Minggu, 20 Mei 2012

Asal Usul Kalimantan (Borneo)

Kalamantan[1]/Calémantan[2][3]/Kalémantan[4]Kelamantan/Kilamantan/Klamantan/Klémantan/Quallamontan[5]) adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Brunei, Indonesia (dua per tiga) dan Malaysia (sepertiga). Pulau Kalimantan terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau ini.
Pada zaman dahulu, Borneo -- yang berasal dari nama kesultanan Brunei -- adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda untuk menyebut pulau ini secara keseluruhan, sedangkan Kalimantan adalah nama yang digunakan oleh penduduk kawasan timur pulau ini yang sekarang termasuk wilayah Indonesia.[6][7] Wilayah utara pulau ini (Sabah, Brunei, Sarawak) dahulu dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kalimantan Utara, tetapi dalam pengertian sekarang Kalimantan Utara adalah Kalimantan Timur bagian utara.
Dalam arti luas "Kalimantan" meliputi seluruh pulau yang juga disebut dengan Borneo, sedangkan dalam arti sempit Kalimantan hanya mengacu pada wilayah Indonesia.
Untuk etimologi nama dahulu adalah Borneo kemudian berubah menjadi Kalimantan berasal dari nama kelamantan sejenis buah sagu yang dikonsumsi penduduk di utara pulau ini.[8] Menurut dari C.Hose dan Mac Dougall, nama "Kalimantan" berasal dari 6 golongan suku-suku setempat yakni Dayak Laut (Iban), Kayan, Kenya, Klemantan, Munut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), C Hose menjelaskan bahwa Klemantan adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinzaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang berasal dari India (malaya yang berarti gunung). Kalimantan atau Klemantan berasal dari Sanksekerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut kebiasaan tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akhirnya diturunkan menjadi Kalimantan.[9] Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei), Succadana (Tanjungpura), dan Banjarmasin. Penduduk kawasan timur pulau ini menyebutnya Pulu K'lemantan[10][11][12], orang Italia mengenalnya Calemantan. Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan dapat berarti "Sungai Intan".[13][14][15]
Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga dikenal dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya "Bakulapura" yaitu jajahannya yang berada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta artinya pohon tanjung (mismusops alengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu menjadi "Tanjungpura" artinya negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagara Kretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya "Tanjungnagara" yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu.
Hikayat Banjar sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri berasal dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang lebih kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau "Hujung Tanah". Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang berbentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus yang menjorok ke laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bagian ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut "Ujung Tanah" dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara artinya pulau yang berbentuk tanjung/semenanjung.
Sebutan "Nusa Kencana" adalah sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti tentang Ramalan Prabu Jayabaya pada masa akhir Majapahit mengenai akan dikuasai Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana sebutan untuk wilayah yang sekarang menjadi provinsi Kalimantan Selatan, karena terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu menguasai ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa.
Sebutan-sebutan yang lain antara lain: "Pulau Banjar"[16][17], Raden Paku seorang anggota Walisanga diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; "Jawa Besar" sebutan dari Marcopolo penjelajah dari Italia[18] atau dalam bahasa Arab[19]; dan "Jaba Daje" artinya "Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada abad ke-20.
Pulau Kalimantan berada di tengah-tengah Asia Tenggara karena itu pulau ini banyak mendapat pengaruh budaya dan politik dari pulau-pulau sekitarnya. Sekitar tahun 400 pulau Kalimantan telah memasuki zaman sejarah dengan ditemukan prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai tetapi perkembangan kemajuan peradaban relatif lebih lambat dibandingkan pulau lain karena kendala geografis dan penduduk yang sedikit.
Pada abad ke-14 Odorico da Pordenone, seorang rahib Katolik telah mengunjungi Kalimantan. Sekitar tahun 1362 Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada melakukan perluasan kekuasaannya ke pulau Kalimantan, yaitu negeri-negeri : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kadandangan, Landa, Samadang, Tirem, Sedu, Barune, Kalka, Saludung (Maynila), Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalong, Tanjung Kutei dan Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.[20]
Pulau Kalimantan dahulu terbagi menjadi 3 wilayah kerajaan besar: Brunei, Sukadana/Tanjungpura dan Banjarmasin. Tanjung Dato adalah batas wilayah Brunei dengan Sukadana/Tanjungpura, sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah Banjarmasin.[21] Di zaman Hindia-Belanda, Kalimantan dikenal sebagai Borneo. Ini tidak berarti nama Kalimantan tidak dikenal. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar pada tahun 1857 kepada pihak Residen Belanda di Banjarmasin ia menyebutkan pulau Kalimantan, tidak pulau Borneo. Ini menunjukkan bahwa di kalangan penduduk, nama Kalimantan lebih dikenal dari pada nama Borneo yang dipakai dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Nama Kalimantan kembali mulai populer pada sekitar tahun 1940-an. Pada tahun 1938, Hindia Belanda mendirikan tiga provinsi atas eilandgewest yaitu Sumatera beribukota di Medan, Borneo beribukota di Banjarmasin, dan Timur Besar beribukota di Makassar.[22]
Pada tanggal 13 Februari 1942 Sakaguchi Detachment menduduki kota Banjarmasin.[23] Setelah mengambil alih Kalimantan dari tangan Jepang, NICA mendesak kaum Federal Kalimantan untuk segera mendirikan Negara Kalimantan menyusul Negara Indonesia Timur yang telah berdiri. Maka dibentuklah Dewan Kalimantan Barat tanggal 28 Oktober 1946, yang menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Barat pada tanggal 27 Mei 1947; dengan Kepala Daerah, Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak dengan pangkat Mayor Jenderal. Wilayahnya terdiri atas 13 kerajaan sebagai swapraja seperti pada zaman Hindia Belanda yaitu Sambas, Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Tayan, Meliau, Sekadau, Sintang, Selimbau, Simpang, Sukadana dan Matan.
Dewan Dayak Besar dibentuk tanggal 7 Desember 1946, dan selanjutnya tanggal 8 Januari 1947 dibentuk Dewan Pagatan, Dewan Pulau Laut dan Dewan Cantung Sampanahan yang bergabung menjadi Federasi Kalimantan Tenggara. Kemudian tanggal 18 Februari 1947 dibentuk Dewan Pasir dan Federasi Kalimantan Timur, yang akhirnya pada tanggal 26 Agustus 1947 bergabung menjadi Dewan Kalimantan Timur. Selanjutnya Daerah Kalimantan Timur menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Timur dengan Kepala Daerah, Sultan Aji Muhammad Parikesit dari Kesultanan Kutai dengan pangkat Kolonel. Daerah Banjar yang sudah terjepit daerah federal akhirnya dibentuk Dewan Banjar tanggal 14 Januari 1948.
Gubernur Kalimantan dalam pemerintahan Pemerintah RI di Yogyakarta, yaitu Pangeran Muhammad Noor, mengirim Cilik Riwut dan Hasan Basry dalam misi perjuangan mempertahankan kemerdekaan untuk menghadapi kekuatan NICA. Pada tanggal 17 Mei 1949, Letkol Hasan Basry selaku Gubernur Tentara ALRI Wilayah IV Pertahanan Kalimantan memproklamirkan sebuah Proklamasi Kalimantan yang isinya bahwa "Kalimantan" tetap sebagai bagian tak terpisahkan dari Negara Republik Indonesia yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Gubernur Militer ini merupakan upaya tandingan terhadap terbentuknya Dewan Banjar yang didirikan Belanda.
Di masa Republik Indonesia Serikat, Kalimantan menjadi beberapa satuan-kenegaraan yaitu: Daerah Istimewa Kalimantan Barat dengan ibukota Pontianak, Federasi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda, Dayak Besar dengan ibukota sementara Banjarmasin, Daerah Banjar dengan ibukota Banjarmasin, Federasi Kalimantan Tenggara dengan ibukota Kotabaru.
Sejak tahun 1938, Borneo-Hindia Belanda (Kalimantan) merupakan satu kesatuan daerah administratif di bawah seorang gubernur, yang berkedudukan di Banjarmasin, dan memiliki wakil di Volksrad.
Pembentukan kembali provinsi Kalimantan tanggal 14 Agustus 1950 sesudah bubarnya RIS,  diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan (dahulu bernama provinsi Kalimantan, salah satu provinsi pertama). Hingga tahun 1956 Kalimantan dibagi menjadi 3 provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat. Selanjutnya pada tanggal 23 Mei 1957, secara resmi terbentuklah propinsi Kalimantan Tengah yang sebelumnya bernama Daerah Dayak Besar sebagai bentuk pemisahan diri dari Kalimantan Selatan, berdiri menjadi provinsi ke-17 yang independen.
Kemudian dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Kalimantan merupakan lokasi utama dalam peristiwa Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1962 dan 1966.
Pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa, sebelah timur Selat Melaka, sebelah barat pulau Sulawesi dan sebelah selatan Filipina. Luas pulau Kalimantan adalah 743.330 km².
Pulau Kalimantan dikelilingi oleh Laut Cina Selatan di bagian barat dan utara-barat, Laut Sulu di utara-timur, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur serta Laut Jawa dan Selat Karimata di bagian selatan.
Gunung Kinabalu (4095 m) yang terletak di Sabah, Malaysia ialah lokasi tertinggi di Kalimantan. Selain itu terdapat pula Gunung Palung, Gunung Lumut, dan Gunung Liangpran.
Sungai-sungai terpanjang di Kalimantan adalah Sungai Kapuas (1143 km) di Kalimantan Barat, Indonesia, Sungai Barito (880 km) di Kalimantan Tengah, Indonesia, Sungai Mahakam (980 km) di Kalimantan Timur, Indonesia, Sungai Rajang (562,5 km) di Serawak, Malaysia.
Data pengundulan hutan Kalimantan dari 1900 dan prediksi tahun 2020.[24] Kalimantan memiliki hutan yang lebat. Namun, wilayah hutan itu semakin berkurang akibat maraknya aksi penebangan pohon. Hutan Kalimantan ialah  habitat alami bagi hewan orang utan, gajah borneo, badak borneo, landak, rusa, tapir dan beberapa spesies yang terancam punah.[3]
Di Pulau Kalimantan terdapat sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia. Wilayah Brunei seluruhnya berada di pulau ini. Kalimantan wilayah Indonesia dibagi menjadi empat provinsi berdasarkan urutan pembentukannya:
Berikut 9 kota besar di Kalimantan Indonesia berdasarkan jumlah populasi tahun 2010 dan perbandingan dengan tahun 2005.[25]
Urutan
Kota, Propinsi
Populasi 2005[25]
Populasi 2010[26]
1
574,439
726,223
2
589,115
625,395
3
469,884
559,126
4
501,483
550,304
5
170,761
220,223
6
152,839
199,359
7
155,716
193,069
8
167,892
186,306
9
120,348
140,787
Negara-negara bagian dan wilayah Persekutuan Malaysia yang berada di Kalimantan:
Bahasa-bahasa asli di Kalimantan merupakan bahasa Austronesia dari rumpun Malayo-Polynesia dan Dayak.
Referensi
3. Meissas, Achille (1847). Dictionnaire de géographie ancienne et moderne.Perancis Hachette. hlm. 172.
5. de Rienzi, Grégoire Louis Domeny (1836). L'Univers: histoire et description de tous les peuples ....Perancis, .F. Didot fréres. hlm. 236. http://books.google.com.
7. Koninklijk bataviaasch genooutschap van kunstent en wetenschappen (1814). Verhandelingen. Deel 1,2, 3e druk; 3,4, 2e druk; 5-..Inggris. pp. 21. http://books.google.co.id/.
9. Charton, Barbara (2008). The Facts on File dictionary of marine science (edisi ke-2). Infobase Publishing. Inggris hlm. 203. ISBN 0816063834. http://books.google.co.id.
10. Muljana, Slamet (2006). Sriwijaya. PT LKiS Pelangi Aksara. Indfnesia hlm. 88.
11. Raffles, Lady Sophia (1835). Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles. 2. J. Duncan. hlm. 396..
12. Royal Institution of Great Britain (1817). The Quarterly journal of science and the arts. 2. John Murray. pp. 331. http://books.google.co.id.
13. Christoph Friedrich von Ammon, Leonhard Bertholdt (1817). Kritisches Journal der neuesten theologischen Literatur. 6. J. E. Seidel. pp. 444.
15. MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. (Indonesia) Chambert-Loir, Henri (2004). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 121.
18. East India Company, East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany. 12. Wm. H. Allen & Co. hlm. 118.
23. Maps courtesy of www.theodora.com/maps used with permission
25. Hasil Sensus Penduduk BPS 2010
26. Sanaji, Miftah. Seafood: Citarasa Kalimantan. PT Gramedia Pustaka Utama.

Kamis, 17 Mei 2012

Biografi Singkat Leon Trotsky


"Hidup itu indah. Biarlah generasi masa depan membersihkannya dari semua yang jahat, opresi, dan kekejaman, dan menikmatinya sepenuhnya." – Leon Trotsky

Lev Davidovich Bronstein, begitu nama aslinya. Bersama Lenin dan kaum Bolshevik di Rusia, dia memimpin Revolusi Oktober yang mendirikan negara buruh pertama di muka bumi. Namun nasibnya tragis. Terus berpegang pada cita-cita sosialisme yang sejati, dia menjadi musuh bebuyutan Josef Stalin. Dipecat dari partai, diasingkan dari Uni Soviet, diburu di mana-mana, difitnah, keluarganya dibunuhi, dan dia sendiri akhirnya mati di tangan agen rahasia Stalin di Meksiko. Sampai akhir hayatnya, dia berjuang untuk mempertahankan Uni Soviet dari bahaya internal – kaum birokrasi dan konter-revolusi – dan bahaya eksternal – intervensi imperialis.

Leon Trotsky dilahirkan tahun 1879 di Yanovka, Rusia, yang sekarang adalah Ukraina. Dia adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Ayah dan ibunya adalah petani Yahudi, yang dengan kerja kerasnya berhasil menjadi petani menengah. Kehidupannya di pedesaan bersama kaum tani yang terhisap membuatnya menjadi seorang pemuda yang membenci ketidakadilan.

Ketika dia berumur sembilan tahun, ayahnya mengirim dia ke kota Odessa untuk sekolah. Odessa adalah sebuah kota metropolitan yang penuh dengan kehidupan, berbeda dengan kota-kota Rusia lainnya dan tentunya berbeda sekali dengan desa kelahiran Trotsky. Di Odessa, Trotsky menyerap segala yang urban. Namun dia tetap kembali ke desa kelahirannya setiap musim panas. Setiap kepulangannya, dia semakin merasakan perbedaan antara pedesaan – yang terbelakang dan feodal – dengan kota – yang dia lihat sebagai pusat yang moderen dan maju. Di sekolah, dia adalah seorang pemberontak yang membenci kediktaturan para gurunya dan sistem pendidikan Rusia yang mencekiknya, sampai-sampai dia dikeluarkan dari sekolah karena melawan.

Rusia pada akhir abad ke-19 sedang memasuki era industrialisasi. Rusia, sebuah negara feodal dengan kaum tani yang besar, memasuki corak produksi kapitalis dengan bantuan kapital Eropa Barat. Daerah-daerah industri dengan pabrik-pabrik besar tumbuh berjamuran. Jutaan kaum tani Rusia terlempar ke pabrik-pabrik besar ini untuk pertama kalinya. Kaum proletariat Rusia yang muda ini tumbuh dengan pesat, tidak hanya dalam jumlah tetapi juga dalam kesadarannya. Perlawanan kaum buruh menjadi semakin sering. Di periode inilah generasi Marxis Rusia lahir, tidak hanya Trotsky, tetapi juga Lenin, Kamenev, Zinoviev, Kollontai, Sverdlov, Bukharin, dan banyak lainnya.

Dia berumur 17 tahun ketika pertama kali berkecimpung dalam dunia gerakan. Aktivitas revolusioner pertamanya adalah membentuk Serikat Buruh Rusia Selatan pada awal 1897. Dengan nama pena “Lvov” dia menulis selebaran, artikel, pamflet, deklarasi-deklarasi, untuk mempopulerkan ide-ide revolusioner di antara buruh-buruh industri dan mahasiswa revolusioner. Rejim Tsar Rusia yang diktaturial segera meringkus Trotsky pada bulan Januari 1898 bersama-sama dengan 200 anggota serikat buruh. Dia lalu dipenjara 2 tahun dan diasingkan ke Siberia pada tahun 1900 bersama kamerad-kameradnya.

Awalnya Trotsky bukanlah seorang Marxis. Seperti banyak anak muda jamannya, dia merangkul ide populisme revolusioner dengan heroisme dan romantismenya. Namun perlahan-lahan dia menyadari keterbatasan dari ide populisme. Setelah bermalam-malam berdiskusi dan berdebat dengan segelintir Marxis di kelompoknya – termasuk dengan calon istri pertamanya Alexandra Sokolovskya – dia akhirnya menerima Marxisme sebagai ideologi perjuangan dan tidak pernah menengok ke belakang lagi.

Di penjara dan pengasingan, dia habiskan waktunya menyelami teori-teori Marxis. Dari tempat pengasingannya di Siberia dia terus aktif menulis. Setelah mempelajari bahwa ada sekelompok kaum Marxis di luar negeri – salah satunya Lenin – dengan korannya Iskra yang bertujuan membentuk sebuah organisasi kaum revolusioner profesional yang tersentralisir, Trotsky memutuskan bahwa dia harus lari dari Siberia dan bergabung dengan Lenin. Keputusan yang berat baginya karena dia harus meninggalkan istri dan dua anaknya, tetapi tugas revolusi memanggilnya. Dengan paspor palsu bernama Trotsky, larilah dia dari Siberia pada musim panas 1902 untuk menemui rekan seperjuangannya di London, yang tak disangkanya akan menjadi pemimpin Revolusi Oktober 15 tahun kemudian.

Pagi-pagi buta, Trotsky mengetuk pintu apartemen Lenin di 30 Holford Square, London. Krupskaya membukakan pintu dan lantas berteriak memanggil Lenin yang baru saja bangun dan masih di tempat tidurnya: “Pero telah tiba!” Sebuah pertemuan bersahaja ini akan mengubah sejarah manusia.

Trotsky menjadi murid dari para editor Iskra, dimana dia menyerap ilmu Marxisme dari para tetua Marxis Rusia, terutama Axelrod dan Zasulich yang sangat dekat dengannya. Namun perpecahan segera tampak di tubuh dewan editor Iskra. Pada kongres Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia tahun 1903, hubungan antara Lenin dan Trotsky retak. Lenin ingin memperkecil dewan editor Iskra dari 6 anggota menjadi 3, dengan mengeluarkan Axelrod dan Zasulich. Trotsky yang dekat dengan mereka, dan juga sangat menghormati mereka, tidak bisa mengerti mengapa Lenin melakukan ini dan merasa Lenin bersikap terlalu kejam. Selain itu, usulan Lenin untuk memperketat keanggotaan partai juga ditentang oleh Trotsky. Episode ini melempar Trotsky ke kubu Menshevik, tetapi tidak lama. Perbedaan politik segera mencuat ke permukaan, dimana tendensi reformis mulai terlihat di antara kaum Menshevik. Trotsky pun akhirnya keluar dari faksi Menshevik pada tahun 1904. Selama 13 tahun selanjutnya, dia berada di luar faksi Menshevik dan Bolshevik, dan berusaha menyatukan kedua faksi ini demi kemenangan kelas proletariat. Namun secara politik gagasan dia lebih dekat dengan Lenin dan Bolshevik, sementara dia terus mengkritik tendensi-tendensi reformis kaum Menshevik.

Di kemudian hari, Trotsky mengakui kekeliruannya dalam mencoba menyatukan dua faksi yang secara fundamental berbeda. Kaum Stalinis terus menggali episode ini untuk mendiskreditkan Trotsky dan menggambarkannya sebagai musuh bebuyutan Lenin. Sementara Lenin sendiri sudah mengatakan kepada kamerad-kameradnya untuk tidak mengungkit-ungkit masa lalu tersebut, dan bahwa semenjak Trotsky bergabung dengan Bolshevik pada tahun 1917, tidak ada Bolshevik yang lebih baik daripadanya. Trotsky dipercayakan memimpin Komite Militer Revolusioner Petrograd yang mengorganisir perebutan Petrograd dan Istana Musim Dingin. Ia lalu dipercayakan oleh Lenin untuk membentuk Tentara Merah dan memimpinnya dalam mempertahankan Uni Soviet dari Tentara Putih dan 21 pasukan negara imperialis yang mengepungnya. Nasib Revolusi Oktober dan Uni Soviet diletakkan oleh Lenin di tangan Trotsky. Begitu besarnya kepercayaan Lenin pada Trotsky walaupun mereka pernah berseteru dengan sengit.

Tahun 1905 dibuka dengan guntur revolusi, yang lalu menjadi gladiresik untuk Revolusi 1917. Situasi ekonomi rakyat semakin parah, dan ini mendorong ratusan ribu rakyat turun ke jalan. Mereka dipimpin Pendeta Gapon pada hari Minggu, yang dengan damai ingin menyampaikan petisi kepada Tsar Nicholas II, memohon agar Sang Raja meringankan beban mereka. Sang Raja justru memerintahkan tentaranya untuk menembaki para demonstran. Ribuan meninggal pada hari yang lalu dikenal sebagai Minggu Berdarah. Peristiwa ini membuka gerbang Revolusi 1905.

Kaum buruh Rusia untuk pertama kalinya mendobrak pintu sejarah. Di bulan Januari saja, 400 ribu buruh mogok di seluruh Rusia. Soviet untuk pertama kalinya terbentuk di St. Petersburg (Petrograd).

Trotsky, mendengar kabar meledaknya revolusi di Rusia, segera kembali ke St. Petersburg pada bulan Februari 1905. Dia langsung terjun ke dalam pusaran revolusi. Koran Ruskaya Gazeta diambil alih olehnya dan di tangannya koran kecil ini menjadi koran revolusioner yang sangat popular. Sirkulasinya meningkat dari 30.000 menjadi 500.000 pada bulan Desember. Dia lalu dipilih menjadi Presiden Soviet Petersburg.

Tentara Tsar akhirnya mengepung markas Soviet Petersburg dan membubarkannya. Trotsky dan anggota-anggota Soviet lainnya ditangkap. Untuk pertama kalinya, rakyat buruh luas mengetahui nama Trotsky dan menerimanya sebagai pemimpin Revolusi 1905. Bahkan setelah ditangkap, banyak tentara bawahan yang bersikap baik dan hormat padanya.

Untuk kedua kalinya, Trotsky diasingkan ke Siberia pada tahun 1907. Namun dia berhasil lari di tengah perjalanannya ke tempat pembuangan. Dia menetap di Vienna dan terus menulis untuk berbagai koran. Dia menerbitkan koran Pravda yang dia seludupkan ke Rusia untuk kaum buruh. Trotsky tetap berada di luar faksi Bolshevik dan Menshevik. Dari tahun 1912-14, dia menjadi koresponden Perang Balkan.

Perang Dunia Pertama meledak pada tahun 1914 dan tidak sedikit kaum sosialis Eropa yang mendukung perang imperialis ini. Trotsky menghadiri Konferensi Zimmerwald pada tahun 1915 yang menyatukan segelintir kaum sosialis yang menentang perang. Sementara, Perang Dunia ini menyeret Rusia dan mempersiapkan kondisi untuk revolusi.

Pada bulan Februari 1917, serangkaian pemogokan dan demo terjadi di Petrograd. Tsar memerintahkan tentara untuk membubarkan kaum buruh yang sedang berdemo itu, tetapi justru direspon dengan pembangkangan. Tanpa kekuatan angkatan bersenjata lagi di tangannya, monarki Tsar akhirnya tumbang. Soviet pun secara spontan lahir kembali. Trotsky ada di New York ketika Revolusi Februari ini terjadi. Dia segera kembali ke Rusia dan tiba pada bulan Mei.

Dia segera berdiskusi dengan Lenin dan Bolshevik untuk menggabungkan kelompoknya Mezhraiontsy, yang beranggotakan 4000 orang. Lalu pada bulan Juli, Trotsky secara formal bergabung dengan Bolshevik. Dia terpilih menjadi anggota Komite Pusat Bolshevik. Dengan garis politik yang tepat, Bolshevik meraih mayoritas di dalam Soviet-soviet. Di St. Petersburg, Trotsky terpilih sebagai Presiden Soviet.

Pada bulan September dan Oktober, Trotsky memainkan peran terpentingnya: sebagai organisator pemberontakan bersenjata di St. Petersburg. Dia memimpin Komite Militer Revolusioner yang bertanggung jawab atas perebutan kota St. Petersburg dan Istana Musim Dingin, tempat duduknya Pemerintahan Provisional. Di bawah kepemimpinannya yang luar biasa, St. Petersburg direbut hanya dengan 10 korban jiwa. “Atas nama Komite Militer Revolusioner, saya menyatakan bahwa Pemerintahan Provisional sudah ditumbangkan,” begitu Trotsky membuka pertemuan Soviet St. Petersburg pada tanggal 25 Oktober.

Soviet lalu menjadi pemerintahan baru Rusia, dan negara buruh pertama di dalam sejarah manusia lahir. Trotsky diangkat menjadi Komisar Luar Negeri, dengan tugas penting untuk segera menghentikan keterlibatan Rusia di dalam peperangan. Dengan taktik revolusioner, dia membuka semua rahasia perjanjian-perjanjian Rusia dengan negara-negara lain untuk publik. Sementara bernegosiasi dengan rejim Jerman untuk gencatan senjata, dia mengobarkan semangat juang rakyat pekerja dan tentara Jerman untuk menumbangkan pemerintahan mereka sendiri. Perang Dunia Pertama pun berakhir tahun 1918 karena tentara dan rakyat Jerman memberontak.

Namun negara-negara kapitalis tidak sudi membiarkan Uni Soviet selamat. Contoh menakjubkan ini harus dihancurkan sebelum ia menyebar. Dua puluh satu pasukan negara imperialis segera mengepung negara Uni Soviet yang masih muda ini untuk menghancurkannya. Mereka membantu Tentara Putih untuk menumbangkan negara buruh ini. Perang Sipil berkecamuk di tanah Oktober dari tahun 1918-1921.

Trotsky lalu diangkat menjadi Komisar Perang dan Pemimpin Tentara Merah dalam waktu yang paling genting di dalam sejarah Uni Soviet. Dari puing-puing Rusia, dia bentuk sebuah pasukan yang tugasnya tidak hanya untuk membela negara Uni Soviet tetapi juga untuk berjuang demi revolusi sosialis sedunia. Tidak seperti jendral-jendral kapitalis yang memerintah pasukannya dari tempat yang aman, Trotsky langsung maju ke garis depan. Dia tahu bahwa Tentara Merah harus dibangun secara politik. Hanya prajurit yang percaya pada masa depan sosialisme dapat berjuang dengan semangat seratus kali lipat daripada tentara kapitalis. Dengan kereta apinya, dia bergerak dari satu medan perang ke medan perang lain, tidak hanya untuk memimpin strategi perang tetapi juga menyebarkan gagasan sosialisme ke semua pasukannya. Keretanya menjadi sebuah legenda. Dalam tiga setengah tahun, Trotsky dan keretanya menempuh 105.000 kilometer, atau dua setengah kali mengelilingi dunia.

Setelah berhasil mengalahkan Tentara Putih dan tentara imperialis, Uni Soviet dihadapkan dengan tugas membangun perekonomiannya yang porak poranda akibat dua perang. Selain itu, gelombang revolusi yang menyapu Eropa setelah Revolusi Oktober gagal semuanya. Uni Soviet terisolasi di dalam keterbelakangannya tanpa bantuan ekonomi dari luar. Di dalam situasi inilah perlahan-lahan lapisan birokrasi menguat. Rakyat yang sudah letih secara fisik dan mental tidak lagi aktif di dalam kehidupan politik partai dan negara. Mereka lebih sibuk mencari sesuap nasi. Pertemuan Soviet menjadi kosong. Sementara, ratusan ribu mantan birokrat Tsar Rusia mulai memasuki institusi negara Soviet, karena mayoritas buruh dan tani tidak terdidik dan tidak mampu baca-tulis. Mereka ini seperti buah apel, luarnya merah tetapi dalamnya putih.

Di dalam partai Bolshevik, hal yang sama terjadi. Kaum fungsionaris menjadi semakin kuat. Misalkan, posisi sekretaris yang awalnya hanya bersifat administratur (mencatat notulensi, menjadwalkan pertemuan, dll.) menjadi posisi politik dengan kekuasaan yang besar. Stalin dipilih menjadi general secretary (terjemahannya sekretaris umum) pada tahun 1922 sebenarnya hanya untuk tugas administrasi sekretaris saja, dan bukan sebagai pemimpin sama sekali. Posisi general secretary tidak ada kekuasaan politik sama sekali. Lenin sendiri, dan pemimpin-pemimpin ulung Bolshevik lainnya seperti Kamenev, Zinoviev, dll., tidak pernah menjabat sebagai general secretary. Kepemimpinan Bolshevik ada di tangan kepemimpinan kolektif Komite Pusat. Menguatnya lapisan birokrasi negara dan partai membuat posisi sekretaris menjadi posisi politik, dan general secretary (sekretaris umum) pun menjadi Sekretaris Jendral, atau Sekjen. Stalin, sang Sekjen, pun lahir, perlahan-lahan dan mengendap-endap.

Trotsky segera membangun kekuatan untuk melawan bangkitnya birokrasi ini. Tahun 1922 dia dan Lenin mulai bekerja sama untuk melawan bahaya birokrasi merah di dalam tubuh Soviet dan Partai Bolshevik. Namun, Lenin menderita stroke pada Maret 1923 yang membuatnya lumpuh dan lalu meninggal awal Januari 1924. Dengan meninggalnya Lenin, Stalin langsung menyerang Trotsky dengan terbuka dan penuh bisa ular beracun. Fitnah ditumpuk di atas fitnah. Di sini istilah Trotskisme mulai digunakan oleh Stalin dan kacung-kacungnya untuk memisahkan Trotsky dari Leninisme dan Marxisme.

Berulang kali, Trotsky menunjukkan ketepatan perspektifnya mengenai Revolusi Jerman 1923 dan Revolusi Tiongkok 1926-27. Namun justru kekalahan revolusi-revolusi ini semakin menyudutkan Uni Soviet, tidak peduli seberapa benarnya Trotsky. Pada tahun 1927, Trotsky dan kamerad-kamerad Oposisi Kirinya dipecat dari partai. Dia sendiri dibuang, pertama ke Khazakstan, lalu ke Turki.

Dari luar Uni Soviet, dia terus mengorganisir Oposisi Kiri untuk mengembalikan Partai Komunis Uni Soviet dan Komunis Internasional ke jalan sosialisme. Sementara satu-per-satu kamerad-kameradnya menyerah pada Stalin, dia terus melawan. Dia dibenci oleh kaum Stalinis, kaum reformis sosial demokrat, dan juga kaum kapitalis; semua dengan alasan yang sama: dia terus berjuang untuk revolusi sosialis sedunia.

Dengan kekuatan penanya, dia terus menulis guna mewariskan tradisi Revolusi Oktober ke generasi selanjutnya. Dia ekspos kebangkrutan Stalinisme dalam bukunya Revolusi yang Dikhianati. Dia jawab semua musuhnya yang mencoba menelikung teori Revolusi Permanen dengan fitnah-fitnah, dalam bukunya Revolusi Permanen. Sebagai aktor penting dalam Revolusi 1905 dan 1917, bukunya Sejarah Revolusi Rusia adalah sebuah harta karun yang sangat penting, yang mengupas peristiwa historis ini dari kacamata Marxis.

Dalam pembuangannya, Trotsky menemui kesulitan mencari negara yang mau memberikannya visa ijin tinggal. Dia dianggap terlalu berbahaya secara politik. Selain itu, Stalin juga menekan banyak pemerintah untuk menolaknya. Akhirnya pada tahun 1933, dia berhasil meninggalkan Turki dan mendapat visa ke Prancis. Hanya dua tahun sebelum pemerintah Prancis menendangnya, dan dia lalu pindah ke Norwegia. Namun di sana kebebasannya – untuk bergerak dan melakukan kerja politik – dikekang oleh pemerintah Norwegia. Situasi politik dunia yang memanas memaksanya untuk pindah ke negara dimana dia bisa lebih bebas beraktivitas. Pada tahun 1937, dia diterima dengan tangan terbuka oleh Presiden Lazaro Cardenas dari Meksiko, seorang presiden populis yang cukup progresif. Meksiko pun menjadi tempat pemberhentian dia selanjutnya, dan yang terakhir.

Stalin semakin memperketat jeratannya. Pengikut Trotsky mulai diburu dan dibunuh, tidak hanya di Rusia tetapi juga di seluruh muka bumi. Anak laki-lakinya, Lev Sedov, yang juga tangan kanannya, dibunuh di Paris. Anak laki-lakinya yang ada di Uni Soviet, Sergei Sedov, seorang insinyur yang tidak pernah berpolitik, ditangkap, dikirim ke kamp kerja paksa, dan dieksekusi. Tiga cucunya hilang tanpa bekas; empat menantunya dieksekusi. Begitu bencinya Stalin terhadap Trotsky karena ia mewakilkan ancaman terbesar terhadap kekuasaan birokrasi Soviet. Sampai akhir hayatnya, Leon Trotsky tidak pernah menyerah. Dia lawan semua musuhnya: Stalinis, reformis, sosial demokrat, kapitalis, fasis. Oleh kapitalis dia diserang sebagai agen komunis, oleh Stalinis dia difitnah sebagai agen fasis dan kapitalis.

Pada tahun 1938, Trotsky memproklamirkan Internasional Keempat sebagai kekuatan baru untuk mengobarkan revolusi sosialis dunia. Menurutnya Komunis Internasional (Internasional Ketiga) sudah bukan lagi organ perjuangan dan hanya menjadi instrumen kebijakan asing Moskow. Benar, tidak lama kemudian pada tahun 1943 Stalin membubarkan Komintern dengan sepihak, tanpa diskusi, tanpa kongres, dengan sebuah surat pernyataan singkat sepanjang 2 halaman atau 1100 kata. Alasan yang dikemukakan: Partai-partai komunis sudah mandiri dan tidak perlu lagi organisasi internasional; situasi politik tiap-tiap negara sudah menjadi terlalu kompleks untuk bisa dipecahkan oleh sebuah organisasi internasional. Namun pada kenyataannya ini sesuai dengan doktrin “sosialisme di satu negeri” kaum birokrasi, yang tidak ingin mengobarkan revolusi sosialis dunia dan ingin hidup bersama (co-exist) dengan kapitalisme.

Trotsky harus dihabisi. Gagasan-gagasannya semakin berbahaya. Fitnah sudah tidak cukup lagi. Begitulah pikir Stalin. Akhirnya agen rahasia Stalin berhasil menyusup ke lingkaran Trotsky. Ramon Mercader, pada tanggal 20 Agustus 1940, masuk ke ruang belajar Trotsky tanpa kawalan dan menancapkan kapak es ke tengkoraknya. Namun Trotsky, walau sudah berumur 61 tahun, masih bisa melawan dengan darah mengucur dari kepalanya dan menghentikan Ramon Mercader dari menghantarkan pukulan selanjutnya. Penjaga Trotsky langsung meringkus Ramon Mercader. Awalnya sang pembunuh ini mencoba berbohong bahwa dia bukan agen rahasia Stalin, dan bahwa dia melakukan ini karena kecewa dengan Trotsky yang memerintahkan dia menyelinap masuk ke Rusia untuk melakukan sabotase dan membunuh para pemimpin Uni Soviet. Namun kedoknya segera terbuka bahwa dia adalah agen rahasia Stalin.

Trotsky akhirnya meninggal pada pukul 7.25 malam, 21 Agustus, 1940. Lukanya terlalu parah. Dokter tidak bisa menyelamatkan dia. Esok harinya, iring-iringan jenazah Trotsky sepanjang 13 kilometer dipadati rakyat Meksiko. Permintaan untuk mengadakan pelayanan pemakaman di New York ditolak oleh pemerintahan Amerika, yang masih takut dengan Trotsky walaupun dia sudah mati. Akhirnya jenazahnya dikremasi dan abunya disimpan di rumah terakhirnya yang sekarang menjadi museum.

Di meja tulisnya, dimana dia diserang, manuskrip buku terakhirnya tercecer berlumuran darah. Manuskrip yang belum selesai itu adalah biografi Stalin yang sedang dia kerjakan. Seperti manuskrip tersebut, tugasnya untuk menyelamatkan Uni Soviet belumlah selesai namun nasib telah merenggutnya dengan kejam. Biar begitu, gagasan-gagasan dan semangat revolusionernya terus membahana melewati batas ruang dan waktu, memanggil umat manusia untuk berdiri melawan penindasan.

Ottawa, 26 Desember 2011

Sumber

PERANAN HUKUM ADAT PADA PENANGGULANGAN PENYAKIT MASYARAKAT

PERANAN HUKUM ADAT PADA PENANGGULANGAN PENYAKIT MASYARAKAT (PEKAT)
Oleh : M. Fajrin
Sejak dasawarsa terakhir, perkembangan teknologi dan zaman telah membawa perubahan sosial pada masyarakat. Dengan maraknya penggunaan teknologi yang berkembang secara pesat, juga membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap Kondisi mental masyarakat itu sendiri. Masyarakat adat sebagai masyarakat sosial yang berada di daerah juga menerima efek perkembangan teknologi tersebut.
Pergeseran perubahan sosial ini juga dirasakan oleh masyarakat perkotaan. Sikap individualistik menjangkiti masyarakat local yang berakibat pada berkurangnya penerapan nilai-nilai luhur dalam masyarakat tersebut. Setelah hal itu terjadi, muncullah penyakit-penyakit masyarakat yang mau tidak mau menjadi sebuah tren zaman di era masa kini.
Penyakit masyarakat tersebut meliputi berbagai hal, sebagai contoh Kasus-kasus selingkuh, perzinahan, pencabulan serta hubungan Incest yang dilakukan secara terbuka. Parahnya lembaga-lembaga pemerintah hanya mampu merazia dan membina panti-panti sosial tetapi tidak mampu untuk memberikan efek jera kepada si pelaku.
Dewasa ini kita dapat melihat bahwa pelaku pemerkosaan dapat melenggang bebas setelah menjalani hukuman sekian tahun di penjara, sementara korban pemerkosaan itu sendiri menderita kerugian seumur hidup. Lalu dimana letak keadilannya??
Pada masyarakat modern, kasus-kasus pemerkosaan sudah mulai jarang terjadi, tetapi yang timbul adalah perilaku Zina atas nama suka atau cinta. Maka dari itu, tak heran beberapa penelitian menyebutkan bahwa Perilaku hubungan intim (ML) ditingkat remaja semakin besar tiap tahunnya. Praktek pelacuran juga menjadi hal yang biasa, semakin tingginya harga tidak mengurangi minat para pemburu Gadis-gadis remaja. Bahkan yang membuat miris adalah praktek tersebut telah menjangkau disekolah-sekolah menengah di daerah?? siapa yang dapat disalahkan?? Tentu semua akan mengatakan diri mereka adalah benar.
Lagi-lagi ini adalah akibat dari meninggalkan Hukum Adat Turunan Nenek moyang. Pernahkah kita mendengar bahwa di masa silam, pelaku perzinahan pada sebuah lingkungan masyarakat dapat dikenai sanksi dengan menikahkan pasangan tersebut secara paksa. Jika dia orang luar dari satu komunitas masyarakat, maka siap-siap untuk diusir beserta pasangan zinahnya. Penegakan hokum seperti ini sudah jarang kita lihat pada masyarakat-masyarakat modern. Bahkan jika masih ada yang menerapkan sanksi seperti ini maka masyarakat ramai-ramai mencemooh sebagai masyarakat primitive.
Inilah yang terjadi, praktek perzinahan tidak lagi di dalam hutan atau gubuk ditengah sawah, tetapi pelaku perzinahan telah memanfaatkan hotel atau penginapan yang murah untuk melampiaskan birahi, mendayung bersama menuju puncak asmara. Aparat pun tak tinggal diam, beberapa penginapan yang murah meriah menjadi sasaran razia-razia. Ada yang ketangkap dan ada pula yang lolos dari penyergapan. Praktek tersebut melahirkan koalisi tak tertulis antara oknum pengusaha penginapan dengan oknum aparat, tentu Upeti yang menggiurkan melahirkan razia tanpa tangkapan.
Lagi-lagi timbul penyakit baru di lingkaran ini, antar upeti sebagai upaya perlindungan terhadap pelaku maksiat. Uang bicara habis perkara. Tak puas terhadap kinerja dari aparat, beberapa kelompok pemuda dan elemen beberapa agama menggalang kekuatan untuk menjerat pelaku-pelaku bejat. Kegiatan ini melahirkan benturan baru antara yang pro dan kontra. Pemuka Agama tak lebih menjadi pembicara arif di depan-depan majelis tanpa mampu berbuat apa-apa. Lagi, Hukum Nasional tak memberikan perlindungan terhadap kehidupan sosial.
Lalu apakah masyarakat harus menjalani kehidupan tersebut tanpa perlindungan dari Negara?
Sebagai Negara yang pernah mengalami penjajahan oleh Negara lain, Rakyat Indonesia sangat mudah untuk di adu domba. Baik di tingkat elit maupun di lapisan paling bawah. Saling curiga antar sesama, bahkan yang mengkhawatirkan adalah sikap saling menjatuhkan tatkala yang lain berada di atas. Masalah agama dan etnisitas juga menjadi peran yang dominan tatkala pilkada tiba. Perilaku sosial masyarakat yang rukun, adil dan makmur hanya kata-kata manis di slogan bernama Pancasila.
Banyaknya forum keagamaan maupun lembaga adat yang berdiri di tiap-tiap daerah, belum mampu menjawab perubahan sosial ini. Tiap masalah selalu menjadi sengketa panjang namun tak mampu untuk diakhiri. Pembangunan daerah menjadi kecurigaan antar komunitas masyarakat. Sampai kapan ini terjadi, tentu bukan persoalan mudah untuk menjawabnya.
Dibeberapa tempat persoalan kepentingan ini juga menjadi isu pokok yang tak dilewatkan begitu saja. Lagi-lagi rakyat menjadi korban. Perilaku menyimpang dan penyakit masyarakat bukan hanya menyangkut masalah kesusilaan belaka. Tapi di sisi yang berbeda, penyakit masyarakat telah menjadi persoalan global yang musti hati-hati untuk menanganinya. Penafsiran yang berbeda terhadap sebuah sejarah bisa berakibat fatal bagi penulis makalah local, namun bagi para peneliti-peneliti asing yang karyanya justru diterbitkan diluar negeri dan tidak menjadi konsumsi bagi masyarakat local justru dapat melenggang tanpa ada masalah terkait interpretasi yang mereka publikasikan.
Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi dengan heterogenitas agama maupun suku yang cukup beragam. Tak ada yang mendominasi atau menjadi minoritas. Semuanya sama dalam bingkai Negara Republik Indonesia. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. memang usang, slogan ini tak termakan zaman, walaupun dengan berat hati untuk akui keberagaman antar umat beragama dan bersosialita.
Walaupun memiliki keberagaman yang cukup tinggi, bukan berarti daerah ini juga rukun dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku maksiat nan bejat telah menjadi konsumsi di media local pada setiap sarapan pagi. Tak hanya pencabulan, perzinahan atau perilaku asusila lainnya, tetapi juga merambah pada pengrusakan fasilitas umum, perampokan, pembunuhan maupun pencurian dirumah-rumah penduduk. Tidak sering, tapi rutin. Hal inilah yang menjadi keprihatinan kita semua untuk menyikapinya.
Peranan Hukum Adat pada penanggulangan Penyakit Masyarakat perlu kembali ditingkatkan. Tentu dengan adanya saling kesepahaman antara penegak hokum dan para pemuka-pemuka adat. Hal ini untuk mendorong peminimalisiran Perilaku dan Penyakit Masyarakat di Daerah. Dengan adanya hukuman adat tersebut, para pelaku maksiat tidak lagi dapat berbuat semena-mena di tempat-tempat yang dirasa aman, hal ini dikarenakan telah tumbuhnya kesadaran yang merata di masyarakat untuk mensikapi perbuatan negative tersebut.
Perubahan sosial yang mengarah kepada sisi kebaikan tentunya menjadi tanggung jawab kita semua. Tidak hanya Pemerintah, melainkan semua komponen di Masyarakat juga memegang peranan penting dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Akankah hal itu dapat terjadi?? tentunya jawaban tersebut kembali pada kita semua.
(Penulis adalah Anggota Lanjutan Makumpala Untan)

Rabu, 16 Mei 2012

Logo FC Barcelona Dari Masa ke Masa

Kali ini saya mencoba memberikan informasi kepada teman-teman cules, bahwa Barcelona memiliki 12 buah model lambang dari Tahun 1910 s/d saat ini, mungkin dari sebagian teman-teman cules sebagian sudah banyak yang tau tenteng hal ini.

Disini saya tidak ada bermaksud apa-apa, saya hanya ingin memberikan informasi untuk menambah pengetahuan kita cules semua tentang Barcelona

Dibawah ini adalah lambang-lambang Barcelona dari tahun 1910 s/d 1939 :

Tahun 1910 s/d Tahun 1939

Dan dibawah ini adalah lambang-lambang Barcelona di masa Jendral Franco tahun 1939 s/d 1974 :

Tahun 1939 s/d Tahun 1974

Dan selanjutnya adalah lambang-lambang dimana Barcelona mulai memburu gelar pada tahun 1974 s/d 2002 :

Tahun 1974 s/d Tahun 2002

Dan ini adalah lambang Barcelona dari tahun 2002 s/d saat ini :

Tahun 2002 s/d Saat ini

Itu semua lambang-lambang Barcelona dari masa ke masa