Jumat, 17 Oktober 2008

Danau Prasejarah

Danau Prasejarah Berusia 21 Ribu Tahun


Pernah melihat danau di tengah laut? Kalau belum, pergilah ke Pulau Kakaban. Di sini ada air laut yang terperangkap, sejak 19 ribu tahun sebelum Masehi. Jadi, sekarang umurnya 21 ribu tahun lebih. Jadi ini merupakan danau prasejarah yaitu zaman peralihan Holosin. Luasnya sekitar lima kilometer, berdinding karang terjal setinggi 50 meter, yang mengakibatkan air laut yang terperangkap tidak lagi bisa keluar, menjadi danau. Karena perubahan dan evolusi yang cukup lama, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibandingkan laut yang ada di sekitarnya.



Perubahan ini berdampak juga pada adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur misalnya, karena terbatasnya makanan, akhirnya beradaptasi dengan melakukan simbiose mutualistis dengan algae. Algae adalah penghasil makanan dan harus memasak makanan dengan bantuan sinar matahari. Selama ribuan tahun danau di tengah laut ini tentu saja menciptakan suatu ekosistem tersendiri yang sangat unik. Danau unik ini memiliki empat jenis ubur-ubur, salah satunya adalah ubur-ubur jenis Cassiopea.

Cerita simbiosis ini sangat menarik. Ubur-ubur Pulau Kakaban, menempatkan algae pada bagian kakinya, karena ganggang berkepentingan untuk mendapatkan matahari sebagai sarana melakukan fotosistesa, sang ubur-ubur akhirnya berjalan terbalik, dengan kaki ke atas dan kepala ke bawah. Cara berjalan yang unik inilah yang menarik para ilmuwan dan penyelam untuk mengetahui evolusi terhadap fauna laut yang akhirnya berperilaku aneh demi mempertahankan hidup mereka. Catatan para penyelam juga memberikan gambaran, hewan-hewan yang ada di danau ini mempunyai cahaya lebih berwarna warni ketika hari semakin gelap. Diduga, pada danau ini banyak akan dijumpai jenis-jenis baru.

Di dunia, tempat seperti ini hanya dijumpai di Palau, Kepulauan Micronesia di kawasan Tenggara Laut Pasifik. Dengan demikian Pulau Kakaban merupakan satu-satunya pulau di Indonesia yang mempunyai danau di tengahnya. Jadi untuk melihat danau di tengah laut, Anda tidak usah berpayah-payah datang ke Pulau Micronesia yang ganas di Palau, tapi cukup datang ke Berau dan melihatnya di Pulau Kakaban.

Selain itu di pinggiran pantainya juga tumbuh hutan bakau, yang dihuni oleh banyak jenis kepiting, timun laut dan ular laut. Banyak sekali jenis-jenis hewan yang belum diidentifikasi di kawasan ini. Dr. Thomas Tomascik, seorang ahli kelautan berkebangsaan Kanada, mengatakan Pulau Kakaban merupakan surga kekayaan biologi yang ada di Indonesia.

Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan yang terisolasi dalam danau ini merupakan salah satu obyek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap. Karena itu laut ini memang pantas menjadi obyek konsevasi alam yang harusnya dilindungi dan dilestarikan. Salah satu ungkapan yang menarik, bagaimana misalnya ada hewan-hewan laut yang sekarang tetap saja survive padahal kesadahan air di dalamnya sudah berubah total. Pulau Kakaban dalam bahasa daerah adalah pulau yang “memeluk”. Jadi Pulau Kakaban artinya sebuah pulau yang memeluk danau dengan penuh kasih sayang, termasuk di dalamnya adalah flora dan faunanya yang penuh keunikan.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisa...0805/wis02.html

Kamis, 16 Oktober 2008

MISTERI DUNIA AIR BAWAH TANAH

Misteri Dunia Air Bawah Tanah di Meksiko

Semenanjung Yucatan di utara Meksiko bagaikan sebuah teras batu kapur yang rata dan rendah, ia terbentuk saat pergantian jaman baru, tepatnya pada 2 juta tahun silam dari dasar laut dangkal yang naik. Lubang batuan adalah ciri khas topografi batu kapur yang umum ditemui di semenajung Yucatan. Di barat laut semenanjung tersebut, arkeolog sudah menemukan gugusaan lubang-lubang batuan ini sejak dulu.
Gugusan lubang tersebut diduga kuat diakibatkan oleh ledakan besar. Kurang lebih pada 65 juta tahun silam, sebuah batu meteor dengan ukuran sebesar sebuah kota menabrak bumi sehingga membentuk sebuah kubang raksasa dengan diameter mencapai 200 km. Abu yang ditimbulkan akibat tabrakan ini menyelimuti segenap angkasa, sehingga mengubah cuaca, bahkan mengakibatkan banyak makhluk hidup di bumi mati dalam skala besar, termasuk dinosaurus.
Kolam Kristal

Di tengah hutan yang lebat di semenajung Yucatan, Meksiko, di luar dugaan tersebar ribuan “kolam kristal” yang misterius. Menurut laporan Reuters, para ilmuwan asal AS telah menemukan “kolam kristal” tersebut belum lama ini, yang sekaligus membuka cadar sesungguhnya dunia air bawah tanah. Hutan yang lebat ini menyembunyikan banyak “kolam kristal” tersebut, dimana ke dalaman salah satu “kolam kristal” itu dapat mencapai 160 meter lebih dalamnya.
Ribuan “kolam kristal” bawah tanah tersebut telah membentuk sebuah dunia air bawah tanah yang misterius. bangsa Maya kuno pernah menganggap, bahwa di sana merupakan pintu masuk menuju ke alam bawah tanah. Masyarakat setempat pun terus melegendakan, bahwa di dunia air bawah tanah yang misterius itu, terdapat setumpukan tulang belulang, dan emas yang membentuk seperti gunung.
Peneliti asal AS dan penjelajah melakukan penyelidikan terhadap sejumlah lubang sambil membawa tabung oksigen, lampu kedap air dan peralatan bawah air lainnya. Dari penyelidikan itu diketahui bahwa sesungguhnya “kolam kristal” ini adalah lubang batuan yang terbentuk dari gamping (batu kapur) yang terkikis air hujan permanen. Dan oleh karena air hujan disaring batu kapur sejenis bunga karang, maka air kelihatan sangat jernih dan bening, dan tampak seperti terbuat dari kristal.
Para penyelam petualang merasa seolah-olah melayang di angkasa ketika berenang di dalam air bawah tanah tersebut. Kolam-kolam kristal ini yang dangkal ada yang kedalamannya mencapai 1 meter lebih, sedangkan yang dalam tidak berdasar. Mereka pernah menyelami sebuah lubang bawah tanah, hingga di kedalaman 160 meter anehnya tetap saja tidak bisa sampai ke dasar.

Wajar saja kalau bangsa Maya pernah menjadikan kolam-kolam kristal tersebut sebagai kolam yang suci, dan mereka pernah memasukkan barang-barang perhiasan ke dalamnya untuk sembahyang leluhur. Dalam kehidupan sehari-hari bangsa Maya kuno, kubang-kubang ini menduduki status yang penting. Kubang tersebut juga menyediakan sumber air yang cukup bagi bangsa Maya, selain itu juga menyediakan tempat pemandian bagi mereka. Hingga sekarang, di sejumlah desa yang jauh terpencil di semenanjung Yucatan, orang-orang masih bergantung pada lubang bawah tanah seperti ini dalam kehidupannya.
Dalam keyakinan spiritual bangsa Maya, kubang-kubang ini juga merupakan tempat tinggal Dewa Hujan, sama seperti Istana Naga dalam legenda Tiongkok. Bangsa Maya mengandalkan mereka guna bersujud untuk memohon hujan. Bangsa Maya beranggapan, bahwa hujan di langit adalah hasil kunjungan Dewa Hujan, hanya dengan mempersembahkan “hadiah”, dewa hujan baru bisa hadir. Mereka memasukkan barang perhiasan ke dalam lubang, bahkan akan memilih gadis cantik dan diterjunkan ke dalam air, dengan maksud menyenangkan Dewa Hujan.

Spesies Baru

Selain kemisteriusan dunia air bawah tanah, di kawasan tersebut juga ditemukan lebih dari 40 species makhluk hidup baru berupa udang-udangan dan ikan. Di bawah lingkungan yang sulit, species tersebut bisa bertahan hidup. Makhluk air ini hidup dengan mengandalkan makanan dan oksigen yang terbatas di dalam air. Ini adalah penemuan pertamakali yang pernah diraih para ilmuwan Biologi. Ahli Biologi laut dari Universitas Texas yakni Tom Iriver menuturkan, “Disini sepenuhnya merupakan sebuah dunia yang unik. Hal-hal yang kami temukan disana, termasuk beberapa bentuk hayati di sana belum pernah ditemukan di tempat lain.”
Iriver mengatakan yang paling menggembirakan adalah telah menyaksikan beberapa bentuk makhluk hidup dan spons yang hidup di perbatasan air laut dan air tawar, besar kemungkinan mereka memiliki nilai pengobatan yang terpendam, dapat mengobati sejumlah besar penyakit fatal termasuk kanker. Namun, penelitian ini masih terlalu dini, kami masih perlu melakukan sejumlah besar eksprimen ilmiah.
Bahkan para ilmuwan juga menemukan sejumlah besar kerangka binatang prasejarah dan benda budaya kuno di kubang tersebut, termasuk tulang belulang kelinci dan bahkan tulang belulang mamut atau gajah purba yang hidup pada zaman glacial. Seorang penjelajah bawah air menuturkan, “Saat Anda keluar dari air, dan memberitahu kepada orang-orang bahwa di bawah sana ada gajah besar, maka dipastikan Anda akan dianggap gila, tapi faktanya memang demikian.”
Karena perkembangan penduduk dan eksploitasi pariwisata, sehingga susunan ekosistem “kolam kristal” tengah mengalami kerusakan. Selama 30 tahun di masa lalu, daerah yang pernah di huni bangsa Maya ini, jumlah penduduknya membengkak hingga 10 kali lipat lebih, mencapai 1 juta jiwa, ditambah lagi penduduk asal AS, Eropa dan sejumlah besar wisatawan dari daerah lain di dunia. Akibatnya dunia bawah air ini mendapat ancaman serius.
Para ahli lingkungan memperingatkan, bahwa usaha pariwisata setempat yang berkembang pesat dan sejumlah besar sampah yang diciptakan usaha pelayanan sudah mulai menimbulkan polusi terhadap lingkungan lubang batuan.
Kini pencemaran yang dihasilkan orang-orang setempat semuanya di buang ke dalam bawah tanah, sistem sungai di lubang dengan kedalaman 1 meter di semenanjung Yucatan telah mengalami pencemaran sampah sebanyak 250 ton setiap harinya. Setiap hari ratusan wisatawan menyusup ke lubang-lubang yang dibuka tersebut, dan dengan semena-mena merusak susunan ekosistem di dalamnya. “Kami sekarang membutuhkan sebuah rancangan yang matang dan cermat, yang dapat mengembangkan ekonomi setempat sekaligus melindungi dunia bawah air yang tak ternilai itu, jelas Mahert.

Ritual Bangsa Maya Kuno

Bangsa Maya kuno sepenuhnya yakin bahwa persembahan darah merupakan hal yang mutlak bagi eksistensi manusia dan dewa. Persembahan darah dapat memberikan kekuatan dan kekuasaan yang suci bagi manusia. Dengan sebilah pisau osidian, Raja menoreh organ reproduksinya sendiri, agar darah mengalir ke atas sehelai kertas dalam mangkok. Istri raja juga turut serta dalam upacara ini, mereka akan menggunakan seutas tali berduri yang kemudian ditusukkan ke lidah sendiri. Kertas yang dinodai darah akan dibakar, mereka percaya asap yang terbakar akan berhubungan langsung dengan alam dewata.
Sembahyang kepada dewa atau leluhur dengan menggunakan manusia hidup kadang juga terjadi dalam upacara keagamaan mereka. Biasanya orang yang dipilih sebagai persembahan kurban adalah nara pidana, budak, anak yatim atau anak haram. Sedangkan sembahyang dengan menggunakan hewan ternak lebih umum dibanding orang hidup, kalkun, ******, tupai dan kadal dan hewan lainnya dianggap sebagai persembahan kurban yang paling pas terhadap segala dewa bangsa Maya.
Persembahan kurban manusia hidup dilakukan dibawah bantuan 4 orang tua yang disebut “Chac” (Konon katanya, upacara ini dilakukan demi untuk menyatakan penghormatan terhadap dewa hujan Chac bangsa Maya kuno). Ke-4 orang ini masing-masing menekan lengan dan kaki yang dipersembahkan sebagai kurban, sedang orang yang bernama “nacom” menoreh dada “persembahan kurban”. Selain itu, masih ada satu orang lagi yang turut serta dalam upacara yaitu juru tenung syaman (semacam agama primitif), konon katanya, dia menerima informasi saat dalam kondisi tertidur, makna yang terkandung dari ramalan yang didengarnya itu akan dijelaskan oleh beberapa tetua setempat.
Bangsa Maya meyakini, bahwa setelah manusia meninggal dunia, mereka akan masuk ke dunia bawah tanah melalui sebuah lubang, dan setelah raja meninggal akan masuk ke bawah tanah melalui orbit yang berhubungan dengan peredaran matahari; namun, karena mereka memiliki kekuatan supernormal, mereka akan hidup kembali di negeri langit dan menjadi dewa. Bangsa Maya sangat takut dengan kematian yang disebabkan oleh bencana alam, sebab setelah meninggal seperti tidak bisa masuk “surga” dengan sendirinya.

Sumber : Koran Kedaulatan Rakyat, edisi Tgl.25 Maret 1999


PULAU KAKABAN

Danau Prasejarah Berusia 21 Ribu Tahun


Pernah melihat danau di tengah laut? Kalau belum, pergilah ke Pulau Kakaban. Di sini ada air laut yang terperangkap, sejak 19 ribu tahun sebelum Masehi. Jadi, sekarang umurnya 21 ribu tahun lebih. Jadi ini merupakan danau prasejarah yaitu zaman peralihan Holosin. Luasnya sekitar lima kilometer, berdinding karang terjal setinggi 50 meter, yang mengakibatkan air laut yang terperangkap tidak lagi bisa keluar, menjadi danau. Karena perubahan dan evolusi yang cukup lama, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibandingkan laut yang ada di sekitarnya.



Perubahan ini berdampak juga pada adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur misalnya, karena terbatasnya makanan, akhirnya beradaptasi dengan melakukan simbiose mutualistis dengan algae. Algae adalah penghasil makanan dan harus memasak makanan dengan bantuan sinar matahari. Selama ribuan tahun danau di tengah laut ini tentu saja menciptakan suatu ekosistem tersendiri yang sangat unik. Danau unik ini memiliki empat jenis ubur-ubur, salah satunya adalah ubur-ubur jenis Cassiopea.

Cerita simbiosis ini sangat menarik. Ubur-ubur Pulau Kakaban, menempatkan algae pada bagian kakinya, karena ganggang berkepentingan untuk mendapatkan matahari sebagai sarana melakukan fotosistesa, sang ubur-ubur akhirnya berjalan terbalik, dengan kaki ke atas dan kepala ke bawah. Cara berjalan yang unik inilah yang menarik para ilmuwan dan penyelam untuk mengetahui evolusi terhadap fauna laut yang akhirnya berperilaku aneh demi mempertahankan hidup mereka. Catatan para penyelam juga memberikan gambaran, hewan-hewan yang ada di danau ini mempunyai cahaya lebih berwarna warni ketika hari semakin gelap. Diduga, pada danau ini banyak akan dijumpai jenis-jenis baru.

Di dunia, tempat seperti ini hanya dijumpai di Palau, Kepulauan Micronesia di kawasan Tenggara Laut Pasifik. Dengan demikian Pulau Kakaban merupakan satu-satunya pulau di Indonesia yang mempunyai danau di tengahnya. Jadi untuk melihat danau di tengah laut, Anda tidak usah berpayah-payah datang ke Pulau Micronesia yang ganas di Palau, tapi cukup datang ke Berau dan melihatnya di Pulau Kakaban.

Selain itu di pinggiran pantainya juga tumbuh hutan bakau, yang dihuni oleh banyak jenis kepiting, timun laut dan ular laut. Banyak sekali jenis-jenis hewan yang belum diidentifikasi di kawasan ini. Dr. Thomas Tomascik, seorang ahli kelautan berkebangsaan Kanada, mengatakan Pulau Kakaban merupakan surga kekayaan biologi yang ada di Indonesia.

Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan yang terisolasi dalam danau ini merupakan salah satu obyek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap. Karena itu laut ini memang pantas menjadi obyek konsevasi alam yang harusnya dilindungi dan dilestarikan. Salah satu ungkapan yang menarik, bagaimana misalnya ada hewan-hewan laut yang sekarang tetap saja survive padahal kesadahan air di dalamnya sudah berubah total. Pulau Kakaban dalam bahasa daerah adalah pulau yang “memeluk”. Jadi Pulau Kakaban artinya sebuah pulau yang memeluk danau dengan penuh kasih sayang, termasuk di dalamnya adalah flora dan faunanya yang penuh keunikan.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisa...0805/wis02.html

Gletser Jaya Wijaya

Glatser Jaya wijaya

Sulit dipercaya saat melihat sebuah pemandangan salju yang berada di daerah panas karena beriklim tropis. Terlebih jika pemandangan salju itu terhampar di puncak-puncak gunung dengan dindingnya yang berwarna kehitaman.

Saat ini, salju yang tersisa hanya berada di Puncak Jaya, Meren, Northwall, dan Ngga Pulu. Sebelum berubah nama menjadi Puncak Jaya, puncak ini dahulunya bernama Carstenz Pyramide.
Puncak Jaya yang bersalju ini merupakan salah satu puncak gunung gletser yang ada di kawasan khatulistiwa, seperti puncak es lainnya yang berada di Afrika dan Amerika Selatan.
Dari udara, puncak tersebut mirip bebatuan hitam dengan permadani putih yang lembut. Saat matahari sedang bersinar cerah, hamparan salju itu memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Pandangan mata akan lebih nikmat saat langit sedang berawan sehingga hamparan salju itu akan memunculkan kesan kedamaian di tengah teduhnya cuaca.
Puncak dengan lereng yang sangat curam itu menampilkan pesona alam yang sulit dicari bandingannya. Dindingnya yang hitam berdiri hampir tegak lurus dengan permukaan tanah yang berada ratusan meter di bawahnya.
Pemandangan salju es sungguh memukau. Apalagi jika memasuki akhir tahun di mana musim dingin dan hujan tiba. Di musim itu, biasanya salju menutupi hampir semua puncak Pegunungan Jayawijaya hingga ke lereng di bawahnya.
Jayawijaya merupakan sebuah gunung yang juga dikenal sebagai Gunung Orange yang berada di Pulau Papua. Gunung ini memiliki ketinggian 4750 m dpl, yaitu di puncak trikora. Jayawijaya merupakan salah satu dari 5% cadangan es dunia yang berada di luar Antartika dan Greenland. Dilihat dari keberadaan gletsernya yang berada di sebuah pegunungan, maka gletser Jayawijaya merupakan bentang alam glasial tipe Alpine Glaciation. Dilihat dari tipe gletsernya, gletser Jayawijaya merupakan tipe Valley Glacier. Valley glacier merupakan gletser pada suatu lembah dan dapat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Pada valley glacier juga terdapat anak sungai.
Dari penelitian sudah jelas ada berberapa periode zaman es kemudian ada periode hangat tapi kataklysmik tidak - semacam periodik siklus dingin kemudian panas - justru siklus panas sekerang berjalan +/- 10,000 tahun dan walaupun ada efek dari bakar hidrokarbon ini hanya mempercepat proses yang sudah berjalan selama ribuan tahun ingat 500 tahun yang lalu Carstenz bisa lihat salju diatas pergunungan dari laut; sekarang sudah mencuit supaya mungkin tingal hanya 1% dari apa yang ada dalam zaman Carstenz dan yang zaman Carstenz mungkin kurang dari 1% dari apa yang ada 10,000 tahun yang lalu.
Berkurangnya jumlah gletser yang ada di puncak jaya dapat diakibatkan oleh banyak hal. Penyebab utama lenyapnya tudung es atau es abadi pegunungan Jayawijaya itu menurut hasil penelitian para ahli gletser dan lingkungan hidup CSIRO Australia, semacam LIPI di Indonesia, disebabkan pemanasan global dan perubahan cuaca akibat perubahan iklim dunia.
Karena itu menciutnya padang es abadi itu bukan akibat kegiatan pertambangan emas dan tembaga yang sedang dilakukan PT Freeport Indonesia, sekitar 15 kilometer dari kaki pegunungan Jayawijaya, kata Kepala Departemen Lingkungan Hidup PT reeport Indonesia, Wisnu Susetyo Phd.
Karena itu gletser ini diperkirakan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan mengalami nasib yang sama dengan gletser di Papua Nugini (PNG) yang lenyap akibat pemanasan global kata wisnu.
Dijelaskan dalam penelitian para pakar CSIRO selain menggunakan peralatan mutakhir juga menggunakan sinar infra merah yang peka terhadap panas sehingga terungkap bahwa penyebab utama menyusutnya luas tudung es Jayawijaya akibat pemanasan global.
Pada prinsipnya, karena perubahan suhu adalah fenomena yang tidak merata, maka kutub-kutub mengalami kenaikan suhu lebih banyak daripada kawasan ekuator; dan benua lebih meningkat suhunya dibanding kawasan samudera. Ini telah dibuktikan antara lain dengan runtuhnya “sekeping” gletser Antartika (kurang lebih sebesar Pulau Bali!) dan tercebur ke dalam Samudera Atlantik Selatan. Pencairan es di kutub-kutub menjelaskan terjadinya kenaikan permukaan air laut. Pada awal 1995 terjadi banjir pada musim dingin yang melanda berbagai kawasan Eropa Utara karena meningginya permukaan air laut. Pada musim semi sebelumnya, Cina mengalami banjir karena mencairnya salju yang lebih cepat, dan membunuh hampir 2000 jiwa.
Melelehnya es di puncak-puncak Pegunungan Alpen juga mulai menyembulkan batu-batu cadas yang selama ribuan tahun sebelumnya tersembunyi di balik salju. Di seluruh dunia pun terjadi perubahan cuaca yang ganjil. Musim dingin yang kurang dingin, tetapi kadang-kadang dikejutkan dengan badai salju yang sangat dingin. Musim kemarau yang berkepanjangan di daerah khatulistiwa dan musim hujan yang semakin tak beraturan. Dan, yang terakhir ini, fenomena El Nino. Tak usah jauh-jauh. Penduduk Jakarta bisa melihat kawasan Puncak sekarang yang tidak sehijau di masa lalu.
Untuk menyelamatkan tudung es ini pakar CSIRO Australia juga angkat tangan karena hingga saat ini belum ditemukan cara yang efektif untuk mengatasi penyusutan gletser akibat pemanasan global.
Para ahli Australia yang tertarik dengan keanehan tudung es Jayawijaya hingga sangat antusias untuk menyelamatkan salah satu objek wisata utama di Irja ini tidak mampu berbuat banyak.
Terbentuknya Gletser Di Jayawijaya
BAGI pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.
Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!
Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia.
Keberadaan Pulau Papua saat ini, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.
Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.
Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari.
Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, sambungnya, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.
Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.
Akhirnya proses pengangkatan yang terus-menerus akibat sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.
Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.
Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surga para peneliti geologi dunia.
Sementara terpisahnya daratan Australia dengan Papua oleh lautan berawal dari berakhirnya zaman es yang terjadi pada 15.000 tahun yang lalu. Mencairnya es menjadi lautan pada akhirnya memisahkan daratan Papua dengan benua Australia.
Masih banyak rahasia bebatuan Jayawijaya yang belum tergali. Apalagi, umur Pulau Papua ini masih dikategorikan muda sehingga proses pengangkatan pulau masih terus berlangsung hingga saat ini. Ini juga alasan dari penyebutan Papua New Guinea bagi Pulau Papua, yang artinya adalah sebuah pulau yang masih baru.
Sementara keberadaan salju yang berada di beberapa puncak Jayawijaya, diyakininya akan berangsur hilang seperti yang dialami Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Hilangnya satu-satunya salju yang dimiliki oleh pegunungan di Indonesia itu disebabkan oleh perubahan iklim secara global yang terjadi di daerah tropis.

DI KOPAS : http://aapgscundip.wordpress.com/2008/07/22/glatser-jaya-wijaya/

Sumber:
http://www.republika.co.id/9704/15/15XSAL.094.html
http://www.antara.co.id/currissue/97/9/11/I32.html
http://www.infopapua.com/
http://www.merbabu.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Jayawijaya_Mountains
http://www.mail-archive.com/envorum@ypb.or.id/msg00040.html

CATATAN MAPALA UNAND

Dihadang Badai, Puncak Jaya Direngkuh

October 3rd, 2007

Wpe09068EKSPEDISI pendakian ke Carstenz Pyramid (4.884 Mdpl) di Papua yang diikuti anggota Mapala Unand, Zulfahmi bersama tim gabungan dari Mapala UI, Stekpi Jakarta, dan crew Lativi dihadang badai salju. Meski gagal mencapai puncak Carstenz di jajaran Pegunungan Jaya Wijaya itu, tepat pukul 12.00 WIT pada 17 Agustus lalu, rombongan ekspedisi ini berhasil menggapai Puncak Jaya (4.862 Mdpl).

Keberhasilan menggapai Puncak Jaya tersebut, memang diluar dugaan sebelumnya. Mengingat di awal pendakian, cuaca buruk selalu menyertai perjalanan tim ekspedisi yang dipimpin pendaki kawakan, Ripto Mulyono itu. Sehingga, jadilah Puncak Jaya sebagai pelipur lara atas kegagalan “menjamah” puncak Carstenz.

Sebagaimana dilaporkan Zulfahmi, ketika menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (27/8) lalu, kegagalan untuk menjejakkan kaki di puncak Carstenz lebih disebabkan pada faktor alam yang tak bersahabat ketimbang faktor internal tim. Dikatakannya, stamina anggota tim masih sanggup untuk meneruskan perjalanan seandainya saja badai salju itu tidak datang terus menerus. Namun karena badai salju selalu menghadang, maka diputuskanlah untuk turun kembali ke base camp di lembah Danau-danau.

“Kami sempat mengalami trouble ketika salah seorang anggota tim dari Stekpi mengalami cedera. Saya bersama Ripto dan 2 orang crew Lativi terpaksa kembali ke base camp sebagai rescue team. Di saat bersamaan, 4 orang anggota tim lainnya melanjutkan perjuangan untuk menggapai puncak tertinggi Indonesia tersebut. Dan mereka berhasil,” ucap Fahmi.

Meski gagal di pendakian pertama ke puncak salju abadi Indonesia ini, Fahmi masih patut berbangga diri. Karena kemampuan fisik dan keandalan tekniknya cukup diakui rombongan tim lainnya. Karena itu, pada 7 September mendatang dia bakal kembali bertolak ke Timika, Papua untuk mendaki puncak Carstenz bersama rombongan pendaki Amerika yang akan menyelesaikan program pendakian Seven Summit (7 puncak) di 7 benua. (max)

ARTIKEL INI BERSUMBER DI :
http://mapalaunand.com/info-carstenz/dihadang-badai-puncak-jaya-direngkuh/

CATATAN JEJAK PETUALANG




EKSPEDISI JEJAK PETUALANG TRANS 7

Tim JP (Dina, Dody, Budi, Cosmas, Giri, Bayu dan Une) bersama Tim Brimob Papua (8 orang) memulai pendakian dari mil 64 (pos Brimob) dengan mengggunakan bus dengan seluruh perbekalan dan peralatan pendakian (total sekitar 700 kg.) menuju mil 68 (Tembagapura 2500 MDPL), dilanjutkan dengan menggunakan trem (kereta gantung ke kawasan Gressberg (3500 MDPL) selama lebih kurang 10 menit, setelah turun dari trem rombongan diangkut lagi dengan bus menuju Zebra Wall diketinggian 3800 MDPL, dari Zebra Wall inilah awal dari pendakian menuju flaying camp di Danau Biru (3900 MDPL), di Danau Biru kita mendirikan tenda dan bermalam, ini dilakukan agar tubuh kami menyesuaikan dengan ketinggian yang berkadar oksigen lebih tipis, memang sebaiknya tidak terlalu cepat mencapai ketinggian tertantu, idealnya (menurut buku-buku) tiap naik 100 meter, harus bermalam 1 malam, begitu seterusnya.

Suhu mulai terasa menggerogoti tulang (siang 10C, malam 3C) apalagi bila angin berhembus... hih... malamnya hujan untung tenda dan flysheet sudah berdiri. Beberapa teman tampak terdiam mungkin akibat serangan penyakit ketinggian, aneh memang biasanya mereka ceria dan penuh canda, dari pengalaman penyakit ketinggian menyerang pendaki yang naik terlalu cepat. Baru tahu mereka hehehe...
Pagi sekali kami sudah bangun, langit tampak cerah, tidak ada awan yang menutupi, kamipun bermandikan cahaya matahari, seluruh peralatan, pakaian dan sleeping bag kami jemur biar tidak lembab dan berat ketika dibawa... setelah berkemas dan sarapan pagi, kamipun melanjutkan perjalanan menuju base camp induk Lembah Danau-Danau (4200 MDPL)...
Awal pendakian sungguh berat, pagi-pagi kami sudah disuguhi tanjakan terjal dan panjang... membuat nafas satu dua, jalan datar saja sudah menyesakan dada apalagi menanjak curam huh... namun dengan semangat 45 teman2 kru JP selangkah demi selangkah maju, deru nafas diiringi sesekali batuk mengiringi pendakian yang semakin berat... hanya tatapan mata satu dengan yg lain jadi alat komunikasi, saya hanya bisa tersenyum dan kagum dengan semangat mereka...

Pendakian ke Base Camp Induk Lembah Danau-Danau (4200 MDPL) kami mulai. Trek menanjak sangat melahkan, belum lagi tipisnya oksigen membuat teman-teman kelelahan dengan cepat. Beberapa teman yang masih merasakan penyakit ketinggian, pusing seperti ada batu di kepala tampak berjalan gontai dengan ransel bawaan yang berat. Dina dan Nomang beristirahat untuk menormalkan kembali pernafasan dan meneguk air membasahi tenggorokan. Trek menanjak di pintu angin adalah satah satu trek terberat, selain curam juga tidak mudah berjalan karena krikil dan batu yang mudah lepas. Saya melihat thermometer di jam saya yang menunjukan suhu 8 derajat celsius, dan terasa semakin dingin ketika angin berhembus, apalagi sinar matahari terhalang kabut tebal.

Setelah melalui tanjakan terjal pintu angin akhirnya kami bisa bernafas lega karena trek tidak lagi menanjak terjal, flat diselingi naik turun yang tidak berat, pemandangan danau di kiri trek cukup menghibur. Setelah berjalan selama 5 jam akhirnya kami sampai di Base Camp Induk Lembah Danau-Danau (4200 MDPL). Kami disambut teman-teman brimob dan welcome drink secangkir teh manis panas hmmm nikmatnya. Di base camp tampak berdiri 3 tenda dome dan flysheet untuk kami. Tanpa membuang waktu saya memerintahkan teman-teman untuk membuka alat komunikasi seperti antene outdoor HP satelite dan B-Gan alat untuk mengirim gambar via satelit ke kantor di Jakarta. Selain tenda kami, juga berdiri tenda-tenda lain dan dapur umum yang hangat, gimana nggak hangat ada 4 kompor minyak yang lagi menyala?

Tidak ada yang kami lakukan selain mempersiapkan peralatan pendakian gunung es dan aklimatisasi dengan hiking seputaran danau-danau, agar badan semakin menyesuaikan dengan tipisnya oksigen di ketinggian.

Pagi sekali kami sudah bangun dan kemudian sarapan. Pagi ini adalah saat yang ditunggu teman-teman, kami akan mendaki hingga gletser Puncak Jaya... pendakian gunung es sebenarnya akan kami lakukan. Awal trek belum terlalu berat, jalur tanah berkerikil membelah lembah batu, dengan tebing tinggi, dingin di kiri kanan trek. Saya masih ingat tebing batu di sisi trek dulunya masih berselimut es dan salju ketika saya mendaki untuk pertama kalinya tahun 1989, es semakin menyusut kini. Dulu hanya butuh waktu 1 jam saja ke gletser, sekarang diperkirakan akan memakan waktu sekitar 5 jam. Trek semakin sulit ketika kami harus mendaki jalur krikil dan batu yang licin, bila tidak hati-hati bisa tergelincir dan terjun bebas ke jurang! Hih...

Setelah berjalan 4,5 jam lamanya akhirnya kami sampai di gletser. Tidak terkira wajah-wajah riang teman-teman, seperti orang ndeso katro mereka berhamburan memegang es dan salju... Benar-benar kampungan hehehe... Kami tidak bisa berlama-lama menikmati pencapaian ini, karena tidak lama kemudian kabut, angin dan rintik hujan es... ya es..., kena kepala bletuk.. bletuk.. rasanya, kami pun bergegas mendirikan tenda dan flysheet. Untung kami sigap, karena beberapa menit kemudian badai pun melanda camp kami, angin kenacang, salju dan es menghantam tanpa ampun tenda kami... suhu menunjukan 0 derajat celcius !

Ditengah suhu dingin yang membekukan 3 derajat celcius pukul 6 pagi, kami semua telah bangun. Secangkir teh manis ditemani beberapa potong biscuit menjadi sarapan pagi kami. Seusai sarapan kami mempersiapkan peralatan pendakian es, seperti paku es (crampon) yang kami pasang di sepatu gunung kami, kampak es (ice axe), tongkat es (Sky pol), tali, karabiner, harness dan sebagainya.

Tebing es setinggi kurang lebih 40 meter membentang dihadapan kami. Belum apa-apa dingin yang dihembuskan angina dari tebing es situ menerpa wajah kami, seperti kalau kita membuka freezer hih... pipi dan hidung ini langsung disergap dingin yang menusuk. Sebagai pemanjat pertama (leader) adalah Giri diamankan oleh seutas tali dibawahnya oleh Une. Semeter demi semeter Giri menambah ketinggian. Kampak esnya terdengar menancap pada es yang keras disusul kemudian tendangan cramoonnya di tebing es untuk memperkokoh posisi berdiri. Akhirnya Giri sampai di sebuah teras yang cukup aman untuk membuat tambat pengaman. Tali pun diulur dan satu demi satu pendaki lainnya memanjat dengan menggunakan jummar, pertama adalah Budi kamerawan untuk bisa mengambil gambar dari atas, disusul kemudian saya, Dina dan terakhir Deni . Dina mencoba memanjat es dengan cara ice climbing seperti Giri diamankan oleh tali. Pemanjat terakhir adalah Deni yang sesampainya di teras kedua dilanjutkan dengan tahapan pemanjatan 20 meter berikutnya.

Setelah sesampainya di hamparan es yang datar, maka tali pun dibentang menghubungkan satu pendaki dengan pendaki lainnya (moving together). Ini merupakan teknik berjalan di padang es yang aman. Karena bisa saja salah satu pendaki terperosok ke jurang es, namun tali akan menahan pendaki tersebut. Selangkah demi selangkah para pendaki menapaki es yang keras dan dingin. Dina berusaha keras untuk tetap melangkah, sesekali talinya menegang ketika harus berhenti menarik nafas dan batuk karena sesak nafas. Kabut dan salju yang turun menambah tebal padang es, sehingga memberatkan langkah kami. Udara dingin menerobos, winbreaker dan sweater yang kami pakai, sarung tangan wol berlapis mitten pun hampir tidak bisa menahan dingin, membuat jemari tangan kebas dan kaku, begitu juga dengan jari kaki. Saya perintahkan teman-teman untuk mempercepat langkah, karena saya khawatir kami akan terserang radang dingin (frostbite) apalagi angin semakin kencang dan hujan salju semakin deras turun.

Langkah kami semakain berat karena salju tebal kami injak. Deni tampak berjalan berhati-hati, dia menusukan kampak esnya ke es, mencari jalan es yang keras, sementara disisi kami jurang es yang tidak berdasar menganga siap menelan kami bulat-bulat. Detak jantung saya bedertak kencang ketika Dina terjatuh karena gagal melompati parit es yang keras, untuk tali menahan tubuhnya sehingga dia tidak meluncur jatuh ke jurang. Dengan perlahan Dina berusaha bangkit dan kembali berjalan.

Setelah 3 jam berjuang akhirnya kami sampai di tempat teritinggi, datar, terbuka dan tidak ada lagi gundukan es yang lebih tinggi... puncak! Akhirnya sampai juga perjuangan 10 hari lamanya kami sampai di puncak Jaya di ketinggian 4860 meter dari permukaan laut. Kami pun bersorak dan berangkulan gembira karena telah melalui ujian berat yang melelahkan. Berkejaran dengan kabut yang turun dan angin yang semakin kencang, kami pun berfoto-foto kemudian turun ke base camp di gletser. Terimakasih Tuhan. (TAMAT)

Keterangan Lebih Lanjut Silakan Klik
http://jejakpetualang.multiply.com/photos/album/33/Oleh-oleh_Ekspedisi_Jaya_Wijaya

Rabu, 15 Oktober 2008

Di Bawah Lentera Merah

http://id.wikipedia.org/wiki/Di_Bawah_Lentera_Merah

Di Bawah Lentera Merah adalah buku karangan Soe Hok Gie yang menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920-an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917-an.

Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menangah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.

Pertimbangan lain mengapa Di Bawah Lentera Merah menjadi penting adalah karena buku ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie, melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisionalis lokal tahun 1917-an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta tahun 1999.

Soe Hok Gie


Soe Hok Gie di Puncak Pangrango, 1967
Soe Hok Gie di Puncak Pangrango, 1967

Soe Hok Gie (17 Desember 194216 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 19621969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Catatan Seorang Demonstran
Catatan Seorang Demonstran

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).

Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film yang disutradarai Riri Riza, Gie, dengan Nicholas Saputra berperan sebagai Hok Gie.

http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie