Minggu, 20 Mei 2012

Catatan Pernikahan Anang dan Ashanti

Menyaksikan resepsi pernikahan antara Anang dan Ashanti yang disajikan live oleh stasiun televisi swasta dengan thema “JODOHKU” membuat saya terharu. Peristiwa bahagia pengantin tersebut tak semata milik mereka. Momentum itu mengusung banyak nilai-nilai di dalamnya, di sini saya melihat bagaimana rasa cinta Anang terhadap budaya lokal tanpa menutup diri untuk suatu pembaharuan. Perhelatan akbar tersebut di kemas dalam sajian tradisional dalam balutan modern.

13375343681020108154gambar : id.omg.yahoo.com


Di antara tamu yang memadati ruangan, kembali saya dikejutkan dengan beberapa sosok yang hadir. Mereka bukan pejabat tinggi namun sangat di kenal di tengah kita semua karena profesi mereka sebagai salah satu publik figure yang mumpuni. Kehadiran Yuni Shara merupakan bukti terjalin dan terjaganya hubungan baik antara Anang dengan mantan kakak Iparnya. Kehadiran Krisda Yanti, mantan istri pertama Anang Hermasyah sungguh membuatku terharu. Krisdayanti yang hadir bersama putri kecil buah cinta dengan suami keduanya tampak ikut bahagia atas pernikahan mantan suaminya itu. Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat, bahkan Raul Lemos suami kedua Krisdayanti berpelukan erat dengan Anang seperti layaknya sahabat karib. Krisdayanti juga ikut menyanyi dalam resepsi pernikahan Anang dan Ashanty. Kedua anak hasil pernikahan Anang dan Krisdayanti tampak sangat antusias sekali. Resepsi tampak dipenuhi oleh cinta kasih, tidak ada kekakuan, kecemburuan, apalagi dendam di antara mereka.

Faktanya memang pernah ada seberkas luka dalam di antara Anang dan Krisdayanti atas perceraiannya, namun di tengah kepedihan itu, mereka mampu saling memaafkan dan kembali bangkit dari keterpurukan serta menikmati kebahagiaan yang mereka ciptakan.

Di luar itu, kehadiran Ashanty bagi Anang tentu menjadi pelengkap hidupnya. Namun sikap Anang yang memposisikan diri Ashanty sebagai sahabat bagi anak-anaknya adalah sebuah prestasi yang gemilang. Anang menyadari bahwa bagaimanapun Krisdayanti adalah ibu bagi anak-anaknya dan tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Konsep yang sangat sederhana namun amat jarang mampu diaplikasikan oleh banyak pasangan yang berujung pada perceraian. Ada mantan atasan, mantan teman, mantan istri, mantan suami, namun tidak akan pernah ada mantan anak, mantan ayah, mantan ibu. Dan Ashanty mampu memenuhi harapan Anang hingga terbina hubungan yang sangat mesra antara dirinya dengan anak-anak Anang dan Krisdayanti. Ashanty justru memberi pandangan baru tentang arti calon ibu tiri yang selama ini mungkin lebih dikenal sebagai musuh bagi anak-anak. Ashanty menjauhkan mindset adanya perebutan sang ayah dari anak-anak. Dia hadir sebagai pendamping bagi ayah anak-anak sekaligus sahabat karib bagi mereka. KD pun sempat menyatakan bahwa Ashanty adalah tempat mata dan hatinya dititipkan (baca anak-anak hasil pernikahan KD dan Anang). Salut untuk mereka semua.

Perhelatan pasangan artis ini sungguh berbeda dengan pernikahan artis pada umumnya. Mereka sangat welcome dengan paparazi, masyarakat, karib kerabat, tanpa mengabaikan keluarga besar. Semoga apa yang kita lihat bersama adalah realitas kehidupan mereka yang dilahirkan oleh hati yang bersih dan niat yang baik sehingga ini bukan menjadi titik klimaks bagi perjalanan mereka, tapi awal langkah mereka guna menggapai dan menciptakan kehidupan yang lebih baik hingga menuju kehidupan yang sejati, yakni akhir hayat.

Cerita Anang, KD, dan Ashanty mengajarkan kita makna dari mencintai. Bahwa cinta bukan pemaksaan kehendak. Cinta perlu penerimaan, cinta perlu pengertian, cinta perlu berbagi, dan cinta bukan untuk kita semata, tapi untuk dia dan mereka. Cinta bisa jadi pernah menorehkan luka, tapi tetap cinta mampu menjadi penyemangat untuk bangkit dari keterpurukan hingga memungkinkan lahir benih-benih cinta yang lebih baru dan lebih BERARTI.

Sumber

Ternyata Syahrini Telah Menikah????!!!!!!

Desas-desus pernikahan syahrini kini telah mencapai klikmaksnya. Syahrini sendiri mengakuinya bahwa pernikahan itu benar kata syahrini pada wartawan ” apa ya hihi akh.. sesuatu deh jadi malu” begitulah senyum malu malu bahagia ala syahrini ketika diwawancarai oleh kapanmaneh.tom, sang mempelai lelaki sudah diperkirakan semuanya adalah si bubu. banyak spekulasi yang bermunculan setelah pernikahan itu mencuat ke publik, ada yang berpendapat syahrini melakukan kawin siri dan ada lagi spekulasi syahrini telah berbadan dua.

Beberapa artis yang kami temui memiliki beraneka ragam pendapat, seerti bang ipul

” hmm kalau nikah siri ya ngak papa sih, sah sah saja kan” .

“kalau menurut bang ipul, percaya ngak mereka nikah secara siri”

“geleng-geleng”

“loh kok ngak percaya, mereka menikah tidak ada yang tahu, di KUA juga belum kedaftar?”

“saya cuma percaya pada Allah doank mbak, kalau percaya pada syahrini itu syirik mbak!!”

begitulah kata bang ipul alias saipul jamil, tidak hanya bang ipul, kami juga mewancarai rico tinggi yang dahulu mengatakan bahwa bubu adalah sam me

” bang rico, syahrini sudah menikah, bagaimana pendapat anda?

” akh bohong itu mereka belum menikah”

” loh, syahrini sendiri kemarin yang bilang di jumpa pers”

“sumpeh lo”

“kemarin sudah jumpa pers, banyak spekulasi syahrini menikah dengan pacarnya bubu”

“oh itu, itu sih bukan bubu”

“loh siapa donk”

“itu sih dia menikah sama mawon”

“siapa itu mawon?”

“ya si sam me”

“sam me apa mawon? bang rico gag jelas beud sih?”

“nama lengkapnya sam me mawon”

“oh”

demikian dikutip oleh kapanmaneh.tom dari pendapat beberapa artis teman syahrini. spekulasi-spekulasi yang bermunculan akan pupus besok malam karena syahrini dan bubu akan mengadakan jumpa pers. (bsh/jkj)

hari yang ditunggu pun tiba, malam jupa pers syahrini dan bubu untuk mengkonfirmasi pernikahan mereka.

semua wartawan terdiam saat mereka memasuki sorotan kamera.

“ihik ihik ia Allhamdulillah, kami sudah menikah” senyum sesuatu mengembang di wajah syahrini

“loh kapan menikahnya? kok ngak ada yang di undang?

“semua orang sudah tahu kok kami menikah ihik sesuatu”

“loh” semua wartawan kebingungan, karena tiada artis yang tahu bahwa syahrini menikah

“kapan dimana mbak rini” tanya wartawan penasaran

“kemarin, kami menikah di facebook, ma’af ya kalian ngak aku tag hihihi sesuatu”

#guuubrakkk

Perlukah Memberi Password Facebook Pada Pasangan????

13351121091547513082
Di zaman serba internet sekarang ini, pasti setiap orang mempunyai email walaupun Cuma satu. Konon lagi dengan facebook. Didalam facebook itu, sudah pasti kita berinteraksi dengan banyak orang, baik teman nyata dalam kehidupan kita, maupun teman di dunia maya. Interaksi yang kita lakukan pasti bermacam-macam bentuknya, kan? Selain kehidupan nyata, pastinya kita juga berteman atau bahkan berteman dekat dengan para facebooker lain.
Lalu, Bagaimana dengan hubungan para facebooker dengan pasangan anda di dunia nyata? Berjalan muluskah? Atau malah pasangan anda meminta password facebook anda? Dan lantas langsung anda berikan? Terus terang, permasalahan ini menggelitik saya untuk menuliskannya.
Saya mempunyai seorang adik angkat, sebutlah namanya Yani. Saat itu saya menegur yani di chat facebook, namun tidak dibalas. Keesokan harinya, Yani baru membalas chat saya dan mengatakan, “kak, maaf ya semalam pacarku yang pake facebookku. Dia main game disitu sekalian ngecek teman-taman facebookku. Ada beberapa temanku yang dihapusnya. Alasannya sih sepele kali kak, dia gak percaya sama teman-teman facebookku”. Sontak saya terkejut, dan kembali mengingat pengalaman saya sendiri.
Saat itu pacar saya meminta password facebook saya juga, namun tidak saya berikan. Ia pun marah dan mengatakan, “kalau di facebookmu itu ‘nggak ada apa-apanya, pasti kau langsung kasih passwordnya sama aku”. Aku curiga, pasti ada selingkuhanmu di facebook itu, kan? Atau kau lagi dekat sama cowok lain?
Berbagai alasan saya berikan namun bentakan darinya terus saya dengar akibat saya bersikukuh dengan password facebook saya. Namun lagi-lagi ia pun marah dan mendiami saya, lalu saya pun akhirnya memberikan password facebook tersebut. Ia berkata “udah, ‘gak perlu lagi, kan aku mintanya tadi? Saya berkata, banyak kali ceritamu, tadi minta dan marah-marah, pas udah ku kasih kekgitu kau ya? Banyak cingcongmu, bentar lagi pasti kau buka juga-nya facebookku. Toh udah samamu itu password”.
“ah,, ‘gak perlu aku, malas udah”, katanya. Namun ketika saya buka facebook saya, ternyata isi facebook saya banyak yang berubah, termasuk list friend ada yang dihapus. Bererti sempat dibuka juga kan? Ya sudahlah… Sejak saat itulah saya tak pernah memberikan password facebook saya kepada siapapun lagi,termasuk pacar saya selanjutnya atau yang sekarang. Banyak teman-teman yang saya survey juga mengatakan bahwa mereka tidak suka hal-hal yang mengandung privasi itu dibagi-bagikan ke siapapun, temasuk ke pacar. Toh si pacar belum tentu jadi suami atau istri kita, kan? ‘gak perlu lah..
Beberapa minggu yang lalu dosen saya pernah berkata bahwa beliau dan suaminya tidak pernah saling add di facebook, apalagi berbagi password. Menurut beliau itu tidak perlu. Alhamdulillah pernikahan beliau dan suaminya tetap harmonis.
Apa sih tujuan kita mengetahui password facebook pasangan? Untuk ngecek aktifitasnya di dunia maya karena anda takut bahwa pasangan anda berselingkuh dengan teman mayanya? Saya bisa mengatakan kegiatan cek mericek ini adalah suatu kegiatan yang sia-sia alias ‘gak guna. Lho.. kok ‘gak guna pula? Penting kali lah itu, biar kita tahu gerak-gerik dia. Silahkan disimak alasan berikut :
1. Dapat menimbulkan kesalahpahaman dan keraguan
Nah,,, sedikit ada yang komen foto, atau jawab status facebbok kita, si pacar ini langsung ngambek, terus marah. Akibat salahpaham sama komen dari orang-orang. Kemudian si pacar itu bakal mencurigai kita terus. ‘gak enak banget rasanya menjalani suatu hubungan dengan seseorang yang meragukan kita.
2. Dapat menimbulkan perkelahian
Waduh,, kok berkelahi? Tenang.. Berkelahi disini bukan kontak fisik alias pemukulan (walaupun teman saya ada juga yang mengalaminya, hiks..). Berkelahi ini maksudnya perang mulut. Kayak saya tadi dibentak-bentak. Gila… belum kadi suami aja udah temperamen gitu.
3. Ruang privasi kita serta merta tidak ada
Bukan bermaksud untuk tidak mempercayai pacar atau pasangan memegang facebook kita, namun kita berhak memiliki ruang privasi. Apalagi bila sedang ada masalah dengan pasangan, kita bisa menghilangkan penat dengan bermain facebbok ini sekalian cahtting dengan beberapa teman.
Facebook ini kalau ditelusuri lebih jauh, jahat juga ya! Hubungan percintaan anda yang tadinya adem ayam saja bisa tiba-tiba berubah gara-gara facebook ini lho! Asal ada yang ‘gak disukai pasangan, pasti langsung dia hapus, setelah itu pasti langsung marah-marah. Terus berantem..
Namun, marilah kita berfikir secara realita. Masa’ hubungan cintamu mau dikalahkan sama facebook sih??? Pakai logika dong…
Dalam suatu hubungan percintaan diperlukan rasa saling percaya. Biarkan saja pasangan anda dengan facebooknya, dan biarkan pula ia berekspresi disitu. Toh anda juga bisa kan?
Bila ia tak memberikan password facebooknya, anda jangan marah. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki hal-hal yang bersifat privasi yang tidak bisa kita bagikan ke pacar atau pasangan. Tidak menutup kemungkinan, anda dan pasangan dapat saling menceritakan hal-hal lucu selama bermain dengan facebook.
Selamat Pagi

Sejarah Kerajaan Tanjungpura

Kerajaan Tanjungpura atau Tanjompura[1] merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat. Kerajaan yang terletak di Kabupaten Kayong Utara ini pada abad ke-14 menjadi bukti bahwa peradaban negeri Tanah Kayong sudah cukup maju pada masa lampau. Tanjungpura pernah menjadi provinsi Kerajaan Singhasari sebagai Bakulapura. Nama bakula berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tumbuhan tanjung(Mimusops elengi), sehingga setelah dimelayukan menjadi Tanjungpura.
Wilayah kekuasaan Tanjungpura membentang dari Tanjung Dato sampai Tanjung Sambar. Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah kerajaan besar: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin. Tanjung Dato adalah perbatasan wilayah mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Sukadana (Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah mandala Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin).[2][3]Daerah aliran Sungai Jelai, di Kotawaringin di bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan sungai Kendawangan di bawah kekuasaan Sukadana.[4]Perbatasan di pedalaman, perhuluan daerah aliran sungai Pinoh (Lawai) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin)[5]
Pada masa mahapatih Gajah Mada dan Hayam Wuruk seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama, negeri Tanjungpura menjadi ibukota bagi daerah-daerah yang diklaim sebagai taklukan Majapahit di nusa Tanjungnagara (Kalimantan). Majapahit mengklaim bekas daerah-daerah taklukan Sriwijaya di pulau Kalimantan dan sekitarnya. Nama Tanjungpura seringkali dipakai untuk sebutan pulau Kalimantan pada masa itu. Pendapat lain beranggapan Tanjungpura berada di Kalimantan Selatan sebagai pangkalan yang lebih strategis untuk menguasai wilayah yang lebih luas lagi. Menurut Pararaton, Bhre Tanjungpura adalah anak Bhre Tumapel II (abangnya Suhita). Bhre Tanjungpura bernama Manggalawardhani Dyah Suragharini yang berkuasa 1429-1464, dia menantu Bhre Tumapel III Kertawijaya. Kemudian dalam Prasasti Trailokyapuri disebutkan Manggalawardhani Dyah Suragharini menjabat Bhre Daha VI (1464-1474). Di dalam mandala Majapahit, Ratu Majapahit merupakan prasada, sedangkan Mahapatih Gajahmada sebagaipranala, sedangkan Madura dan Tanjungpura sebagai ansa-nya.

Perpindahan ibukota kerajaan

Ibukota Kerajaan Tanjungpura beberapa kali mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa penyebab Kerajaan Tanjungpura berpindah ibukota adalah terutama karena serangan dari kawanan perompak (bajak laut) atau dikenal sebagai Lanon. Konon, pada masa itu sepak-terjang gerombolan Lanon sangat kejam dan meresahkan penduduk. Kerajaan Tanjungpura sering beralih pusat pemerintahan adalah demi mempertahankan diri karena sering mendapat serangan dari kerajaan lain. Kerap berpindah-pindahnya ibukota Kerajaan Tanjungpura dibuktikan dengan adanya situs sejarah yang ditemukan di bekas ibukota-ibukota kerajaan tersebut. Negeri Baru di Ketapang merupakan salah satu tempat yang pernah dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Tanjungpura. Dari Negeri Baru, ibukota Kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin (1665–1724), pusat istana bergeser lagi, kali ini ditempatkan di daerah Sungai Matan (Ansar Rahman, tt:110). Dari sinilah riwayat Kerajaan Matan dimulai. Seorang penulis Belanda menyebut wilayah itu sebagai Kerajaan Matan, kendati sesungguhnya nama kerajaan tersebut pada waktu itu masih bernama Kerajaan Tanjungpura (Mulia [ed.], 2007:5). Pusat pemerintahan kerajaan ini kemudian berpindah lagi yakni pada 1637 di wilayah Indra Laya. Indra Laya adalah nama dari suatu tempat di tepian Sungai Puye, anak Sungai Pawan. Kerajaan Tanjungpura kembali beringsut ke Kartapura, kemudian ke Desa Tanjungpura, dan terakhir pindah lagi ke Muliakerta di mana Keraton Muhammad Saunan sekarang berdiri.

Perpindahan ibukota Kerajaan Sukadana

Menurut Catatan Gusti Iswadi, S.sos dalam buku Pesona Tanah Kayong, Kerajaan Tanjungpura dalam perspektif sejarah disebutkan, bahwa, dari negeri baru kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana sehingga disebut Kerajaan Sukadana, kemudian pindah lagi Ke Sungai Matan (sekarang Kec. Simpang Hilir). Dan semasa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin sekitar tahun 1637 pindah lagi ke Indra Laya sehingga disebut Kerajaan Indralaya. Indra Laya adalah nama dari satu tempat di Sungai Puye anak Sungai Pawan Kecamatan Sandai. Kemudian disebut Kerajaan Kartapura karena pindah lagi ke Karta Pura di desa Tanah Merah, Kec. Nanga Tayap, kemudian baru ke Desa Tanjungpura sekarang (Kecamatan Muara Pawan) dan terakhir pindah lagi ke Muliakarta di Keraton Muhammad Saunan yang ada sekarang yang terakhir sebagai pusat pemerintahan swapraja.
Bukti adanya sisa kerajaan ini dapat dilihat dengan adanya makam tua di kota-kota tersebut, yang merupakan saksi bisu sisa kerajaan Tanjungpura dahulu. Untuk memelihara peninggalan ini pemerintah Kabupaten Ketapang telah mengadakan pemugaran dan pemeliharaan di tempat peninggalan kerajaan tersebut. Tujuannya agar genarasi muda dapat mempelajari kejayaan kerajaan tanjungpura pada masa lampau.
Dalam melacak jejak raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Matan, patut diketahui pula silsilah raja-raja Kerajaan Tanjungpura karena kedua kerajaan ini sebenarnya masih dalam satu rangkaian riwayat panjang. Berhubung terdapat beberapa versi tentang sejarah dan silsilah raja-raja Tanjungpura beserta kerajaan-kerajaan lain yang masih satu rangkaian dengannya, maka berikut ini dipaparkan silsilahnya menurut salah satu versi, yaitu berdasarkan buku Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura (2007) suntingan Drs. H. Gusti Mhd. Mulia:
Kerajaan Tanjungpura
  1. Brawijaya (1454–1472)[6]
  2. Bapurung (1472–1487)[7]
  3. Panembahan Karang Tanjung (1487–1504)
Pada masa pemerintahan Panembahan Karang Tanjung, pusat Kerajaan Tanjungpura yang semula berada di Negeri Baru dipindahkan ke Sukadana, dengan demikian nama kerajaannya pun berubah menjadi Kerajaan Sukadana.
Kerajaan Sukadana
Peta yang dibuat oleh
 Oliver van Noord tahun 1600, menggambarkan lokasi Succadano, Tamanpure, Cota Matan, dan Loue[8]
  1. Panembahan Karang Tanjung (1487–1504)
  2. Gusti Syamsudin atau Pundong Asap atau Panembahan Sang Ratu Agung (1504–1518)
  3. Gusti Abdul Wahab atau Panembahan Bendala (1518–1533)
  4. Panembahan Pangeran Anom (1526–1533)
  5. Panembahan Baroh (1533–1590)
  6. Gusti Aliuddin atau Giri Kesuma atau Panembahan Sorgi (1590–1604)
  7. Ratu Mas Jaintan (1604?1622)
  8. Gusti Kesuma Matan atau Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syaifuddin (1622–1665)
Inilah raja terakhir Kerajaan Sukadana sekaligus raja pertama dari Kerajaan Tanjungpura yang bergelar Sultan.
Kerajaan Matan
  1. Gusti Jakar Kencana atau Sultan Muhammad Zainuddin (1665–1724)
  2. Gusti Kesuma Bandan atau Sultan Muhammad Muazzuddin (1724–1738)
  3. Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung atau Sultan Muhammad Tajuddin (1738–1749)
  4. Gusti Kencuran atau Sultan Ahmad Kamaluddin (1749–1762)
  5. Gusti Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin (1762–1819)
Gusti Asma adalah raja terakhir Kerajaan Matan dan pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan Kerajaan Matan dialihkan ke Simpang, dan nama kerajaannya pun berganti menjadi Kerajaan Simpang atau Kerajaan Simpang-Matan.
Kerajaan (penambahanschap) Simpang-Matan
  1. Gusti Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin (1762–1819). Anak Sultan Ahmad Kamaluddin
  2. Gusti Mahmud atau Panembahan Anom Suryaningrat (1819–1845). Menantu Sultan Ahmad Kamaluddin[9]
  3. Gusti Muhammad Roem atau Panembahan Anom Kesumaningrat (1845–1889). Anak Panembahan Anom Suryaningrat[9]
  4. Gusti Panji atau Panembahan Suryaningrat (1889–1920)
  5. Gusti Roem atau Panembahan Gusti Roem (1912–1942)
  6. Gusti Mesir atau Panembahan Gusti Mesir (1942–1943)
  7. Gusti Ibrahim (1945)
Gusti Mesir menjadi tawanan tentara Jepang yang berhasil merebut wilayah Indonesia dari Belanda pada 1942, karena itulah maka terjadi kekosongan pemerintahan di Kerajaan Simpang. Pada akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia, sekira tahun 1945, diangkatlah Gusti Ibrahim, anak lelaki Gusti Mesir, sebagai raja. Namun, karena saat itu usia Gusti Ibrahim baru menginjak 14 tahun maka roda pemerintahan dijalankan oleh keluarga kerajaan yaitu Gusti Mahmud atau Mangkubumi yang memimpin Kerajaan Simpang hingga wafat pada 1952.
Kerajaan Kayong-Matan atau Kerajaan Tanjungpura II
  1. Gusti Irawan atau Sultan Mangkurat[10]
  2. Pangeran Agung
  3. Sultan Mangkurat Berputra
  4. Panembahan Anom Kesuma Negara atau Muhammad Zainuddin Mursal (1829-1833)[11]
  5. Pangeran Muhammad Sabran[12]
  6. Gusti Muhammad Saunan[13]
Menurut Staatsblad van Nederlandisch IndiĆ« tahun 1849, wilayah kerajaan-kerajaan ini termasuk dalam wester-afdeeling berdasarkan BĆŖsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8[14] Meski terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan, namun kerajaan-kerajaan turunan Kerajaan Tanjungpura (Kerajaan Sukadana, Kerajaan Simpang-Matan, dan Kerajaan Kayong-Matan atau Kerajaan Tanjungpura II) masih tetap eksis dengan pemerintahannya masing-masing. Silsilah raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Matan (dan sebelum berdirinya Kerajaan Matan) di atas adalah salah satu versi yang berhasil diperoleh. Terdapat versi lain yang juga menyebutkan silsilah raja-raja Matan yang diperoleh dari keluarga Kerajaan Matan sendiri dengan menghimpun data dari berbagai sumber (P.J. Veth, 1854; J.U. Lontaan, 1975; H. von Dewall, 1862; J.P.J. Barth, 1896; Silsilah Keluarga Kerajaan Matan-Tanjungpura; Silsilah Raja Melayu dan Bugis; Raja Ali Haji, Tufat al-Nafis; Harun Jelani, 2004; H.J. de Graaf, 2002; Gusti Kamboja, 2004), yakni sebagai berikut:
Kerajaan Tanjungpura
  1. Sang Maniaka atau Krysna Pandita (800 M–?)[15]
  2. Hyang-Ta (900–977)[16]
  3. Siak Bahulun (977–1025)[17]
  4. Rangga Sentap (1290–?)[18]
  5. Prabu Jaya/Brawijaya (1447-1461)[19]
  6. Raja Baparung, Pangeran Prabu (1461–1481)
  7. Karang Tunjung, Panembahan Pudong Prasap (1481–1501)
  8. Panembahan Kalahirang (1501–1512)[20]
  9. Panembahan Bandala (1512–1538); Anak Kalahirang
  10. Panembahan Anom (1538–1565); Saudara Panembahan Bandala
  11. Panembahan Dibarokh atau Sibiring Mambal (1565?1590)
Kerajaan Matan
  1. Giri Kusuma (1590–1608); Anak Panembahan Bandala
  2. Ratu Sukadana atau Putri Bunku/Ratu Mas Jaintan (1608–1622); Istri Giri Kusuma/Anak Ratu Prabu Landak
  3. Panembahan Ayer Mala (1622–1630); Anak Panembahan Bandala
  4. Sultan Muhammad Syafeiudin, Giri Mustaka, Panembahan Meliau atau Pangeran Iranata/Cakra (1630–1659); Anak/Menantu Giri Kusuma
  5. Sultan Muhammad Zainuddin/Pangeran Muda (1659–1725); Anak Sultan Muhammad Syaeiuddin
  6. Pangeran Agung (1710–1711); Perebutan kekuasaan
  7. pembagian kekuasaan, memimpin kerajaan di Tanah Merah
    1. Pangeran Agung Martadipura (1725–1730); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, pembagian kekuasaan memimpin kerajaan di Tanah Merah
    2. Pangeran Mangkurat/Sultan Aliuddin Dinlaga (1728–1749); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, pembagian kekuasaan di Sandai dan Tanah Merah
  8. pembagian kekuasaan, memimpin kerajaan di Simpang
    1. Pangeran Ratu Agung (1735–1740); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, pembagian kekuasaan, memimpin kerajaan di Simpang
    2. Sultan Muazzidin Girilaya (1749–1762); Anak Pangeran Ratu Agung, memimpin kerajaan di Simpang
  9. Sultan Akhmad Kamaluddin/Panembahan Tiang Tiga (1762–1792); Anak Sultan Aliuddin Dinlaga
  10. Sultan Muhammad Jamaluddin, sebelumnya: Pangeran Ratu, sebelumnya: Gusti Arma (1792–1830); Anak Sultan Akhmad Kalamuddin[21]
  11. Pangeran Adi Mangkurat Iradilaga atau Panembahan Anom Kusuma Negara (1831–1843); Anak Pangeran Mangkurat
  12. Pangeran Cakra yang Tua atau Pangeran Jaya Anom (1843–1845); Sebagai pejabat perdana menteri, anak Pangeran Mangkurat
  13. Panembahan Gusti Muhammad Sabran (1845–1908); Anak Panembahan Anom Kusuma Negara
  14. Pangeran Laksamana Uti Muchsin (1908–1924); Anak Panembahan Gusti Muhammad Sabran
  15. Panembahan Gusti Muhammad Saunan atau Pangeran Mas (1924–1943); Anak Gusti Muhammad Busra
  16. Majelis Pemerintah Kerajaan Matan (1943–1948), terdiri dari Uti Halil (Pg. Mangku Negara), Uti Apilah (Pg. Adipati), Gusti Kencana (Pg. Anom Laksamana)

Penggunaan nama kerajaan

Saat ini nama kerajaan ini diabadikan sebagai nama universitas negeri di Kalimantan Barat yaitu Universitas Tanjungpura di Pontianak, dan juga digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai nama Kodam diKalimantan yaitu Kodam XII/Tanjungpura

Catatan kaki

  1. ^ (Inggris) TomĆ© Pires, Armando CortesĆ£o, Francisco Rodrigues (1990). The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, from the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India in 1512-1515, and The Book of Francisco Rodrigues, Rutter of a Voyage in the Red Sea, Nautical Rules, Almanack and Maps, Written and Drawn in the East Before 1515 . 1. Asian Educational Services. hlm. 224. ISBN 8120605357.ISBN 978-81-206-0535-0
  2. ^ (Inggris) Smedley, Edward (1845). EncyclopƦdia metropolitana; or, Universal dictionary of knowledge . hlm. 713.
  3. ^ (Inggris)Malayan miscellanies (1820). Malayan miscellanies . hlm. 7.
  4. ^ (Belanda) HoĆ«vell, Wolter Robert (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch IndiĆ« . 52. Ter Lands-drukkerij. hlm. 220.
  5. ^ (Belanda) Perhimpunan Ilmu Alam Indonesia, Madjalah ilmu alam untuk Indonesia (1856). Indonesian journal for natural science . 10-11.
  6. ^ (Belanda) Blume, Carl Ludwig (1843). De Indische Bij . 1. H.W. Hazenburg. hlm. 321.
  7. ^ sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com
  8. ^ (Inggris)MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan . Oxford University Press. ISBN 9780945971733.ISBn 0-945971-73-7
  9. ^ a b (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde . 11. Lange & Co..
  10. ^ Gusti Irawan merupakan putra kedua Sultan Muazuddin (Raja Kerajaan Matan) dan adik dari Sultan Muhammad Tajuddin yang melanjutkan tahta Sultan Muazuddin sebagai Raja Matan
  11. ^ Panembahan Anom diberhentikan sebagai sultan sejak 1833 karena dianggap tidak loyal kepada Sultan Abdul Jalil Yang Dipertuan Syah Raja Negara Sukadana. Posisi kepemimpinan Kerajaan Kayong kemudian dialihkan kepada kakak Pangeran Anom yaitu Pangeran Cakra Negara yang berkuasa sebagai Panembahan Matan pada periode 1833?1835. Atas campur tangan Belanda, mulai tahun 1835 Pangeran Anom kembali didudukkan menjadi Panembahan Matan hingga tahun 1847.
  12. ^ Muhammad Sabran adalah anak dari Panembahan Anom. Ketika diresmikan menjadi sultan dengan Surat Keputusan Gubernemen (Pemerintah Kolonial Hindia Belanda) No. 3 tertanggal 11 Maret 1847, Pangeran Muhammad Sabran masih berusia sangat muda sehingga dibentuklah sebuah presidium yang beranggotakan 5 orang menteri dan diketuai oleh Pangeran Mangkurat untuk menjalankan roda pemerintahan. Muhammad Sabran baru menjabat sebagai Panembahan Matan pada 1856. Pada masa pemerintahan Panembahan Muhammad Sabran, pusat kerajaan berpindah dari Tanjungpura ke Muliakerta, Ketapang, Kalimantan Barat. Panembahan Sabran memerintah hingga tahun 1908. Setahun kemudian, pada 1909, Panembahan Sabran meninggal dunia.
  13. ^ Muhammad Saunan merupakan cucu dari Panembahan Sabran yang dinobatkan sebagai pewaris tahta kerajaan karena sang putra mahkota, anak pertama Panembahan Sabran yang bernama Pangeran Ratu Gusti Muhammad Busra, wafat terlebih dulu dari ayahnya. Ketika dilantik sebagai pemimpin kerajaan pada 1909, Gusti Muhammad Saunan (putra pertama Gusti Muhammad Busra) masih belum cukup dewasa, maka kendali pemerintahan dipegang oleh Uti Muchsin Pangeran Laksamana Anom Kesuma Negara (paman Gusti Muhammad Saunan/adik Gusti Muhammad Busra). Gusti Muhammad Saunan resmi menjabat sebagai Panembahan Matan pada 1922 dan meninggal dunia pada era pendudukan Jepang di Indonesia yaitu tahun 1942.
  14. ^ (Belanda) Staatsblad van Nederlandisch IndiĆ«, s.n., 1849
  15. ^ Menurut Bustan Arifin Al Salatin, Sejarah Nasional, Sejarah Melayu, Pengaruh Syailendra dan Sriwijaya (850-900)
  16. ^ Menurut kronik Cina, Pengaruh Sriwijaya Periode Kerajaan Kalingga (India Selatan)
  17. ^ Menurut Sejarah Kalimantan Barat/Cerita Lisan Periode serangan Kerajaan Cola (India Selatan) ke Sriwijaya
  18. ^ Taklukan Singhasari, Ekspedisi Pamalayu Periode Singhasari (1222–1293)
  19. ^ Taklukan Majapahit, menurut Negarakertagama, menurut Prasasti Waringin Pitu (1447)
  20. ^ Kerajaan pindah ke Sukadana, politik ekspansi sampai Tanjung Datuk, Tanjung Putting, Karimata, dan Pulau Tujuh
  21. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde . 11. Lange & Co.. hlm. 49.

Sumber