Kamis, 05 Juni 2003

Pengertian Ideologi

A. Pengertian Ideologi

Ideologi adalah ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Antoine Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide". Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan untama di balik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit. (definisi ideologi Marxisme).

Kata Ideologi pertama sekali diperkenalkan oleh filsuf Prancis Destutt de Tracy pada tahun 1796. Kata ini berasal dari bahasa Prancis idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Destutt de Tracy menggunakan kata ini dalam pengertian etimologisnya, sebagai "ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan"

Definisi memang penting. Itu sebabnya Ibnu Sina pernah berkomentar:
“Tanpa definisi, kita tidak akan pernah bisa sampai pada konsep.”

Karena itu menurut beliau, sama pentingnya dengan silogisme (baca : logika berfikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat.

Mabda’ secara etimologis adalah mashdar mimi dari kata bada’ayabdau bad’an wa mabda’an yang berarti permulaan. Secara terminologis berarti pemikiran mendasar yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran (cabang) [dalam Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, entry al-Mabda’]. Al-Mabda’ (ideologi): pemikiran mendasar (fikrah raisiyah) dan patokan asasi (al-qaidah al-asasiyah) tingkah laku. Dari segi logika al-mabda’ adalah pemahaman mendasar dan asas setiap peraturan.

Selain definisi di atas, berikut ada beberapa definisi lain tentang ideologi:
  1. Gunawan Setiardjo : Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.
  2. Destutt de Tracy:  Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu. 
  3. Descartes:  Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia.
  4. Machiavelli: Ideologi adalah sistem perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa. 
  5. Thomas H: Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat bertahan dan mengatur rakyatnya. 
  6. Francis Bacon: Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.
  7. Karl Marx: Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
  8. Napoleon: Ideologi keseluruhan pemikiran politik dari rival–rivalnya.
  9. Muhammad Ismail: Ideologi (Mabda’) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar, pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau ke mana alam, manusia dan kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan setelahnya?
  10. Dr. Hafidh Shaleh : Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode menyebarkannya ke seluruh dunia. 
  11. Taqiyuddin An-Nabhani: Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Ideologi (mabda’) adalah pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut berupa fakta, metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya.

Sehingga dalam Konteks definisi ideologi inilah tanpa memandang sumber dari konsepsi Ideologi, maka Islam adalah agama yang mempunyai kualifikasi sebagai Ideologi dengan padanan dari arti kata Mabda’ dalam konteks bahasa arab.

Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga ideologi (mabda’). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam. Untuk saat ini dua mabda pertama, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan mabda yang ketiga yaitu Islam, saat ini tidak diemban oleh satu negara pun, melainkan diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh penjuru dunia.

Sumber konsepsi ideologi kapitalisme dan Sosialisme berasal dari buatan akal manusia, sedangkan Islam berasal dari wahyu Allah SWT (hukum syara’).

Ibnu Sina mengemukakan masalah tentang ideologi dalam Kitab-nya "Najat", dia berkata:
"Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempurnaan eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alis mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu sekali."

Dalam ilmu sosial, ideologi politik adalah sebuah himpunan ide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan menawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai dirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan.

Teori komunis Karl Marx, Friedrich Engels dan pengikut mereka, sering dikenal dengan marxisme, dianggap sebagai ideologi politik paling berpengaruh dan dijelaskan lengkap pada abad 20.

Contoh ideologi lainnya termasuk: anarkisme, kapitalisme, komunisme, komunitarianisme, konservatisme, neoliberalisme, Demokrasi Islam, demokrasi kristen, fasisme, monarkisme, nasionalisme, nazisme, liberalisme, libertarianisme, sosialisme, dan demokrat sosial.

Kepopuleran ideologi berkat pengaruh dari "moral entrepreneurs", yang kadangkala bertindak dengan tujuan mereka sendiri. Ideologi politik adalah badan dari ideal, prinsip, doktrin, mitologi atau simbol dari gerakan sosial, institusi, kelas, atau grup besar yang memiliki tujuan politik dan budaya yang sama. Merupakan dasar dari pemikiran politik yang menggambarkan suatu partai politik dan kebijakannya.

Sebuah ideologi yang telah menjadi keyakinan dalam kehidupan masyarakat dapat menjadi luntur atau pudar seiring perkembangan zaman.Hal tersebut tergantung pada daya tahan Ideologi. Ideologi akan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman,apabila mempunyai tiga dimensi,yaitu:

A.   Dimensi Realita

Dimensi ini menunjuk pada kemampuan ideologi untuk mencerminkan realita yang hidup dalam masyarakat, di mana ia muncul untuk pertama kalinya, paling kurang realita pada saat-saat awal kelahirannya

B.   Dimensi Idealisme

Dimensi Idealisme adalah kadar/kualitas idealisme yang terkandung di dalam iseologi atau nila-nilai dasarnya. Kualitas itu menentukan kemampuan ideologi dalam memberikan harapan kepada berbagai kelompok atau golongan yang ada dalam masyarakat untuk mempunyai dan membina kehidupan bersama secara lebih baik dan membangun suatu masa depan secara lebih cerah.

C.   Dimensi Fleksibilitas

Yaitu kemampuan ideologi dalam memengaruhi dan sekaligus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan atau perkembangan masyarakat. Memengaruhi berarti ikut mewarnai proses pengembangan, sedangkan menyesuaikan diri berarti bahwa masyarakat berhasil menemukan tafsiran-tafsiran terhadap nilai-nilai daasar dari ideologi sesuai dengan realita-realita baru yang muncul dan yang harus mereka hadapi.

Klasifikasi Ideologi

Ideologi terbuka dan ideologi tertutup merupakan klasifikasi dari ideologi itu sendiri yang telah di jabarkan di postingan sebelumnya. 

Perbedaan Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup
Ideologi dapat diartikan suatu kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas, pendapat (kejadian) yang memberikan arah tujuan untuk kelangsungan hidup.Ideologi terbagi menjadi dua,yaitu ideologi Terbuka dan Ideolgi tertutup, Perbedaan ideologi terbuka dan ideologi tertutup ini sangat mencolok, sehingga dapat dengan mudah dikelompokkan.

Indonesia adalah negara yang menganggap pancasila sebagai ideologi terbuka dan pancasila sebagai suatu sumber nilai. Nah, Setiap ideologi mempunyai sesuatu yang membuat ideologi dapat bertahan dari waktu ke waktu, ini disebut daya tahan dan dimensi ideologi, dengan adanya itu maka ideologi dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ideologi juga mempunyai Hakekat dan Fungsi ideologi yang memiliki macam-macam nilai tersendiri.

A. IDEOLOGI TERBUKA
Ideologi terbuka adalah ideologi yang tidak dimutlakkan. Ideologi ini memiliki ciri sebagai berikut.
  • Merupakan kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat (falsafah). Jadi bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan kesepakatan masyarakat.
  • Tidak diciptakan oleh negara, tetapi ditemukan dalam masyarakat sendiri, ia milik seluruh rakyat, dan bisa digali serta ditemukan dalam kehidupan mereka.
  • Isinya tidak langsung operasional, sehingga setiap generasi baru dapat dan perlu menggali kembali falsafah tersebut dan mencari implikasinya dalam situasi kekinian  mereka.
  • Tidak pernah membatasi kebebasan dan tanggung jawab masyarakat, melainkan menginspirasi masyarakat untuk berusaha hidup bertanggung jawab sesuai dengan falsafah itu.
  • Mengahargai pluralitas, sehingga dapat diterima masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama.

B. IDEOLOGI TERTUTUP

Ideologi tertutup adalah ideologi yang bersifat mutlak, ideologi ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, melainkan cita-cita sebuah kelompok yang digunakan sebagai dasar untuk mengubah masyarakat.
  2. Apabila kelompok tersebut berhasil menguasai negara, ideologinya itu akan dipaksakan kepada masyarakat. Nilai-nilai, norma-norma dan berbagai segi masyarakat akan diubah sesuai dengan ideologi tersebut.
  3. Bersifat Totaliter, artinya mencakup / mengurusi semua bidang kehidupan. Karena itu ideologi tertutup ini cenderung cepat-cepat berusaha menguasai bidang informasi dan pendidikan sebab kedua bidang tersebut merupakan sarana efektif untuk memengaruhi perilaku masyarakat.
  4. Pluralisme pandangan dan kebudayaan ditiadakan, hak asasi tidak dihormati.
  5. Menuntut masyarakat untuk memiliki kesetiaan total dan kesediaan untuk berkorban bagi ideologi tersebut.
  6. Isi ideologi tidak hanya nilai-nilai dan cita-cita, tetapi juga tuntutan konkret dan operasional yang keras, mutlak dan total.

Selasa, 22 April 2003

Hari Bumi

Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April secara Internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.

Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April secara Internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.

Tiga puluh tahun yang lalu pada 22 April 1970, hari bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator, . Embrio gagasan hari bumi dimulai sejak ia menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model “teach in” yaitu sessi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup. Ternyata masyarakat menyambut baik ide ini, sehingga gerakan lingkungan benar-benar semarak, dan timbul arus gerakan yang lebih besar dengan dicanangkannya Hari Bumi .
Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan Hari Bumi yang monumental. ketika jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York dengan mengacungkan tinju kemarahan kepada para perusak bumi. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di New York, Washington dan San Fransisco. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970.

Nelson menyebutkan fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana : ” Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an.

Kesadaran terhadap lingkungan hidup pada masyarakat di Amerika Serikat mulai tergugah semenjak diterbitkannya buku “Silent Spring” karya Rachel Carson pada tahun 1962. Buku ini mengangkat seputar permasalahan lingkungan hidup yang sedang terjadi dan akan membahayakan manusia. Sejak beredarnya buku ini bermunculanlah berbagai kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.

Hari Bumi yang pertama ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan Hari Bumi menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle.

Puncaknya, yaitu saat kelompok-kelompok ini berhasil menggerakkan jutaan orang untuk turun ke jalan dalam pencanangan Hari Bumi pada 22 April 1970. Saat itu sebenarnya ada beberapa tema lain selain masalah penyelamatan lingkungan hidup, antara lain masalah anti perang Vietnam, masalah anti rasial, dan beberapa permasalahan sosial yang lain. Namun masyarakat Amerika saat itu lebih memfokuskan gerakan aksi besar-besaran ini pada tema lingkungan hidup yang dibawakan sebagai pesan terhadap kalangan politisi dan pemerintah untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.

Dari keberhasilan gerakan Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970 di Amerika, lahirlah berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup, antara lain Environmental Action (di Washington, 1970), kelompok Greenpeace (kelompok pelestari lingkungan yang cukup radikal dan militan, lahir pada tahun 1971), Environmentalist for Full Employment (kelompok penentang industrialisasi, lahir tahun 1975), Worldwatch Institute (pusat penelitian dan studi yang mengumpulkan berbagai informasi ancaman lingkungan global, lahir tahun 1975), dan masih banyak lagi kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang lain.

Semenjak dicanangkannya Hari Bumi pada tahun 1970, kelompok-kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup di Amerika mengalami peningkatan jumlah anggota dengan sangat pesat, antara lain :
(Kelompok) Audubon Society th 1962 : 41.000 orang th 1970 : 81.500
Izaak Walton League th 1966 : 52.600 orang th 1970 : 53.600
National Wildlife Federation th 1966 : 271.900 orang th 1970 : 540.000
Sierra Club th 1959 : 20.000 orang th 1970 : 113.000
Wilderness Society th 1964 : 27.000 orang th 1970 : 54.000

Namun lepas dari semua sejarah mengenai hari bumi, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah bagaimana umat manusia untuk tetap menjaga dan menyelamatkan bumi kita ini dari kehancuran .

Dan semua itu kita lakukan tidak hanya pada Hari Bumi saja, tetapi juga setiap saat.
Sebagai informasi tambahan, peristiwa lain yang terjadi di 22 April, adalah:

  • Tahun 1529: Perjanjian Saragosa ditandatangani, membagi belahan bumi timur antara Spanyol dan Portugal dengan batas garis bujur 17° sebelah timur Kepulauan Maluku
  • Tahun 1578: Kerajaan Sumedang Larang berdiri sekaligus menandai berdirinya Sumedang.
  • Tahun 1724: Kelahiran Immanuel Kant, filsuf Jerman, wafat 1804.
  • Tahun 1870: Vladimir Illich Ulyanov, kelak dikenal sebagai Vladimir Lenin lahir di Simbirsk Rusia


Rabu, 13 November 2002

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M)