesia Moeda—penerbitan milik Klub. Di situ, Sukarno mendesakkan pentingnya sebuah persatuan nasional, satu front bersama kaum nasionalis, Islamis, dan Marxis, dalam perlawanan tanpa-kompromi (non-kooperatif) terhadap Belanda.

Gagasan Sukarno di situ bukan yang pertama dan tidak sepenuhnya orisinal. Tokoh Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, Mohammad Hatta, telah sejak 1923 mengumandangkan pentingnya persatuan dan muskilnya kerja sama dengan pemerintah kolonial.

Namun, peran Sukarno tak bisa dikecilkan. Jasa terbesarnya adalah menyerap apa yang dikemukakan Hatta, membuat sintesis darinya dan menerjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah diserap massa. Ditambah daya magis orasinya, Sukarno memperoleh audiens serta dampak yang lebih luas—lebih dari yang bisa diharapkan Hatta, tapi sekaligus membuatnya miris.

Dengan kata-katanya, Sukarno menjembatani dan menyatukan berbagai elemen yang berbeda serta memberi mereka sebuah kebersamaan identitas. Dengan itu, Sukarno berjasa mengilhami Sumpah Pemuda 1928 dan secara brilian merumuskan dasar negara Pancasila.

Sukarno menjadi personifikasi "satu Indonesia" secara tak terbantah kala itu. Dia menjadi pusat perhatian dalam rapat-rapat umum—di atas podium, di tengah massa yang riuh. Di atas panggung, dia memukau audiens, dan audiens sebaliknya memukau dia dengan tepuk tangan yang kian lama kian memabukkan.

Dia memang pada dasarnya terpesona oleh elemen drama dalam sejarah—oleh unsur romantis dalam biografi George Washington, Garibaldi, dan Abraham Lincoln. Romantisme Sukarno diperkuat oleh cerita-cerita perwayangan—epik Mahabharata dan Ramayana—yang dia kenal sejak kecil dan menjadi medium komunikasinya yang pa-ling efektif dengan khalayak. Dia menyamakan dirinya dengan ksatria Pandawa dalam Perang Bharata Yudha-nya melawan kolonialis Belanda.

Namanya sendiri dipetik dari dunia wayang. Dalam autobiografi yang dituturkan kepada Cindy Adams, dengan antusias Sukarno bercerita tentang asal-muasal namanya. Dia terlahir sebagai Kusno, yang sakit-sakitan. Sesuai dengan kepercayaan Jawa, ayahnya harus memberinya nama baru untuk mengusir penyakitnya. Kusno menjadi Karno, nama ksatria Pandawa—seorang "pejuang bagi negaranya" dan "patriot yang saleh".

Menyusupkan unsur dramatik dan magis, Sukarno tak lupa menambahkan
bahwa Karno juga berarti "telinga". Syahdan, Dewi Kunti, ibunya, mengandung Karno dalam keadaan perawan. "Awan berahi" Batara Surya-lah, dewa matahari, yang membuatnya hamil. Musyawarah para dewa memutuskan Karno dilahirkan melalui telinga agar tidak merusak keperawanan Kunti.

Namun, tokoh favorit Sukarno dari dunia perwayangan adalah Bima—nama samaran yang sering dia pakai dalam tulisan-tulisannya. Bima adalah anomali di antara para ksatria Pandawa yang bertutur kata halus. Dengan suara baritonnya yang berat, Bima selalu memakai bahasa kasar, Jawa ngoko, bahkan jika bicara dengan para dewa—sebuah isyarat ketidaksopanan, tapi juga keberanian, pemberontakan pada feodalisme, dan ajakan pada egalitarianisme.

Di atas panggung, "Bima" membuat panas kuping pemerintah Hindia Belanda dengan agitasinya, dengan teriakan "Indonesia"-nya, dan dengan lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan mengawali rapat-rapat akbarnya.

Sukarno ditangkap 1930. Namun, persidangannya menjadi pentas lain yang tak kalah dramatisnya. Dia tampil dengan pidato pembelaan yang gemilang, "Indonesia Menggugat", yang dibacakannya selama dua hari berturut-turut. Seperti Hatta di Den Haag pada 1928, pleidoi Sukarno di pengadilan Bandung itu adalah manifesto politiknya, yang ditujukan terutama kepada pendengar di luar sidang.

Belanda menghukumnya secara keras: Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun, meski akhirnya diperingan menjadi satu tahun. Keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, dia dihormati lebih dari sebelumnya—sebagai seorang ksatria yang keluar dari pertapaan dan memperoleh kesaktian lebih besar.

Namun, pamornya justru segera redup seiring mengerasnya tekanan pemerintah Hindia Belanda dan kesulitannya untuk kembali menyatukan berbagai kelompok pergerakan. Bahkan hubungannya dengan Hatta tak terjembatani, meski hanya karena perbedaan taktik. Hatta lebih ingin menggugah kesadaran nasional lewat pendidikan politik secara radikal, lewat partai kader, dengan anggota yang militan, untuk menciptakan "beribu-ribu, bahkan berjuta-juta Sukarno". Dia mengkritik Sukarno, yang cenderung hanya mengumpulkan kerumunan dengan satu Sukarno di tengahnya.

Bagi Sukarno, sebaliknya, kata-kata diperlukan untuk mengilhami tindakan, energi besar meraih kemerdekaan. Sukarno bukan pengagum Hitler, bahkan membencinya, tapi dia mengingat kata-kata Hitler dengan baik: "Gross sein heissat Massen bewegen kõnnen." (Besarlah seseorang yang mampu menggerakkan massa untuk bertindak.)

Hatta terbukti terlalu meremehkan betapa luas dan mendalam pengaruh Sukarno, dan betapa kuat personifikasi Sukarno atas rakyat jajahan. Pada 1940-an, Sukarno menjadi wakil Indonesia secara tak terelakkan ketika Jepang harus melakukan tawar-menawar dengan tanah jajahan baru. Dan selebihnya tak terhindarkan: sejarah memilihnya menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia.

Bagi Sukarno, sejarah tidak memilihnya secara kebetulan. Mengenang ke
belakang, lewat autobiografinya, ia bercerita bagaimana ibunya memangku bayi Sukarno yang berumur dua tahun, menghadap ke timur, dan ketika fajar merekah meramalkannya kelak menjadi pemimpin besar. "Sukarno, Putra Sang Fajar".

Sukarno memang merasa terlahir sebagai pemimpin, dan bertindak secara sadar untuk meraih takdirnya. Namun, pada 1933, dia barangkali tidak bisa seyakin seperti itu. Ditangkap untuk kedua kali, Sukarno mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Belanda: dia meminta maaf dan berjanji akan menghentikan aktivitas politiknya sama sekali. Kesendiriannya dalam Penjara Sukamiskin tampaknya menjadi pengalaman traumatis.

Keaslian surat maaf itu masih menjadi perdebatan para sejarawan hingga kini. Tapi, dalam pengasingan di Ende (1934-1938), Sukarno tampak benar-benar sudah memutuskan sebuah karir baru. Tidak politik, tapi tetap berbau panggung. Dia menulis 12 cerita sandiwara, salah satunya berjudul Dr. Setan, yang diilhami oleh Frankenstein. Dia juga mendirikan Perkumpulan Sandiwara Kalimutu—dari nama danau terkenal di pulau itu—membuat reklame sendiri untuk pertunjukannya, merancang kostum, dan menggambar dekor.

Karir politik Sukarno sepertinya akan habis di situ. Tapi sejarah ternyata
menikung ke arah lain. Kekalahan Belanda dari Jepang mengembalikan impian besarnya. Dia kembali tampil ke panggung, tapi dengan sejumlah pandangan yang sudah direvisi. Berkeyakinan besar bahwa Jepang akhirnya akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia, Sukarno menanggalkan sikap nonkooperasi serta mendukung rezim fasistik itu dengan sikap pragmatis yang mencengangkan, bahkan menggetirkan.

Mengerahkan keterampilan klasiknya berpidato, Sukarno membujuk puluhan ribu pemuda untuk bergabung dalam barisan romusha, yang dikirim ke kamp-kamp kerja paksa. Banyak dari mereka tidak pernah pulang.

Dia memang mengaku remuk hati mengenang itu. "Akulah orangnya. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian." Tapi, setelah tarikan nafas lainnya, dia mengatakan: "Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas seorang panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan."

Episode itu bisa menjadi bahan perdebatan moral tiada habis. Namun, Sukarno tidak sendirian. Apa gerangan yang dipikirkan Harry Truman setelah menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, membunuh ratusan ribu orang tapi pada saat yang sama menghentikan Perang Asia Pasifik?

Para pemuda romusha pastilah pahlawan sejati kemerdekaan Indonesia, yang pada akhirnya mempersembahkan panggung lebih besar bagi Sukarno.

Bersama Hatta di sampingnya, Sukarno menghadapi masa-masa awal kemerdekaan yang sulit. Namun, keduanya sukses menangkis tantangan serius dari dalam negeri—keresahan, bahkan pemberontakan, di berbagai daerah. Juga dari luar—agresi ataupun ketatnya diplomasi dengan Belanda. Keduanya memang bisa berbuat banyak jika bekerja sama. Hatta memerlukan kehangatan dan kemampuan Sukarno untuk berkomunikasi dengan massa orang Jawa. Sukarno mengambil keuntungan dari disiplin, integritas, dan keterampilan Hatta di bidang ekonomi. Tapi semua tak berlangsung terlalu lama.

Tahun 1959 menandai awal kejatuhan Sukarno—tahun yang secara ironis disebutnya sebagai "Tahun Penemuan Kembali Revolusi Kita".

"Saya merasa seperti Dante dalam Divine Commedia," katanya dalam pidato kemerdekaan 17 Agustus tahun itu. "Saya merasa bahwa revolusi kita telah menderita semua jenis penderitaan inferno! Dan kini, dengan kembalinya kita ke Konstitusi 1945, kita menjalani pemurnian (untuk) masuk surga!"

Pada 5 Juli, Sukarno mengeluarkan dekrit presiden yang terkenal. Tak sabar menyaksikan eksperimen demokrasi parlementer yang penuh kisruh, Sukarno membubarkan Konstituante—dewan perwakilan rakyat hasil pemilu demokratis 1955. Dia mengubur tuntas "setan sistem multipartai yang menjerumuskan kita ke neraka" dengan meniadakan partai sama sekali. Dia mempro-klamasikan Demokrasi Terpimpin.

Jika yang diinginkannya adalah suasana harmoni tanpa konflik, Demokrasi Terpimpin jelas memenuhi obsesi besar Sukarno akan "persatuan dan kesatuan". Tapi itu jelas pula bukan demokrasi. Sukarno menyusun kabinet sendiri, menunjuk perdana menteri, dan mengangkat semua anggota parlemen.

Dengan kekuasaannya yang tiada terbatas, dia kini leluasa mengayuh roda revolusi. "Revolusi belum usai." Pidatonya tetap menggelegar. Panggung kian gemerlap. Tapi kampanyenya untuk merebut Irian Barat, konfrontasinya dengan Malaysia, dan pemberontakannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa makin menjauhkannya dari bisa memahami masalah sebenarnya yang dihadapi negerinya. Sukarno "Singa Podium" berubah menjadi demagog dengan slogan-slogan kosong.

Dalam situasi normal, obsesinya terhadap monumen, gedung, dan patung-patung raksasa—yang kini menghiasi sudut-sudut kota Jakarta—harus diakui merupakan wujud selera tingginya terhadap seni. Tapi itu merupakan ironi besar di tengah kesulitan ekonomi yang menggigit kala itu, kelaparan di berbagai tempat, inflasi yang meroket ratusan persen.

Dia juga makin agresif terhadap lawan-lawan politiknya, menanggalkan citranya sendiri sebagai Sukarno sang penyatu. Dia memberangus pers dan memenjarakan para pengkritiknya—termasuk Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama, yang kemudian meninggal secara tragis dalam status sebagai tahanan.

Watak pemerintahannya yang monolitik menjatuhkannya ke dalam simbol feodalisme Jawa, yang dulu ia kecam. Seperti raja-raja Jawa di masa silam, dan Soeharto yang menggantikannya kelak, dia memanipulasi simbol-simbol tradisi, mencitrakan diri memiliki aura kekuasaan supranatural, menikmati diri dikelilingi para adipati yang terlibat intrik politik istana, serta memanfaatkan konflik itu untuk menunjukkan diri sebagai kekuatan yang tak terhindarkan, satu-satunya dan selama-lamanya. Jika bisa.

Setelah partai-partai Islam praktis tersingkir, Sukarno mencoba berdiri di tengah menjaga kesimbangan yang rawan antara tentara (yang sejak 1950-an menjadi haus politik) di satu sisi dan Partai Komunis Indonesia di sisi yang lain. Dia gagal kali ini. Di bawah bayang-bayang ketegangan Perang Dingin global dan tekanan krisis ekonomi domestik, Sukarno terbakar di tengah-tengah persaingan dua kubu, dalam sebuah drama paling berdarah 1965.

Sukarno barangkali adalah contoh klasik yang tragis: seorang pemimpin idealistis yang dirusak oleh kekuasaan dan dikhianati oleh kebanggaan dirinya yang terlalu besar.

Lahir di bawah rasi bintang Gemini, Sukarno memang manusia penuh paradoks, seperti dikatakannya sendiri. "Gemini adalah lambang kekembaran; dua sifat yang berlawanan." Dia idealistis sekaligus pragmatis. Pemberang sekaligus pemaaf. Ekspresi kata-katanya kasar, tapi dia menyukai seni dan keindahan yang halus. Dan di balik penampilannya yang sangat percaya diri, langkahnya yang tegap, suaranya yang mengguntur, Sukarno adalah pribadi yang rapuh.

Sukarno bermimpi menjadi Hercules seperti yang digambarkan dalam sebuah plakat pada dinding Istana Bogor: bayi Hercules dalam pangkuan ibunya, dikelilingi empat belas bidadari cantik—semuanya telanjang. "Cobalah bayangkan betapa bahagianya dilahirkan di tengah empat belas wanita cantik seperti ini." Keperkasaan Hercules menuntut kasih sayang, haus kelembutan.

Sebagai orang yang percaya bisa memindahkan gunung dengan kata-kata, Sukarno membutuhkan dukungan total dari lingkungannya: cinta, pujian, dan penerimaan, jika bukan tepuk tangan. Di masa kecil, dia memperolehnya dari Sarinah, pembantu rumah tangga yang namanya kemudian dia abadikan dalam judul sebuah bukunya dan pada sebuah toko serba ada di Jalan Thamrin, Jakarta.

Dan ketika dewasa, Sukarno memperoleh tenaga Hercules-nya dari Inggit Garnasih, janda dengan usia selosin tahun lebih tua yang dikawininya di Bandung pada 1923. Inggit menjadi sumber semangat yang menyala dan ia menemaninya di masa-masa sulit. Tanpa Inggit, Sukarno barangkali benar-benar habis setelah ditahan di Penjara Sukamiskin dan diasingkan ke Ende. Kesendirian akan mudah membunuhnya. Ketika mengantarkan buku biografi Inggit, Kuantar ke Gerbang, sejarawan S.I. Poeradisastra melukiskan paradoks Sukarno yang lain: dia bisa tampak seperkasa Herakles, tapi juga serapuh "Hamlet yang tercabik-cabik dalam kebimbangan".

Sayang, Inggit tak bisa memberinya anak. Banyak orang masih mafhum ketika Sukarno kemudian berpaling pada Fatmawati. Namun, ketika atletisme seksualnya justru kian menjadi-jadi setelah perkawinannya dengan Hartini—wanita keempat dalam hidup pribadinya—orang melihatnya secara lain. Gelar internasionalnya sebagai "Le Grand Seducteur" mengundang kekaguman, tapi sekaligus membenamkannya lebih jauh. Alih-alih menunjukkan kejantanan, obsesi itu membuka kedok dari ketakutannya, dari perasaan tidak amannya. Sukarno seperti ingin memaksakan diri menunjukkan potensinya di tengah kemampuan politiknya yang kian merosot.

Tragis. Namun, fakta bahwa banyak wanita memang ingin dijamahnya, seperti juga banyak politisi menghamba dalam Demokrasi Terpimpin-nya, bahkan kemudian membolehkannya menjadi presiden seumur hidup, menunjukkan Sukarno tidak sendiri dalam cacatnya—dia manusia tak sempurna dalam dunia tak sempurna.

Hatta, seorang pengkritiknya yang paling keras, punya penilaian yang lebih adil terhadapnya. Sukarno, tulis Hatta suatu ketika, adalah kebalikan dari tokoh Memphistopheles dalam Faust-nya Goethe. "Tujuan Sukarno selalu baik, tapi langkah-langkah yang diambilnya sering menjauhkannya dari tujuan itu." Tapi, Sukarno punya ungkapan sendiri untuk meringkaskan hidupnya. "Dia mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai wanita, dia mencintai seni, dan—melebihi segalanya—dia cinta kepada dirinya sendiri."

(Disadur dari berbagai sumber)