Kamis, 02 Agustus 2012
Bung Karno Orang Besar Di Skala Internasional
BUNG KARNO ORANG BESAR DI SKALA INTERNASIONAL
(Oleh :A. Umar Said)
Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (2)
(Sebagai ganti kata pengantar : Mengapa Bung Karno perlu “diangkat” kembali pada tempatnya yang semestinya? Apakah ada gunanya bagi bangsa kita, dewasa ini dan juga untuk selanjutnya, mengenang kembali dan mempelajari segala persoalan yang bekaitan dengannya? Apakah artinya Bung Karno bagi perjuangan bangsa
Dalam rangka Peringatan Peringatan 100 Tahun Bung Karno dapatlah kiranya diduga bahwa akan terus muncul beraneka-ragam tulisan - atau karya-karya dalam bentuk lainnya - yang menelaah berbagai aspek tentang tokoh besar bangsa kita ini, baik yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan maupun perannya sebagai kepala negara dan pemersatu bangsa. (Termasuk juga beragam analisa atau pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan situasi sebelum dan sesudah peristiwa 1 Oktober 1965).
* * *
Tulisan kali ini dimaksudkan sebagai sumbangan untuk bersama-sama merenungkan kembali peran dan tempat Bung Karno bagi perjuangan rakyat Asia-Afrika (dan Amerika Latin) waktu itu. Sebab, dalam segi ini jugalah terletak kebesaran atau keagungan Bung Karno. Mungkin, bagi sebagian terbesar diplomat tua negeri kita (baik yang sudah mantan, mau pun yang masih aktif dewasa ini, terutama yang menghayati arti gagasan-gagasan Bung Karno ) apa yang dikemukakan dalam tulisan kali ini bukanlah sesuatu hal yang baru. Demikian juga bagi mereka yang pernah aktif dalam berbagai kegiatan internasional waktu itu. Mungkin mereka masih ingat betapa tingginya penghargaan rakyat berbagai negeri Asia-Afrika terhadap Bung Karno. Sampai sekarang pun, nama Bung Karno masih tetap terkenal di kalangan pimpinan negara maupun gerakan-gerakan rakyat di berbagai negeri.
Oleh karenanya, generasi muda dewasa ini (dan juga yang akan datang) perlu sekali mengetahui dengan selayaknya akan satu hal, yaitu : bahwa Bung Karno adalah tokoh besar dalam skala internasional, dan terutama sekali dalam skala Asia Afrika. Dan, bahwa Bung Karno pernah menjadi bintang, atau menjadi idola, bagi para gerakan-gerakan progressif di berbagai negeri Asia-Afrika. Juga, bahwa karenanya, Bung Karno patut menjadi kebanggaan bangsa kita, baik sekarang mau pun di masa-masa yang akan datang. Kita patut mengetahui dengan baik bahwa kebesaran gagasan-gagasan Bung Karno tidak hanya mencakup persoalan-persoalan
Sejarah bangsa kita selama 100 tahun telah makin meyakinkan kita, bahwa sampai sekarang ini, Bung Karno adalah pemimpin TERBESAR bangsa Indonesia. Dan, bahwa walaupun mungkin di kemudian hari akan muncul pemimpin-pemimpin besar lainnya di Indonesia (mudah-mudahan), maka Bung Karno akan tetap menduduki tempat yang penting dan terhormat dalam sejarah bangsa
KEBESARAN BUNG KARNO ADALAH SEJAK MUDA
Adalah satu hal yang penting untuk sama-sama kita ingat bahwa kebesaran Bung Karno tentang berbagai persoalan bangsa - termasuk masalah perjuangan dalam skala internasional melawan imperialisme dan kolonialisme – adalah sudah di sandangnya sejak muda. Sejak sekolah menengah (HBS, sekolah menengah Belanda) Bung Karno sudah tertarik kepada masalah-masalah politik. Ketika ia “in de kost” di rumah pemimpin Sarekat Islam Haji O.S.Tjokroaminoto di Surabaia ia sudah bergaul dengan Semaun dan Muso (mereka berdua ini kemudian menjadi pemimpin PKI), dan mengenal berbagai tokoh-tokoh perjuangan waktu itu.
Ketika umurnya sudah melewati 20 tahun, ia sudah mulai menulis artikel-artikel yang mencerminkan sikapnya melawan kolonialisme Belanda (dengan nama samaran). Setelah tammat belajar di Technische Hooge School (sekarang ITB) dalam tahun 1925, dan ketika masih berumur 27 tahun, ia bersama-sama dengan kawan-kawan dekatnya (antara lain : Dr Cipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Cokrohadisuryo, Mr Sunaryo) ia telah mendirikan Partai Nasional (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927. Tujuan PNI adalah memperjuangkan kemerdekaan
Di depan pengadilan Belanda di Bandung, Bung Karno mengucapkan pidato pembelaan yang berjudul “Indonesia Menggugat”, yang kemudian menjadi sumber inspirasi perjuangan bagi banyak golongan lainnya waktu itu. Dalam sejarah perjuangan bangsa
Agaknya, dari segi ini pulalah kita semua bisa menelaah sikap, atau pandangan, atau politik Bung Karno selama perjuangannya, sampai ketika menjadi kepala negara. Singkatnya, karena sejak mudanya, ia sudah berjuang puluhan tahun sebagai nasionalis melawan secara gigih kolonialisme, maka ia mempunyai simpati yang besar - atau perasaan yang mendalam sekali – terhadap perjuangan bangsa atau rakyat lainnya di berbagai negeri melawan kolonialisme dan imperialisme waktu itu. Dan karena sesudah Perang Dunia ke-II masih banyak negeri-negeri yang masih dijajah atau sedang mempunyai persoalan-persoalan besar dengan kolonialisme (terutama di Asia dan Afrika), maka sikap Bung Karno ini juga tercermin dalam banyak tindakan dan politiknya, sampai menjelang terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965 (tentang soal ini bisa diungkap dalam tulisan tersendiri).
BUNG KARNO ADALAH MUSUH KUBU BARAT
Sekarang, kalau kita menoleh ke belakang, dan memandang persoalan-persoalan dengan kaca-mata yang bening, maka akan nyatalah bahwa ada berbagai faktor yang menyebabkan Bung Karno mempunyai sikap yang memihak perjuangan berbagai negeri dalam melawan kolonialisme dan imperialisme (kasarnya, kubu Barat, waktu itu). Demikian juga, mengapa ia selalu menganjurkan persatuan bangsa dan selalu menganjurkan kewaspadaan bangsa akan adanya musuh-musuh yang membahayakan Republik
Revolusi 17 Agustus 45 dan didirikannya Republik
Sejak selesainya Perang Dunia, kubu Barat melihat betapa pentingnya kedudukan strategis negeri kepulauan
Karena itulah, maka mulai 1950-an, Amerika Serikat (dengan dibantu oleh Belanda dan Inggris) melakukan berbagai “operasi”, baik yang bersifat subversi maupun beraneka-ragam “intervensi” di berbagai bidang. Apalagi, dengan kemenangan PKI dalam pemilu tahun 1955, maka kubu Barat (terutama Amerika Serikat) makin melihat “bahaya” yang terdapat di bumi Indonesia. “Bahaya” ini termanifestasikan pada sosok Sukarno, seorang nasionalis yang berhaluan kiri, yang telah menggegerkan dunia dengan terselenggaranya konferensi
Berbagai pergolakan politik dan juga pembrontakan bersenjata yang terjadi berturut-turut sejak zaman revolusi sampai 1965 menunjukkan bahwa berbagai bahaya selalu mengancam Republik Indonesia dan bahkan juga keselamatan pribadi Bung Karno sendiri. Sejak 1950 sampai 1965 telah terjadi 7 kali percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno, yaitu : penggranatan di Cikini, usaha pembunuhan dalam peristiwa Idhul Adha, pembrondongan dari pesawat udara oleh Maukar, penggranatan di Makassar, pencegatan bersenjata di dekat gedung Stanvac, pencegatan bersenjata di selatan Gunung Salak,
Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno yang begitu sering dan dalam waktu yang tidak begitu panjang adalah sesuatu yang jarang terjadi terhadap kepala negara di dunia. Ini menunjukkan bahwa Bung Karno, yang jelas-jelas dicintai oleh rakyat karena telah membuktikan dirinya sebagai pejuang kemerdekaan bangsa selama puluhan tahun, mempunyai cukup banyak musuh, baik yang datang dari dalam negeri maupun luarnegeri. Pergolakan daerah atau pembrontakan bersenjata yang terjadi berkali-kali adalah salah satu di antara berbagai sebab mengapa ia selalu menganjurkan persatuan bangsa dan mengatakan bahwa revolusi belum selesai (ingat, antara lain : pembrontakan Andi Azis di Makasar, pembrontakan RMS, pembrontakan DI-TII, pembrontakan PRRI-Permesta dll).
DI BAWAH BENDERA REVOLUSI
Adalah sangat menarik untuk sama-sama kita telaah, sekarang ini (!), mengapa Bung Karno selalu berbicara tentang persatuan, atau persatuan revolusioner, dan juga tentang revolusi, dalam hampir setiap pidatonya. Bagi kita semua (apalagi bagi generasi muda dewasa ini!) adalah baik sekali untuk membaca dan merenungkan kembali pidato-pidato atau karya asli Bung Karno, untuk berusaha mengerti mengapa ia mengambil sikap yang demikian, dalam konteks situasi dalamnegeri dan situasi internasional WAKTU ITU (mohon perhatian bahwa dua kata itu digaris-bawahi). Fikirannya tentang perjuangan bangsa dan gagasannya mengenai pentingnya persatuan ini tercermin dengan jelas dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi”. (tentang buku ini ada cetatan tersendiri).
Terutama sekali, buku DBR (Di bawah Bendera Revolusi) jilid kedua, yang berisi kumpulan 20 pidato Bung Karno setiap Hari Ulangtahun 17 Agustus, sejak 1945 sampai 1964 (598 halaman) dengan jelas menggambarkan mengapa ia begitu “gandrung” (mendambakan sekali, mencintai) kepada persatuan revolusioner bangsa, dan mengapa ia selalu mengingatkan bahwa revolusi bangsa belumlah selesai dengan hanya sudah terbentuknya Republik Indonesia. Pandangannya itu didasarkan pada pengalaman bangsa kita sebelum kemerdekaan, tetapi juga sesudah berdirinya Republik
Penghargaan bangsa-bangsa lain terhadap Bung Karno memuncak dengan diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam tahun 1945. Konferensi Bandung adalah sumbangan yang amat besar kepada banyak rakyat dan negeri-negeri yang sedang berjuang. Dan, dalam hal ini peran Bung Karno adalah amat besar (tentang Konferensi Bandung ini ada catatan tersendiri). Oleh karenanya, sejak itu, nama Soekarno disanjung-sanjung di banyak negeri, terutama di
TEMPAT BUNG KARNO DI SKALA INTERNASIONAL
Sekarang, mungkin banyak orang yang tidak tahu, bahwa selama di bawah pimpinan Bung Karno nama
Bung Karno adalah salah satu di antara sejumlah kecil pemimpin-pemimpin Asia-Afrika yang mendorong, membantu, atau bersimpati terhadap lahirnya berbagai gerakan yang berskala Asia-Afrika. Sikapnya itu mencerminkan bahwa ia konsisten terhadap prinsip atau tujuan perjuangannya sejak usia-mudanya. Di samping itu, sikapnya yang demikian itu juga didasarkan pada situasi kongkrit dan kebutuhan kongkrit yang dihadapi oleh Republik
Politik Bung Karno yang menyatukan perjuangan rakyat
Dalam konteks situasi internasional waktu itu, ketika Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat masih berkecamuk dengan hebatnya, Bung Karno bersama-sama pemimpin-pemimpin
Di selenggarakannya Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) di Jakarta dalam bulan Oktober 1965 adalah manifestasi yang gamblang politik bung Karno dalam melawan imperialisme dan kolonialisme sambil mempertahankan prinsip-prinsip gerakan non-blok waktu itu. (Patut dicatat di sini bahwa pidatonya di KIAPMA - di Hotel Indonesia - inilah merupakan pidatonya yang terakhir di depan masyarakat internasional).
REVOLUSI YANG BELUM SELESAI
Peringatan 100 Tahun Bung Karno adalah kesempatan bagi bangsa kita untuk mengenal, atau lebih mengenal lagi, atau mengenang kembali segala soal yang berkaitan dengan Bung Karno. Dalam kesempatan ini perlulah diusahakan supaya karya-karyanya bisa dikenal, dan dikaji oleh sebanyak mungkin orang. Dengan membaca karya-karyanya, kita akan lebih mengerti apakah sebenarnya tujuan perjuangan Bung Karno. Setelah mengerti tujuan politik Bung Karno, dan kemudian membandingkannya dengan situasi negeri dewasa ini, maka kita bisa makin yakinlah bahwa gagasan-gagasan Bung Karno adalah agung sekali !!! Dan juga lebih yakin lagi bahwa sistem politik Orde Baru/Golkar adalah salah, karena bertentangan sama sekali dengan berbagai ajaran dan gagasan Bung Karno.
Membaca kembali karya-karya Bung Karno akan menggugah kita semua bahwa revolusi bangsa menuju masyarakat adil dan makmur - yang selalu didengung-dengungkannya - memanglah betul-betul belum selesai dan bahwa adalah tugas kita bersama untuk meneruskan revolusi ini. Yaitu, meneruskan revolusi dalam situasi nasional yang sudah berobah dan juga situasi internasional yang sudah mengalami berbagai transformasi, sehingga memerlukan syarat-syarat atau cara dan bentuk baru, sesuai dengan kondisi kongkrit sekarang ini.
Tiga puluh tahun yang lalu Bung Karno sudah meninggalkan bangsa dalam keadaan yang menyedihkan, sebagai akibat tindakan para pendiri Orde Baru. Sekarang ini, makin terasa bagi banyak orang, bahwa dengan hilangnya Bung Karno sebagai kepala negara dan pimpinan nasional, maka bangsa kita telah kehilangan pedoman perjuangan menuju masyarakat adil dan makmur, seperti yang dicita-citakan oleh proklamasi 17 Agustus. Banyak orang makin melihat bahwa Bung Karno adalah ORANG BESAR pada zamannya, dan yang juga akan tetap terus besar dalam ingatan bangsa Indonesia, berkat perjuangannya dan juga gagasan-gagasannya.
Hanya karena politik Orde Barulah maka kebesaran Bung Karno ini dikerdilkan selama puluhan, atau bahkan dicoba untuk dihapus dari sejarah perjuangan bangsa
Rabu, 01 Agustus 2012
Bung Karno, Pemersatu Bangsa dan Obor Perjuangan Rakyat
BUNG KARNO PEMERSATU BANGSA DAN OBOR PERJUANGAN RAKYAT
(Oleh :A. Umar Said)
Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (1)
(Sebagai ganti kata pengantar : Mengapa Bung Karno perlu “diangkat” kembali pada tempatnya yang semestinya? Apakah ada gunanya bagi bangsa kita, dewasa ini dan juga untuk selanjutnya, mengenang kembali dan mempelajari segala persoalan yang bekaitan dengannya? Apakah artinya Bung Karno bagi perjuangan bangsa
Dalam rangka peringatan 100 Tahun Bung Karno, yang akan dirayakan dalam bulan Juni yad, akhir-akhir ini telah mulai bermunculan di berbagai tempat di negeri kita beraneka ragam Panitia atau Komite yang sudah mulai mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menyambut peristiwa penting ini. Tulisan-tulisan sudah mulai muncul dan ceramah atau diskusi juga sudah mulai diadakan, dan, menurut informasi dari banyak fihak, berbagai acara juga sedang dipersiapkan. Ini semua merupakan pertanda yang baik, terutama kalau dihubungkan dengan situasi negeri kita akhir-akhir ini.
Kalau kita renungkan dalam-dalam dan dengan fikiran jernih pula, maka kita bisa melihat betapa pentingnya bagi bangsa kita, sekarang ini, menggunakan kesempatan ini untuk - secara bersama-sama - mengkaji kembali peran Bung Karno dalam sejarah bangsa Indonesia, perjuangannya, dan juga sumbangan dan jasa-jasanya yang besar bagi lahirnya Republik Indonesia.
Pada dewasa ini, menelaah kembali sejarah dan perjuangan Bung Karno, dan mencoba mendalami ajaran-ajarannya atau berusaha menghayati cita-citanya serta berbagai konsepsinya bisalah merupakan sumbangan untuk bisa melihat, dengan gamblang sekali, betapa jauhnya perbedaan antara Bung Karno dengan “pemimpin-pemimpin” kita dewasa ini. Perbedaan ini nampak jelas sekali dalam kebesaran gagasan-gagasannya mengenai persatuan bangsa, dalam keagungan kecintaannya kepada negara dan revolusi, dalam kecermelangan fikirannya sehingga bangsa
Apakah itu semuanya diketahui oleh generasi muda negeri kita dewasa ini ? Dan kalaupun mereka ketahui, sampai di manakah mereka bisa memahaminya atau menghayatinya? Bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah ikut berjuang secara aktif dalam membela kepentingan rakyat dan Republik
Bung Karno, penyambung lidah rakyat
Sekarang ini, kita sama-sama merasakan bahwa persatuan bangsa sedang dicabik-cabik oleh berbagai rasa permusuhan antar-golongan, antar-etnis, antar-agama, dan sedang terancam oleh bahaya separatisme. Sejak puluhan tahun, negeri kita telah terpuruk namanya di dunia internasional oleh karena korupsi yang merajalela di seluruh bidang kehidupan dan pelanggaran HAM secara besar-besaran (yang merupakan akibat-akibat serius politik Orde Baru/Golkar selama puluhan tahun dan yang sekarang diwariskan kepada kita semua!!!). Mengingat itu semuanya, maka perlu sekalilah kita sadari bersama bahwa segala macam usaha untuk mengenang dan mempelajari kembali gagasan-gagasan Bung Karno mempunyai arti yang penting sekali bagi bangsa kita dewasa ini.
KITA HARUS BERANI BICARA TENTANG BUNG KARNO
Mengingat pentingnya kedudukan Bung Karno dalam sejarah perjuangan bangsa
Sesudah jatuhnya Orde Baru (betul, memang belum 100%!), adalah kewajiban kita bersama untuk mengangkat kembali Bung Karno kepada tempatnya yang layak, atau yang semestinya, sebagai pelopor kemerdekaan, dan sebagai pemimpin besar bangsa. Mendudukkan kembali Bung Karno pada tempat yang sesuai dengan haknya yang sah adalah perlu sekali. Sebab, sudah selama lebih dari 32 tahun namanya telah dicemarkan, penyebaran fikiran-fikirannya dipersulit, sejarahnya dipotong-potong oleh rezim Orde Baru/Golkar. Kasarnya, sejarah Bung Karno beserta ajaran-ajarannya (dan jasa-jasanya) telah diusahakan “dikubur” selama itu.
Pengalaman selama lebih dari 32 tahun Orde Baru/Golkar (harap diperhatikan bahwa kedua kata itu disini dijadikan satu!) membuktikan bahwa Orde Baru/Golkar pada hakekatnya, atau pada dasarnya, telah menjadikan Bung Karno sebagai musuh politiknya. Dan ini wajar. Sebab, kalau menelaah kembali latar belakang peristiwa 1965, dan juga sejarah berdirinya Orde Baru/Golkar, maka jelaslah bahwa sejak itulah muncul permusuhan atau perbenturan antara politik Bung Karno dan para pendiri rezim Orde Baru/Golkar. Bahkan, sejak jauh sebelumnya. (Tentang soal ini, bisa ditulis lain kali).
Oleh karena itulah, maka, sekarang ini, bagi semua kekuatan pro-demokrasi dan pro-reformasi, perlu sekali untuk makin berani berbicara tentang Bung Karno dan berusaha mengangkatnya kembali pada tempatnya yang selayaknya. Tugas ini adalah tugas besar kita semuanya, tanpa memandang sekat-sekat agama, suku atau grup etnis, ras, ideologi, atau komponen masyarakat. Bung Karno adalah milik bangsa, dan bukan hanya milik segolongan atau beberapa golongan saja.
Di bawah kepemimpinan Bung Karno, rakyat
SEGI POSITIF AJARAN/POLTIK BUNG KARNO
Mengingat itu semuanya, maka makin terasalah betapa pentingnya, dewasa ini, ketika bangsa dan negara kita seperti kehilangan arah, atau seperti kebingungan dalam mencari pegangan, untuk mengenang kembali sejarah, jasa-jasa, dan ajaran-ajaran Bung Karno. Dengan bersama-sama mengungkapkan sebanyak mungkin, dan juga seluas mungkin, berbagai aspek yang berkaitan dengan Bung Karno, maka akan nyatalah bahwa apa yang terjadi sejak digulingkannya dari kedudukannya sebagai presiden/kepala negara, maka perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia menuju cita-cita masyarakat yang adil dan makmur telah mengalami kemunduran-kemunduran yang besar atau dahsyat sekali.
Wajarlah kiranya, bahwa dalam usaha bersama kita untuk mendudukkan kembali Bung Karno pada tempat yang selayaknya dalam sejarah bangsa Indonesia, terdengar suara-suara atau pendapat-pendapat yang serba negatif, yang datang dari fihak-fihak yang selama ini memang menentang politik Bung Karno, atau dari fihak-fihak yang mendukung Orde Baru/Golkar. Dan, wajar jugalah kiranya, bahwa muncul juga pendapat yang yang kritis terhadap kesalahan atau kekurangan Bung Karno, tanpa menghilangkan jasa-jasanya yang besar kepada bangsa dan tanpa membuang ajaran-ajarannya yang positif.
Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Bung Karno, itu semua akan berguna bagi pendidikan politik bangsa, baik yang generasi kita sekarang maupun generasi kita yang akan datang. Tetapi, perlulah agaknya dimengerti juga, bahwa dalam rangka berbagai kegiatan “Peringatan” ini banyak orang menggunakan kesempatan ini untuk mengangkat berbagai aspek sejarah dan ajaran-ajaran positif Bung Karno. Menyebarluaskan segi-segi positif fikiran atau ajaran Bung Karno adalah benar, dan juga perlu!. Apalagi, kalau mengingat situasi negeri kita dewasa ini (!!!), maka makin terasalah bahwa mengangkat kembali kebesaran fikiran-fikirannya akan merupakan sumbangan penting untuk memperkaya pandangan banyak orang dalam menghadapi berbagai persoalan pelik dewasa ini...
Setelah sama-sama mengalami sendiri politik rezim Orde Baru/Golkar selama puluhan tahun, maka kita semuanya melihat bahwa politik Bung Karno di berbagai bidang adalah sama sekali bertolak belakang dengan politik Orde Baru/Golkar. Dan sebagai hasilnya, kita lihatlah sekarang ini betapa hebatnya kebobrokan moral (yang parah sekali), yang termanifestasikan dalam kerusakan-kerusakan serius di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, yang diwariskan oleh rezim Suharto dkk. Kebobrokan moral yang parah ini, terutama sekali, telah melanda kalangan atas dan menengah bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif. Kalau kita renungkan dalam-dalam, maka akan nyata bahwa kebobrokan moral inilah salah satu di antara sumber-sumber banyaknya persoalan rumit dewasa ini.
BUNG KARNO DICINTAI RAKYAT
Sejarah telah mencatat bahwa rakyat
Kampanye de-Sukarnoisasi yang berjalan selama 30 tahun memang luar biasa dampaknya!. Orde Baru telah menggunakan segala cara (indoktrinasi, manipulasi fakta sejarah, intimidasi secara halus, dan segala bentuk rekayasa lainnya) untuk menghancurkan pengaruh ajaran-ajaran dan berbagai konsepsi politik Bung Karno. Ini bisa dimengerti. Sebab, para pendiri Orde Baru/Golkar memang berkepentingan sekali terhadap hilangnya Sukarno-isme dari bumi
Dampak yang besar kampanye de-Sukarnoissasi itu kelihatan dari hilangnya buku-buku yang berisi ajaran-ajaran beliau dari toko-toko buku, atau dari ketakutannya banyak orang untuk memasang gambar Bung Karno di rumah-rumah penduduk. Dalam jangka lama, banyak sekali orang yang hanya berani berbisik-bisik antara teman, kalau berbicara tentang Bung Karno. Kata-kata Marhaeinisme, gotong-royong, revolusi, ekonomi berdikari, sosialisme kerakyatan
Memang, karena terpaksa, atau karena karena perhitungan politis, atau juga sekedar sebagai “pupur” (atau karena “gabungan” itu semua!!!) rezim Orde Baru telah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Karno. Makam beliau di Blitar pun telah dibangun dengan tanda peringatan yang mencantumkan nama Suharto. Dan, yang juga menyolok adalah penamaan bandar-udara Cengkareng dengan nama Bandar Udara Sukarno-Hatta. Di samping itu, dalam setiap upacara hari proklamasi 17 Agustus putera-puteri Bung Karno juga diundang untuk menghadirinya. Tetapi, itu semua tidak bisa membantah kenyataan sejarah lainnya bahwa Orde Baru/Golkar telah “meng-kudeta” bung Karno dan sekaligus juga membunuh ajaran-ajaran beliau.
Namun, berbagai kenyataan menunjukkan bahwa kecintaan rakyat terhadap Bung Karno tidak gampang ditumpas begitu saja. Selama puluhan tahun, makam Bung Karno di Blitar selalu dikunjungi oleh banyak orang, yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, lapangan profesional, atau keyakinan politik. Kemenangan PDI-P dalam pemilihan umum tahun 1999 ada juga kaitannya dengan faktor kecintaan rakyat kepada Bung Karno, yang dimanifestasikan dengan memilih fihak Megawati Sukarnoputri. Sekarang ini foto-foto Bung Karno dijual di mana-mana dan juga kembali menghiasi dinding banyak rumah penduduk
SEMEN PERSATUAN DAN OBOR SEMANGAT PERJUANGAN
Sampai menjelang akhir hidupnya, Bung Karno adalah semen persatuan bangsa, yang terdiri dari begitu banyak suku, agama, asal keturunan, dan adat-istiadat. Kemudian, kita menyaksikan bahwa sejak hilangnya Bung Karno, maka
Kalau kolonialisme Belanda pernah berhasil memecah-mecah bangsa dan negara dengan mendirikan negara-negara boneka (negara Sumatera Timur, Sumatera Selatan, Pasundan, Jawa Timur, Madura, Indonesia Timur) dan berbagai “daerah otonom” (Riau, Bangka, Belitung, Kalimantan Barat, Dayak Besar, Banjar, Kalimantan Tenggara, Kalimantan Timur, dan Jawa Tengah) maka melalui perjuangan nasional di bawah pimpinan Bung Karno, pada akhirnya seluruh negeri dapat dipersatukan –dengan perasaan kerukunan dan jalan damai - dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tetapi, semangat persatuan dan kesatuan ini telah dirusak oleh berbagai kesalahan politik rezim Orde Baru/Golkar selama puluhan tahun, sehingga bangsa dan negara kita dewasa ini menghadapi berbagai persoalan rumit dan parah, yang menimbulkan bahaya disintegrasi.
Selama hidupnya, Bung Karno adalah obor semangat kerakyatan dan inspirator perjuangan bangsa. Bukan saja peran ini telah dimainkan olehnya sejak ia masih muda sebelum Perang Dunia ke-II, atau selama revolusi 45, melainkan juga sampai terjadinya peristiwa 1965. Di bawah kepemimpinannya, terasa sekalilah pada waktu itu bahwa di mana-mana berkobar semangat revolusioner dan patriotisme di kalangan rakyat untuk menghadapi imperialisme dan neo-kolonialisme beserta kaki-tangan mereka di dalamnegeri. Semangat persatuan rakyat demi mempertahankan kedaulatan negara ini nampak nyata sekali ketika terjadi peristiwa-peristiwa Andi Azis (Makasar) dan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA, Bandung) dalam tahun 1950, yang kemudian disusul oleh pembrontakan RMS (1950-1963), pembrontakan DI-TII (sampai akhir 1962), PRRI-Permesta (1958).
Bung Karno adalah pemimpin besar bangsa, yang telah dengan gemilang dapat berkali-kali menyelamatkan Republik
(Tulisan pertama habis di sini).