Tampilkan postingan dengan label ProfileTokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ProfileTokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Maret 2015

Lee Kuan Yew : Dari Aktivis Pergerakan Pemuda, Anggota Senat Terlama Sampai Founding Father Singapura

Lee Kuan Yew


Lee Kuan Yew (bahasa Mandarin: 李光耀, Pinyin: Lǐ Guāngyào, lahir di Singapura, 16 September 1923 – meninggal di Singapura, 23 Maret 2015 pada umur 91 tahun) adalah Perdana Menteri Singapura dari tahun 1959 – 1990. Ia tetap menjadi tokoh politik yang berpengaruh di Singapura sejak pengunduran dirinya sebagai perdana menteri. Semasa pemerintahan Goh Chok Tong, Lee menjabat sebagai Menteri Senior. Saat ini jabatan dia ialah Menteri Mentor, sebuah jabatan baru yang dibentuk di bawah kepemimpinan anaknya, Lee Hsien Loong, yang menjadi PM ketiga pada 12 Agustus 2004.

Ia meninggal pada 23 Maret 2015 di Singapore General Hospital, Singapura karena radang paru-paru[1]. Sebelumnya kondisinya terus menurun sejak dirawat di rumah sakit pada 5 Februari 2015[2].

Politikus kelahiran Singapura ini bersekolah di SD Telok Kurau, Raffles Institution dan Raffles College. Kuliahnya tertunda akibat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang di Singapura pada 1942–1945. Pada masa itu, ia menjual Stikfas, sejenis lem yang dibuat dari tapioka, di pasar gelap. Lee yang sejak 1942 mengambil mata pelajaran bahasa Mandarin dan bahasa Jepang bekerja sebagai penulis laporan kilat Sekutu bagi Jepang serta menjadi editor bahasa Inggris untuk koran Jepang Hobudu (alat propaganda) dari 1943–1944.

Setelah perang berakhir, Lee mengambil jurusan hukum di Fitzwilliam College, Inggris. Ia kembali ke Singapura pada 1949 untuk bekerja sebagai pengacara di biro Laycock & Ong.

Pada 1954, Lee bersama sekelompok rekan kelas menengah yang berpendidikan di Inggris membentuk Partai Aksi Rakyat (PAP) untuk mendorong berdirinya pemerintahan Singapura yang berdaulat sehingga kolonialisme Britania Raya dapat berakhir. Lima tahun kemudian, pada 1959, Lee terpilih sebagai Perdana Menteri pertama Singapura, menggantikan mantan Kepala Menteri Singapura, David Saul Marshall. Lee kembali terpilih menjadi PM untuk ketujuh kalinya berturut-turut dalam kondisi Singapura yang bercondong kepada demokrasi terbatas (1963, 1968, 1972, 1976, 1980, 1984 dan 1988), hingga pengunduran dirinya pada November 1990 kemudian menjabat sebagai Menteri Senior pada kabinet Goh Chok Tong. Pada Agustus 2004, tatkala Goh mundur dan digantikan oleh anak Lee, Lee Hsien Loong, Goh menjabat sebagai Menteri Senior, dan Lee Kuan Yew menjabat posisi baru, yakni Menteri Mentor.

Beberapa anggota keluarga Lee memegang posisi terkemuka di berbagai aspek kehidupan di Singapura. Istri Lee, Kwa Geok Choo, tadinya merupakan salah satu kompanyon biro pengacara terkemuka Lee & Lee. Sedangkan anak-anaknya memegang posisi di berbagai badan usaha milik negara. Lee Hsien Loong kini menjabat sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Singapura serta Wakil Ketua Perusahaan Investasi Pemerintah (GIC) Singapura (ketuanya ialah ayahnya). Lee Hsien Yang memegang posisi penting di perusahaan telekomunikasi SingTel. Anak perempuannya, Lee Wei Ling, mengurus Institusi Saraf Nasional. Menantu perempuannya, Ho Ching (istri Lee Hsien Loong), mengurus Temasek Holdings, sebuah perusahaan perseroan terkemuka yang memegang saham mayoritas di berbagai perusahaan pemerintah. Lee acapkali membantah tuduhan nepotisme dengan argumen posisi terkemuka yang dipegang anggota keluarganya berdasarkan prestasi masing-masing.

Selama masa kepemimpinan Lee sepanjang tiga dasawarsa, Singapura berkembang dari negara golongan Dunia Ketiga menjadi salah satu negara maju di dunia, walaupun dia mempunyai sedikit penduduk dan minimnya sumber daya alam. Lee kerap berkata bahwa satu-satunya sumber daya alam Singapura adalah rakyatnya dan ketekadan dalam bekerja. Ia dihormati oleh banyak rakyat Singapura, terutama generasi lansia yang mengingat karakter kepimimpinannya yang bersemangat selama kemerdekaan dan perpisahan dari Malaysia. Lee diakui sebagai arsitek kemakmuran Singapura pada masa kini, meskipun peran itu juga dilaksanakan oleh Wakil PM Goh Keng Swee yang mengurusi bidang ekonomi.

Lee dianggap sebagai seorang otoriter yang condong kepada kaum elit. Lee sendiri pernah dikutip mengatakan bahwa ia lebih suka ditakuti daripada disayangi rakyatnya.

Lee melaksanakan beberapa peraturan keras guna menekan kaum oposisi dan kebebasan berpendapat, misalnya penuntutan perkara pemfitnahan hingga membangkrutkan musuh-musuh politiknya. Pada suatu perkara misalnya, setelah putusan pengadilan yang condong kepada Lee digulingkan oleh Dewan Penasihat, pemerintah menghapuskan hak untuk naik banding kepada Dewan. Selama Lee menjabat sebagai PM (1965–1990), ia memenjarakan Chia Thye Poh, mantan anggota Parlemen partai oposisi Barisan Sosialis, selama 22 tahun berdasarkan UU Keamanan Dalam Negeri. Chia bebas pada tahun 1989. Untuk memberikan wewenang penuh kepada para hakim dalam keputusan mereka, Lee menghapuskan sistem juri dalam pengadilan Singapura.

Lee Kuan Yew telah menulis dua set buku riwayat hidup: The Singapore Story, pandangannya mengenai sejarah Singapura hingga negara itu keluar dari Federasi Malaysia pada 1965, dan From Third World to First: The Singapore Story, pandangannya mengenai perubahan Singapura menjadi negara maju.

Lee merupakan salah satu peyokong terkemuka norma Asia, walaupun definisi yang dimaksudkannya kerap diperdebatkan. Lee juga mendukung tindakan egenetika. Pada suatu wawancara dengan koran The Straits Times, Lee mengakui dirinya seorang agnostik.

Lee telah menerima berbagai tanda penghargaan, termasuk "Order of the Companions of Honour" (1970), "Knight Grand Cross of the Order of St Michael and St George" (1972), "Freedom of the City" (London, 1982), "Order of the Crown of Johore First Class" (1984) dan "Order of the Rising Sun" (1967).


Sumber : Wikipedia

Minggu, 17 Agustus 2014

Profil MUDA MAHENDRAWAN

Muda Mahendrawan

Muda Mahendrawan, lahir di Pontianak tanggal 17 Agustus 1970 putera dari Almarhum Prof.H.Mahmud Akil,SH mantan rektor UNTAN Pontianak dan Almarhumah Ny.Hj.Sri Puspitawati, menyelesaikan studi Sarjana Hukum di Fakultas Hukum UNTAN Pontianak tahun 1994 dilanjutkan dengan Pendidikan Spesialis Magister Notariat UGM Yogyakarta1995-1998, sehari-sehari berprofesi sebagai Notaris dan PPAT berkantor di Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya (dahulu kabupaten Pontianak sebelum pemekaran) Kalbar sejak juni 1998.  

Pada tahun 2004 melahirkan gagasan untuk pembentukan Kabupaten Kubu Raya untuk dimekarkan dari Kabupaten Pontianak sebagai daerah induk ketika itu, dan pada Juli 2007 Kabupaten Kubu Raya resmi terbentuk dengan UU Nomor 35/2007. Karenanya dikenal sebagai konseptor dan penggagas  dibalik terbentuknya Kabupaten Kubu Raya.

Pada pemilihan Bupati Kubu Raya oktober 2008 terpilih sebagai Bupati pertama yang  dilantik pada 17 februari 2009,  saat itu ia maju sebagai calon bupati melalui jalur Independen (perseorangan)dan menjadi Bupati Independen pertama yang berhasil terpilih di Indonesia ketika itu. 

Ketika menjadi Bupati diawal jabatan langsung melakukan gebrakan dan langkah terobosan dengan mereformasi kebijakan anggaran APBD Kubu Rayayang lebih diarahkan pada program menyentuh langsung kebutuhan rakyat banyak, belanja pemerintah ditekan seminimal mungkin untuk dialihkan ke belanja pembangunan (publik) dengan perbandingan 51% - 49%,  anggaran rutin pemerintah dipangkas dan dihemat untuk dialihkan ke program pro rakyat di sektor kebutuhan mendasar.

Langkahnya membatalkan anggaran jatah pembelian fasilitas mobil dinas bupati dan wakil bupati yang dialihkan pembelian motor bidan-bidan desa dan tidak menganggarkan pembangunan rumah jabatan bupati dan wakil bupati hingga tahun terakhir jabatan untuk menambah anggaran perbaikan sekolah-sekolah rusak berat,  puskesmas, pustu, polindes dan pengembangan pertanian beras lokal  menjadi contoh terobosan keberpihakan yang nyata.

Dengan semangat motto : Berlari lebih Kencang, Berproses lebih Cepat, Bertindak lebih Nyata -Dari Kubu Raya untuk Indonesiabermaksud mengajak rakyat untuk membuktikan bahwa keberadaan kabupaten kubu raya tak boleh menjadi beban bagi negara dan bangsa ini, sebaliknya kubu raya harus mampu berkontribusi besar dan menjadi bagian penting dari Indonesia.
  
Program Kemandirian Pangan menjadi fokus kebijakan utama, dan karena terobosan dan komitmen yang tinggi terhadap kemajuan pangan dan kepedulian terhadap para petani, berbagai kalangan pun menjuluki sebagai Bupati Beras.

Kebijakan pro rakyat di bidang pendidikan dengan menggulirkan program Biaya Operasional Sekolah Daerah atau BosDa untuk menopang kualitas pendidikan dan meringankan beban orang tua siswa ketika masuk tiap jenjang sekolah dengan pemberian baju seragam gratis di tahun ajaran baru. Kebijakan ini berdampak percepatan menurunnya angka anak putus sekolah di Kubu Raya. 

Di sektor kesehatan Muda memperkuat Pelayanan Puskesmas Rawat Inap, Pustu dan Polindes di tiap kecamatan dan Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang sangat membantu warga yang sakit, bahkan kebijakan menghapus pungutan retribusi dalam pelayanan kesehatan dasar di puskesmas, pustu dan polindes. Di bidang pelayanan perizinan, sejak tahun 2010 telah menjalankan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, sehingga mempermudah dan mempercepat proses ijin-ijin usaha, yang berdampak meningkatnya kegiatan investasi dan perputaran ekonomi di Kubu Raya sehingga berdampak pula pada percepatan tumbuhnya lapangan kerja dan peluang wirausaha lebih banyak serta pengangguran terbuka di Kubu Raya mengalami penurunan cukup drastis dari sebelumnya. Lancarnya pelayanan proses perijinan usaha ini juga berdampak langsung meningkatnya pendapatan asli daerah secara drastis, pada tahun ketiga pemerintahan Kubu Raya PAD mengalami lompatan hingga 50 an milyar dari sebelumnya hanya belasan Milyar. Program pro rakyat yang juga telah banyak dilakukan pemerintah kubu raya yaitu Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni kepada warga miskin di Kubu Raya. Lebih dari seribu rumah telah direhab agar layak huni selama kurun 4 tahun ini.

Fokus terhadap program pemberdayaan perempuan dan keluarga maka sering terlibat aktif bekerjasama dengan berbagai organisasi yang bergiat di pemberdayaan perempuan dan banyak mendesign kebijakan yang mengarahkan sasaran kegiatan kepada kelompok- kelompok perempuan dan ibu-ibu rumah tangga.   

Prestasi menonjol dan berintegritas selama menjadi Bupati periode 2009 – 2014  :
Tahun 2011 Kubu Raya mendapat peringkat pertama secara nasional penilaian KPPOD Pusat kategori Perda Terbaik yang dinilai baik dalam pelayanan perijinan dan investasi.
Tahun 2012 Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kubu Raya berhasil masuk nominasi 5 besar Nasional dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia sebuah prestasi luar biasa untuk sebuah kabupaten baru.
Akhir tahun 2012 terpilih sebagai salah satu dari 7 bupati/walikota terbaik dari 497 kabupaten/kota se indonesia versi majalah Tempo “Bukan Bupati Biasa”, karena dinilai banyak terobosan dan inovasi  kebijakan pro rakyat.

Istri Hj.Rosalina,Amd.Kep. Anak putri 2 : Mahesa Maura & Mahesa Mauri (kembar) dan Muda Maestro Junior.
Rumah di jalan Tanjungsari no.169 Komplek Untan Pontianak 78124.

Pada saat ini sehari-hari kembali berprofesi sebagai Notaris dan PPAT di kantor Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.
Mendirikan Institut Indonesia Moeda sebuah lembaga kajian dan riset yang lebih fokus pada agenda otonomi desa dan upaya mengawal agenda pembaruan desa terkait implementasi UU Desa.

Melalui lembaga ini tetap aktif berkontribusi memberikan pencerahan dan materi dalam berbagai forum diskusi (FGD) dengan berbagai pihak (Koalisi Masyarakat Sipil, Mahasiswa, Akademisi Perguruan Tinggi, dan lainnya), terutama memberikan pencerahan dan penguatan pemahaman dan kapasitas terhadap agenda-agenda pembaruan desa (otonomi desa) dengan berbagai problematika tantangan dan peluangnya serta memberikan masukan ide, inisiatif  dan langkah-langkah solusi-nya.


Berikut Karya Tulis Bung Muda Mahendrawan yang di muat di Blog ini :
  1. Seri Menyiapkan Desa 1 : Agendakan Penyusunan Daftar Kewenangan Desa
  2. Seri Menyiapkan Desa 2 : Merancang Bangun Pengembangan Sistem Informasi Desa
  3. Seri Menyiapkan Desa 3 : Proaktif Desain Program Pendampingan Desa
  4. Seri Menyiapkan Desa 4 : Perlibatan Perempuan dan Masa Depan Desa
  5. Seri Menyiapkan Desa 5 : Merancang Tata Ruang Desa
  6. Seri Menyiapkan Desa 6 : Seputar Problem Penyaluran Dana Desa