Selasa, 22 April 2003

Hari Bumi

Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April secara Internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.

Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April secara Internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.

Tiga puluh tahun yang lalu pada 22 April 1970, hari bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator, . Embrio gagasan hari bumi dimulai sejak ia menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model “teach in” yaitu sessi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup. Ternyata masyarakat menyambut baik ide ini, sehingga gerakan lingkungan benar-benar semarak, dan timbul arus gerakan yang lebih besar dengan dicanangkannya Hari Bumi .
Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan Hari Bumi yang monumental. ketika jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York dengan mengacungkan tinju kemarahan kepada para perusak bumi. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di New York, Washington dan San Fransisco. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970.

Nelson menyebutkan fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana : ” Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an.

Kesadaran terhadap lingkungan hidup pada masyarakat di Amerika Serikat mulai tergugah semenjak diterbitkannya buku “Silent Spring” karya Rachel Carson pada tahun 1962. Buku ini mengangkat seputar permasalahan lingkungan hidup yang sedang terjadi dan akan membahayakan manusia. Sejak beredarnya buku ini bermunculanlah berbagai kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.

Hari Bumi yang pertama ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan Hari Bumi menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle.

Puncaknya, yaitu saat kelompok-kelompok ini berhasil menggerakkan jutaan orang untuk turun ke jalan dalam pencanangan Hari Bumi pada 22 April 1970. Saat itu sebenarnya ada beberapa tema lain selain masalah penyelamatan lingkungan hidup, antara lain masalah anti perang Vietnam, masalah anti rasial, dan beberapa permasalahan sosial yang lain. Namun masyarakat Amerika saat itu lebih memfokuskan gerakan aksi besar-besaran ini pada tema lingkungan hidup yang dibawakan sebagai pesan terhadap kalangan politisi dan pemerintah untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.

Dari keberhasilan gerakan Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970 di Amerika, lahirlah berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup, antara lain Environmental Action (di Washington, 1970), kelompok Greenpeace (kelompok pelestari lingkungan yang cukup radikal dan militan, lahir pada tahun 1971), Environmentalist for Full Employment (kelompok penentang industrialisasi, lahir tahun 1975), Worldwatch Institute (pusat penelitian dan studi yang mengumpulkan berbagai informasi ancaman lingkungan global, lahir tahun 1975), dan masih banyak lagi kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang lain.

Semenjak dicanangkannya Hari Bumi pada tahun 1970, kelompok-kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup di Amerika mengalami peningkatan jumlah anggota dengan sangat pesat, antara lain :
(Kelompok) Audubon Society th 1962 : 41.000 orang th 1970 : 81.500
Izaak Walton League th 1966 : 52.600 orang th 1970 : 53.600
National Wildlife Federation th 1966 : 271.900 orang th 1970 : 540.000
Sierra Club th 1959 : 20.000 orang th 1970 : 113.000
Wilderness Society th 1964 : 27.000 orang th 1970 : 54.000

Namun lepas dari semua sejarah mengenai hari bumi, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah bagaimana umat manusia untuk tetap menjaga dan menyelamatkan bumi kita ini dari kehancuran .

Dan semua itu kita lakukan tidak hanya pada Hari Bumi saja, tetapi juga setiap saat.
Sebagai informasi tambahan, peristiwa lain yang terjadi di 22 April, adalah:

  • Tahun 1529: Perjanjian Saragosa ditandatangani, membagi belahan bumi timur antara Spanyol dan Portugal dengan batas garis bujur 17° sebelah timur Kepulauan Maluku
  • Tahun 1578: Kerajaan Sumedang Larang berdiri sekaligus menandai berdirinya Sumedang.
  • Tahun 1724: Kelahiran Immanuel Kant, filsuf Jerman, wafat 1804.
  • Tahun 1870: Vladimir Illich Ulyanov, kelak dikenal sebagai Vladimir Lenin lahir di Simbirsk Rusia


Rabu, 13 November 2002

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Tragedi Karbala

Enam puluh tahun setelah Rasulullah hijrah, suasana Madinah bagaikan pemakaman hijau, kota yang tak berdenyut, begitu mencekam dan mengerikan. Revolusi Islam yang telah dibangun selama dua puluh tiga tahun oleh Muhammad bersama Muhajirin dan Anshor kini telah dihancurkan. Qur’an ditempatkan diatas ujung tombak Bani Umayyah. Ali bin Abi Tholib, seorang washi, khalifah, penerus risalah Nabi Muhammad dibunuh oleh seorang munafik yang paling dungu dan tolol. Al-Hasan putra pendiri Islam, kini duduk sendirian, tanpa senjata dan terasing dinegeri kelahirannya sendiri. Tangan-tangan kemunafikan, penghianatan dan jahiliyah baru telah masuk bahkan kerumahnya sendiri dengan memperalat istri yang tega meracunnya. Pemuda penghulu surga ini tak dapat dimakamkan ditempat yang ia hasratkan, yaitu disamping pusara kakeknya karena dihalang-halangi sejumlah orang yang membencinya, akhirnya jenazah dikubur dipemakaman umum.
Saat itu tak seorangpun berani mengeluarkan suara atas eksekusi Yazid bin Muawwiyah (Laknatullah alaihi abadan). Tiang gantung telah dipersiapkan, algojo-algojo berdarah dingin siap siaga memenggal leher siapa saja yang tidak berbai’at kepada Yazid, ulama-ulama bayaran disewa untuk mencuci darah kaum muslimin dengan hadits-hadits palsu, kaum mufasirin (ahli tafsir) disuap untuk menjustifikasi tindakan kejam mereka mengatasnamakan firman-firman Allah. Sebagian sahabat Nabi ada yang merangkak disudut mihrab, ingin menggapai surga dengan lari dari tanggung jawab social dan mengharap ridha Allah hanya dengan menggelindingkan butir-butir tasbih, ada juga yang secara terang-terangan menjual diri dan kehormatan mereka dengan berpihak ke istana hijau Muawiyah karena alasan perut.
Dipemakaman kota hijau Madinah yang sepi tak berdenyut bak kota mati, orang-orang yang membela kemurnian revolusi suci islam bersama keluarga Rasul, berakhir ditiang gantungan dan pedang yang mengenaskan. Mereka dicabik-cabik seperti daging yang dicincang. Diantara mereka adalah Abu Dzar yang meneriakkan protes terhadap berbagai macam penyelewengan, tewas tersayat-sayat di gurun Rabadzah, sementara Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Maitsam, Hur bin Ady, yang memiawikkan slogan anti penindasan telah meraih kematian yang sangat cemerlang di Maraj al-Adzra, mereka dibantai dan dikubur hidup-hidup oleh rezim Muawiyah (Laknatullahi alaihi abadan)
Ancaman Yazid ini sampai ditelinga al-Husein. Pembunuh bayaran dan agen rahasia serta para antek-antek Yazid di sebar untuk minta baiy’at al-Husein dan keluarganya secara paksa, sehingga putra Ali bin Abi Tholib ini memutuskan pergi ke Makkah. Hari sabtu petang, tepatnya tanggal 28 Rajab 61 H, al-Husein beserta keluarga, wanita dan anak-anak serta beberapa sahabat setianya berangkat meninggalkan kota Madinah. Sebelum mereka pergi, terjadi perpisahan yang sangat mengharukan antara al-Husein dengan adiknya Muhammad Ibn Hanafiyah.“Husein, seandainya engkau tidak melawan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau tetaplah mulia dan sempurna. Masyrakat tetap memerlukanmu” tuturnya. Al-Husein menjawab: “Muhammad, ketahuilah aku hanya ingin menetap di Makkah, hanya itu. Namun jika keadaan tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan mendaki gunung dan menetap di goa”. Setelah mereka bicar cukup panjang, al-Husein memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang sakit itu, kemudian naik keatas kudanya, “semoga Allah melindungimu” ucap Muhammad terbata-bata membiarkan air mata membasahi pipinya. “aku akan berziarah ke kakek untuk memohon pamit dan bermalam disisnya sebelum pergi” katanya seraya mulai menggerakkan tali kekang kudanya. Angin semilir berdesir menembus malam yang sepi, mengiringi langkah-langkah onta wanita ahlul bayt (keluarga suci rasul), ‘Selamat tinggal, Madinah! Seru mereka parau.
Belum sampai dipusara kakeknya, Al-Husein mendadak terjungkal, tak mampu mengendalikan jiwanya yang sangat rindu, ingin segera menyampaikan derita dan bencana yang menimpanya kepada kakeknya. Ia perlahan-lahan merapatkan dirinya lalu menciumi batu nisan Rasulullah sambil merintih. Zainab, Syahru, Banu dan para wanita ahlul baiyt berlari menuju masjid dan mendekap tanah suci pembaringan manusia teragung ini. Mereka melepas rindu merintih dan menyampaikan salam. Al-Husein mengucapkan salam kepada kakeknya: “Assalamu’alaika Ya Rasulallah, aku ini adalahal-Husein ibnu Fatimah, putra kesayangamu dan putra dari buah hatimu. Aku cucumu yang telah kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabiyallah, mereka telah menghinaku, mengabaikan haqku dan tidak menjagaku sebagaimana engkau perintahkan. Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu menghimpit pundakku bila harus berpisah dengan mu, namun izinkan cucumu ini berada dekat disisimu karena mereka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tidak mungkin kulakukan. Tidak mungkin aku memberi bai’at kepada Yazid yang kufur, pemerkosa wanita dan penenggak khomer. Andai kuberikan bai’atku niscaya cucumu telah berbuat kekufuran, jika kutolak mereka pasti membunuhku disini, dikotamu wahai kakeku. Karena itulah restuilah kepergianku demi agamamu, keluarga dan ummatmu”. Inilah rintihan dan pengaduan al-Husein kepada Rasullullah. Ia menumpahkan kepedihan dan penderitaan yang dialaminya, dan disana pula ia menumpahkan air mata dukanya. Kemudian ia melakukan shalat, rukuk, dan sujud sepanjang malam, lalu berdo’a: “Ya Allah, ini adalah kubur nabi-Mu, Muhammad. Dan aku adalah anak dari putrinya, Fatimah. Engkau Maha tahu derita apa yang kini sedang menimpaku. Ya Allah, sungguh aku mencintai kebenaran dan benci pada kemungkaran. Aku memohon padaMu, wahai dzat yang memiliki keagungan, demi kubur ini dan demi haq penghuninya agar engkau pilihkan untukku jalan yang kau ridhai”
Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang al-Husein. Ia tergeletak tidur dan mimpi. Didalam tidurnya, ia melihat kakeknya rasulullah datang bersama serombongan malaikat. Dipeluknya al-Husein erat-erat kedadanya, lalu Nabi mencium diantara kedua matanya, lalu berkata: “Wahai Husein cucuku, sepertinya aku melihat bahwa sebentar lagi kau akan terbunuh dan disenbelih disebuah tempat yang bernama Karbala (karbun wa bala). Disana kau dikepung oleh sekumpulan ummatku, saat itu kau dalam kehausan dan tidak diberi minum. Tetapi mereka masih juga mengharap syafa’atku pada hari kiamat. Demi Allah kelak syafa’atku takkan pernahku berikan bagi mereka. Ketahuilah wahai anak putriku ayah, ibu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, kami semua sangat merindukanmu. Dan derajadmu yang paling tinggi tidak akan kau capai kecuali dengan syahadah.
Selama berada di Makkah, al Husein menerima sejumlah surat undangan dari warga Kuffah yang simpati yang berisi bai’at dan sumpah setia untuk mendukungnya melawan Yazid bin Muawiyah. Setiap hari surat mengalir berdatangan dan semakin banyka jumlahnya, akhirnya al- Husein mengutus saudara misannya, Muslim bin Aqil untuk mengecek kebenaran surat-surat tersebut dan mengamati daerah sekitar Kuffah. Kedatangan Muslim bin Aqil disambut meriah oleh penduduk Kuffah. Mereka berdesakan untuk menmeluk dan mencium tangan keponakan Ali bin Abi Tholib. Berita tentang kedatangan duta al-Husein ini menyebar cepat sekali dan menggoncangkan tiang-tiang raksasa istana gubernur Nu’man bin Basyir. Nu’man segera mengumpulkan warganya untuk untuk menyampaikan ancamannya. Ia telah menyiapkan tiga pilihan bagi setiap warganya yang mendukung al-Husein. Penjara, tiang gantungan atau kain kafan. Ancaman sang gubernur ini berhasil menggoyahkan tekad dan keteguhan rakyat Kuffah.
Gelagat pengkhianatan mulai terlukis pada wajah-wajah mereka. Bau kemunafikan dan kepengecutan mulai tercium dari mulut-mulut mereka. Hampir seluruh warga yang menulis surat dan menyatakan dukungannya terhadap al-Husein, kini berubah seratus delapan puluh derajad. Mereka berbalik menentang al-Husein. Hanya beberapa orang saja yang tetap pendirian mengikuti al Husein, seperti: Habib bin Mundzir, Hani bin Urwah, Sulaiman bin Shard, zuhair bin al-Qo’in, Mukhtar al-Tsaqofi dan Muslim bin Awsijah
Yazid bin Muawiyah segera mencopot Nu’man yang dianggapnya terlalu lemah menghadapi para pengikut al-Husein dengan Ubaidillah bin Ziyad seorang anak Marjanah (wanita pelacur Jahiliyah), pemabuk dan bengis. Kedatangan ibnu Ziyad itu menggemparkan kota Kuffah. Mereka dicekam rasa ketakutan yang sangat sehingga dikota itu sepi bagai pekuburan. Satu persatu pendukung Muslim bin Aqil berhasil diciduk oleh agen-agen Ibn Ziyad. Al-Mukhtar ditangkap, Hani bin Urwah dibunuh secara keji diistana anak pelacur itu, ia dibakar hidup-hidup, sementara Habib bin Mundzir, Muslim bin Awsijah dan sahabat yang lain telah berangkat ke Makkah untuk bergabung dengan al-Husein. Kini nasib Muslim bin Aqil betul-betul memilukan, ia sebatangkara setelah ditinggal pergi oleh para pendukungnya. Duta kebenaran al-Husein ini berjalan tertatih-tatih, keluar masuk lorong-lorong sepi Kuffah dibayangi incaran dan kejaran antek-antek Ibnu Ziyad. Akhirnya Muslim berhasil diperangkap oleh tipu daya yang sangat licik setelah bertempur mati-matian ia diseret ke istana, lalu digusur menyusuri anak-anak tangga menara kemudian dilempar dari atap istana. Praaa..k bunyi tubuh Muslim terpelanting jatuh dipelataran, darah segar mengucur deras dan tulang-tulang remuk serta usus terburai keluar dari peustnya. Sementara dibawah telah siap pedang-pedang algojo utusan Ziyad berebut untuk memisahkan kepala Muslim daari tubuhnya yang sedang sekarat. Inna lillah, wainna ilaihi raaji’un.
Terputusnya berita dari Muslim bin Aqil mendorong Al-Husein segera berangkat ke Irak, Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan thawafnya setelah mendengar kematian Hani dan Muslim. Sebelum pergi ia menyampaikan khutbah yang cukup panjang didepan kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji. Al-Husein mengecam sikap umat kakeknya atas kepengecutan, kebisuan, dan ketundukan mereka pada Yazid bin Muawwiyah. “Hai kalian yang berthawaf ! kalian tetap mengelilingi Ka’bah yang diam. Sedangkan Ka’bah yang berjalan kau biarkan (Al-Husein). Sungguh kalian tak ubahnya seperti mengelilingi berhala”. Demikian kecaman Al-Husein berapi-api. Ibnu Zuber dan Abdullah ibnu Umar berusaha mencegah Al-Husein agar tidak meninggalkan Mekkah. Ibnu Abbas yang sudah sangat tua tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas pergi rombongan cucu Rasulullah Saww tersebut.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, rombongan kecil keluarga Nabi meninggalkan Masjid Al Haram, kota kelahiran ayah, ibu dan kakeknya. Rombongan Ahlul Bayt bergerak menuju menembus badai debu dan padang pasir, menyusuri sahara gersang dan mengikis ilalang dengan langkah-langkah memelaskan. Irama kesyahidan mengalir mengiang-ngiang di relung sanubari mereka. Didusun bernama ats-Tsalabiyah kafilah Al-Husein berhenti karena dihadang oleh pasukan Ibn ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr ar Riyahi.
Telapak kaki Husein dan rombongan kembali memahat padang ilalang. Pandangan matanya menyapu bukit-bukit batu terjal didepannya. Tiba-tiba kuda putih tunggangannya berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Ia mencoba sampai kuda ketujuh, namun tak jua berhasil. “Apa nama tempat ini?” Tanya Al-Husein “Al-Ghodiriyah” jawab mereka. “apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sambil menatap tanah, “Nainawa”, sahut mereka. “adakah nama lain dari tempat ini?” desak Al-Husein, seakan tak percaya. “Syathi’ul farat dan Karbala” jawab salah seorang dari mereka. “Inna Lillah wainna ilaihi Raaji’un”, gumam Husein.ia menarik nafas dalam-dalam. “Inilah Karb (kebun) dan bala (bencana). Dibumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis Ali disambut tawa. Disinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus angkasa. Disilah kemah-kemah keluargaku akan hangus dibakar. Disinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur dibawah kaki para pemerkosa nurani. Disinilah cawan-cawan merah madu surgawi akan dibagi-bagikan. Disinilah aku bersua dengan Muhammad. Benarlah kata kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untukku di sini. Di sinilah aku akan dikunjungi. Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husein berapi-api.
Mendengar ucapan Al-Husein yang mengharukan, Zainab berlari dan menjerit pilu. Oh, seandainya kematian dating menyambarku, biarlah maut merenggutku agar aku tyak turut menyaksikan semua kepedihan ini. Al-Husein mengusap wajah sembab adiknya, menuntunnya kedalam kemah dan menenangkannnya. Sementara jauh disana, di istana, Ubaidillah mengumuman sayembara bagi siapa yang berhasil menghadiahkan kepal Husein maka ia akan menjadi pemilik kota Ray selama sepuluh tahun. Umar anak seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqos menerima tawaran itu. Kedatangan pasukan Umar bin Sa’ad melumpuhkan kekuatan pasukan al-Husein, karena mereka memblokir satu-satunya sumber kekuatan bagi pasukannya, yaitu sungai Furat. Dalam setiap kesempatan, Al-Husein berusaha mengingatkan dan menyadarkan pasukan musuh.ia meyakinkan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan kakeknya Muhammad kepada kaum Muslimin. Al-Husein menyatakan pada mereka bahwa ia adalah putra Ali bin Abi Tholib, orang yang paling zuhud, penerus risalah Nabi. Ia adalah putera Fatimah az-Zahra putri kesayangan, belahan jiwa Nabi dan penghulu wanita ahli surga. Ia mengatakan bahwa Al-Hasan , kakaknya adalah penghulu pemuda surga. Namun dasar hati mereka yang telah dikuasai iblis, jiwanya tertutup api dendam dan kebencian, kata-kata Husein ini tidak banyak berpengaruh bai mereka. Hanya seorang ayah, Al-Hurr ar-Riyahi bersama anaknya yang insyaf dan tersentuh hatinya lalu kemudian bergabung dengan cucu Rasulullah setelah mendapat ampunan dari Al-Husein.
Sepuluh Muharram 61 H, fajar menyingsing. Dua kekuatan, front kebenaran dan kebatilan siap bertempur. Irama syahdah semakin kencang terdengar. Pembantaian putra-putri terbaik rasulullah kini telah dimulai. Pesta perburuan gadis-gadis Fathimah dilakukan. Genderang perang yang tak seimbang telah dibunyikan. Kabut bencana dan duka cita berputar-putar menutupi bilik-bilik kenabian yang selalu menjadi tempat persinggahan para malaikat
Siang itu matahari mulai memanas, pasukan Al-Husein yang berjumlah tujuh puluh dua orang dikepung oleh tiga puluh ribu tentara Ziyad yang bersenjata lengkap. Teriakan Allahu Akbar! membana dari pasukan Husein ketika perang dimulai. Satu persatu sahabat-sahabat setia Husein berguguran dimedan tempur. Habib bin Mudzahir, Muslim bin Awsijah, Zuhair bin Al-Qoim, Yahya bin Katsir al-Anshari, Nafi bin Hilal, Burair bin Hudhair, Al-Ma’la dan lain-lainnya, mereka semua telah dibantai dan meraih kematian yang paling indah, menjadi syuhada diatas altar suci yang dihamparkan Husein.
Kemah-kemah keluarga Husein mulai dibakar. Ia mendengar jerit tangis wanita-wanita dan anak-anak ahlul bayt karena haus telah mencekik leher mereka. Al-Husein memerintahkan kepada adiknya, Al-abbas untuk mencari air. Al-Abbas melesat dengan kudanya ke sungai Furat, menerobos pasukan musuh yang padat. Ratusan tombak, panah dan pedang memburunya dari berbagai penjuru. Abbas berhasil mencapai tepian sungai, ia mencelupkan jarinya kedalam air yang dingin dan menyegarkan, seketika ia teringat wajah Al-Husein yang lusuh lalu terdengar jerit Sukainah, Zainab dan keponakan-keponakannya yang masih kecil. Ia memuncratkan kembali air sejuk yang hampir menyentuh bibir keringnya. “Tidak layak aku minum air ini, sementara haus mencekik kakakku, Husein”. Abbas lalu mengisi kirbah ( kantong air )nya denga satu tekad ingin mempersembahkannya kepada Husein. Tiba-tiba seorang pengecut, Abras bin Syiban menyerangnya dari belakang. Tangan kanan Abbas terpental lepas dari persendiannya. Darah segar memancar dan membasahi tubuhnya. Ia memainkan pedangnya dengan tangan kirinya ditengah derasnya hujan anak panah. Sebuah tongkat menghantam kepalanya dari belakang dan membuatnya rengkah, seketika ia roboh sambil menangis tersedu. Abbas menangis bukan karena luka-luka parah ditubuhnya, tapi menangis karena gagal mengantar air untuk Al Husein. “Alaika minni salaam, Ya Aba Abdillah” gumam Abbas parau sebelum sebelum ruhnya yang suci terbang ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Huesin meneteskan air mata haru saat menyaksikan kemenakan-kemenakannya dan saudara-saudara misannya mohon untuk tampil. Abdullah putra Muslim bin Aqil, Aun bin Abdillah (cucu Ja’far ath-Thayar), Musa bin Aqil misannya, dan Ahmad bin Muhammad al Hasyimi, mereka adalah remaja-remaja Ahlul Bayt dengan segala kegigihannya telah menyambut syahadah denga senyuman. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Diantara jasad-jasad para pengikutnya yang berserakan, Husein berteriak “Oh,… betapa asing! Masih adakah orang yang menolongku, hal min naasirin yasruni?
Husein terperangah ketika melihat dua remaja tampan bercahaya bak menyeruak dari dalam kemah, lalu menghampirinya. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra kakaknya, Hasan bin Ali bin Abi Tholib. “Kami datang menyambut panggilanmu, wahai paman”! Ucap mereka sigap. Huesin melepas kedua kemenakannya itu dengan linangan air mata. Al Qosim yang baru berumur 14 tahun melarikan kudanya bagaikan baying-bayang, kemudian kakaknya Ahmad menyusul menerjang barisan pasukan Umar bin sa’ad. Mereka berhasil menjatuhkan puluhan musuh lalu gugur sebagai syahid ditengah luncuran anak panah yang diarahkan ke tubuhnya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un
Kini giliran Ali Akbar untuk maju. Melihat puteranya yang paling besar ini, Husein terisak menangis. Ia memeluk erat putra kesangannya, lalu berdo’a: Ya Allah saksikanlah! Betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seorang anak muda yang wajah, akhlak dan tutur katanya paling menyerupai Nabimu. Bahkan ketika kami rindu pada Rasul-Mu kami memandanginya wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, namun kini tiba-tiba saja mereka memusuhi dan menyerang kami” Laksana sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, Ali Al-Akbar melesat ke tengah pertempuran. Ia melepaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan mengarahkan setiap musuh yang menghadangnya. Ketangkasannya mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Tholib, sang Haydar yang menaklukkan Khaibar. Ali Akbar menggemparkan ribuan lawan. Ia berhasil menjatuhkan 180 penunggang kuda. Dengan nafas yang tersengal dan kehausan, Ali Akbar datang keharibaan Ayahnya. Ya abatah, wahai ayah ! Haus telah mencekikku, besi telah menghimpitku. Adakah sedikit air untuk kekuatanku? Sang ayah memeluk putra kesayangan, lalu ia berikan cincinnya untuk dikecup mulut Ali Akbar yang menjulur kehausan.”Wa Gutsah, wahai anakku!” kamu akan segera menemui kakekmu yang akan memberimu minum, kau tidak akan haus lagi selamanya, sabran,...sabaran,…ya bunayya. Seorang manusia durjana membokong Ali Akbar dari belakang dan memecahkan kepalanya. Ali bergantung pada tali kekang kudanya, berharap akan menemui ayahnya. Namun kuda itu membawa ketengah-tengah musuh, mereka mencabik-cabik tubuh beliau hingga mengenaskan. Ali Akbar memanggil-manggil ayahnya dengan jeritan terakhir yang menyayat hati: “Alaika minni as-salam, ya Aba Abdillah! Disini kakekku Rasulullah memberiku minum. Aku tidak akan haus lagi selamanya” Husein memburu puteranya, merangkul dan menciumi wajah Ali Akbar yang bersimbah darah. “Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai putraku! Apalah artinya dunia ini setelah kepergianmu” bisik Husein. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bunga-bunga Ahlul Bayt satu-persatu berguguran dalam kebeliaannya. Membasuh persada Karbala dengan darah segar mereka. Tangisan putra-putri Muhammad kian membana diangkasa Nainawa mengantarkan jeritan terakhir Ali Akbar. Tiba-tiba seorang wanita muda dari arah kemah berlari memburu jasad remaja yang terkapar itu seraya berteriak lantang “Oh,….betapa asing dan sendirian. Andai saja aku buta hingga tak menyaksikan kekejaman kaum durjana? Mengapa bumi telah berubah menjadi hutan, dan manusia menjadi binatang?” Zainab terhuyung merangkul dan menggoyang-gayangkan kemenakannya yang telah tak bernyawa lagi. Husein menarik tangan adik perempuannya yang hampir pingsan, lalu menuntunnya kembali ke tenda kemah itu.
Nurani seorang ayah tersentuh, saat Zainab memberitahu bahwa Ali Al-Asghor putra bungsu Al Ahusein yang baru berumur 6 bulan sudah beberapa hari bibirnya yang kecil tidak sedikitpun tersentuh air. Al Husein menggendong bayinya menghadap musuh untuk memintakan setetes air bagi Al-Asghor. Belum selesai Husein berkata, sebatang anak panah melesat menmbus tepat pada tenggorokan Ali Al-Asghor. Bayi itu hanya menggelepar-gelepar sebentar, darah segar itu memancar dan membasahi pangkuan ayahnya. Al Husein tertegun seakan tak percaya menyaksikan kebiadaban manusia-manusia terkutuk pasukan Umar bin Sa’ad. Ia mengumpulkan tetesan darah bayinya, kemudian melemparkan kelangit sambil berseru: “Ya Allah semuanya ini kecil disisi-Mu”
Senja 10 Muharam di Karbala, Al Husein benar-benar tinggal sendirian. Suaranya tak lagi lantang, air matanya sudah terkuras, dadanya sesak menahannafas, kerongkongan kering dan panas. Ia memandangi kemah putri-putri Rasulullah, lalu melangkahkan kakinya kesana. Dengan suara yang parau dan terbata-bata, ia menyampaikan salam kepada mereka, kemudian memanggil satu-persatu putri-putri Ahlul Bayt Alaihis Salam. Kemarilah Zaenab, Ummu Kultsum, Sukainah, Roqoyyah, Atikah, Shafiyyah, dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu, dan suamimu untuk kalian semua. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir kebersamaan kita. Sedang pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya. Sakinah yang kecil mendekap erat tubuh ayahnya itu. “Wahai ayah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan meninggalkan kami? Apakah ini tanda perpisahan dengan kami?” Husein memeluk putrinya yang mungil seraya berbisik “ Wahai putriku Sukainah!, apakah mungkin maut tidak akan menjemput orang yang kini sendirian? Bersabarlah wahai putriku, usaplah air matamu. Bersabarlah kau akan lebih banyak lagi menangis setelah kematianku. Tolong jangan bakar hati ini sebelum ruh meninggalkan jasadku ini. Kelak setelah aku gugur, menangis dan menangislah wahai putriku! Al Husein memeluk adik-adik perempuannya. Ia merangkul Zaenab,Ummu Kultsum, lalu mencium mata sembab Sukainah. Terakhir ia memeluk satu-satunya putra Husein yang tersisa, Ali zainal Abidin as-Sajjad yang terbaring karena sakit. Usai pamit kepada seluruh keluarga tercintanya, Husein memacu kuda putihnya ke medan perang.
Kedatangan Husein ke medan perang, disambut oleh hamburan 4000 anak panah atas perintah Umar bin Sa’ad. Dengan gagahnya ia masih berdiri walau sebagian anak panah manancapi tubuhnya. Dalam keadaan haus dan letih, Husein duduk sejenak, namun tiba-tiba sebuah batu menghantam dahinya dan sebatang anak panah beracun menembus jantungnya sampai kepunggungnya. Dahi yang biasa digunakannya untuk bersujud kepada Allah, kini tersungkur di atas pasir Karbala. Wajah yang memancarkan cahaya kebenaran kini basah berlumuran darah. Ia mengangkat tangannya kelangit seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu apa yang telah menimpaku, dari hamba-hambaMu yang durhaka”. Husein mencabut anak panah dari kuduknya, ia menyaruk darah yang memancar seperti pancuran lalu ia lumuri seluruh wajah dan janggutnya. “Bismillahi, wa billahi wa ‘ala millati Rasulillah. Aku ingin menghadap Allah dan kakekku dengan wajah bersimbah darah seperti ini.”
Tubuh suci cucu Muhammad Rasulullah kini menjadi bulan-bulanan ribuan binatang terkutuk Ibnu Sa’ad. Ada yang menusukkan tombak ke leher, dada dan pinggangya, ada yang mencacah bagian tubuhnya dengan pedang, ada yang menginjak-nginjak jasadnya dengan kuda. Ada yang memukuli dengan kepala dan punggungnya dengan besi dan ada yang merampas serban, pedang, cincin dan baju perang yang dikenakan Husein. Sungguh kekejaman dan kebiadaban yang dahsyat telah menimpa cucu tercinta Rasulullah. Namun bibir mulia itu masih mengucapkan dzikir : “ Shabran ‘ala ghodaik, la ilaha siwak, Ya Ghaiyatsal mustaghitsin, ma li robbun siwak wa laa ma’budun ghairuk. Shabran ‘ala hukmik, Ya Ghiyatsa man ghiyatsalah” Kini datanglah Syimr bin Dil-Zausyan (Laknatullahi Alaihi Abadan) si dajjal terkutuk, ia menghampiri Al Husein lalu memenggal kepala suci putra Ali Bin Abi Tholib, kepala yang sering dipeluk dan dicium Rasul itu kini menggelinding diatas tanah Karbala, darah segar memancar dan tercecer membasahi sahara gersang Nainawa. Tetapi wajah itu masih dihias senyum surgawi dan bibirnya senantiasa melantunkan kalimat-kalimat ilahi. Pasukan ibnu Sa’ad berpesta-pora berebut untuk mencincang jasad tak bernyawa putra Fatimah Azzahra. Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Untuk kesekian kalinya Muhammad dibunuh oleh ummat Muhammad.sendiri yang mengharap syafaat beliau dipengadilan Tuhan. Sungguh tidak diberikan syafaat bagi mereka pembantai dan mengingkarinya dari perintah mengikuti dan mencintai Nabi dan keluarganya.
Al Husein telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya, keluarga dan sahabat-sahabat terbaiknya demi tegaknya Islam Muhammadi yang hakiki. Untuk membuka topeng dan mahkota iblis Bani Umayyah yang dikenakan oleh Yazid bin Muawwiyah. Untuk menyingkap borok para ulama palsu yang mereka sembunyikan dibalik jubah-jubah kesucian mereka. Untuk menghidupkan kembali slogan agama tauhid, slogan kebenaran, kemerdekaan, keadilan keberanian, kesabaran, pengorbanan dan kesetiaan. Untuk mengajarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia yang menentang segala bentuk penindasan, kejahatan, kesombongan, keserakahan, kezaliman, kemunafikan dan kesewenang-wenangan serta angkara murka dibumi ini. Al Husein bin Ali bin Abi Tholib adalah simbol kebenaran yang abadi.

Referensi:
1. Prahara di Nainawa, Muhsin Labib (Yayasan Ulul Albab Aceh, cet 1)
2. Duka Padang Karbala Sayiid ibn Thawus (Yayasan Imam Ali –Iran, 1420 H/ 1999 M)
3. Risalah asyura, Jalaludin Rakhmat & Husein Syahab
4. Syahadah, Ali Syari’ati (YAPI, cet 1, 1407 H/1987 M) 

Jumat, 01 Februari 2002

Kamus Bahasa Sambas

KAMUS BAHASA SAMBAS

ABJAD A
Acara sedekah = ngeluarkan = hol
Air - aek
akibatnya = rappokkannye
almarhum = jannat
ama-sama (mis: pergi bersama/jalan bersama tapi lain kendaraan)= seratte
ambil sedikit dengan ujung jari = ngutis = kutis
ammo' = Huh???
ampar = gelar (untuk tikar/kasur/ karpet)
anak kedua = angngah
anak keempat= unning
anak keenam (tergantung ciri fisik dll) =
anak kelima = acci'
anak ketiga = udde
anak pertama = allong
anak yang orang tuanya beda ras = tongpan
anak-anakan = boneka
anda = kau (untuk sebaya) = dirre' (untuk yang lebh muda) = allong, angngah, unning, udde, acci', ammo', attam, utteh, anjang, andah, ussu, dll (untuk yang lebih tua, atau dihormati)
andah (rendah)
anjang (tinggi)
Anting2 - subbang
apam pulau pinang = martabak manis
ape do' = ape di = bille di = itok dih be
Asoek Kang = anjing yg telah mati lalu menjadi hantu anjing... (mitos)
awal = pungka'
awal hari = pungka' ari
Ayaman= peliharaan
ayap = linglung
azan = abbang

ABJAD B
bagaimana = gai kemane
Baggeng= koreng yang meluas
bagian rumah yang tidak beratap, sebagai tempat menyuci, mandi dsbg = pelataran
Baloi= sama tidak menang (biasanye wkt main Uwau/layangan)
bambu pecah = tababbas
banyak = tebayak = melambak
banyak bertanya: alek inyan
baring = gurring
basa' buse' = kalau ndak salah artinye baysah kuyup
baskom dari logam = barreng
bau air kencing kering = passing
bau air kencng tapi masih basah = rangngang
bau bangkai = bunto'
bau benda berbahan kain yang disimpan lama = bangngam
bau cairan yang sudah lama = bangar
bau kentut = lassot
bau keringat yang kering karena berjemur = bau ari
becaccak = berlari
begini = gai tok
Begitu : gayye (ussah nak gayye = jangan begitu)
begitu = gai ye
begummol = berantem
bejanjang = bepaggian
Bejereh= mencari silsilah keluarge
bekerja cepat karena mendadak = taggeradag
bekibau - bekipas kepanasan dgn bahan kain
Belambak= mandi berenang di sungai
belompang = nempeleng (tak belompangkan = tak tempeleng)
belongak = panci
belut = insirat
Benar = inyan,
bences = ikan sarden (ikan kaleng)
benda yang ditarik terus diikat = kamput
Bendera (nom) = pendere (b.. south dialect) ( serapan portugis * a bandeira*)
benjol = bincut
beputar-putar dekat kite/sekeliling kite = beselili
berceceran (cair) = belaceran
Bergaya angkuh = kerewak
bergetar = begajjik
Berhenti/ Selesai (misc.context) = taem ( Huh? serapan inggris *time*)
berhias = bemesen
Berjalan Beriring = Beririk
berjalan layau keberatan karena bawa barang berat = tepereh-pereh
berjalan, melewati orang, masuk ke dalam rumah tanpa permisi = meloros
berkutu = takkaan
berlibur (verb intrans) = plasser (serapan bahasa prancis * le plaisir*)
Bermain air atau lumpur - bekumbah
bermain/bergurau = pongah
beronyi = panen
bersin = kasek
Besaok= bertaut
besok = isok
besumpik - ndak ah....
betatap = meraba raba
bibi = mak tuak
bimbang = ribbe
binatang kecil, gatal kalau digigit = amak
bisul = binsol
bocor = passok
bodoh = babbal
bodoh sekali = bunto' kalle'
boggo = ?? bongo...Huh??? ( perlu diucapkan ato ndk ditulis dengan uruf fonetis
bola yang dibuat dari daun kelapa = gonde
bolak-balik = kilek-kulu (dekat) = besundang (jauh)
Borek = bekas luka atau koreng yg bertumpuk
Bosan = baus
buai : Huh? = LAMBUT
buai=lembut , mudah patah
Buai=sappor utk gorengan tp kalau barang=rapuh
buang air besar sedikit di celana karena tidak tahan = tekincik
bubbu = alat nyarek ikan
bubut = nama burung dengan kepala warna hitam, badan dan sayap warna merah
Bukan begitu? - ndak ke?
bukan main= kan agek yeh
bulak = bohong
Bullar= mata yang katarak, seperti mata ikan
bulu bertanggalan = langngar
bumbun = tempat berteduh yg dibuat menggunakan alang-alang, seperti rumah orang Irian
bungkus(n) = kerubbong
buntung (anggota badan) = kuddong = kuttong
buai : lambut (cth : bondungnye buai lalu)
bopet : lemari
beropi : masak nasi
beronyi : panen padi
bebulak : bohong
bous : bosan
bejolon : jalan jalan
betapas : banyak
betappur : sembunyi

ABJAD C
cacat berbentuk goresan = ronges
cacat sedikit (ada bagian yang hilang tapi hanya di permukaan) = rompeng
cacat sedikit (ada bagian yang hilang) =simpak
cacing besar warna ungu = tamar
cantik = kaca'
Cantik/Ganteng = tiriggas
caping = capel
Capung - cibbi'
cari perhatian depan lawan jenis = mejeng = nodeng
carrat = kepingin
carut = ngomong jorok
celana keras karena disetrika dengan tepung kanji = najjing
celana pendek = kolor
cemberut = tebajju'
cepat habis = lassat
Ceret (nom)= ketel (serapan bahasa inggris *kettle*)
cibik = jinjing
cirammut = cantik, imut
Comberan - penciring ngan
cubit = kubik
curang = bangsat
ceret = teko
cutam = pingsan
carrat = kepingin
cangker = cangkir

ABJAD D
dagu = dogek
dahulu kala = gek dolo = gek mare'
Dakeh= daki, kotoran yang nempel pd kulit
daki = taggar
Dapur (nom,) = siok
dapur = suyyok
datangi = pagge' = sirre'
degil suka mengganggu = jajjal
dikenai perlakuan secara bersama-sama = perabenkan
dilap tapi sampahnya juga ikut terangkut = santal
dipukul = belabbau
disebabkan = dikarenakan = barang
do' ; ?? ( biasenye; ape do'!/ kemane do' )
do', di, dih, be = kata hubung, penekanan sebuah pernyataan, pertanyaan
Duduk - duddok
dukun = bomo
Dulu - dolok

ABJAD E
ABJAD F
ABJAD G
Gaggai= tidak tegap, udah tue
gane: Huh? = BISUL BASSAR TAPI NDAAN BE PUNNAT = BIASENYA KANNA' TUNGKAL LAKKA' MERUBUHKAN SARANG SAMUT ATAU ENTUGIN
gane= cacing laut
gane=penyakit mistik karene simbarangan bakar sampah dkt rmh
ganteng = aksi
ganti = saling
gatal = miang
ge kmare = jaman dulu
Gelas - gallas,cangker,
gerakan mulut mengunyah = konyap-konyap
gerattus ; ??
gerottak = jembatan
getek = birrah = miang
gigi besar = gigi kapak
gigi tumbuh betimpa' = tukak
gigit tebu sambil dipatahkan = inggis
Gogon= gigih bekerja
Gopoh= tergesa-gesa
gosok = ontos
gosong/hangus = rattong
guring = baring

ABJAD H
ha......tang ngamok=lha kok marah?
habis tidak bersisa = langngis
habis tidak menyisakan yang lain padahal sudah ditawarkan kesemua = radda'
hancur tidak berbentuk lagi kondisi basah = tibanynyai
hattam = selesai melakukan,meyelesaikan
hidung = ideng
hisap = insap
hitung = reken
hitung = reken

ABJAD I
ikan iddup=ikan segar
ikut = ngimbai
illek'= hilir
incabi' - tande ndak mao'
indonesia = seperti anaknya pak sambas kurang lebihnya
ingin = carrat
ingin lagi = nganynyat(kanynyat) = nganynyan
ingin makan atau minum karena meliat orang makan atau minum = maccor
injak = kaccak
intip = nilik
intirah = anak anak masih bau kencur
istirahat = parrai
ittam (kulit hitam)
itting=kuttel= mengambil satu per satu (bagian daun atau buah)
Iya - aok

ABJAD J
Jajjak= jejak,nempel/mencapai
jalan = lorong
jalan jinjit = nunjing
jaman dulu = gek marek
janda = balu
Jandol= bentuk kepala/dahi yang lebih ke depan
jatuh = belabik = tebuang = serampah = lurroh
jelas perkataannya = rambus
Jembatan = gerattak
jendela = tingkap
jendela: penyawan
jijik = gatti'
jika 2 orang atau lebih sedang berjalan, ada yang berjalan lebih cepat meninggalkan yang lain = nojon
jollu = buaya
jondel = istilah untuk dahi yang agak menonjol
jontek = sentil
jope - mengapa
jope ; ?? = WHY?
jope = kenapa
jope= jodi ope (akronim)
jopput = ambil sesuatu yang kecil menggunakan 5 ujung jari tangan
jorok = cerobo'
jual cepat = lego

ABJAD K
kadaluarsa = ubas
kakek = nek aki
kalau daan salah "kepanasan" ye kalau bahase kite lisoh (bukan lusoh)
kalimayar=sejenis intigik(luwing) tapi kalau malam bs ngeluarkan cahaye ijjau(ad fosfor x) bahaye mun masuk dlm telinge
kalimpappat- kelilipan
kalimpappat: Huh? = BINATANG SEJENIS BANGNGAS TERABANG MALAM HARI ADE LAMPU/CAHAYE DI PARUTNYE = FIREFLY
kalimpappat=kunang2
kambek = hantu yang dimitoskan muncul ketika hujan panas
Kami - kamek
kamput = ikat
kantong untuk bawa barang(n) = tas kresek
kapas-kapus : ?? ( mun merokok biasenye Y )
Kappeh= menjepit papan dengan bambu atau kayu dengan tidak memakai paku/ cuma di ikat ( pada umumnye di tarub)
karut = ikat
kasar = ngelotok
Kasur/tilam = siduni, rasbang
kata hubung pertentangan, tapi = kila'ang
kata saya = jiku
katanya = jinye
Kecaing-kecaing = teriak-teriak, biasanya binatang...
Kecoro2= sikap yang kurang serius
keinginan besar tapi tidak didukung dengan kemampuan = berawe
Kelaek = bekantan
kelappon = sejenis kue bulat dg gule merah
kemana-mana hilang arah = pitau
kemana-mana tak tentu arah = siaw layau
kemarin = semari
kemasukan = kesarongan
kemasukkan sampah halus = kalimpanan
kencing waktu tidur = tibubbo' (variasinya salah satunya dari bang ning abdul)
kening agak masok ke dalam = caddog
kening agak menonjol = jandol
kepala = kepalak
kepala termiring-miring = lele'
kerabbok : ?? = MERAGAU DENGAN 5 JARI SEKUAT KUAT TENAGE
kerabbok=menggenggam
kerangge = semut merah
keraok = teriak
kesedak = kesadokkan
Ketela - bandong
ketue = palak ceritte / palak kesah
Kita - kitte
Kocak/teler= penyakit telinga (mengeluarkan nanah)
kok = mengapa = tang
koyak-koyak = rambau
kualat = tullah
kuat makan = bogoh
kuat-kuat = ngancang
kue = tambol
Kue bolu (nom) = bahulu ( serapan bhs, portugis * o bolo* )
kunci gembok = grendel (ser belanda)
Kunyah (verb.) = ampa'
kupu-kupu = rami

ABJAD L
laboeng = ikan kecil-kecil (maaf ndok ticarek padonan katenye)
labong = mata pisau nya rusak
laccoh=jernih/bening
lading = pisau
Lading = pisau
lalat besar = langau
lalat besar = langau
lampu senter: cuar
laron= cakkaller
Lasak= luka lecet
lassot = satu jenis bau kentut, alias bau tidak sedap
latah tekajjut = cok kolok
layyak = jahe
leher = tiggek
Leler= langngai= lalai, lena
lemari = bopet
lembab/agak basah = jappok'
lempeng anjol = makan dari sagu yg dibuat dengan ditekan-tekan pada kuali yg dipanaskan tanpa minyak
lempeng guloeng = dadar gulung
lengah = lappe
lengah = leke
lengah = leke
lesu letih dan susah bergerak = telempe
liat = lawan sappor = karraw
limpus ; ?? = TENGGALLAM esp. ORANG PENDEK NANG MANDI DI SUNGAI BIAR PUN BEDIRI TAPI AEK LABBIH DALAM
limpus = tenggelam
limpus = tenggelam melewati kepala
Ling-lung (adj) = lingau, lelo
linglung = lingau
listrik mati karena kelebihan = tepattek
lucu membuat tertawa = galli'
luka besar menganga = tiberokkai
lunak = buai
lurus = bujor = kojor

ABJAD M
mak biak = istri
Makan = makan (halus), meradak (kasar)
makan = ngenam
makan = ngradak(kasar) = pajoh(kasar) = melantak = beratah
makan dengan lahap = ngompol
makan di warung = ngenam
malu = camma'
malu = kassang = camma'
malu karena salah, sakit hati = kassang
mampu = rabbah
Maraek = mubazir
marah (mengomel) = ngerepek = ngerebeh
mare = pergi
masak = muddoh
Massek= air payau
masuk dalam genangan air = ncalum
masuk ke dalam = nyussok
mata = mate
Mata Mencorong = Tibajul, Ticinnat
mata posisinya tidak singkron antara yang kiri dengan yang kanan = bular
matang = barraw
matte = saking terpananya sampai terdiam
Mattek= menghitung (mungkin di adopsi dari kata Matematika x i)
mau tertawa ditahan-tahan tapi tersenyum-senyum = tekidum-kidum
mbula : bohong
melamun (verb) = teconnom
melamun = teconom
melimpai ; ??
meloloi (melalai) = merayap
melotot = tecinnat
memang = anangdah
memanggil = sarro'
mematahkan/melawan arahkan = pulakkan
Membawa - cibbik
membicarakan orang lain = beragi
membuat emping padi yang masih muda = nyance
menahan supaya tidak bergerak = raggang
menangkap ikan pakai tangan kosong = gammal
menarik benda yang elastis = bajjang
Mencarut= berkata jorok
menemani orang berbicara = berelon
Mengapa begitu = tang gayye
mengerjakan sawah tetangga secara bergantian sama-sama, ada perjanjian = belalle'
menggelar tikar, beraktivitas (makan, baring, tidur) di lantai tapi di atas tikar = belampar
mengomel = ngerebeh
menurun fungsinya karena sudah tua (barang) = soak
menyatakan tidak mungkin/tidak dapat/mustahil = paik = pae' = ingkoset
merangkum = ngambau
merayap di dinding = bedaddai
merembes = melarrah
Meruse = mubazir
Mial= makan dengan lahap/selera sekali
miang = gatal
Minyak Goreng = minyak makan
mis : sambas = bagai na' anak ang allong sambas dih be paduannye
misahkan padi dari tangkainya dengan diinjak-injak = ngirrik
miskin = sontok
mopo = bahenol
motong = tempong = nampang = melasah
mudah hancur menjadi serpihan kecil-kecil = sappor
Mulluttan= cerewet
mulut = mulut
mulut monyong = muncong
Mummor= memear, luka dalam
mun incibbi' ye....binatang
musim tanam padi = nandor

ABJAD N
naksir = ngurat
Nampah= memesan, nak nampah= mau cari perkara
Nangga'= main ke tetangga
ncibik = capung
nek ari gosi = raksasa
nenek = nek uwan
ngakkal = tertawa terpingkal pingkal
Ngalayap = Intayap
ngallu=sakit kepala
ngelebe' - nak nagis ajak.......
ngelikik = tertawa terpingkal-pingkal
ngenam : Huh?
ngenam=jajan diluar
ngeramput = omong bohong
ngerawai = ngail ikan bossar di laut
Ngerepek= marah tapi merungut
ngilu (kepala) = ngallu
ngilu (tulang) = ngillo'
ngomel = ngerepek
ngompol = istilah untuk orang yang makannya lahap
Ngontet= merebut dengan cara paksa
ngotah = menjerat burung menggunakan getah
Nillik= ngintip
ninggkap = tiarap
noel = burung elang
nogok= tidak pergi kemana-mana/ tidak beraktivitas ( no go)
nyarattek = bikin nafsu
Nyelisik= menyelidiki, mencari kutu di kepala
nyirok = nyiru
nyuloh = beburu ikan pakai tombak
nyulok = nyari udang kaccik di laut
nyungkoeng = pacaran (berdua-duaan)

ABJAD O
obat = tambe
ompong = rongak
Orang - urrang,biak

ABJAD P
Pagar buat anak kecil - addak
paha = punggeng
pakis = miding
palles = tempat air seperti gallon tapi terbuat dari kaca
paman = pak tuak
Panci (utk memasak nasi) = appan, kenceng
panci besar dari besi = kenceng
panen = karang = beranyi
panggil = sarroe'
panggilannya = long = ngah, ning, de, ci', mo', tam, jang, ndah, su
pantingan= korek api gas
Parit - beram
patungan = birisan
payau = masse'
Pelar= mata yang agak juling
pelupa, mudah lupa = lupa' lape'
Pemballar= suka membuat humor/lucu2
penyakitan/sering sakit = dade'an
penyangngat = lebah
penyapu = sapu
peranggi = labu
pergi entah kemana = ayap
perhatian (tidak ingin mengecewakan) = ratte'
Peringngak= suke ngatekan kekurangan orang lain
Pernah = suah
pesek = picak
pincang = jengkat
pindah = kaleh
Pintu (adj) = lawang (serapan bahase jawe "lawang")
pintu: lawang
piring = pinggan
piring = pinggan
pisau = lading
pojok = suyyok = pintok
pojok antara pintu dengan dinding = lintok
Pongah= gurau
posisi terbalik = tongkeng
pulloeng = santet
punya = no' , punyanya = no'ong
pusing = pening lalat = babbang
panning = pusing
pelor = peluru
piccik = pencet
pirik = burung pipit
parang = golok

ABJAD R
rakkek = sakit kaki, encok
rambut = rambut
rappas = patah, putus
rata = lati
rattas : jitan baju/ celana terlepas
raut muka berubah karena panik akibat terkejut akan sesuatu hal = keseng
raut muka kecewa = tebirong
raut muka mau menangis (mis : mau minta sesuatu, biasanya anak-anak) = melebe'
remang-remang = kaddau
renyah = garing = rangngup
ribut = hinggar
Rindu = salok
Ronges=ronceng= luka gores
rukkok = buah duku